Rangkuman Berita Timteng Senin 9 Oktober 2017

iran IRGCJakarta, ICMES:  Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengingatkan Amerika Serikat (AS) soal implementasi undang-undang anti Iran dan pencantuman IRGC dalam daftar organisasi teroris.

Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa apa yang terjadi di kawasan Timteng pada prinsipnya adalah proyek Amerika Serikat (AS) yang telah gagal di Irak dan Lebanon dan juga akan segera kandas pula di Suriah.

Mantan pejabat Pentagon Michael Maloof menyatakan bahwa Arab Saudi membeli sistem pertahanan THAAD dari Amerika Serikat (AS) dan S-400 dari Rusia karena merasa terancam oleh Iran, namun Saudi tidak akan dapat menggunakan teknologi ini secara efektif tanpa bantuan tenaga ahli dari luar negeri.

Sumber oposisi Suriah melaporkan bahwa tentara Turki terlibat kontak senjata dengan kelompok teroris Hayat Tahrir Syam (Jabhat al-Nusra) di provinsi Idlib, Suriah, di bagian perbatasan negara ini dengan Turki.

Berita Selengkapnya:

IRGC Minta AS Amankan Pangkalan Militernya Dari Jangkauan Rudal Iran

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengingatkan Amerika Serikat (AS) soal implementasi undang-undang anti Iran dan pencantuman IRGC dalam daftar organisasi teroris.

Panglima IRGC Mayjen Mohammad Ali Jafari dalam sebuah pertemuan tertutup, Ahad (8/10/2017), mengatakan, “Jika AS jadi mengaktifkan undang-undang sanksi AS terhadap Iran maka AS silakan memindah pasukannya dari kawasan ini sejarak lebih dari 2000 kilometer, yaitu jarak tempuh rudal Iran… Pengaktifan undang-undang saksi AS ini berarti keluarnya AS dari perjanjian nuklir secara sepihak.”

Dia juga menegaskan, “Jika benar kabar tentang kebodohan pemerintah AS menganggap IRGC sebagai organisasi teroris maka IRGC akan memperlakukan tentara AS di dunia, terutama di Timteng, sebagaimana perlakuan terhadap ISIS.”

Jenderal mengingatkan, “Jika AS melontarkan persoalan-persoalan seperti ini dengan tujuan bernegosiasi dengan Iran mengenai isu-isu regional maka mereka salah jalan, sebab Iran ingin menyelesaikan berbagai persoalan regional di tempat lain yang bukan meja perundingan. Tak ada kata negosiasi dalam masalah ini, dan Iran tidak memandang ada pihak lain yang bernegosiasi dengannya… AS menggunakan negosiasi sebagai alat tekan dan agresi, bukan untuk mengajukan solusi.”

Panglima IRGC melanjutkan, “Perlakuan AS terhadap Iran membuktikan bahwa kebijakan luar negeri Iran tidak bisa diatur berdasarkan kesepakatan nuklir saja. Karena itu Iran akan menggunakan kebodohan perlakuan Trump terhadap perjanjian nuklir sebagai kesempatan untuk melakukan lompatan dalam proyek-proyek rudal, regional, dan pertahanan konvensional.”

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan nuklir Iran “memalukan” dan “terburuk”.  Dia sedang mempelajari apakah kesepakatan ini menguntungkan bagi keamanan AS untuk kemudian membuat keputusan paling lambat tanggal 15 Oktober mendatang mengenai konsistensi Iran kepada isi perjanjian. (alalam/rayalyoum)

Nasrallah: Timteng Aman Jika Saudi Berhenti Menyokong Para Ekstrimis Wahabi

Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa apa yang terjadi di kawasan Timteng pada prinsipnya adalah proyek Amerika Serikat (AS) yang telah gagal di Irak dan Lebanon dan juga akan segera kandas pula di Suriah. Dia juga menegaskan bahwa kawasan ini akan aman dan damai jika Saudi berhenti menyokong kelompok-kelompok ekstrimis Salafi/Wahabi.

Pada momen peringatan seminggu gugurnya sejumlah martir Hizbullah, dia juga menjelaskan bahwa problema AS dengan Iran terletak bukan pada proyek nuklir Iran melainkan pada penggagalan rencana AS-Saudi.”

Nasrallah mengatakan bahwa keamanan dan kedamaian regional akan terwujud jika Saudi diam dan berhenti menyokong kelompok-kelompok teroris Wahabi, dan Saudi bersama Israel adalah pihak yang tidak menginginkan terciptanya kedamaian di Timteng, sedangkan Hizbullah yang diancam oleh Israel, AS, dan Saudi justru merupakan bagian dari pihak yang mengupayakan keamanan dan perdamaian yang sejati untuk bangsa-bangsa Timteng.

Statemen Nasrallah ini merupakan tanggapan atas pernyataan Menteri Arab Saudi Urusan Teluk Persia, Thamer al-Sabhan, mengenai Hizbullah di hari yang sama.  Melalui akun Twitternya al-Sabhan mencuit, “Sanksi AS terhadap golongan (hizb) milisi teroris di Lebanon ini bagus, tapi solusinya adalah aliansi internasional yang tegas untuk menghadapi mereka dan sekutunya demi mewujudkan keamanan dan perdamaian regional.”

