Rangkuman Berita Timteng Senin 9 April 2018

zat kimiaJakarta, ICMES: Tentara Suriah kembali diterpa badai tuduhan menggunakan bom kimia di Ghouta Timur, dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam segi tiga Suriah, Rusia, dan Iran.

Sebanyak 100 unit bus telah masuk ke kota Douma di kawasan Ghouta Timur, provinsi Damaskus, Suriah untuk merelokasi kawanan bersenjata beserta keluarga mereka, dan mengevakuasi warga yang tersandera dari sana.

Media Israel melaporkan adanya upaya Mesir dan Arab Saudi menekan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, agar berhenti menggerakkan unjuk rasa akbar anti-Israel.

Selengkapnya:

Isu Bom Kimia Di Suriah Berhembus Lagi, Trump Ancam Rusia Dan Iran

Tentara Suriah kembali diterpa badai tuduhan menggunakan bom kimia di Ghouta Timur, dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam segi tiga Suriah, Rusia, dan Iran.

Jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi, Minggu (8/4/2018), menepis keras tuduhan itu dan menyebutnya tidak masuk akal dan pertanda adanya konspirasi.

“Klaim dan tuduhan demikian dari AS dan sebagian negara Barat menunjukkan adanya konspirasi baru terhadap pemerintah dan rakyat Suriah, merupakan cara untuk menempuh tindakan militer terhadap mereka, dan tentu akan menambah pelik situasi di Suriah dan kawasan, sebagaimana juga akan membuat kawanan teroris semakin sengit dalam melakukan kejahatan, sehingga jelas tidak akan menguntungkan perdamaian, stabilitas, dan keamanan regional dan global,” kecam Qasemi.

Senada dengan ini, Rusia menilai tuduhan itu “provokasi yang sudah pernah diwanti oleh Moskow, dan ditujukan sebagai pembenaran untuk kemungkinan serangan dari luar terhadap Suriah”.

Rusia dalam statemennya menegaskan bahwa organisasi-organisasi yang membuat laporan mengenai adanya serangan kimia itu “sudah pernah diduga terlibat dalam konspirasi bersama kawanan teroris.”

Rusia kemudian mengingatkan, “Segala bentuk serangan asing dengan dalih-dalih palsu di Suriah yang ditempati oleh militer Rusia berdasarkan pemerintah yang sah sama sekali tidak bisa diterima dan berpotensi menimbulkan dampak yang sangat fatal… Kabar mengenai penggunaan senjata kimia di Douma beredar ketika tentara Suriah di sana melanjutkan operasi militer di Ghouta Timur untuk membebaskan penduduknya dari cengkraman kawanan bersenjata dan teroris yang menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia.”

Sabtu lalu, beberapa organisasi “penyalur bantuan” memastikan sedikitnya 70 orang tewas akibat serangan yang diduga menggunakan senjata kimia terhadap kantung terakhir pemberontak Suriah di Ghouta Timur.

Presiden AS lantas membuat pernyataan panas melalui halaman Twitter-nya dengan menyebut Presiden Suriah sebagai “binatang” dan menyatakan bahwa Rusia dan Iran turut “bertanggungjawab atas serangan senjata kimia” sehingga “akan membayar mahal.”

“Banyak yang mati, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan kimia ceroboh di Suriah…Presiden Putin, Rusia dan Iran bertanggung jawab karena mendukung binatang Assad,” cuit Trump.

Pada cuitan keduanya dia menyatakan, “Harga besar harus dibayar. Bencana kemanusiaan lain tanpa alasan apa pun. SAKIT!”.

Menlu Perancis Jean-Yves Le Drian juga angkat bicara dengan mengatakan bahwa negaranya “bertanggungjawab penuh” berkenaan dengan adanya laporan mengenai serangan kimia tersebut.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu yang juga memusuhi Suriah tak mau ketinggalan berkomentar dengan mengatakan, “Kami mengecam keras serangan itu, dan kami menduga kuat bahwa itu dilakukan oleh rezim (Suriah) yang rekam jejaknya sudah dikenal khalayak dunia dalam penggunaan senjata kimia.”

Sekjen PBB António Guterres menyerukan penghentian perang di Douma sembari menyatakan PBB tak dapat memastikan adanya penggunaan senjata kimia seperti yang dikabarkan. (alalam/rayalyoum/newyorktimes)

100 Unis Bus Masuk Ke Douma Untuk Merelokasi Kawanan Bersenjata Dan Sandera

Sebanyak 100 unit bus telah masuk ke kota Douma di kawasan Ghouta Timur, provinsi Damaskus, Suriah, Ahad (8/4/2018), untuk merelokasi kawanan bersenjata beserta keluarga mereka, dan mengeluarkan warga yang tersandera dari sana. Dengan demikian, perjanjian antara pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak Jaish al-Islam mulai diterapkan.

