Rangkuman Berita Timteng, Senin 8 Mei 2017

kapal selam midget iranJakarta, ICMES: Kemhan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengklaim bahwa belakangan ini terjalin koordinasi militer antara Iran dan Korut dalam program rudal keduanya.

Juru bicara Angkatan Bersenjara Republik Islam Iran Brigjen Masoud Jazayeri menyebut kedustaan para pejabat  Arab Saudi tentang Iran bukanlah perkara baru, dan ini terjadi karena Saudi mewakili AS dan Israel.

Satu perempuan Palestina gugur syahid ditembak polisi Israel di gerbang kota lama Baitul Maqdi.

Mantan menteri keuangan Irak menyatakan bahwa zona pertempuran kelompok teroris ISIS di masa yang akan datang adalah  Arab Saudi dan Yordania.

Berita selengkapnya;

AS Klaim Ada Koneksi Antara Iran Dan Korut Dalam Program Rudal

Kemhan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengklaim bahwa belakangan ini terjalin koordinasi militer antara Iran dan Korut dalam program rudal keduanya.

Pentagon menyatakan bahwa upaya Iran melesatkan rudal cruise dari kapal selam midget belum lama ini merupakan bukti lain adanya pengaruh Korut di Republik Islam Iran. Kementerian ini mengaku memiliki bukti baru adanya pengaruh ini di samping kerjasama kedua negara di bidang proyek rudal.

Menurut perwira pertahanan AS, Iran gagal dalam upayanya meluncurkan rudal Jask-2 di bawah air untuk pertama kalinya, dan pakar non-proliferasi telah lama menduga Korut dan Iran bertukar pengalaman dalam  “program rudal nakal”.

“Rudal pertama yang kami lihat di Iran hanyalah salinan rudal Korea Utara. Selama bertahun-tahun, kami telah melihat foto pejabat Korea Utara dan Iran di negara masing-masing, dan kami telah melihat semua jenis perangkat keras biasa,” kata Jeffrey Lewis, pakar proliferasi rudal dari Middlebury Institute of International Studies, Monterey, California, AS.

Ketika Iran menguji sebuah rudal balistik pada akhir Januari lalu, Pentagon mengatakan bahwa hal itu didasarkan pada desain Korut. Musim panas lalu, Iran melakukan peluncuran rudal lain yang serupa dengan Musudan, rudal paling canggih yang berhasil diuji coba Pyongyang sampai saat ini.

Analis pertahanan mengatakan rudal Taepodong Korut  terlihat hampir sama dengan rudal Shahab Iran.

Lewis menambahkan ,”Di masa lalu, kita melihat hal-hal tertentu di Korea Utara dan kemudian muncul di Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat beberapa hal kecil muncul di Iran terlebih dahulu dan kemudian muncul di Korea Utara sehingga menimbulkan pertanyaan apakah perdagangan – yang dimulai dari Korea Utara ke Iran – telah mulai berbalik. ”

Peluncuran rudal cruise  Iran dari kapal selam midget di Selat Hormuz diyakini sebagai salah satu upaya perdana Iran untuk mewujudkan prestasi tersebut. Pada tahun 2015, Korut berhasil meluncurkan rudal dari kapal selam untuk pertama kalinya, dan para pejabat meyakini Teheran tidak jauh ketinggalan.  (foxnews)

Jenderal Iran: Saudi Musuhi Iran Karena Mewakili AS Dan Israel

Juru bicara Angkatan Bersenjara Republik Islam Iran Brigjen Masoud Jazayeri menyebut kedustaan para pejabat  Arab Saudi tentang Iran bukanlah perkara baru.

“Pernyataan-pernyataan dusta sebagian pejabat Saudi anti Iran dan beberapa negara merdeka lainnya bukanlah perkara baru.  Ironisnya, rezim Saudi memusuhi sebagian negara Islam di kawasan sebagai representasi Amerika Serikat (AS) dan entitas Zionis (Israel),” katanya dalam menanggapi pernyataan Wakil Putera Mahkota merangkap Menhan Saudi, Mohammad Bin Salman, seperti dilansir al-Alam, Minggu (7/5/2017).

