Rangkuman Berita Utama Timteng, Jumat 9 Desember 2016

pm-turki-binali-yelderimJakarta, ICMES: Turki menyatakan belasungkawa kepada Irak atas tragedi serangan teror terhadap para peziarah Karbala.

Menlu Rusia Sergey Lavrov mengumumkan jeda kemanusiaan di Aleppo untuk evakuasi warga sipil yang terjebak perang.

Presiden Suriah menyatakan hubungan negaranya dengan Mesir mulai membaik, tapi masih sebatas kerjasama keamanan.

Pasukan koalisi internasional anti ISIS mengklaim sedikitnya 50,000 anggota kelompok teroris ISIS tewas di Suriah dan Irak terkena serangan pasukan ini dalam dua tahun terakhir.

Pemerintah Rusia menepis klaim Uni Eropa (UE) mengenai bantuan kemanusiaan Barat kepada rakyat Suriah.

Berita selengkapnya;

Turki Nyatakan Belasungkawa Atas Tragedi Teror Peziarah Karbala

Perdana Menteri Turki Binali Yelderim menyatakan pihaknya menginginkan kerjasama Turki  dengan Irak dalam perang melawan terorisme. Hal ini dinyatakan dalam pernyataan belasungkawa kantor perdana menteri Turki yang dirilis Kamis (8/12/2016) atas tragedi serangan teror ISIS terhadap para peziarah dan peserta peringatan Arbain (40 hari kesyahidan cucu Nabi saw, Imam Husain ra) di provinsi Karbala, yang menjatuhkan puluhan korban jiwa dan luka pada 24 November lalu.

“Atas nama rakyat dan pemerintah Turki, kami mengutuk keras serangan teror yang telah menggugurkan dan melukai banyak saudara kami yang sedang pulang dari ziarah Arba’in di Karbala yang merupakan salah satu tempat suci dalam agama Islam,” bunyi pernyataan itu.

Yelderim menegaskan bahwa serangan teror itu ditujukan untuk menyulut ketegangan bernuansa mazhab, menciptakan perpecahan di Irak dan bahkan kawasan secara umum, dan dilakukan ketika pasukan Irak mengalami kemajuan signifikan dalam perang melawan terorisme.

Ditujukan kepada sejawatnya di Irak, Haider Abadi, Yelderim mengatakan bahwa berkenaan dengan tragedi ini Turki kembali menyatakan dukungannya kepada Irak dalam penumpasan teroris, terutama ISIS, dan menegaskan dukungan Ankara kepada perdamaian, ketentraman, persatuan, kedaulatan dan keamanan Irak.  (mm/irna)

Rusia Umumkan Jeda Kemanusiaan di Aleppo

Menlu Rusia Sergey Lavrov mengumumkan penangguhan operasi serangan pasukan pemerintah Suriah di Aleppo demi membukakan kesempatan untuk evakuasi warga sipil.

“Saya dapat mengatakan kepada Anda hari ini bahwa operasi militer di Aleppo timur telah dihentikan karena di sana ada operasi besar-besaran untuk mengevakuasi warga sipil,” katanya di sela-sela pertemuan Organisasi Keamanan dan Kerjasama Uni Eropa (Organization for Security and Co-operation in Europe/OSCE) di Hamburg, Jerman, Kamis (8/12/2016).

“Di situ akan ada jalur evakuasi 80,000 orang sejarak 5 km,” lanjutnya.

Dia juga menyebutkan bahwa perundingan militer dan diplomatik akan diselenggarakan di Jenewa, Swiss, Sabtu depan untuk “mengakhiri tindakan yang membatasi sarana penyelesaian persoalan di Aleppp timur.”

Dia menjelaskan bahwa perundingan ini akan membahas terutama mengenai rencana evakuasi militan maupun sipil yang bersedia dievakuasi.

Menanggapi hal ini, jubir Gedung Putih Josh Earnest mengatakan, “Ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang positif mungkin akan terjadi.” (mm/raialyoum)

Al-Assad: Hubungan Suriah-Mesir Membaik

Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam wawancara dengan surat kabar al-Watan yang dimuat Kamis (8/12/2016), menyatakan bahwa hubungan negaranya dengan Mesir mulai membaik, tapi sejauh ini masih sebatas kerjasama keamanan.

