Rangkuman Berita Utama Timteng, Kamis 20 Oktober 2016

mosul-kepulan-asapJakarta, ICMES: Memasuki hari ketiga operasi pembebasan kota Mosul, Irak utara, pasukan negara ini dikabarkan terus bergerak maju dan menemukan sebuah penjara besar di bawah tanah, sementara para kombatan ISIS mengandalkan aksi-aksi serangan bunuh diri.

Di Suriah, pasukan pemerintah mengumumkan bahwa gencatan senjata demi kemanusiaan diberlakukan di kota Aleppo timur selama delapan jam setiap hari selama tiga hari sejak Kamis pagi, dan milisi pejuang Hizbullah bersumpah tidak akan beranjak dari negara Suriah.

Di Yaman, gencatan senjata secara resmi mulai diterapkan di Yaman sejak Rabu (19/10/2016) pukul 23.59 waktu setempat untuk selang waktu selama 72 jam.

Berikut ini rangkuman beberapa peristiwa utama Timteng tersebut:

Bom Bunuh Diri, Senjata Andalan ISIS Dalam Perang Mosul

Memasuki hari ketiga operasi militer besar-besaran untuk pembebasan kota Mosul, Irak utara, pasukan negara ini dikabarkan terus bergerak maju, membebaskan beberapa desa lain di front al-Qayyarah, Namrud dan Habani, serta menemukan sebuah penjara besar tempat ISIS menyekap sekira 1000 orang.

Menurut keterangan para komandan militer Irak di lapangan, Rabu kemarin (19/10/2016) pasukan negara ini berhasil merebut desa Kani Haram dan desa Abasah meskipun para kombatan ISIS berusaha mati-matian melawan pasukan Irak dengan melancarkan aksi-aksi serangan bunuh diri.

Taktik yang digunakan ISIS ialah menggali banyak lobang dan terowong di desa-desa sekitar Mosul agar aman dari gempuran pasukan udara, dan dari situ pula mereka mencoba menghambat gerak maju pasukan darat, termasuk dengan cara muncul secara tiba-tiba dan meledakkan diri ketika pasukan Irak berada di dekat mereka.

Tidak disebutkan seberapa banyak korban di pihak pasukan Irak akibat serangan-serangan seperti ini.

Selain itu, semua jalur juga sudah ditebari ranjau oleh kawanan ISIS sehingga pasukan jihandak Irak sibuk berusaha mensterilkan jalan-jalan yang dilewati sehingga praktis gerak maju pasukan Irak banyak mengalami hambatan.

Hamdaniya Dikepung

Sebelumnya sempat tersiar kabar bahwa pasukan Irak berhasil menguasai sepenuhnya distrik atau kota kecil Hamdaniya yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Namun belakangan dilaporkan bahwa pasukan Irak masih baru mengepung distrik ini, dan para petempur ISIS berusaha melawan gerak maju pasukan menuju pusat distrik.

Dengan menguasai distrik ini pasukan Irak akan berhasil menguasai salah satu kubu utama pertahanan ISIS sebelum masuk ke kota Mosul.

Temuan Penjara Bawah Tanah

Menyusul keberhasilan menguasai puluhan desa, pasukan Irak menyingkap satu lagi tirai kejahatan ISIS di wilayah yang diduduki oleh pasukan teroris takfiri ini. Di desa Hut, pasukan Irak telah menemukan sebuah penjara besar di bawah tanah.

Tak tanggung-tanggung, di situ ISIS menyekap sekira 1000 orang. Dengan terbebaskannya penjara itu maka seribuan orang itu juga praktis terbebaskan dan akan segera dikembalikan kepada keluarga masing-masing.

Pasukan Koalisi Tak Becus

Beberapa komandan pasukan Irak menilai pasukan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) tidak serius memerangi ISIS. Menurut mereka, pasukan itu tidak maksimal dalam menyerang ISIS, dan karena itu mereka menyatakan bahwa serangan udara sebaiknya mengandalkan angkatan udara Irak sendiri.

Tak ada keterangan lebih lanjut bagaimana persisnya kinerja dan gelagat pasukan koalisi itu sehingga dinilai tak becus.

