Rangkuman Berita Utama Timteng, Kamis 23 Februari 2017

tanki ammonia israelJakarta, ICMES:  Israel mengeluarkan instruksi pengosong tanki-tanki penyimpangan ammonianya di Haifa setelah ada ancaman dari Hizbullah.

Barat membesar-besarkan peranan pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) dalam penumpasan teroris di Irak

Pasukan elit Iran menguji coba ranjau anti-helikopter.

Turki mengaku pasukannya telah menguasai separuh kota al-Bab, tapi dibantah oleh Observatorium Suriah untuk HAM.

Berita selengkapnya;

Diancam Nasrallah, Israel Kosongkan Tanki Penyimpanan Ammonia

Mendapat ancaman dari Sayyid Hassan Nasrallah bahwa Hizbullah akan menggempur tanki-tanki amonia Israel jika terjadi perang, Israel mengeluarkan instruksi pengosong tanki-tanki penyimpangan amonianya di Haifa karena dinilai sangat berbahaya dan bahkan berpotensi berubah menjadi “bom nuklir.”

Kementerian Lingkungan Hidup Israel, Rabu (22/2/2017), menyatakan pihaknya tidak akan memperpanjang izin pengisian tanki-tanki amonia di utara kota Haifa itu.

Kementerian ini menyatakan bahwa tanki-tanki yang menampung 12.000 ton racun itu membuat publik berada dalam  “risiko yang dapat diterima”.

Dilaporkan bahwa tahun lalu Hassan Nasrallah menyebut tempat penyimpanan amonia akan berubah menjadi seperti “bom nuklir” jika terkena rudal Hizbullah Lebanon.

Kementerian Lingkungan Hidup Israel memberlakukan larangan pengisian lagi tanki-tanki itu oleh perusahaan Haifa Chemicals sejak 1 Maret 2017.

Kementerian ini menetapkan jangka waktu paling lambat tiga bulan untuk distribusi bahan-bahan kimia yang tersimpan dalam tanki-tanki itu ke berbagai pihak industri terkait.

Keputusan ini diambil oleh kementerian tersebut setelah pengadilan di Haifa meminta wali kota setempat supaya mengosongkan tanki-tanki itu dalam jangka waktu paling lambat 10 hari. Haifa Chemicals tak pelak memrotes keputusan ini.

Mengacu pada peringatan para pakar dan aktivis, Hassan Nasrallah menyatakan bahwa “puluhan ribu orang” akan tewas jika tanki-tanki itu terkena rudal Hizbullah.

Amonia adalah zat beracun yang dimanfaatkan untuk produksi pupuk kimia dan pembuatan lemari es. (afp/arutzsheva)

Media Barat Besar-Besarkan Peran Koalisi Internasional Dalam Penumpasan ISIS

Pakar militer Irak Imad Alawi menyatakan media Barat terlampau membesar-besarkan peranan pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) dalam penumpasan teroris di Irak, Rabu (22/2/2017). Bersamaan dengan ini pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi berhasil memblokir jalur suplai kelompok teroris ISIS antara Mosul dan Tal Afar, Irak utara.

Dalam wawancara dengan az-Zaman terbitan London Alawi menjelaskan, “Pasukan koalisi gencar membombardir markas-markas komando ISIS di Mosul Barat dan meningkatkan penerbangannya untuk mendukung angkatan bersenjata Irak, sedangkan dalam pembebasan bagian timur tidak demikian; serangan udara pasukan koalisi internasional tak sebanyak itu,” terangnya.

Dia menambahkan bahwa ada kontradiksi dalam laporan-laporan mengenai peranan pasukan koalisi. Dia mencontohkan bahwa pasukan koalisi sampai sekarang tidak pernah berhadapan langsung dengan ISIS, tapi media Barat mengesankan seolah mereka berhadapan langsung.

“Pasukan asing itu umumnya hanya sebagai penasehat militer, bukan kombatan,” cetusnya.

Sementara itu, di hari yang sama al-Hashd al-Shaabi berhasil memblokir jalur utama Mosul menuju Tal Afar hingga perbatasan Suriah serta menguasai sebuah desa strategis di wilayah ini.

