Rangkuman Berita Timteng Senin 30 April 2018

ISIS di YarmoukJakarta, ICMES: Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menguasai kawasan Hajar Aswad dan sebagian besar kamp pengungsi Palestina Yarmouk di selatan Damaskus menyerah dengan mengangkat bendera putih dan meminta dihentikannya perang melalui pengeras suara masjid-masjid.

Militer Zionis Israel mengumumkan bahwa tiga orang Palestina terbunuh dan satu lainnya ditangkap dalam dua peristiwa terpisah berupa upaya “penyusupan” mereka ke wilayah Israel melalui perbatasan selatan negara ilegal ini dengan Jalur Gaza.

Media Israel mengungkapkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman mendesak Palestina agar menerima prakarsa “Deal of The Century” usulan Amerika Serikat (AS).

Menlu Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dalam kunjungannya ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi menyebut Iran telah melakukan tindakan-tindakan yang “mengacaukan stabilitas” kawasan Timteng.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa AS sudah banyak bertingkah tapi tak sebutirpun peluru mereka tembakkan terhadap Republik Islam Iran.

Berita selengkapnya;

Pertama Kali Dalam Perang SURIAH, ISIS  Menyerah di Selatan Damaskus

Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menguasai kawasan Hajar Aswad dan sebagian besar kamp pengungsi Palestina Yarmouk di selatan Damaskus menyerah dengan mengangkat bendera putih dan meminta dihentikannya perang melalui pengeras suara masjid-masjid.

“Pasukan pemerintah belum menghentikan serangannya karena tindakan itu bisa jadi sekedar manuver kawanan bersenjata DAESH (ISIS),” ungkap sumber yang dekat dengan tentara Suriah kepada kantor berita Jerman, DPA, Minggu (29/4/2018).

Menyerahnya ISIS ini tercatat sebagai yang pertama kalinya dalam peperangan mereka dengan tentara Suriah maupun dengan kelompok-kelompok bersenjata lain di sebagian besar wilayah negara ini.

Jumlah anggota ISIS di dua kawasan itu diperkirakan sekira 1200 orang yang sebagian besarnya adalah orang-orang yang tinggal di selatan Damaskus, baik yang berasal dari Suriah sendiri maupun dari Palestina dan negara-negara lain.

Sebelumnya di hari yang sama mereka meminta dievakuasi ke provinsi Deir Ezzor di bagian timur Suriah tapi tentara Suriah menolaknya.

Laporan terbaru dari kantor berita resmi Suriah, SANA, pada hari itu mengumumkan adanya kesepakatan evakuasi para pengungsi Palestina di kamp Yarmouk yang akan diterapkan sejak hari ini, Senin (30/4/2018), dan akan selesai sebelum masuk bula suci Ramadhan.

Kesepakatan ini mengharuskan “keluarnya teroris distrik Hajar Aswad dan kamp Yarmouk ke Idlib dan pembebasan orang-orang yang terkepung di distrik Kafarya dan Fouah yang jumlahnya sekira 5000 orang melalui dua tahap.” (rayalyoum)

Tiga Orang Palestina Gugur Ditembak Pasukan Israel

Militer Zionis Israel mengumumkan bahwa tiga orang Palestina terbunuh dan satu lainnya ditangkap dalam dua peristiwa terpisah berupa upaya “penyusupan” mereka ke wilayah Israel melalui perbatasan selatan negara ilegal ini dengan Jalur Gaza.

Jubir militer Israel Afichai Adraee dalam sebuah pernyataannya Jumat malam (30/4/2018), menyebutkan, “Dua orang Palestina telah melanggar pagar keamanan di selatan Jalur Gaza dan melemparkan bom ke arah patroli militer lalu dibalas tembakan hingga keduanya terbunuh.”

Dalam pernyataan lain dia mengumumkan, “Telah terpantau dua orang perusuh yang berusaha menyusup ke wilayah Israel dan melanggar pagar keaanan di selatan Jalur Gaza.”

Dia menambahkan bahwa pasukan Israel menembak keduanya hingga satu di antara keduanya terbunuh, dan satu lainnya ditangkap untuk diperiksa.

Militer Israel tidak memberikan keterangan rinci mengenai identas orang-orang Palestina itu, sementara pihak Palestina juga belum memberikan komentar.

Setiap hari terjadi konsentrasi Palestina di lima titik dekat perbatasan Jalur Gaza – Israel dalam aksi protes yang dinamai “Great March of Return”. Aksi yang bermula pada 30 Maret lalu itu mengumandangkan hak para pengungsi Palestina ke kampung halaman mereka, termasuk di wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).

Aksi itu dilancarkan secara damai, namun militer Israel menyikapinya dengan kekerasan hingga sebanyak 35 orang Palestina gugur syahid dan ribuan lainnya menderita luka.  Aksi ini akan menemukan puncaknya pada peringatan Hari Nakba yang jatuh pada tanggal 15 Mei. (rayalyoum)

Media Israel: Bin Salman Minta Palestina Terima Prakarsa Damai AS

Channel 10 Israel, Minggu (29/4/2018), mengungkap bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman telah memberitahukan kepada para pejabat Yahudi Amerika Serikat (AS) bahwa ada dua pilihan bagi Palestina; menerima proses perdamaian yang digagas AS dengan nama “Deal of The Century”, atau berhenti mengadu.

