Rangkuman Berita Utama Timteng, Jumat 12 Mei 2017

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES: Sekjen gerakan Hizbullah Lebanon  Sayyid Hassan Nasrallah menilai dinding yang dibangun Israel di wilayah perbatasannya dengan Lebanon bukti ketakutan dan kekalahan Israel.

Presiden Suriah Bashar al-Assad memastikan Amerika Serikat (AS) bermaksud menjadikan tragedi bom kimia Khan Sheikhun sebagai dalih untuk melakukan intervensi militer di Suriah, namun Damaskus pantang jenuh dan letih melawan para teroris yang didukung AS dan sekutunya.

Beberapa pejabat dan tokoh Yaman di bagian selatan negara ini membentuk pemerintahan tandingan di bawah kepemimpinan Gubernur Aden Idrus al-Ubeidi.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyatakan organisasi ini tidak akan berpartisipasi dalam operasi-operasi penumpasan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak.

Berita selengkapnya;

Sayyid Nasrallah: Israel Terlihat Kuat Hanya Di Mata Para Pengecut

Sekjen gerakan Hizbullah Lebanon  Sayyid Hassan Nasrallah, Kamis (11/5/2017), menyatakan bahwa dinding yang dibangun Israel di wilayah perbatasannya dengan Lebanon merupakan bukti kekalahan rezim Zionis ilegal penjajah Palestina tersebut.

Nasrallah juga menuding Turki, Qatar, Arab Saudi, Amerika Serikat (AS) dan kelompok-kelompok bersenjata yang mengikuti AS dan sekutunya sedang menjalankan politik sektarianisme dan berusaha mengubah demografi Suriah.

Dia menegaskan Hizbullah menyambut baik gencatan senjata Suriah yang disetujui oleh pemerintah Suriah, dan gerakan ini masuk ke Suriah dengan misi yang terbatas, yaitu membantu pemerintah dan rakyat  Suriah sehingga tak perlu terlibat dalam negosiasi keamanan atau militer, melainkan cukup dengan konsisten pada apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah Suriah.

Sekjen Hizbullah menjelaskan bahwa aneka peristiwa telah membuktikan bahwa Israel adalah rezim yang lemah.

“Israel seperti sarang laba-laba, tapi terlihat seperti baja hanya di mata oleh orang-orang lemah dan penakut. Dulu Lebanon takut dan gentar, Israel dulu dominan dan kuat, tapi setelah terdapat semua kemenangan kubu muqawamah (resistensi) dan terjadi perimbangan emas sekarang Israel justru membangun dinding karena takut,” tegasnya.

Menurutnya, beberapa tahun lalu Israel mendirikan beberapa dinding, mengubah geografi dan mendirikan pos-pos pemantau, tapi beberapa pekan lalu orang-orang Lebanon dapat menerobos langkah-langkah Zionis tersebut dan dapat berjalan kaki hingga mencapai sebuah terminal bus di Kiryat Shmona, Israel utara.

Dia menambahkan bahwa Israel menyadari kelemahannya sehingga memutuskan untuk mempercepat pembangunan dinding di perbatasan.

“Pembangunan dinding dekat perbatasan merupakan bukti kekalahan telak Israel dan runtuhnya proyek Israel Raya. Ketika Israel bersembunyi di balik dinding di Lebanon dan Gaza maka ia menjadi negara biasa, bukan raya,” imbuhnya.

Sayyid Nasrallah memastikan Israel takut terhadap konfrontasi yang akan terjadi di masa mendatang karena berpotensi terjadi di wilayah Israel sendiri.

“Israel membual akan menyerang Lebanon sejak 10 tahun silam tapi tak membuktikan bualannya,” ungkap Nasrallah, sembari mengimbau warga Lebanon agar tetap menjalani kehidupan sehari-hari secara normal tanpa perlu takut kepada ancaman Israel.

Dalam pernyataaan terbarunya ini Sekjen Hizbullah juga menyatakan solidaritasnya kepada aksi mogok makan para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, sekagus menyoal keberanian para pemimpin Arab mendesak Presiden AS Donald Trump agar turun tangan mengatasi masalah tahanan Palestina.

“Apakah ada tempat bagi para tahanan Palestina dalam pertemuan puncak Arab dan Israel dengan Trump di Saudi? Kami salut dan merunduk hormat di hadapan aksi mogok makan para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel,” ungkapnya.  (rayalyoum)

Al-Assad Nyatakan Pantang Jenuh Melawan Teroris Dukungan AS

Presiden Suriah Bashar al-Assad memastikan Amerika Serikat (AS) bermaksud menjadikan tragedi bom kimia Khan Sheikhun sebagai dalih untuk melakukan intervensi militer di Suriah. Dia juga mengaku pantang jenuh dan letih melawan para teroris yang didukung AS dan sekutunya.

Dalam wawancara dengan TV ONT milik Belarus yang disiarkan Kamis (11/5/2017) al-Assad mengatakan, “Donald Trump (Presiden AS) yang pemerintahannya mengalami problema yang tak ada habisnya, termasuk dalam hubungan dengan media dan wartawan, berusaha menenangkan kelompok ini dengan cara menjalankan operasi militer di Suriah… Praganda Barat dan media Barat anti Suriah sebenarnya ingin membersihkan kelompok teroris ISIS di mata internasional… Dukungan Barat kepada ISIS maknanya ialah bahwa para pembuat heboh anti Israel berusaha mengesankan bahwa pemerintah Suriahlah yang membantai rakyat, bukan para teroris.”

