Rangkuman Berita Utama Timteng, Kamis 9 Maret 2017

harakah al-nujaba irakJakarta, ICMES: Gerakan al-Nujaba Irak menyatakan bahwa sebuah korps pasukan telah dibentuk untuk pembebasan kawasan  Golan milik Suriah dari pendudukan Rezim Zionis Israel.

Perdana Menteri Irak menegaskan hanya ada dua pilihan bagi kelompok teroris ISIS di Mosul , yaitu diadili atau mati.

Pasukan Irak berhasil merebut kembali bangunan penjara di barat laut Mosul, yang diduga menjadi tempat kelompok teroris ISIS mengeksekusi ratusan orang dan menyekap kaum wanita sekte Yazidi.

Fox News melaporkan bahwa Arab Saudi merupakan sponsor terbesar terorisme di dunia, tapi masih menjadi sekutu dekat Amerika Serikat.

Berita selengkapnya;

Sebuah Korps Pasukan Telah Dibentuk Di Suriah Untuk Pembebasan Golan

Gerakan al-Nujaba Irak menyatakan bahwa sebuah korps pasukan telah dibentuk untuk pembebasan kawasan  Golan milik Suriah dari pendudukan Rezim Zionis Israel, dan gerakan ini siap berjuang bersama para sekutunya di Suriah untuk pembebasan Golan jika diminta oleh pemerintah Suriah.

Jubir Gerakan al-Nujaba, Hasyim al-Musawi, dalam jumpa pers di Teheran, ibu kota Iran, Rabu (8/3/2017), mengatakan, “Menyusul berbagai kemenangan yang terjadi belakangan ini, kami telah membentuk korps pasukan pembebasan Golan. Korps ini terlatih, memiliki perencanaan yang detail, dan terdiri atas pasukan khusus yang dilengkapi senjata-senjata strategis dan mutakhir. Jika pemerintah Suriah meminta maka kami siap bersama para sekutu kami untuk pembebasan Golan.”

Dia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan negara-negara Arab dan Islam di Timteng terpeceh belah menjadi negara-negara kecil di hadapan Israel.

“Kami tidak akan keluar dari Suriah sampai teroris terakhir keluar dari sana. Kami berperang di Suriah demi membela semua golongan dan mazhab. Kami tidak bermaksud menciptakan perubahan demografi di Suriah. Kami tidak akan meletakkan senjata selagi kawasan ini masih terancam bahaya,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa sebagian besar pemimpin kelompok teroris ISIS adalah orang-orang Arab Saudi, dan karena itu Irak meminta kepada Menlu Saudi Adel al-Jubeir dalam kunjungannya belum lama ini ke Baghdad supaya “menarik hadiah-hadiah yang telah dikirim Saudi ke Irak itu.”

Al-Musawi memastikan al-Jubeir berkunjung ke Irak bukan untuk menggalang kerjasama Saudi ke Irak, melainkan karena di penjara Irak terdapat 51 gembong teroris Saudi.

“Luka Irak akibat ulah Saudi sangat dalam, karena itu kami akan menyambut baik mereka apabila mereka meyakini adanya pemerintahan demokratis pilihan rakyat (Irak) dan menghendaki kerjasama dengannya. Kami sepenuhnya menolak keretakan hubungan antara kami dan Iran, atau upaya mereka mengeruhkan hubungan kami dengan Republik Islam Iran,” terangnya. (rt)

PM Irak: Hanya Ada 2 Pilihan Bagi ISIS, Diadili Atau Mati

Perdana Menteri Irak Haeder Abadi menegaskan hanya ada dua pilihan bagi kelompok teroris ISIS di Mosul , yaitu diadili setelah menyerah, atau mati.

Statemen ini dinyatakan Abadi dalam inspeksinya ke sebuah markas militer Irak sembari mengenakan seragam tentara, Rabu (8/3/2017).

Ditujukan kepada para teroris ISIS dia menegaskan, “Hanya satu di antara dua pilihan; mati atau menyerah. Kalian akan mati jika tidak menyerah.”

Pada kesempatan itu Abadi juga memimpin rapat dengan tentara Irak dan berjanji bahwa ISIS akan disidang seadil-adilnya jika m menyerah, sedangkan jika tidak menyerah maka tak ada pilihan lagi bagi mereka kecuali mati. (diyalapress)

Pasukan Irak Rebut Gedung Penjara di Mosul, Al-Baghdadi Bersembunyi Di Gurun

Pasukan Irak berhasil merebut kembali bangunan penjara di barat laut Mosul, yang diduga menjadi tempat kelompok teroris ISIS mengeksekusi ratusan orang dan menyekap kaum wanita sekte Yazidi.  Bersamaan dengan ini dikabarkan bahwa gembong ISIS Abu Bakar al-Baghdadi telah kabur dari Mosul ke kawasan gurun.

