Rangkuman Berita Utama Timteng, Jumat 14 April 2017

terima kasih rusiaJakarta, ICMES:  Rusia menegaskan tidak akan mendukung upaya apapun untuk meloloskan draf resolusi Dewan Keamanan PBB anti pemerintah Suriah.

Sebuah tim ahli dari pengawas senjata kimia telah dikirim ke Turki untuk mengoleksi berbagai sampel sebagai bagian dari investiga terhadap dugaan serangan senjata kimia di Suriah.

NATO menyatakan dewasa ini belum ada kemungkinan adanya operasi militer aliansi Barat ini di Suriah.

Presiden Suriah Bashar al-Assad memastikan bahwa serangan bom kimia di Khan Sheikhoun, provinsi Idlib, “100 persen palsu”.

Berita selengkapnya;

Rusia Pastikan Tak Akan Dukung Resolusi Anti Suriah

Membela Suriah sebagai sekutu Rusia tampaknya sudah menjadi harga mati bagi Moskow, setidaknya di Dewan Keamanan PBB.  Menlu Negeri Beruang Merah ini, Sergey Lavrov, Kamis (13/4/2017), menegaskan negaranya tidak akan mendukung upaya apapun untuk meloloskan draf resolusi Dewan Keamanan PBB anti pemerintah Suriah tanpa alasan yang masuk akal, atau tanpa penyelidikan berkenaan dengan dugaan serangan bom kimia di kota Khan Seikhoun, Suriah, pekan lalu.

“Kami tidak bisa dan tidak akan dapat mendukung upaya-upaya untuk melicinkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam pemerintah Suriah tanpa penyelidikan,” tegas Lavrov.

Selasa malam lalu Rusia memveto draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendesak pemerintah Suriah agar bersikap kooperatif untuk penyelidikan mengenai dugaan serangan bom kimia tersebut.

Sementara itu, Kremlin menyatakan bahwa pertemuan Presiden Suriah Vladimir Putin dengan Menlu AS Rex Tillerson sama sekali tidak menghasilkan perubahan positif dalam hubungan Rusia dengan AS.

Jubir Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, “Hari ini (Kamis) Presiden Rusia telah menyampaikan pendapatnya mengenai sebab-sebab kebuntuan dewasa ini dalam hubungan bilateral.”

Sehari sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyatakan hubungan negaranya dengan Rusia “bisa jadi berada di level yang mutlak terendah.” Nada pernyataan Tillerson juga sama dengan statamen Trump sehari setelah perundingan Tillerson dengan para petinggi Rusia di Moskow.

Ditanya apakah terjadi perubahan positif dalam perundingan tersebut, Peskov menyatakan pembicaraan mengenai hal ini “masih terlalu dini.”

Dia juga mengatakan bahwa dalam perundingan itu tidak ada pembicaraan mengenai kemungkinan digelarnya pertemuan antara Putin dan Trump.

Tillerson tiba di Moskow Selasa lalu di tengah situasi tegang antara Washinton dan Moskow pasca serangan rudal AS terhadap pangkalan udara Suriah 7 April lalu. Serangan ini dilakukan AS dengan dalih menghukum pemerintah Suriah yang dituding Washington sebagai pelaku dugaan serangan bom kimia di Idlib yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. (tass/rayalyoum)

Tim Pencari Fakta Akan Dikirim ke Suriah

Sebuah tim ahli dari pengawas senjata kimia telah dikirim ke Turki untuk mengoleksi berbagai sampel sebagai bagian dari investiga terhadap dugaan serangan senjata kimia yang menewaskan 87 orang, termasuk puluhan anak kecil, di Suriah pekan lalu.

Beberapa sumber mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah tim percari fakta telah dikirim dari Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) di Hague, Netherland, untuk menghimpun sampel-sampel bio-metrik dan mewancara para korban selamat peristiwa menghebohkan tersebut.

Serangan gas beracun terjadi 4 April lalu dan kemudian dijadikan dalih oleh Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan serangan misil ke pengkalan udara Suriah serta mempelebar keretakan hubungan antara AS dan Rusia yang bersekutu dengan Suriah.