Sejak jauh hari sebelumnya, AS yang memiliki banyak penasehat militer yang menyertai pasukan Irak dalam operasi pembebasan Mosul terindikasi mencarikan peluang bagi ISIS untuk kabur dari Mosul ke wilayah Suriah, dan karena itu sisi barat Mosul tidak terkepung.

Maygen Gary Bolesky dari pasukan koalisi pimpinan AS Rabu kemarin menyatakan para petinggi ISIS kabur dari Mosul, dan para kombatan asing masih bertahan terlibat dalam perang Mosul.

Dia mengaku “melihat pergerakan” para pejabat dan petempur Negara Islam (ISIS) keluar kota, sementara para petempur asing “bertahan di sana dan akan diperangi.”

Tentara Suriah Umumkan Gencatan Senjata 3 Hari di Aleppo

Pasukan Arab Suriah (SAA) mengumumkan bahwa gencatan senjata demi kemanusiaan diberlakukan di kota Aleppo timur selama delapan jam setiap hari selama tiga hari sejak Kamis pagi (20/20/2016). Sebelumnya, pemerintah Rusia yang menyokong pemerintah Suriah menyatakan gencatan senjata diberlakukan hanya satu hari.

Dalam statemennya yang dirilis Rabu (19/10/2016), pasukan pemerintah Suriah ini menyatakan, “Gencatan senjata demi kemanusiaan di kawasan timur kota Aleppo telah dimulai selama tanggal 20, 21, dan 22 Oktober mulai pukul 08.00 s/d 13.00 (waktu setempat).”

SAA kembali menyerukan kepada “semua kawanan bersenjata di kawasan timur kota Aleppo agar meletakkan senjata dan mereka dijamin dapat memanfaatkan amnesti.”

Beberapa media Rusia, termasuk Regnum dan Rossiyskaya Gazeta, menyebutkan bahwa sejumlah besar pemberontak Suriah telah meletakkan senjata secara sukarela dan keluar dari Aleppo timur melalui jalur yang telah ditetapkan. Selain mereka, sejumlah penduduk setempat yang sebagian di antaranya luka dan sakit juga keluar dari Aleppo timur.

Para pemberontak itu keluar dengan menggunakan bus khusus menuju Idlib yang dikuasai oleh kawanan teroris dan pemberontak.

Hizbullah Bersumpah Tidak Akan Beranjak Dari Suriah

Milisi pejuang Hizbullah yang bermarkas di Lebanon menegaskan pihaknya tidak akan beranjak dari negara Suriah yang sudah sekian tahun dilanda perang saudara dan terorisme.

Wakil Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem, Rabu (19/10/2016), menyatakan bahwa Hizbullah bersama para sekutunya di Suriah sekarang dapat menghadapi konspirasi kaum mustakbirin dunia serta mencegah jatuhnya Suriah dari tangan kubu muqamawah (perlawanan terhadap Israel) ke tangan kubu yang bersekongkol dengan Israel.

“Dengan resiko apapun kami akan terus berjuang, dan tidak akan meninggalkan Suriah selagi di sana diperlukan perang melawan kaum takfiri…Kami mengetahui bahwa penyelesaian di Suriah lambat, dan bisa jadi akan sangat lambat. Jika ada orang yang mengira kami sudah loyo maka ketahuilah bahwa kami adalah kaum yang pantang loyo,.” tegasnya.

Gencatan Senjata Mulai Diterapkan di Yaman

Gencatan senjata secara resmi mulai diterapkan di Yaman sejak Rabu (19/10/2016) pukul 23.59 waktu setempat untuk selang waktu selama 72 jam, namun dapat diperpanjang lagi sesuai kesepakatan yang ditengahi oleh PBB.

Gencatan senjata yang sudah diumumkan Senin malam lalu oleh Utusan PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh Ahmad itu merupakan upaya keenam kalinya untuk menyudahi pertempuran yang berlangsung sejak Maret 2015 antara milisi Ansarullah (Houthi) dan pasukan militer loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh di satu pihak dan pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang dibantu oleh pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi di pihak lain.

Sebelum dimulainya gencatan senjata itu, koalisi Arab dalam sebuah statemennya menyatakan akan konsisten pada perjanjian gencatan senjata, namun juga menegaskan akan terus menerapkan blokade dan pemantauan dari udara dan laut terhadap pergerakan pasukan Ansarullah dan sekutunya.

(irna/sputnik/alalam/afp/sana/irna/raialyoum/spa)