Kesepakatan antara kedua pihak telah dicapai untuk mengeluarkan semua sandera dari Douma serta memindah semua militan Jaish Islam dari sana ke kota Jarabulus di provinsi Aleppo. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan di “Titik 95” Ghouta Timur antara delegasi pemerintah Suriah dan delegasi Jaish al-Islam atas permintaan pihak kedua.

Rusia menyebutkan bahwa kesepakatan dengan para pemimpin baru Jaish al-Islam di Douma telah tercapai dan menuntut mereka untuk meletakkan senjata dan keluar dari kota ini.

Pusat Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah yang bernaung di bawah Kemhan Rusia dalam statamennya pada Minggu malam (8/4/2018) menyatakan pihaknya hari itu telah “bernegosiasi dengan para pemimpin Jaish al-Islam hingga kemudian dicapai kesepakatan mengenai gencatan dan perlucutan senjata kelompok ini, dan dimulainya lagi proses pengeluaran kawanan bersenjata dari Douma.”

Pusat ini juga menyebutkan bahwa armada bus yang terdiri atas 100 unit telah dikerahkan dan masuk ke Douma, Minggu, untuk melakukan tahap pertama evakuasi kawanan bersenjata dan keluarga mereka. Diperkirakan bahwa jumlah orang yang akan dievakuasi itu 8000 militan dan 40,000 anggota keluarga mereka.

Sumber dari dalam kota Douma menyebutkan bahwa sekira 40 unit bus telah siap keluar dari Doma, sebagian mengangkut para sandera yang telah dibebaskan, dan sebagian lain mengangkut kawanan bersenjata dan keluarga mereka menuju Jarabulus. Satu unit bus pertama telah membawa sandera tersebut dari Douma ke lokasi keberadaan tentara Suriah di sekitar kamp al-Wafideen. (alalam/sana)

Mesir Dan Saudi Tekan Hamas Agar Berhenti Gerakkan Demo Akbar

Media Israel melaporkan adanya upaya Mesir dan Arab Saudi menekan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, agar berhenti menggerakkan “Al-Awdah March” atau “Great March of Return”, yaitu unjuk rasa akbar yang menegaskan hak seluruh pengungsi Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka yang diduduki dan dirampas oleh kaum Zionis Israel.

Koran Jerussalem Post (JP) mengutip keterangan seorang pejabat Mesir dan Saudi bahwa keduanya telah menghubungi Hamas dan memintanya supaya menyudahi aksi demo yang berkelanjutan sejak  peringatan Hari Bumi Palestina pada 30 Maret tersebut.

Menurut JP, seorang pejabat Kemlu Mesir mengatakan bahwa atas gagasan Riyadh Kairo telah menawarkan pembukaan pintu perbatasan Rafah dengan catatan aksi itu dihentikan. Dalam rangka ini sebuah delegasi bahkan telah dikirim ke Gaza untuk menemui pemimpin Hamas, dan Ketua Badan Intelijen Umum Mesir Abbas Kamil telah “ditugaskan oleh Saudi supaya mengirim delegasi untuk mencegah ledakan situasi.”

Senada dengan ini, laman al-Khaleej Online mengutip pernyataan pejabat Mesir yang juga anonim bahwa Kairo kuatir kemarahan orang-orang Palestina akan merembet ke wilayah perbatasan Mesir lalu menimbulkan kesulitan pada sikap Mesir di tingkat regional Arab maupun global.

Pejabat itu menambahkan bahwa perkembangan situasi di Gaza sangat rawan dan berpotensi keluar dari kendali jika tidak segera ditangani.

Dia juga mengatakan bahwa Mesir dan Saudi adalah negara yang paling serius memikirkan upaya menghentikan Al-Awdah March sehingga Mesir bahkan bersedia membuka pintu perbatasan Rafah sepenuhnya demi meringankan beban blokade yang diterapkan terhadap Jalur Gaza.

Namun demikian, Quds al-Ikhbariyyah mengutip pernyataan sumber Hamas bahwa faksi pejuang Palestina yang paling berpengaruh di Jalur Gaza ini menolak tawaran Mesir tersebut.

Al-Awdah March telah direaksi oleh pasukan Zionis dengan serangan brutal yang sejauh ini telah menggugurkan 32 orang Palestina, termasuk wartawan bernama Yasser Mortaja, melukai lebih dari 2700 lainnya. Para wartawan Palestina meminta pembentukan tim pencari fakta internasional terkait kasus keganasan pasukan Zionis terhadap insan pers tersebut. (alalam)