Misi OPCW akan menentukan apakah senjata kimia telah digunakan, tapi tidak diamanatkan untuk menyalahkan. Dalam jangka waktu dalam 3-4 minggu temuannya diharapkan akan diteruskan ke penyelidikan bersama PBB-OPCW yang bertugas mengidentifikasi individu atau lembaga yang bertanggung jawab  atas penggunaan senjata kimia.

Sementara itu, Kremlin dalam statemennya, Kamis, menyatakan Presiden Suriah Vladimir Putin dan sejawatnya di Turki, Recep Tayyip Erdogan, dalam sebuah kontak telefon menyatakan sepakat mendukung penyelidikan OPCW terhadap dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Keduanya juga menegaskan hasrat masing-masing bagi kelanjutan proses gencatan senjata di Suriah serta perundingan intra-Suriah dengan format Astana dan Jenewa.

Sebelumnya, Rusia menolak hasil penelitian Turki yang menyatakan adanya penggunaan gas sarin di Khan Sheikhun.

Tragedi di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak dekat perbatasan Turki ini dilaporkan paling mematikan sejak serangan gas sarin menewaskan ratusan orang di pinggiran ibukota Suriah, Damaskus,  pada 21 Agustus 2013. (iol/rayalyoum)

NATO Nyatakan Belum Perlu Campur Tangan Militer di Suriah

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg menyatakan dewasa ini belum ada kemungkinan adanya operasi militer aliansi Barat ini di Suriah.

Dalam pidato di Universitas George Washington, AS, Kamis (14/4/2017), dia menambahkan bahwa sejauh ini belum ada permohonan untuk keterlibatan langsung NATO dalam perang Suriah.

Dia juga menjelaskan bahwa hubungan NATO dengan Rusia merupakan salah satu tema sidang para pemimpin NATO yang akan diselenggarakan di Brussel bulan ini.

Menurutnya, NATO berusaha mengurangi kekeruhan hubungannya dengan Rusia serta mencarikan solusi untuk dapat hidup rukun dengan Negeri Beruang Merah ini.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusa menyatakan AS tidak akan menyerang lagi posisi-posisi tentara Rusia di Suriah.

Seperti ramai diberitakan, menyusul heboh dugaan serangan bom kimia di Idlib Selasa pekan lalu, AS menembakkan 59 rudal jelajah Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat, Homs, Suriah, Jumat.

Serangan ini dilakukan AS dari dua kapal perangnya di Laut Mediteranian tanpa seizin PBB maupun Kongres AS. (rt/irna)

Al-Assad: Serangan Bom Kimia Khan Sheikhoun “100 % Palsu”

Presiden Suriah Bashar al-Assad memastikan bahwa serangan bom kimia di Khan Sheikhoun, provinsi Idlib, “100 persen palsu”.

Pernyataan itu dikemukakan sebagai tangkisan terhadap badai tuduhan negara-negara Barat bahwa Damaskus telah melancarkan serangan kimia ke kota di provinsi yang dikuasai oleh kawanan teroris dan pemberontak di bagian barat laut Suriah tersebut.

Al-Assad yang didukung oleh Rusia dan Iran juga menunjukkan optimisme atas kemenangan tentara Suriah dalam perang melawan teroris dan pemberontak. Dia tidak terpengaruh oleh ancaman Amerika Serikat (AS) maupun serangan rudal yang sudah dilakukan Negeri Paman Sam ini terhadap pangkalan udara Shayrat, provinsi Homs, Suriah, Jumat pekan lalu.

“Penderitaan rakyat Suriah adalah satu-satunya perkara yang membuat saya sulit tidur dari waktu ke waktu, dan sama sekali bukan pernyataan-pernyataan Barat maupun ancaman-ancaman mereka untuk mendukung para teroris,” tegas Assad kepada AFP, Rabu (12/4/2017).

Dia menegaskan lagi bahwa pemerintahannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan insiden dugaan serangan bom kimia yang menewaskan sekira 80 orang, termasuk puluhan anak kecil, di Khan Sheikhoun, itu.

Dia menyebut tuduhan bahwa pasukannya sengaja meracun warga sipil ” 100 persen palsu ”, karena  Damaskus telah menyerahkan senjata kimia miliknya sebagai bagian dari perjanjian 2013.

“Kesan kami adalah bahwa Barat, terutama AS, setali tiga uang dengan teroris. Mereka mengarang seluruh cerita agar memiliki dalih untuk serangan itu, “tuturnya. (rayalyoum/independent)