Rangkuman Berita Utama Timteng, Kamis 2 Februari 2017

Michael FlynnJakarta, ICMES: Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengancam akan bertindak tegas terkait dengan ujicoba rudal balistik Iran, sementara presiden Iran menyebut presiden AS orang yang tak mengerti dunia politik. Bersamaan dengan ini, Arab Saudi dan AS sepakat mengecam sepak terjang Iran di Timteng, dan tentara Suriah berhasil menguasai kawasan seluas ratusan kilometer persegi setelah sekian hari bertempur sengit melawan ISIS.

Berita selengkapnya:

Soal Ujicoba Rudal Iran, AS Ancam Akan Bertindak Tegas

Penasehat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat, Michael Flyn, mengecam ujicoba rudal balistik yang dilakukan Iran belum lama ini, dan menyebutnya pelanggaran “provokatif” terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.

Flynn juga menuding Iran melakukan serangkaian tindakan provakotif lain, termasuk menyokong gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman yang belum lama ini telah menyerang kapal perang Arab Saudi dekat pelabuhan Hudaida, Yaman.

“Dimulai sejak hari ini, kami secara resmi memperingatkan Iran,” katanya dalam jumpa pers di Gedung Putih, Rabu (1/2/2017).

Dia menyatakan tindakan Iran itu mengancam stabilitas regional dan menimbulkan resiko pada kehidupan orang-orang AS, dan karena itu Iran sekarang sudah “mendapat peringatan.”

“Pemerintahan Trump mengutuk aksi-aksi Iran itu, yang merusak keamanan, kemakmuran, dan stalibilitas di seluruh dan di luar Timteng, dan menempatkan kehidupan orang-orang Amerika pada resiko,” katanya.

Flynn tidak memberikan isyarat apapun mengenai langkah yang akan diambil oleh AS, apakah melalui jalur militer atau diplomatik,  terhadap tindakan “provokatif” Iran tersebut.

Dia juga menilai pemerintahan presiden AS sebelumnya, Barack Obama, tak becus menangani “aksi-aksi berbahaya” Iran.

Menimpali pernyataan ini, Sekrataris Pers Gedung Putih Sean Spicer di hari yang sama mengatakan bahwa AS tidak ingin “duduk diam dan tak bertindak terhadap aksi-aksi mereka.”

Iran sendiri sebelumnya juga telah memberi peringatan terhadap AS. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Jawad Zarif menyatakan AS hendaknya tidak mencari-cari “dalih” untuk membangkitkan “ketegangan baru” mengenai proyek rudal balistik Iran.

“Rudal bukan bagian dari kesepakatan nuklir. Iran selamanya tidak akan pernah menggunakan rudal-rudal yang dibuat di Iran untuk menyerang negara lain… Rudal Iran dibuat bukan untuk membawa hulu ledak nuklir,” tegasnya dalam konferensi pers bersama sejawatnya dari Perancis,  Jean-Marc Ayrault, di Teheran, Selasa (31/1/2017). (cnn)

Presiden Iran Sebut Trump Makhluk Asing Dan Bodoh

Presiden Iran Hassan Rouhani mengecam sejawatnya di Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai orang yang tak mengerti dunia politik dan telah melanggar prinsip-prinsip internasional dengan menerapkan rasisme.

Tanpa menyebutkan nama Trump, Rouhani pada acara peringatan Hari Teknologi Antariksa Iran, Rabu (1/2/2017), di Teheran mengatakan, “Ada pendatang baru yang semula hidup di alam lain kemudian masuk ke dunia politik. Suasana sekarang ini asing baginya….  Dia dan orang-orang sekitarnya akan menyadari bahwa apa yang harus mereka lakukan sekarang ini akan membuang banyak waktu dan mencelakakan bangsanya sendiri dan bangsa-bangsa lain.”

Seperti diketahui, pekan lalu Trump menandatangani keputusan berupa larangan masuk ke AS yang berlaku selama 90 hari bagi warga tujuh negara Islam, termasuk Iran, serta penangguhan masuknya semua pengungsi selama 120 hari, dan larangan masuk secara tanpa batas bagi pengungsi Suriah.

Presiden Iran mengatakan bahwa kebijakan AS semula “bertumpu pada kemunafikan, berbeda antara ucapan dan perbuatannya, tapi sekarang kedoknya telah dibuka sendiri oleh Trump.”

