Rangkuman Berita Timteng Senin 5 November 2018

bin salman dan joel rosenbergJakarta, ICMES: Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) menerima kunjungan delegasi Kristen Evangelis untuk pertama kalinya sebagai langkah baru dalam proses normalisasi hubungan secara terbuka Saudi-Israel.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam perang saudara di Yaman “tidak tahu bagaimana menggunakan” bom buatan AS.

Wakil Komandan Umum Koprs Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyatakan pihaknya tidak memiliki rencana apapun untuk bertahan di Suriah dalam jangka panjang.

Arab Saudi, negara pengekspor minyak terbesar di dunia, tampak siap menutupi kekurangan dalam suplai minyak yang terjadi akibat sanksi AS terhadap Iran, meskipun pasar minyak mentah secara umum masih belum stabil.

Berita selengkapnya:

Saudi Mulai Blak-Blakan Dalam Normalisasi Hubungan Dengan Israel

Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) menerima kunjungan delegasi Kristen Evangelis untuk pertama kalinya sebagai langkah baru dalam proses normalisasi hubungan secara terbuka Saudi-Israel.

Delegasi itu dipimpin oleh aktivis Kristen Evangelis asal Amerika Serikat (AS) yang tinggal di Israel (Palestina pendudukan 1948), Joel Rosenberg, yang dikenal sebagai orang yang getol membela Israel, sebagaimana dilaporkan Jerussalem Post milik Israel.

Dalam delegasi juga terdapat Mike Evans, pendiri Jerusalem Prayer Team yang di situs webnya telah mengaku sebagai “pemimpin Zionis Amerika-Kristen yang taat.”

Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis lalu (1/11/2018) itu kedua pihak membicarakan hal-hal yang berkaitan langsung dengan Israel dan Palestina, selain hubungan Saudi dengan AS.

“Ini adalah momen bersejarah bagi Pangeran Mahkota Saudi untuk secara terbuka menyambut para pemimpin Kristen Evangelis di Istana. Kami didorong oleh keterusterangan dari percakapan dua jam dengan dia hari ini,” ungkap delegasi itu dalam sebuah statemennya.

Arab Saudi semula bersikukuh pada kebijakan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel bergantung pada penarikan rezim Zionis ini dari tanah Arab yang didudukinya pada perang Timur Tengah 1967, yaitu wilayah yang dicanangkan oleh pihak Palestina sebagai negaranya di masa mendatang.

Namun, memburuknya hubungan Saudi dengan Iran telah memicu spekulasi bahwa kepentingan bersama dapat mendorong Saudi dan Israel untuk bekerjasama melawan apa yang mereka anggap sebagai ancaman umum Iran.

Pada April lalu MbS lalu menyatakan Israel berhak untuk hidup damai di tanah mereka sendiri. Sebulan sebelumnya, untuk pertama kalinya Arab Saudi membuka zona udaranya bagi penerbangan komersial ke Israel.

Jerussalem Post menilai kunjungan delegasi tersebut ke Saudi sebagai pertanda baru perkembangan hubungan Israel-Saudi.

Surat kabar Washington Post milik AS melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah meminta kepada para petinggi AS tetap menyokong MbS meskipun dia sedang terbelit kontroversi kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi. (alalam/nbc)

Trump: Saudi Tidak Mengerti Cara Menggunakan Senjata AS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam perang saudara di Yaman “tidak tahu bagaimana menggunakan” bom buatan AS ketika mereka meledakkan sebuah bus sekolah yang menewaskan puluhan anak kecil Yaman pada Agustus lalu

Dalam wawancara dengan “Axios on HBO” yang disiarkan Ahad (4/11/2018) dia menggambarkan bahwa serangan udara pada 9 Agustus yang menewaskan sedikitnya 51 orang, termasuk 40 siswa sekolah dasar,  itu sebagai “pertunjukan horor” yang menunjukkan bahwa senjata itu “tidak dioperasikan oleh orang-orang AS.”

“Kami tidak melakukan itu. Orang-orang kami adalah operator terbaik di dunia … Itu pada dasarnya orang yang tidak tahu cara menggunakan senjata, yang mengerikan,” ujarnya.

Wawancara itu disiarkan empat hari setelah pemerintahan Trump menuntut gencatan senjata dan dimulainya perundingan politik pimpinan PBB  untuk mengakhiri konflik Yaman. Menteri Pertahanan Jim Matts menyerukan gencatan senjata selama 30 hari.

