Rangkuman Berita Utama Timteng, Jumat 7 Oktober 2016

rusia-igor-konashenkov

Juru bicara Kemhan Rusia Mayjen Igor Konashenkov

Jakarta, ICMES:  Rusia menegaskan bahwa serangan rudal atau serangan udara terhadap posisi pasukan pemerintah Suriah merupakan ancaman langsung bagi tentara Rusia, sehingga AS harus “hati-hati mempertimbangkan kemungkinan konsekuensi” dari tindakan tersebut. Di pihak lain, AS menyatakan masih ada opsi untuk melancarkan serangan udara terhadap pasukan Suriah, meskipun hal ini beresiko buruk bagi kepentingan AS.

Sementara itu, Komandan Pasukan Quds Korp Garda Revolusi Islam Iran Mayjen Qassem Soleimani menyatakan Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman belakangan ini berusaha menawar Suriah untuk menjauhkan negara ini dari Iran dan kubu Muqawamah dengan imbalan penghentian krisis Suriah.

Dan Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan pasukannya akan terus menggempur kawanan bersenjata di Aleppo sampai mereka enyah dari kota ini, atau mereka bersedia keluar dari kota ini berdasarkan kesepakatan rekonsiliasi.  Demikian beberapa berita utama dari Timteng dengan rangkuman sebagai berikut:

Rusia Ancam Habisi Jet Penyerang Suriah

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia menegaskan bahwa serangan rudal atau serangan udara terhadap posisi pasukan pemerintah Suriah adalah ancaman langsung bagi tentara Rusia.

Juru bicara Kemhan Rusia Mayjen Igor Konashenkov, Kamis (6/10/2016), mengatakan bahwa perencana militer AS harus “hati-hati mempertimbangkan kemungkinan konsekuensi” dari tindakan tersebut.

“Hari ini, tentara Suriah memiliki S-200 efektif, Buk dan sistem pertahanan udara lainnya, yang telah mengalami renovasi teknis dalam satu tahun terakhir,” katanya.

Dia menambahkan,”Saya mengingatkan strategi AS bahwa jangkauan udara pangkalan militer Rusia di Tartus dan Hmeimim mencakup sistem rudal anti pesawat S-400 dan 3-300 , kisaran yang mungkin datang sebagai kejutan untuk benda terbang tak dikenal.”

AS Nyatakan Masih Ada Opsi Untuk Serang Suriah

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, Kamis (6/10/2016), menyatakan bukan tidak mungkin Amerika Serikat (AS) akan melancarkan serangan udara terhadap pasukan Suriah, meskipun hal ini beresiko buruk bagi kepentingan AS.

“Operasi militer anti pemerintah Suriah dengan tujuan mengatasi situasi di Aleppo tidak berpotensi dapat merealisasi tujuan-tujuan tertentunya seperti yang disebutkan oleh banyak orang, maksudnya ialah menurunkan level kekerasan. Kemungkinan besar ini akan menyebabkan resiko tak terduga yang sepenuhnya tidak sejalan dengan kepentingan nasional kami, tapi saya menduga bukan tidak mungkin segala opsi akan dipelajari,” ungkap Earnest.

Sementara itu, diplomat AS Robert Ford yang juga mantan dubes AS untuk Suriah dalam wawancara eksklusif dengan channel France 24 menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri AS John Kerry tak sanggup mencarikan solusi krisis Suriah dan belakangan ini mentalnya sudah jatuh.

Ford kemudian menepis kemungkinan adanya intervensi langsung AS di Suriah, tapi dia mengakui bahwa hubungan bilateral Washington-Moskow meradang dan bahkan akan terus memburuk.

Jenderal Soleimani: Suriah Ingin Beli Bashar al-Assad

Komandan Pasukan Quds Korp Garda Revolusi Islam Iran Mayjen Qassem Soleimani menyatakan Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman belakangan ini berusaha menawar Suriah untuk menjauhkan negara ini dari Iran dan kubu Muqawamah dengan imbalan penghentian krisis Suriah.

“Putera Mahkota Saudi berkunjung ke Rusia dan mengadakan pertemuan dengan tokoh Suriah lalu bertanya kepadanya ihwal al-Assad. Delegasi Suriah lantas mengatakan bahwa problema Suriah terletak pada ISIS, dan Mohammad bin Salmanpun berkata, ‘Masalahnya bukan pada ISIS karena kelompok ini akan tamat riwayat, melainkan bahwa segala sesuatu akan selesaikan apabila Suriah menjauh di Iran,’” katanya, Rabu (5/10/2016).

Al-Assad Nyatakan Lagi Dirinya Bukan Superman

Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan pasukannya akan terus menggempur kawanan bersenjata di Aleppo sampai mereka enyah dari kota ini, atau mereka bersedia keluar dari kota ini berdasarkan kesepakatan rekonsiliasi.  Hal ini dia katakan dalam wawancara eksklusif dengan TV2 Denmark, Kamis (6/10/2016), yang teksnya dilansir oleh kantor berita Suriah, SANA.

Dia mengatakan bahwa pasukan Suriah dan Rusia bertujuan “melanjutkan perang terhadap kawanan bersenjata sampai mereka meninggalkan Aleppo.”

“Mereka harus demikian, tak ada pilihan lain, kami tak sudi menerima kawanan teroris berdominasi di bagian Suriah manapun, kecuali apabila ada opsi lain semisal rekonsiliasi sebagaimana terjadi di kawasan-kawasan lain, dan inilah opsi yang ideal, bukan perang,” katanya.

Dia melanjutkan, “Seandainya kami memang membunuhi orang-orang Suriah, menghancurkan rumah sakit, melakukan semua kekejian ini lalu kami berhadapan dengan semua kekuatan besar dan kekuatan petrodolar di dunia, lantas bagaimana mungkin saya dapat bertahan sebagai presiden selama enam tahun sejak awal perang ? Saya bukan Superman. Seandainya saya tidak mendapat dukungan (rakyat) maka saya sudah tidak ada di sini. Karena saya mendapat dukungan dan karena kami membela orang-orang Suriah, maka kami mendapat dukungan sebagai Presiden dan pemerintahan.”

Bashar al-Assad menepis klaim adanya kelompok moderat di tengah kawanan bersenjata. Menurutnya, semua kelompok bersenjata yang ada adalah ekstrimis dan teroris.

(sputnik/telegraph/rt/dpa/ raialyoum/alalam)