Pengamat Israel Barak Ravid mengatakan kepada Channel 10 bahwa pihak yang memberitahu para petinggi Yahudi AS “bukan sembarang negara Arab, melainkan Saudi”, dan “Putra Mahkota Saudi, Mohamed bin Salman, mengatakan hal itu pada 20 Maret lalu dalam pertemuannya dengan para delegasi berbagai organisasi Yahudi di New York.”

Menurut Ravid, dalam pertemuan itu Bin Salman telah melontarkan “perkataan yang indah”, yaitu bahwa dalam kurun waktu 40 tahun terakhir para pemimpin Palestina telah kehilangan kesempatan demi kesempatan karena menolak setiap inisiatif yang diajukan kepada mereka.

Ravid menjelaskan, “Bin Salman mengatakan bahwa telah tiba saatnya orang-orang Palestina menyetujui usulan-usulan yang datang, dan menyetujui kehadiran di meja perundingan, atau mereka membisu dan berhenti mengadu.”

Ravid menambahkan bahwa isu Palestina bukanlah prioritas bagi pemerintah maupun publik Saudi, karena yang lebih krusial bagi mereka adalah isu Iran.

Dia menyebutkan bahwa semua ini terungkap dalam surat rahasia yang dikirim diplomat Konsulat Jenderal Israel di New York serta dari tiga sumber lain yang hadir dalam pertemuan Bin Salman dengan para delegasi organisasi-organisasi Yahudi AS.

Di bagian akhir pernyataannya di Channel 10, Ravid mengatakan bahwa seorang sumber yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan bahwa salah seorang yang hadir sedemikian terkejutnya oleh pernyataan Bin Salman itu sehingga terjatuh dari kursi.

Para pejabat Israel mengutip pernyataan Bin Salman di Washington bahwa isu Palestina tidak membuat Saudi tertekan, dan bahwa masalah Iranlah yang lebih krusial di mata Riyadh. (rayalyoum)

Kunjungi Saudi, Menlu AS Pastikan Negaranya Waspadai “Terorisme” Iran Di Timteng

Menlu Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dalam kunjungannya ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi menyebut Iran telah melakukan tindakan-tindakan yang “mengacaukan stabilitas” kawasan Timteng. Di pihak lain, Iran menegaskan bahwa meskipun AS banyak bertingkah tapi tak berani melepaskan sebutirpun peluru ke arah Iran.

Pompeo tiba di Riyadh, Sabtu (29/4/2018), dan segera menemui Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman.

Dia mengadakan safari tiga hari ke Timteng dengan berkunjung ke Saudi, Yordania, dan Israel, dengan agenda terutama membahas perjanjian nuklir Iran.

Dalam jumpa pers bersama sejawatnya dari Saudi, Adel al-Jubeir, dia menyebut Iran “mengacaukan Timteng, mendukung milisi dan kelompok-kelompok teroris, dan bertindak laiknya pedagang senjata karena mempersenjatai Houthi (Ansarullah) di Yaman, melakukan peretasan elektronika, dan menyokong Assad, Sang Pembunuh.”

“Tak seperti pemerintahan (AS) sebelumnya, kami tidak mengabaikan terorisme Iran yang berskala luas,” imbuhnya.

Presiden AS Donald Trump pada tanggal 12 Mei mendatang akan mengambil sebuah keputusan mengenai perjanjian nuklir Iran (JCPOA), dan diduga kuat bahwa dia akan menarik AS dari JCPOA sebagai persiapan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Penasehat Keamanan Nasional AS, John Bolton, Minggu (29/4/2018), mengatakan bahwa sejauh ini Trump belum menentukan sikap apakah AS jadi keluar dari JCPOA. Dia juga mengatakan bahwa Trump justru mempelajari usulan sejawatnya dari Perancis Emmanuel Macron mengenai pengadaan perundingan baru dengan Iran untuk perjanjian berskala luas. (rayalyoum)

IRGC: AS Banyak Bertingkah, Tapi Tak Berani Lepaskan Peluru Ke Iran

Komandan Agkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Laksamana Ali Fadavi di hari yang sama menegaskan bahwa ketangguhan Iran di Teluk Persia merupakan “janji Allah yang telah menghinakan AS di semua bidang.”

Dalam acara apresiasi kepada “para pembela Teluk Persia” di kota Bushehr, Iran, dia menegaskan bahwa tak seperti yang diinginkan musuhnya, Iran telah beralih secara cepat dari tahap pertahanan ke tahap pencegahan yang merupakan salah satu obsesi tersulit.

“Musuh tahu persis bahwa di tahap ini segala tindakan terhadap Iran akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatkan bagi mereka. Karena itu, meskipun segala tingkah sudah mereka lakukan namun tak sebutirpun peluru mereka tembakkan terhadap Republik Islam Iran,” tegasnya.

Mengenai kekuatan Iran di Teluk Persia dia menyabutnya contoh terwujudnya janji Allah dan pertanda kehinaan musuh.

“Hal ini mengungkapkan kepada kita bahwa konsistensi kita kepada perintah ilahi akan membuat janjiNya untuk memenangkan kita menjadi kenyataan,” ujarnya.  (farsnews)