Rangkuman Berita Utama Timteng, Kamis 8 Desember 2016

Assad melambaikan tanganJakarta, ICMES: Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan negara-negara pendukung terorisme menyerukan gencatan senjata karena para teroris sudah berada di ujung tanduk, sementara gencatan senjata akan segera diumumkan di kota Aleppo.

Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump berjanji akan menghentikan bantuan kepada kawanan bersenjata yang memerangi pemerintah Suriah dan Rusia.

Pasukan Irak bergerak maju menuju Sungai Tigris, Mosul, namun mendapat kesulitan akibat sengitnya perlawanan ISIS.

Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam pidatonya pada pertemuan puncak negara-negara Arab anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) menyebut Iran negara agresif, dan Inggris akan membantu negara-negara Arab Teluk Persia menghadapi Iran.

Berita selengkapnya;

Al-Assad: Mereka Mengemis Gencatan Senjata Karena Nasibnya Sudah Di  Ujung Tanduk

Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan bahwa tuntasnya perang di Aleppo akan menjadi “terminal besar” menuju berakhirnya perang yang melanda negaranya selama lebih dari lima tahun, dan pihak lawan mengemis gencata karena nasibnya sudah berada di ujung tanduk.

Dalam wawancara dengan al-Watan yang dimuat  hari ini, Kamis (08/12/2016), dia mengatakan, “Memang, perang Aleppo akan menjadi keuntungan, tapi agar kita realitis, ini tidak berarti berakhirnya perang di Suriah,  melainkan terminal besar menuju berakhirnya perang.”

Dia melanjutkan, “Tapi perang di Suriah tidak akan berakkhir kecuali setelah teroris terbasmi sepenuhnya. Para teroris masih ada di kawasan-kawasan lain. Walaupun kami dapat menyudahi perang di Aleppo, kami masih akan melanjutkan perang terhadap mereka.”

SAA sekarang bahkan dilaporkan telah menguasai 80 persen wilayah Aleppo Timur, dan kekalahan perang kawanan bersenjata dinilai  sebagai kunci SAA dalam penyelesaian tragedi pemberontakan.

“Kegagalan (kawanan bersenjata dan para pendukungnya di luar negeri) di Aleppo merupakan perubahan proses perang di semua bagian Suriah, dan pada gilirannya merupakan kekandasan agenda asing, baik regional  maupun Barat,” ujar al-Assad.

Mengenai gencatan senjata di Aleppo dia mengatakan, “Mereka, terutama Amerika Serikat (AS), bersikeras menuntut gencatan senjata, karena para teroris yang menjadi antek mereka sudah berada dalam posisi sulit.”

Enam negara Barat, yaitu AS, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Kanada, Rabu (7/12/2016) menyerukan gencatan senjata secepatnya di Aleppo. (mm/afp)

Gencatan Senjata Segera Diterapkan di Aleppo

Gencatan senjata akan segera diumumkan di kota Aleppo, Suriah. Demikian dinyatakan oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata di kota ini, Rabu (7/12/2016).

“Para wakil kelompok-kelompok revolusi melanjutkan pertemuan mereka dengan para petinggi pasukan pemerintah dan tentara Rusia dengan pengawasan Komite Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah untuk mencapai kesepakatan bagi keluarnya militan bersenjata -dan siapapun di antara warga sipil yang berminat-  dari  Aleppo menuju  wilayah utara provinsi Aleppo, bukan ke provinsi Idlib,” ujar sumber oposisi kepada kantor berita Jerman, DPA.

Dia menambahkan kelompok-kelompok bersenjata menginginkan jeda kemanusiaan selama lima hari, termasuk demi perawatan para korban luka yang jumlahnya lebih dari 700 orang yang beberapa di antaranya perempuan dan anak kecil serta untuk evakuasi warga sipil yang berkenan.

Di pihak lain, sumber yang dekat dengan pasukan pemerintah mengatakan, “Dalam beberapa jam mendatang akan dirilis pernyataan yang menentukan bentuk kesepakatan yang mungkin akan dicapai bersama para wakil kelompok-kelompok oposisi.” (mm/dpa)

Trump Janjikan Hentikan Bantuan Kepada Kawanan Bersenjata di Suriah

Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump berjanji akan menghentikan bantuan kepada kawanan bersenjata yang memerangi pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia.