Menanggapi pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi bahwa Mesir mendukung tentara nasional Suriah, al-Assad mengatakan, “Kami berharap pernyataan Presiden el-Sisi ini terefleksi pada level hubungan ini.”

Dia melanjutkan, “Di saat yang sama kami mengetahui bahwa tekanan terhadap Mesir tidak berhenti, baik dari Barat yang menginginkan Mesir berperan marginal dengan arah yang terbatas, dan dari sebagian syeikh Teluk yang tak masuk sejarah tapi menginginkan supaya suatu negara yang menyandang salah satu peradaban tertua di dunia bisa menjadi seperti mereka.”

Dia menjelaskan bahwa hubungan Suriah-Mesir membaik setelah runtuhnya kekuasaan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan ini ditandai dengan kunjungan Kepala Dinas Keamanan Suriah Ali Mamlok ke Mesir serta statemen para pejabat Mesir, terutama Presiden el-Sisi, belakangan ini.

“Tapi belum mencapai level yang dikehendaki, karena sejauh ini masih terbatas pada skala keamanan saja,” imbuhnya. (mm/alalam)

Pasukan Koalisi Mengklaim Telah Membunuh Sedikitnya 50,000 Anggota ISIS

Pasukan koalisi internasional anti ISIS pimpinan Amerika Serikat (AS), Kamis (8/12/2016), menyatakan sedikitnya 50,000 anggota kelompok teroris ISIS tewas di Suriah dan Irak terkena serangan pasukan ini dalam dua tahun terakhir.

Dia mengatakan “serangan ini mutlak paling aktif” dengan jumlah korban sipil yang relatif minim dibanding serangan-serangan sebelumnya.

Pasukan koalisi yang terdiri atas 60 negara ini disebutkan telah melancarkan sekira 16,600 serangan di Irak dan Suriah sejak Agustus 2014.

Meski demikian, banyak kalangan di Suriah dan Irak menyangsikan kesungguhan pasukan koalisi dalam memerangi ISIS, dan banyak bukti menunjukkan bahwa terorisme yang menjadi fenomena di Suriah dan Irak tidaklah lepas dari dukungan dana dan senjata AS dan sekutunya di Barat dan kawasan Timteng sendiri.  (mm/skynews)

Rusia Bantah Klaim Uni Eropa Soal Bantuan Kemanusiaan ke Suriah

Pemerintah Rusia menepis klaim Uni Eropa (UE) mengenai bantuan kemanusiaan Barat kepada rakyat Suriah, dan menyatakan bahwa seandainya Barat  mengakhiri sanksi sepihaknya terhadap Suriah maka problema negara ini dalam perang melawan terorisme akan jauh berkurang.

Bantahan ini dikemukakan dalam statemen Kemlu Rusia yang dirilis Kamis (8/12/2016), untuk menanggapi pernyataan Komisioner Tinggi Kebijakan Luar Negeri UE Federica Mogherini bahwa hanya negara-negara UE saja yang mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Suriah.

“Klaim demikian menunjukkan lemahnya informasi tentang ini, atau bahwa Komisioner Tinggi Kebijakan Luar Negeri UE bermaksud menyesatkan publik,” ungkap Kemlu Rusia.

Mogherini sebelumnya menyoal, “Mana para pemain yang ikut serta dalam upaya penyelesaian krisis Suriah?” Menanggapi sindirian ini, Kemlu Rusia menyatakan, “Kami mengingatkan bahwa tak seperti pihak-pihak lain, sejauh ini Rusia sudah mengirim ribuan ton paket bantuan kemanusiaan, dan dalam rangka ini jiwa para staf Rusia bahkan terancam bahaya.”

Rusia balik menyayangkan tindakan masyarakat dunia yang, menurutnya, masih minim dalam memberikan bantuan kemanusiaan.

Rusia kemudian menyentil UE dengan soal bantuan Barat kepada kelompok-kelompok radikal dan teroris di Suriah.

“Jika pengiriman paket kemanusiaan yang dimaksud oleh Komisioner Tinggi Kebijakan Luar Negeri UE adalah bantuan kepada para teroris dan ekstrimis maka Moskow tidak akan ikut serta dalam tindakan demikian,” bunyi statemen itu.

Di bagian akhir statemen, Kemlu Rusia menegaskan, “Seandainya sanksi ekonomi Barat dan UE secara sepihak terhadap Rusia dicabut maka akan mengurangi problematika rakyat negara ini.” (mm/irna/dpa)