“Orang dari jenis khusus ini (Trump) telah menyingkap tirai kebijakan hipokrit AS, dan memperlihatkan segala yang ada di dalamnya,” ujar Rouhani.

Mengenai kebijakan imigrasi Trump, Rouhani mengatakan, “Slogan AS semula adalah persamaan, bukan rasisme. Mereka dulu mengatakan bahwa era diskriminasi sudah berlalu. Mereka dulu mengaku membela HAM. Tapi apa yang terjadi sekarang? Tindakan ini prinsipnya salah, yaitu diskriminasi ras. Keputusan ini melanggar HAM.” (raialyoum)

Saudi dan AS Kecam “Campur Tangan” Iran di Timteng

Riyadh, LiputanIslam.com –  Persekutuan Saudi dengan Amerika Serikat (AS) tampak masih mulus meskipun Gedung Putih sudah berganti penghuni yang disebut-sebut sangat anti umat Islam, setidaknya ketika keduanya berbicara tentang Iran.

Dalam percakapan telefon Mohammad Bin Salman Bin Abdulaziz,  wakil putera mahkota merangkap menhan Saudi, dengan Menhan AS, James Mattis, Selasa malam lalu (31/1/2017), keduanya menyatakan “menolak sepenuhnya campurtangan rezim Iran dan perwakilannya dalam urusan negara-negara regional (Timteng) dengan tujuan menggoyang keamanan dan stabilitas di sana.”

Keduanya juga menekankan pengembangan hubungan strategis bilateral di bidang-bidang yang lebih luas.

Mattis menyatakan negaranya “siap bekerja bahu membahu bersama Bin Salman di semua bidang.”

Dia kemudian mengecam serangan Ansarullah Yaman terhadap kapal perang Saudi di Laut Merah dekat pelabuhan Hudaidah, Yaman, dan mengucapkan belasungkawa atas kematian dua  tentara Saudi akibat serangan tersebut.

Sementara itu, Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Alam Saudi Khaled al-Falih, dalam mengomentari heboh kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump mengatakan, “AS berhak menjamin keselamatan rakyatnya.”

Pernyataan ini terkait dengan keputusan Trump menerapkan larangan masuk ke AS yang berlaku selama 90 hari bagi warga negara Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman, penangguhan masuknya semua pengungsi selama 120 hari, dan larangan masuk secara tanpa batas bagi pengungsi Suriah.

Keputusan ini mendapat kecaman dari berbagai negara, termasuk negara-negara Eropa, Sekjen PBB Antonio Guterres, dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). (spa)

20 Hari Bertempur Melawan ISIS, SAA Kuasai Kawasan Seluas 250 Km Persegi

Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil menguasai lebih dari 30 distrik, desa, dan dataran tinggi strategis di bagian timur provinsi Aleppo setelah bertempur sengit melawan kelompok teroris ISIS.

Al-Alam, Rabu (1/2/2017), melaporkan bahwa dalam pertempuran selama 20 hari terakhir, pasukan pemerintah Suriah ini bergerak maju sejauh 16 km, dan di sebagian arah bahkan mencapai 25 km, sehingga menguasai kawasan seluas 250 km persegi.

Mereka menggempur semua kubu pertahanan yang didirikan ISIS di sana dan menguasai terowongan-terowongan dan parit-parit sepanjang puluhan kilometer di sepanjang wilayah front pertempuran. Mereka juga berhasil menjinakkan lebih dari 4000 bom serta memperkuat kekuasaannya atas jalan raya Aleppo – Albab, mulai dari desa Tayarah hingga kawasan pertanian al-Madyunah, sepanjang 16 km.

Di bagian lain, sumber militer Suriah mengatakan kepada kantor berita Jerman DPA bahwa Rabu sore ISIS melancarkan serangan besar-besaran terhadap pangkalan udara militer di provinsi Damaskus.

“Tentara (Suriah) telah mematahkan serangan besar terhadap kawasan segi tiga di timur laut lapangan udara militer al-Sin di Rif Damaskus, dan menghancurkan lebih dari lima unit mobil bersenapan mesin berat DShK dan para anggota ISIS yang ada di dalamnya,” ungkap sumber itu.

Dia menambahkan bahwa dewasa ini SAA sedang mengamankan jalur lapangan udara al-Sin setelah terlibat pertempuran sengit melawan ISIS, memperkuat posisi-posisinya, dan memperluas wilayah kekuasaannya di sekitar lapangan udara.” (alalam/raialyoum)