Dia menjelaskan bahwa negara-negara Barat menolak penyelidikan kasus bom kimia Khan Sheikhun, sementara Iran dan Suriah justru mengusulkan penyelidikan.

Kelompok-kelompok teroris pada 4 April lalu menebar heboh bahwa telah terjadi ledakan bom kimia di kota Khan Sheikhun. Bersama AS dan beberapa negara Barat lainnya mereka menuduh pemerintah Suriah sebagai pelaku serangan yang disebut-sebut telah menewaskan sekira 100 orang dan melukai 400 lainnya tersebut.

Ditanya mengenai apakah al-Assad tidak kewalahan dan jenuh menghadapi kondisi peperangan yang sudah berjalan enam tahun di Suriah, dia menjawab, “Saya yakin merekalah yang letih, saya tidak letih. Merekalah yang letih akibat banyaknya kedustaan yang tak menghasilkan apa-apa.  Di sisi lain, ini merupakan sesuatu yang positif. Sebab, terkait dengan politik Barat, ketika mereka melekatkan sifat-sifat buruk pada tokoh politik di negara lain maka ini berarti bahwa tokoh itu adalah sosok nasionalis, karena standar demokrasi mereka contohnya adalah dinasti al-Saud (Kerajaan Arab Saudi) dan para sahabat mereka.” (irna/alalam)

Gubernur Aden Bikin Pemerintahan Tandingan Hadi Di Yaman Selatan

Beberapa pejabat dan tokoh Yaman di bagian selatan negara ini telah berubah menjadi oposisi bagi Abd Rabbuh Mansour Hadi, presiden Yaman yang tersingkir dari Sanaa, ibu kota Yaman, oleh revolusi yang digerakkan oleh para pejuang Ansarullah (Houthi). Kamis (11/5/2017) mereka bahkan membentuk pemerintahan tandingan di bawah kepemimpinan Gubernur Aden Idrus al-Ubeidi.

Al-Ubeidi sendiri sudah dipecat oleh Mansour Hadi dari jabatan gubernur pada akhir April lalu dan kemarin mengumumkan pembentukan Dewan Ketua Majelis Transisi Selatan yang dinyatakan sebagai representasi bagi provinsi-provinsi di Yaman selatan.

Disebutkan bahwa majelis ini terdiri atas 26 anggota, termasuk para gubernur dari lima provinsi dan dua orang menteri pemerintahan Hadi.

Saat al-Ubeidi, Menteri Dalam Negeri Hani Bin Barik yang juga merupakan tokoh pergerakan selatan juga dipecat oleh Hadi. Bin Barik adalah tokoh yang menyerukan integrasi Yaman selatan atau pendirian negara federal. Dalam majelis tersebut Bin Barik akan menjadi wakil al-Ubeidi.

Pemecatan al-Ubeidi telah membangkitkan reaksi kemarahan banyak kalangan di selatan. Ribuan massa telah berunjuk rasa dan turun ke jalan-jalan Aden, kota terbesar kedua di Yaman, pada 4 Mei lalu. Massa memrotes Hadi , mendukung al-Zubeidi, dan menyerukan “deklarasi kepemimpinan politik dan nasional pimpinan al-Zubeidi untuk mengendalikan dan merepresentasikan Yaman selatan” yang semula memang merupakan negara terpisah dengan ibu kota Aden hingga tahun 1990.

Perpecahan di Yaman selatan ini terjadi manakala pasukan loyalis Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi masih terus memerangi kelompok Houthi dukungan Iran yang menguasai Sanaa dan banyak bagian  Yaman lainnya.

Al-Zubeidi dalam statemennya menegaskan bahwa bersama koalisi itu pihaknya masih akan terus memerangi “perpanjangan tangan Iran” di Yaman.

Di pihak lain, Jubir Ansarullah, Mohammad Abdul Salam, Kamis sore kemarin mengingatkan bahwa apa yang di Yaman selatan tersebut merupakan ancaman bagi integritas Yaman.

Di halaman Facebook-nya dia menyebutkan, “Apa yang terjadi di selatan berupa pembicaraan mengenai majelis di sana sini hanyalah satu manifestasi dari tujuan pendudukan yang dilakukan Amerika Serikat… untuk membuat proyek-proyek kecil. ”

Dia juga menegaskan bahwa Yaman selatan sedang menjadi ajang untuk membangun pengaruh dan kekuatan imperialis, tapi semua hanya ilusi belaka yang dalam waktu dekat akan terbukti sia-sia. (rayalyoum)

NATO Nyatakan Tidak Ikut Perangi ISIS Di Suriah Dan Irak

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg menyatakan organisasi ini tidak akan berpartisipasi dalam operasi-operasi penumpasan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak.

“Jika NATO bergabung dengan koalisi (anti ISIS pimpinan Amerika Serikat) ini maka peranannya tidak akan berubah. Kami tetap melanjutkan dukungan kami. Fokus kami adalah pada pelatihan pasukan, dan NATO sama sekali tidak akan ikut serta dalam operasi perang,” katanya usai pertemuan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di Berlin, Jerman, Kamis (11/5/2017).

Namun demikian, Merkel mengatakan bahwa keputusan final soal ini masih akan diambil pada sidang NATO di Brussel pada 25 Mei mendatang.

“Kami masih akan berunding untuk melihat apakah NATO secara resmi merupakan bagian dari koalisi anti ISIS atau tidak. Perundingan tentang ini masih berlangsung,” kata Merkel. (irna)