Pasukan operasi gabungan Irak dalam statamennya, Rabu (8/3/2017), menyatakan pasukan Divisi 9 Lapis Baja Irak dan milisi Firqah al-Abbas berhasil menguasai Penjara Badush, namun tidak memberi keterangan mengenai apakah dalam penjara itu terdapat para korban penyekapan ISIS.

Human Right Watch melaporkan bahwa ISIS pernah membunuh sekira 600 orang yang disekap dalam Penjara Badush pada Juni 2014. Saat itu para korban dipaksa berjalan merunduk lalu dijatuhkan ke sebuah lembah dan mayat mereka dibakar.

Anggota parlemen Irak Fiyan Dakhil mengatakan bahwa ISIS menyekap lebih dari 500 perempuan penganut sekte Yazidi di penjara Badush.

Sementara itu, sumber-sumber intelijen Irak menyatakan bahwa pemimpin besar ISIS Abu Bakar al-Baghdadi kabur dari Mosul ke kawasan gurun terpencil di sekitar perbatasan Irak-Suriah.

Para pejabat Irak dan Amerika Serikat (AS) meyakini al-Baghdadi telah meninggalkan Mosul sehingga pasukan teroris ISIS kini dikendalikan oleh jajaran kedua petinggi ISIS.

Disebutkan bahwa al-Baghdadi berada di daerah suku-suku pedalaman di utara Sungai Furat, bukan di pangkalan militer ISIS.

Para pejabat intelijen AS dan Irak menyatakan bahwa sejak dimulai operasi pembebasan Mosul awal November lalu ISIS tidak merilis statemen apapun mengenai perang Mosul, dan ini menandakan bahwa al-Baghdadi tak ada di Mosul.

Sebelumnya, laporan terbaru mengenai al-Baghdadi dipublikasi oleh pasukan Irak pada 13 Februari lalu. Saat itu dikabarkan bahwa jet tempur F-16 milik Irak telah menggempur sebuah rumah di kawasan Biaj di daerah perbatasan Irak-Suriah ketika rumah ini menjadi tempat pertemuan al-Baghdadi dengan sejumlah petinggi ISIS.

Para pakar keamanan Irak menyatakan serangan udara Irak sejauh ini telah menewaskan lebih dari 40 petinggi ISIS. (raialyoum/skypress)

Fox News: Warga Negara Saudi Tempati Segmen Terbesar Anggota ISIS

Arab Saudi bisa jadi merupakan sekutu kunci Amerika Serikat (AS) di Timteng, tapi bisa jadi kerajaan kaya minyak juga merupakan negara terdepan dalam menyuplai kelompok teroris ISIS di Irak. Demikian dilaporkan Fox News, Rabu (8/3/2017), berdasarkan data dan keterangan sumber-sumber Irak.

“Kehadiran Saudi dalam ISIS sangat besar….   Orang Saudi menjadi banyak pelaku bom bunuh diri, sebagaimana mereka memang memiliki bidang kerja radikalisasi yang terpasang dalam pikiran mereka dari para syeikh radikal di Saudi. Dan kami telah menangkap para komandan penting ISIS,” ungkap seorang pejabat tinggi intelijen kontra-terorisme Irak kepada Fox News.

Menurut para pejabat intelijen, warga negara Saudi menempati 30 persen kombatan ISIS yang tinggal di Irak. Mereka berdatangan ke Negeri 1001 Malam ini dalam tiga tahun terakhir melalui perbatasan Turki serta melalui dua kota berbatasan Abu Kamal dan Rabia yang dulu pernah dikenal sebagai basis jaringan teroris al-Qaeda.

Sumber intelijen Irak lain menyatakan  Saudi merupakan kontingen terbesar kombatan ISIS dan berada di atas posisi kontingen Chechnya, Rusia.

Menurut Fox News, banyak foto dan dokumen yang diambil dari tempat-tempat persembunyian ISIS dan dari para teroris yang tewas memperlihatkan kartu-kartu identitas dan kredit para petempur ISIS asal Arab Saudi.

Dilaporkan bahwa salah satu petempur ISIS berasal dari Universitas Qassim, Arab Saudi, yang didirikan pada tahun 2004 oleh Universitas King Saud dan Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saudi.

Ketika pasukan Irak berhasil mengusir ISIS dari markasnya di Fallujah tahun lalu, sebuah buku karya pendiri gerakan Wahhabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, telah ditemukan di antara barang-barang pribadi para “jihadis”.

Fox News kemudian menyebutkan bahwa citra Arab Saudi yang sudah sedemikian kental dengan terorisme ini membangkitkan pertanyaan mengapa AS masih menjadikan Saudi sebagai sekutu dekat.

Menurut Fox News, banyak pakar kebijakan luar negeri memandang Saudi sebagai sponsor terbesar ekstrimisme Islam di dunia, tapi Kemlu AS justru masih saja menyebut Saudi “mitra kuat dalam upaya keamanan dan kontra-terorisme regional, yang menyediakan kerjasama militer, diplomatik, dan kerjasama keuangan . ” (foxnews)