AS telah menjual senjata senilai miliaran US$ kepada Arab Saudi serta memberikan dukungan logistik dan lain-lain kepada koalisi tersebut.

Ditanya apakah AS akan menghentikan penjualan senjata kepada Saudi, Trump berkata, “Kami memantau dari dekat situasi di Yaman. Ini adalah tempat yang terburuk di dunia sekarang. Saya akan berbicara kepada Saudi, dan saya tidak ingin senjata kami jatuh ke tangan orang-orang yang tidak mengerti bagaimana menggunakan senjata ini.”

Sebanyak lebih dari 10,000 orang tewas sejak Saudi dan sekutunya menginvasi Yaman pada Maret 2015 dengan dalih memulihkan pemerintahan Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang telah mengundurkan diri.

Invasi militer itu juga telah menyebabkan sekitar dua pertiga populasi Yaman yang berjumlah 27 juta orang bergantung pada bantuan asing, dan lebih dari 8 juta orang terancam kelaparan. (foxnews/alalam)

IRGC Tak Berniat Lama-Lama Di Suriah

Wakil Komandan Umum Koprs Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyatakan pihaknya tidak memiliki rencana apapun untuk bertahan di Suriah dalam jangka panjang.

“Keberadaan Iran di Suriah adalah karena permintaan pemerintah Suriah, dan kami tidak memiliki rencana apapun untuk bertahan di negara ini dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Dia juga menyebutkan tak ada perselisihan Iran dengan Rusia di Suriah, dan “apa yang diopinikan oleh media adalah rekayasa dan tak sesuai realitas.”

Mengenai sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap perminyakan Iran, Salami mengatakan, “Hari ini adalah hari agung bagi bangsa Iran. AS semula mengaku bermaksud menihilkan ekspor minyak Iran, tapi kemudian malah mengubahnya karena mengetahui tak sanggup menerapkannya. Anda melihat AS mengecualikan delapan negara dari sanksi yang ia paksakan terhadap Iran.”

Dia menilai “tekanan AS telah mencapai puncaknya” tapi tetap tak mampu berbuat banyak.

Salami kemudian mengejek AS dengan menyoal, “Apakah AS mampu mencegah ataupun membatasi pengaruh dan kekuatan mental Republik Islam Iran di kawasan? Apakah AS berhasil mengubah perilaku politik kami melalui sanksi ekonomi besar-besaran? Apakah AS sanggup meyakinkan kami untuk duduk lagi bersamanya di meja perundingan?”

AS mulai menerapkan sanksi gelombang keduanya sejak Senin (5/11/2018). (railayoum)

Perminyakan Iran Dikenai Sanksi AS, Saudi Siap Menambah Produksi Minyaknya

Arab Saudi, negara pengekspor minyak terbesar di dunia, tampak siap menutupi kekurangan dalam suplai minyak yang terjadi akibat sanksi AS terhadap Iran, meskipun pasar minyak mentah secara umum masih belum stabil. Demikian dikatakan oleh para pengamat.

AS yang sudah enam bulan keluar dari perjanjian nuklir Iran menerapkan gelombang kedua sanksinya terhadap Iran sejak Senin (5/11/2018). Dengan sanksi ini AS melarang negara ataupun perusahaan asing masuk ke pasar AS jika masih tetap mengekspor minyak Iran atau masih menjalin hubungan dengan bank-bank Iran. Namun, belakangan AS mengumumkan ada delapan negara yang dikecualikan untuk sementara waktu dari sanksi ini.

AS kembali menerapkan saksinya terhadap Iran ketika negara-negara produsen minyak mengalami fluktuasi yang berdampak negatif pada suplainya, sementara Trump berusaha mencegah kenaikan harga.

Para pemerhati memperkirakan ekspor minyak Iran sekira 2,5 juta barel per hari akan surut menjadi sekira 1-2 juta barel per hari ketika sanksi itu mulai diterapkan.  Kondisi ini bisa jadi akan memperparah tekanan yang terjadi pada pasar minyak sejak beberapa tahun lalu.

Instabilitas di Libya, Venezuela, Nigeria, Meksiko, Angola, dan beberapa negara lain memaksa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara-negara pengekspor lain untuk mempertimbangkan kembali perjanjian pengurangan produksi pada Juni lalu.

Badan Energi Internasional dalam laporannya pada September lalu menyebutkan bahwa pasar minyak memasuki “tahapan sulit”, dan “berbagai persoalanpun menjadi semakin rumit.” (raialyoum)