Menurut Nasrallah, dalam pernyataan al-Sabhan terdapat sisi “positif” karena mengandung “pengakuan implisit atas Hizbullah sebagai kekuatan regional yang tak dapat dihadapi kecuali dengan aliansi internasional yang tegas sekaligus pengakuan bahwa sanksi AS terhadap Hizbullah bukanlah solusi yang bisa diandalkan.”

“Hizbullah terlampau besar untuk menghadapi al-Sabhan dan para juragannya dengan aliansi lokal di Lebanon, karena itu dia menyerukan aliansi internasional…. Saudi dan para penguasanya tak dapat berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat melakukan serangan propaganda,” ungkap Nasrallah.

Dia menambahkan, “Sekarang kami memiliki darah dan pedang dalam perang yang kami yakini, dan poros kita sekarang lebih tangguh dibanding sebelumnya.” (rayalyoum)

Mentan Pejabat Pentagon Ragukan Kemampuan Saudi Gunakan Sistem THAAD Dan S-400

Mantan pejabat Pentagon Michael Maloof menyatakan bahwa Arab Saudi membeli sistem pertahanan THAAD dari Amerika Serikat (AS) dan S-400 dari Rusia karena merasa terancam oleh Iran, namun Saudi tidak akan dapat menggunakan teknologi ini secara efektif tanpa bantuan tenaga ahli dari luar negeri.

Departemen Luar Negeri AS akan menjual sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) kepada Arab Saudi dengan biaya sekira 15 miliar Dolar AS. Penjualan ini diumumkan hanya sehari setelah Saudi memutuskan membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.

“Itu adalah sesuatu yang sudah lama ada dalam perencanaan. Ini adalah bagian dari paket  110 miliar Dolar AS yang diteken oleh Presiden Trump dan Raja Salman ketika Trump berada di Riyadh pada bulan Mei. Sudah sekitar dua tahun dalam perencanaan. Mungkin kebetulan hari ini diumumkan ketika Saudi dan Rusia menyetujui penjualan S-400,” paparnya dalam wawancara dengan RT yang dilansir Minggu (8/10/2017).

Mengenai motivasi Saudi membeli sistem pertahanan tersebut Maloof mengatakan,  “Ini adalah bagian dari upaya melawan ancaman  Iran yang mereka rasakan.”

Dia juga menjelaskan, “Kedua sistem rudal itu berbeda dalam hal kemampuan teknis masing-masing. THAAD jelas lebih berorientasi pada rudal balistik yang masuk,  S-400 lebih anti pesawat udara, tapi ini adalah sistem yang sangat efektif melawan pesawat apapun. Tapi THAAD lebih berorientasi pada rudal balistik yang masuk. Itu tergantung pada posisi mereka di kedua sistem. Mereka harus menempatkannya di sisi timur Arab Saudi yang ditujukan ke Iran, mengingat jangkauannya, namun masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda. Dan ini adalah perkembangan menarik bahwa semuanya terjadi sekaligus, karena menurut saya secara politis dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa AS mendukung Saudi dan GCC  (Dewan Kerjasama Teluk) dalam hal pertahanan mereka.”

Ketika ditanya pendapatnya mengenai pernyataan pejabat AS bahwa penjualan sistem itu akan memperkuat keamanan regional, Maloof mengatakan bahwa sistem ini efektif dan juga akan dijual kepada Uni Emirat Arab (UEA), tapi dia meragukan kemampuan keduanya dalam mengoperasikan sistem.

“Jadi, sepertinya ini adalah sistem yang sangat efektif melawan rudal balistik, jika Iran menembak mereka. Sekarang, pertanyaannya adalah: dapatkah mereka – Saudi dan UEA – menggunakannya secara efektif? Saya cenderung meragukannya, kecuali jika mereka memiliki pelatihan ekstensif. Itu mungkin mengapa mereka akan memiliki banyak penduduk AS di sekitar sana untuk beberapa lama,” terangnya. (rt)

Tentara Turki Kontak Senjata Dengan Kawanan Teroris Di Suriah

Sumber oposisi Suriah melaporkan bahwa tentara Turki terlibat kontak senjata dengan kelompok teroris Hayat Tahrir Syam (Jabhat al-Nusra) di provinsi Idlib, Suriah, di bagian perbatasan negara ini dengan Turki, Minggu (8/10/2017).

“Beberapa bom jatuh dekat pintu perbatasan Bab al-Hawa di perbatasan Suriah-Turki di bagian utara provinsi Idlib, yang sumbernya adalah wilayah Turki, sebagaimana juga telah jatuh beberapa bom dekat kamp pengungsi Deir Hisan di perbatasan Suriah-Turki di bagian utara provinsi Idlib di tengah suasana ketakutan para penghuni kamp,” ungkap sumber itu kepada DPA.

Sementara itu, Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) juga melaporkan telah terjadi kontak senjata langsung di  selatan provinsi Idlib antara kedua pihak sehingga terbetik pula kabar mengenai adanya beberapa korban jiwa.

Menurut SOHR, kontak senjata langsung ini merupakan yang pertama kalinya antara tentara Turki dan kelompok Hayat Tahrir Sham sebagai persiapan operasi militer Turki di Idlib. (alalam)