Rangkuman Berita Timteng,  Senin 5 Juni 2017

khameneiJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Iran Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) berpihak kepada Arab Saudi yang “terbelakang dan lebih menyerupai (rezim) kabilah.”

Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil menguasai distrik strategis Maskana yang sebelumnya menjadi markas dan benteng terakhir kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di sisi timur provinsi Aleppo.

Pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Minggu (4/6/2017), berhasil merebut kota kecil Baaj di barat Mosul dekat perbatasan Suriah dari cengkraman ISIS dalam serangkaian operasi penumpasan terorisi di berbagai wilayah yang masih menjadi sarang ISIS.

Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, dalam keterangan persnya yang dirilis Minggu (4/6/2017) membantah laporan sejumlah media bahwa beberapa tokoh Hamas telah keluar dari Qatar atas pemintaan sebagian petinggi negara ini.

Berita selengkapnya;

Pemimpin Besar Iran Sebut Kerajaan Saudi Rezim Kabilah

Pemimpin Besar Iran Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) berpihak kepada Kerajaan Arab Saudi yang merupakan “sistem terbelakang dan lebih menyerupai (rezim) kabilah, serta menari dengan pedang” serta “berpihak pula kepada aksi pembantaian terhadap rakyat Yaman yang dibombardir oleh Saudi sejak lebih dari dua tahun silam.”

Dalam pidato pada peringatan haul ke-28 pendiri Republik Islam Iran Imam Khomaini, Sayyid Khamenei memastikan rezim Saudi bekerja demi melayani AS sementara generasi muda Saudi menolak tindakan ini sebagaimana penolakan yang juga terjadi di semua negara yang berhubungan dengan AS.

Dia mengingatkan bahwa AS sama sekali tidak dipercaya sehingga tidak perlu didekati.

“AS tidak bisa dipercaya di bidang apapun…  Para pemimpin negara-negara Eropa sekarang mengatakan AS tidak bisa dipercaya, sementara Imam Khomaini sudah mengatakan hal ini sejak lebih dari tiga dekade silam…  Tidaklah rasional upaya mendekati  orang yang kita jauhi sejak lama karena memang tak bisa dipercaya.”

Dia juga menyatakan Saudi tidak akan bisa mengalahkan bangsa Yaman meskipun serangannya siang dan malam terhadap Yaman didukung dan dibantu oleh AS.

Mengenai krisis Suriah dia menyerukan solusi dialog serta penolakan terhadap eksistensi pasukan asing dan pengiriman senjata di negara ini. Dia juga menilai ISIS di Suriah maupun Irak sudah terusir namun beralih ke Afghanistan, Pakistan, dan Filipina.

Mengenai revolusi Islam Iran pimpinan Imam Khomaini yang telah menghasilkan pemerintahan Republik Islam Iran, Sayyid Khamenei menyebut revolusi ini telah menghasilkan perubahan besar di ranah politik dan sosial yang di mana bangsa Iran berhasil meniadakan rezim dinasti yang terhubung dengan kekuatan asing, dan mendirikan pemerintahan yang independen dan berbasis kerakyatan. (rayalyoum)

SAA Kuasai Maskana, Benteng Terakhir ISIS Di Provinsi Aleppo

Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil menguasai distrik strategis Maskana yang sebelumnya menjadi markas dan benteng terakhir kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di sisi timur provinsi Aleppo, Minggu (04/06/2017).

Sumber militer Suriah menyebut keberhasilan tidak lepas dari perkembangan militer yang terjadi di kawasan Badiya Suriah, mengingat letak Maskana secara geografis dan posisinya yang menghubungkan kawasan-kawasan timur Aleppo dengan kawasan Badiya Suriah.

Dia menjelaskan bahw a keberhasilan itu menjadi persiapan untuk dua kemungkinan. Pertama, untuk pergerakan maju menuju Badiya, dan ini merupakan kemungkinan terbesar karena telah terjadi perkembangan militer signifikan di Badiya. Kedua, untuk perluasan zona perlindungan bagi landasan udara militer al-Jarrah di dekat Maskana yang telah dikuasai oleh SAA.

Sementara itu, Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang merupakan aliansi Kurdi-Arab dalam penumpasan ISIS telah menguasai Bendungan Baath, 30 km barat kota Raqqa di utara Suriah, Minggu pagi.

Komandan militer SDF kepada DPA mengatakan, “Pasukan kami pagi hari telah menguasai penuh kantor pengendalian Bendungan Baath dari arah selatan dekat desa al-Hammam, dan melakukan pembersihan lokasi dari ranjau, bom, dan barikade tanah yang dipasang oleh kawanan bersenjata ISIS.”

Dia menambahkan bahwa dengan demikian SDF memiliki akses baru terhadap Sungai Eufrat di provinsi Raqqa.

