Rangkuman Berita Timteng Senin 29 Oktober 2018

A picture taken on November 29, 2017, shows smoke billowing in Gaza City after Israel's military targeted Hamas posts in Gaza in retaliation to mortar rounds fired from the Palestinian enclave. It was unclear who was responsible for the mortar fire, with a number of militant groups operating in the Gaza Strip, but Israel holds Islamist movement Hamas responsible for all such incidents. / AFP PHOTO / MAHMUD HAMS

A picture taken on November 29, 2017, shows smoke billowing in Gaza City after Israel’s military targeted Hamas posts in Gaza in retaliation to mortar rounds fired from the Palestinian enclave.
It was unclear who was responsible for the mortar fire, with a number of militant groups operating in the Gaza Strip, but Israel holds Islamist movement Hamas responsible for all such incidents. / AFP PHOTO / MAHMUD HAMS

Jakarta, ICMES: Tiga anak Palestina gugur syahid terkena serangan udara Israel dekat perbatasan Timur Jalur Gaza dengan Israel pada Ahad malam.

Kelompok pejuang Palestina Hamas menyatakan bahwa serangan Israel belakangan ini ke Jalur Gaza sangat berbahaya terutama karena dilakukan kaum Zionis dalam konteks persaingan antarpartai dan memindah krisis dalam negerinya ke luar.

Presiden Cechnya Ramzan Kadyrov menyatakan bahwa perang terhadap Suriah masih berlanjut karena ada sebagian negara, terutama Amerika Serikat (AS), Israel, dan sejumlah negara Eropa, berusaha memperpanjang perang ini demi kepentingan mereka.

Surat kabar The Sunday Times yang berbasis di Inggris melaporkan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah “meninggalkan 1000 anak dengan 100 logat.”

Berita selengkapnya:

Jalur Gaza Membara, Tiga Anak Palestina Gugur Terkena Serangan Udara Israel

Tiga anak Palestina gugur syahid terkena serangan udara Israel dekat perbatasan Timur Jalur Gaza dengan Israel pada Ahad malam (28/10/2018).

Juru bicara Departemen Kesehatan Palestina di Gaza, Ashraf al-Qudrah, dalam siaran persnya, Senin (29/10/2018), menyatakan, “Tim penyelamat telah mengevakuasi tiga anak Palestina yang berusia antara 12 hingga 14 tahun akibat serangan udara Israel ke kawasan selatan Jalur Gaza.”

Al-Qudrah menyebutkan bahwa jenazah para syuhada itu dievakuasi ke Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa di kota Deir al-Balakh di bagian tengah Jalur Gaza.

Sebelumnya, militer Israel dalam siaran persnya, pada Ahad malam menyatakan jet tempurnya telah menggempur sebuah sel yang terdiri atas tiga pemuda Palestina dekat pagar keamanan antara Gaza dan Israel.

“Para pemuda itu berusaha melanggar pagar keamanan, dan tampak hendak menanamkan bom di dekatnya,” klaim militer Israel.

Wartawan Anadolu melaporkan bahwa jet tempur Israel menyerang sebuah titik dekat perbatasan kota Khan Yunis di bagian selatan Jalur Gaza dengan Israel.

Dia juga menyebutkan bahwa mobil-mobil lapis baja Israel bergerak menuju kawasan al-Hadath dan berkonsentrasi di sana, sementara jet-jet tempur Israel melakukan penerbangan secara intensif.

Pasukan Israel semula melepaskan tembakan untuk menghalangi ambulan-ambulan Palestina mendatangi lokasi peristiwa, tapi kemudian membiarkannya mengevakuasi para syuhada.

Perkembangan ini terjadi menyusul eskalasi yang terjadi di Jalur Gaza pada Jumat malam dan Sabtu malam lalu di mana jet-jet tempur Israel melancakan 80 kali serangan ke berbagai kawasan di Jalur Gaza dengan sasaran yang sebagian besar adalah posisi Brigade Ezzeddin al-Qassam, sayap militer Hamas.

Israel menyatakan serangan itu dilakukan untuk membalas serangan rudal-rudal yang ditembakkan oleh pejuang Jihad Islam Palestina dari Gaza ke wilayah selatan Israel menyusul gugurnya enam orang Palestina pada Jumat malam akibat aksi kekerasan Israel terhadap para pengunjuk rasa damai di berbagai kawasan di Jalur Gaza dan Tepi Barat.  Eskalasi ini kemudian terhenti setelah Jihad Islam menyudahi serangannya karena ada mediasi dari Mesir. (raialyoum)

Hamas: Serangan Israel Ke Gaza Adalah Akibat Persaingan Internal Israel

Kelompok pejuang Palestina Hamas menyatakan bahwa serangan Israel belakangan ini ke Jalur Gaza sangat berbahaya terutama karena dilakukan kaum Zionis dalam konteks persaingan antarpartai dan memindah krisis dalam negerinya ke luar.

Jubir Hamas Fawzi Barhoum menilai serangan Israel itu sebagai upaya Israel berkelit dari konsekuensi perjanjian gencatan senjata Israel dengan Gaza tahun 2014 yang mengharuskan Israel menyudahi blokadenya terhadap Jalur Gaza.