“Jalur internasional Mosul menuju perbatasan Suriah pada rute Mosul-Tal Afar telah jatuh ke tangan pasukan al-Hashd al-Shaabi,” ungkap Ahmad al-Asadi, juru bicara pasukan ini.

Dia menambahkan bahwa dengan demikian jalur perhubungan dan suplai pasukan teroris ISIS antara Mosul dan Tal Afar terputus total, dan dalam kelanjutan operasinya, pasukan al-Hashd al-Shaabi telah memasuki dan menguasai desa strategis Ashaji. (irna)

Pasukan Elit Iran Uji Coba Ranjau Baru Anti-Helikopter

Pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam latihan perangnya yang berlangsung tiga hari dengan sandi “al-Rasul al-A’dham” (Nabi Besar saw) dan berakhir Rabu (22/2/2017) telah menguji coba dua ranjau jenis baru yang masing-masing dapat membidik sasaran darat dan sasaran udara.

Satu jenis di antara keduanya diberi nama “Saeqeh” (halilintar) yang dikendalikan dari jarak jauh untuk melompat dan menerjang sasaran helikoper atau pesawat tempur yang terbang rendah.

Sedang jenis ranjau yang lain diberi nama “Sejjil” (batu neraka) dengan kemampuan meledak hingga setinggi 10 meter dari permukaan tanah dan menghujani sasaran dengan pecahan peluru.

Ranjau untuk membidik sasaran yang terbang sudah pernah dikembangkan oleh beberapa negara yang terlibat dalam Perang Dingin antara kubu NATO dan kubu Pakta Warsawa.

Ranjau ini dikenal dengan sebutan ranjau anti-helikopter (anti helicopter mine/AHM), dan diaktifkan dengan beragam sensor, termasuk sensor yang berbasis hembusan angin baling-baling heli dan sensor berbasis gerak dengan teknologi infra merah. (alalam)

Pasukan Turki Kuasai Separuh Kota Albab?

Menteri Pertahanan Turki Fikri Isik menyatakan pasukan negaranya telah mengusai “lebih dari separuh” kota Al-Bab, provinsi Aleppo, Suriah utara, dan dia memperkirakan jumlah “jihadis” ISIS yang tersisa di kota ini sekarang hanya tinggal “kurang dari 100”.

“Kami memperkirakan jumlahnya sudah menjadi kurang dari 100, tapi mereka berbahaya, ada para sniper yang mengintai, dan ada pula para penyerang bunuh diri,” katanya dalam wawancara dengan NTV milik Turki, Rabu (22/2/2017).

Dia menambahkan bahwa pasukan oposisi Suriah yang didukung oleh tentara Turki telah merebut lebih dari separuh kota al-bab, dan mereka melanjutkan “operasi pembersihan dari distrik ke distrik, dan di sana masih ada bahan peledak dan bom-bom rakitan.”

Al-Bab yang menjadi basis terakhir ISIS di provinsi Aleppo menjadi sasaran serangan tentara Turki dan kelompok-kelompok oposisi Suriah pendukungnya sejak beberapa bulan lalu.

Pada akhir Agustus 2016 Turki memulai operasi militer di Suriah utara dengan dalih mendukung oposisi Suriah serta menumpas ISIS sekaligus para pejuang Kurdi yang bermitra dengan Amerika Serikat dalam memerangi ISIS karena Turki memandang milisi Kurdi sebagai kelompok teroris.

Sejak 10 Desember lalu sampai sekarang sebanyak 69 tentara Turki tewas dalam operasi tersebut.

Sementara itu, lembaga Observatorium Suriah untuk HAM menyatakan bahwa berdasarkan data-data yang didapat melalui jaringannya yang luas di Suriah, kemajuan pasukan Turki tak sebesar apa diklaim Istanbul.

Direktur eksekutif lembaga ini, Rami Abdulrahman, mengatakan bahwa kubu Turki baru menguasai “kurang dari 25 persen luas kota (al-Bab) yang didalamnya masih bertahan sebanyak 700 kombatan IS (ISIS).”

Dia menambahkan sedikitnya 124 warga sipil di al-Bab terbunuh dalam serangan mortir dan udara yang dilancarkan oleh pasukan Turki. Turki membantah tuduhan ini dan mengaku pihaknya berusaha semaksimal mungkin menghindari jatuhnya korban sipil. (raialyoum/arabnews)