Dia menambahkan, “Kejahatan Saudi yang menghancurkan bebatuan dan manusia di Yaman, penumpahan darah yang berkelanjutan di negara ini, tekanan Saudi terhadap rakyat Bahrain, tindakannya menebar terorisme di Irak, Suriah dan Afghanistan, semua ini merupakan pertanda bahwa kaum Zionis ingin memperdalam perselisihan dan pertempuran di kawasan.”

Dia menyatakan negaranya terus meneropong upaya Saudi menebar perilaku berbahaya dan terorisme serta para pembuat kebijakan AS dan Zionis.

Di bagian akhir Jazayeri  menegaskan bahwa negaranya menggalang kesiapan adalah untuk menghadapi musuh utamanya.

“Karena itu, ancaman  sebagian negara bodoh di kawasan tidaklah penting bagi bagi, namun semua bangsa dunia bagaimanapun juga harus prihatin atas permusuhan yang ditunjukkan oleh sebagian rezim,” pungkasnya. (alalam)

Satu Perempuan Palestina Gugur Ditembak Polisi Israel

Satu perempuan Palestina gugur syahid ditembak polisi Israel di gerbang kota lama Baitul Maqdis (al-Quds/Yerussalem), Minggu (7/5/2017). Kepolisian Israel menyatakan korban ditembak karena berusaha menikam polisi Israel.

“Perempuan itu menghunus pisau ke wajah dua polisi yang berkonsentrasi di Gerbang al-Amud sebelum pasukan yang ada di lokasi mengendalikannya,” ungkap kepolisian Israel.

Tidak disebutkan keterangan lebih lanjut mengenai identitas perempuan Palestina, termasuk usianya, dan apakah ada korban luka di pihak polisi Israel.

Sejak Oktober 2015 berbagai wilayah pendudukan Palestina, terutama Baitul Maqdis dan termasuk wilayah Israel alias tanah pendudukan 1948, terjadi gejolak kekerasan yang sejauh ini, menurut AFP, telah menjatuhkan ratusan korban tewas yang 262 orang di antara adalah pihak Palestina, dan 41 orang lainnya adalah pihak Israel. Selain itu, beberapa warga negara asing juga tewas terkena imbas kekerasan tersebut.

Dilaporkan pula bahwa orang-orang Palestina yang gugur sebagian besar adalah mereka yang berusaha menyerang orang-orang Israel dengan senjata tajam. (rayalyoum)

Mantan Menteri Irak: Wilayah Perang ISIS Selanjutnya Adalah Saudi Dan Yordania

Tokoh Dewan Tinggi Irak dan mantan menteri keuangan negara ini, Baqir Jabr al-Zobeidi, menyatakan bahwa zona pertempuran kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di masa yang akan datang adalah  Arab Saudi dan Yordania.

Dia mengatakan bahwa ISIS menyesal telah menjadikan Mosul dan Raqqah sebagai markas kekuasaannya.

“Pertempuran yang akan datang akan terjadi di sekitar Mekkah, tapi akan terjadi di salah satu kota besar Saudi dan salah satu kota di bagian selatan Yordania,” katanya dalam wawancara dengan channel al-Forat yang berbasis di Irak, Minggu (7/5/2017).

Dia memperkirakan bahwa setelah angkat kaki dari Irak ISIS akan bergerak ke kota suci Mekkah al-Mukarramah untuk mendapatkan pembenaran syar’i atas operasi terornya.

Al-Zobeidi memastikan ISIS yang beraliran Salafi/Wahabi tidak mungkin bisa hidup di wilayah Sunni, Syiah, Kurdi, Yazidi dan Asyrian, sedangkan di Saudi terdapat kecocokan pandangan dan mazhab antara ISIS dan rezim Riyadh.

Mengenai sebab mengapa ISIS tidak sejak awal saja beraksi di Saudi, dia mengatakan, “ISIS salah sejak awal, dan sekarang baru mengetahui bahwa mereka salah besar mendirikan daulah di Raqqa dan Mosul.” (irna)