Pada pertengahan Mei lalu SDF berhasil menguasai Bendungan Eufrat yang merupakan bendungan terbesar di Suriah, sementara di akhir tahun 2015 mereka menguasai Bendungan Tashrin, dan dengan demikian SDF menguasai pusat-pusat pembangkit listrik di Suriah. (shamtimes)

Pasukan Relawan Irak Rebut Kawasan Baaj Dekat Perbatasan Suriah

Pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Minggu (4/6/2017), berhasil merebut kota kecil Baaj di barat Mosul dekat perbatasan Suriah dari cengkraman ISIS dalam serangkaian operasi penumpasan terorisi di berbagai wilayah yang masih menjadi sarang ISIS.

Pasukan Al-Hashd al-Shaabi dalam statemennya menyatakan  “Baaj telah dibebaskan secara total… dan ini merupakan keberhasilan yang istimewa dan besar.”

Sedangkan pasukan operasi bersandi “Qadimun Ya Nainawa” menjelaskan bahwa pasukan relawan berhasil membebaskan sepenuhnya kota Baaj dan mengibarkan bendera Irak di bangunan-bangunan di sana.

Al-Hasdh al-Shaabi pada 12 Mei lalu memulai sebuah operasi militer dengan bergerak menuju kota kecil Qirwan dan Baaj di barat Mosul, provinsi Nineveh, dekat perbatasan Suriah. Pada 23 Mei lalu mereka mengumumkan keberhasilannya membebaskan Qirwan.

Qirwan dan Baaj termasuk dua daerah strategis yang menghubungkan provinsi ini dengan perbatasan Suriah dan sempat lama menjadi pintu bagi para teroris ISIS di Irak dalam berhubungan dengan rekan-rekan mereka di Suriah.

Pada Oktober 2016 pasukan Irak memulai operasi militer besar-besaran untuk membebaskan Mosul, ibu kota provinsi Nineveh, dari pendudukan ISIS. Setelah sekian bulan membebaskan Mosul timur, dewasa ini pasukan Irak telah menguasai 90-an persen Mosul barat dan  mengepung kawanan ISIS yang terjebak di kawasan yang tersisa.

ISIS menguasai banyak kota dan daerah di Irak setelah melancarkan serangan besar-besaran pada tahun 2014, tapi beberapa lama kemudian pasukan Irak berhasil merebut kembali berbagai kota dan daerah dan kini sedang menjalani tahap-tahap akhir pembasmian ISIS di Negeri 1001 Malam ini. (rayalyoum)

Hamas Bantah Kabar Para Pemimpinnya Keluar Dari Qatar

Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, dalam keterangan persnya yang dirilis Minggu (4/6/2017) membantah laporan sejumlah media bahwa beberapa tokoh Hamas telah keluar dari Qatar atas pemintaan sebagian petinggi negara ini.

Juru bicara Hamas bidang luar negeri Husam Badran dalam keterangan pers itu menyatakan laporan sebagian media itu tidak berdasar.

“Mereka (media) bertujuan menyerang hubungan luar negeri Hamas,” ungkapnya.

Sebelumnya beberapa media memberitakan bahwa para petinggi Qatar telah menyerahkan daftar nama tokoh Hamas supaya mereka angkat kaki dari Qatar. Namun Badran memastikan kabar itu tidak benar, tanpa dasar, dan semata bertujuan mempengaruhi relasi Hamas dengan berbagai negara sahabatnya.

Mengenai Ismail Haniyeh sebagai ketua biro politik Hamas  Badran mengatakan keterpilihan Haniyeh bersama sejumlah tokoh senior Hamas lain yang tinggal di wilayah pendudukan Palestina sudah sesuai dengan aturan maupun program Hamas yang sudah dikoordinasikan sejak sebelumnya.

Husam Badran juga menegaskan bahwa faksi pejuang Palestina ini masih berada di front terdepan dalam perjuangan melawan Rezim Zionis Israel, dan tetap percaya bahwa betapaun beratnya perjuangan ini kota suci Baitul Maqdis pada akhirnya akan kembali ke pangkuan bangsa Palestina.

Hubungan Qatar dengan tiga negara serumpunnya, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain memanas segera setelah tersiar pernyataan Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Sheikh yang mengecam deklarasi KTT Riyadh dan besarnya transaksi senjata Saudi dengan AS, membela Hamas dan Hizbullah, dan menekankan pentingnya hubungan Qatar dengan Iran.

Berbagai rumor lantas bermunculan, termasuk bahwa pemerintah Qatar  mengusir para tokoh Hamas dari Qatar dengan tujuan meredam kemarahan tiga negara itu terkait dengan pernyataan Emir Qatar tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid al-Khalifa, Minggu, mengatakan kepada surat kabar Saudi al-Hayat bahwa pihaknya berharap krisis hubungan dengan Qatar dapat diselesaikan tapi di saat yang sama juga mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya upaya diplomatik Kuwait untuk menengahi krisis Qatar. (irna/alalam)