Dalam pidatonya, Selasa malam (6/12/2016), dia juga mengatakan, “Negara manapun yang sama-sama bertujuan mengalahkan ISIS akan menjadi mitra kami dalam misi ini.”

Dia menambahkan bahwa AS harus berkonsentrasi kepada penumpasan teroris daripada menerapkan kebijakan untuk mengubah rezim-rezim yang berkuasa.

“Kami akan berhenti bergegas menjatuhkan pemerintahan-pemerintahan asing yang kita tidak mengetahui apa-apa tentang mereka…  Sebagai gantinya kita harus mengarahkan konsentrasi kita pada upaya mengalahkan teroris dan menghancurkan ISIS,” tegasnya. (mm/raialyoum)

Pasukan Irak Dikepung ISIS di Rumah Sakit Mosul

Pasukan Irak terlibat pertempuran sengit melawan para kombatan teroris ISIS di bagian timur kota Mosul, Irak utara, dan bergerak maju menuju Sungai Tigris untuk terus menekan mereka dalam operasi militer yang sudah berjalan tujuh minggu.

Perwira tinggi Irak dari Divisi 9 menyatakan pasukannya berhasil menguasai rumah sakit al-Salam yang terdiri atas lima tingkat di mana yang tertinggi di antaranya menjadi posisi para sniper teroris.

Serbuan pasukan Irak yang terjadi Selasa lalu tercatat sebagai yang terbesar di bagian timur Mosul sejak operasi pembebasan kota ini dimulai pada 17 Oktober lalu.

Komandan Divisi 9 Brigjen Shakir Kadim mengatakan bahwa pasukan Irak bergerak di kawasan al-Salam hingga sejarak 2 km dari Sungai Tigris.

“Tapi situasi hari ini sulit, karena pertempuran berlangsung begitu sengit,” imbuhnya.

Dia menjelaskan bahwa pasukannya harus bergerak maju menuju Jembatan 4 untuk kemudian berjumpa dengan pasukan kontra-terorisme di bagian tenggara Mosul.

“Dengan mencapai Sungai Tigris maka kewajiban Divisi 9 akan tuntas,” katanya.

Sementara itu, petinggi pasukan kontra-terorisme mengatakan bahwa pertempuran di kawasan al-Salam sengit sekali, dan tentara meminta pasukan dukungan.

“Divisi 9 berada dalam posisi sulit sehingga meminta dukungan kami, dan sekarang salah satu resimen tempur pasukan kontra-terorisme akan memberikan bantuan,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa para teroris mengepung Divisi 9 di rumah sakit al-Salam.

“Kami akan menuju ke sana untuk membukakan akses bagi mereka,” lanjutnya.  (mm/afp)

PM Inggris Sebut Iran Negara Agresif

Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam pidatonya pada pertemuan puncak negara-negara Arab anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di Manama, ibu kota Bahrain, Rabu (7/12/2016), menyatakan negaranya akan membantu negara-negara Arab Teluk Persia menghadapi “agresivitas” Iran di kawasan.

Dia memastikan Iran tetap menjadi ancaman bagi stabilitas Timur Tengah, dan Inggris tidak akan mengabaikan “agresivitas” Iran di Suriah dan Yaman.

May merasa realistis soal ancaman Iran di Teluk Persia dan wilayah yang lebih luas, dan siap untuk “menghadapi aktor negara yang pengaruhnya menjadi bahan bakar instabilitas”.

“Saya ingin menekankan kepada Anda bahwa saya melihat dengan jelas ancaman Iran bagi Teluk…Kita harus bekerjasama menghadapi tindakan agresif Iran di kawasan,” katanya. Pertemuan Puncak GCC diresmikan oleh Raja Salman bin Abdulaziz, Selasa (6/12/2016), dengan pidato yang berisikan seruan “meningkatkan upaya menghadapi tantangan regional”. (mm/guardian/skynews)