“Serangan ini akan menentukan proses dan mekanisme interaksi dengan rezim pendudukan Zionis di lapangan, dan kami tidak akan membiarkan Jalur Gaza, darah para pengunjuk rasa, serta pertimbangan dan posisi kubu resistensi menjadi tumbal persaingan internal Israel atau menjadi kancah untuk mengekspor krisis internalnya,” papar Barhoum.

Jumat malam dan Sabtu dini hari lalu jet tempur Israel melancarkan serangan sengit ke sejumlah kawasan di Jalur Gaza, terutama posisi Brigade Ezzeddin al-Qassam, sayap militer Hamas.

Pihak Israel menyatakan serangan udara itu merupakan reaksi atas serangan dari pejuang Palestina ke wilayah selatan Israel menyusul gugurnya enam orang Palestina dan cideranya 188 orang lainnya akibat tembakan pasukan Israel terhadap warga Gaza yang turut serta dalam unjuk rasa Great March of Riturn pada hari Jumat.  (alalam)

Presiden Cechnya: Negara-Negara Sponsor Terorisme Berusaha Perpanjang Perang Suriah

Presiden Cechnya Ramzan Kadyrov menyatakan bahwa perang terhadap Suriah masih berlanjut karena ada sebagian negara, terutama Amerika Serikat (AS), Israel, dan sejumlah negara Eropa, berusaha memperpanjang perang ini demi kepentingan mereka.

Sebagaimana dilansir Sputnik, dalam jumpa pers di Grozni, Ahad (28/10/2018), Kadyrov memastikan krisis Suriah akan segera berakhir jika negara-negara itu berhenti menyokong kelompok-kelompok teroris.

“Para gembong teroris yang ada di Suriah masih berdiri di Suriah karena negara-negara itu memenuhi segala keputusan mereka. Tanpa ini mereka tidak akan dapat bertahan barang sehari,” ujarnya.

Menurutnya, semua milisi yang berperang melawan tentara Suriah dikendalikan dan disuplai senjata, pakaian, dan bahan makanan oleh negara-negara tersebut, dan karena itu jika semua ini dihentikan maka keamanan dan stabilitas Suriah akan segera pulih.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa negara-negara Barat, Israel serta beberapa negara Arab Teluk dan Turki masih memberikan berbagai jenis bantuan kepada kelompok-kelompok teroris di Suriah.  (alalam)

ISIS Tinggalkan 1000 Anak Dengan 100 Logat

Surat kabar The Sunday Times yang berbasis di Inggris melaporkan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah “meninggalkan 1000 anak dengan 100 logat.”

Dalam laporan yang dibuat oleh korespondennya bidang Timteng, Louise Callaghan, The Sunday Times, Ahad (28/10/2018), menyebutkan bahwa di sebuah bukit kecil di sebuah dataran di bagian timur laut Suriah terdapat kamp Roj yang digunakan untuk menampung orang-orang terlantar.

Di situ terdapat tenda-tenda putih di atas tanah merahnya yang sepintas terlihat serupa dengan puluhan pemukiman pengungsi lain di wilayah tersebut.

Namun, di balik pagar rantai dan di bawah pengawasan petugas perempuan milisi Kurdi ternyata ada beberapa orang yang sangat berbeda dengan para pengungsi lain. Mereka adalah wanita dan anak-anak dari “kekhalifahan”, yakni mereka adalah kaum perempuan ISIS yang datang dari pelbagai penjuru dunia untuk hidup di bawah pemerintahan ISIS.

Para pejabat Kurdi menyatakan di wilayahnya itu terdapat 500 perempuan dan 1200 anak yang berasal dari 44 negara. Mereka ditampung di tiga kamp di bagian timur laut Suriah.

Menurut Callaghan, sebagian negara asal mereka menolak kepulangan mereka, sementara pihak Kurdi juga tidak menghendaki kebertahanan mereka.

Callaghan menyebutkan bahwa para peninjau kamp itu dapat melihat perbauran yang unik kaum terlantar itu akibat keberadaan mereka sebelumnya di bawah pemerintahan ISIS. Ada anak kecil berbahasa Inggris mengenakan kostum Spiderman. Ayahnya diduga berasal dari AS.

Terlihat pula seorang perempuan asal Azerbaijan yang bergabung dengan ISIS pada usia 13 tahun, namun sekarang sudah dua kali menikah dengan dua anggota kelompok teroris ini, dan dua kali menjanda. Juga ada seorang perempuan Belanda bersama dua orang anaknya yang berkulit putih kemerahan. Dan masih banyak lagi.

Uniknya lagi, di kamp itu terdengar percakapan dengan berbagai bahasa, termasuk Arab, Inggris, Belanda, Swedia, dengan ratusan aksen.

Callaghan melanjutkan bahwa meskipun mereka tidak dipenjara tapi selalu berada dalam pengawasan dan dibatasi secara ketat dalam menggunakan internet dan berkomunikasi dengan keluarga mereka. Dan apapun alasan mereka bergabung dengan ISIS, mereka mengetahui bahwa apa yang mereka ceritakan di kamp itu kepada para pejabat bisa jadi akan menentukan masa depan mereka. (thesundaytimes)