Rangkuman Berita Timteng Senin 27 November 2017

iran mohammad ali jafariJakarta, ICMES: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan perang Suriah telah berakhir dengan “kekalahan kubu arogan (mustakbirin)” , dan mengancam akan menambah jarak jelajah rudalnya jika Eropa menjadi ancaman bagi Iran.

Para menhan Koalisi Militer Islam Kontra Terorisme (Islamic Military Counter Terrorism Coalition/IMCTC) menyelenggarakan sidang untuk pertama kalinya di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, dan merilis pernyataan yang menegaskan tekad mereka dalam memerangi terorisme.

Mantan Menhan Israel Moshe Ya’alon menyatakan bahwa di parlemen Israel, Knesset, tidak ada orang yang melebihi dia dalam kegetolan membunuhi orang-orang Palestina dan Arab.

Israel telah mengirim surat kepada Presiden Suriah Bashar Al-Assad melalui pihak ketiga yang isinya ialah bahwa Al-Assad “akan berada dalam bahaya jika memperkenankan konsentrasi militer Iran di wilayah Suriah.”

Berita selengkapnya;

IRGC Mengancam Akan Menambahkan Jarak Jelajah Rudalnya

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan perang Suriah telah berakhir dengan “kekalahan kubu arogan (mustakbirin)” , dan mengancam akan menambah jarak jelajah rudalnya jika Eropa menjadi ancaman bagi Iran.

Di hadapan “pasukan relawan Iran” (Basij) di pusara pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomaini, di Teheran, ibu kota Iran, Ahad (26/11/2017), Panglima IRGC Mayjen Mohammad Ali Jafari menegaskan, “Perang kita adalah perang ideologis dan tak mengenal geografi dan teritori. Di Suriah kita melihat bagaimana para relawan datang dari negara-negara Islam untuk menghadapi musuh.”

Dia mengatakan bahwa pihak yang paling besar andilnya dalam kemenangan kubu muqawamah (resistensi anti Israel) ini adalah pasukan relawan, dan pengalaman Basij telah menular di negara-negara lain.

“Basij di Irak merupakan teladan muqawamah bagi bangsa-bangsa lain di kawasan, dan ini bermanifestasi dalam Hizbullah Lebanon  dan Al-Hashd Al-Shaabi yang besar di Irak,” ungkapnya.

Secara terpisah, Wakil Panglima IRGC, Brigjen Hossein Salami mengingatkan kepada Eropa bahwa Iran akan menambah jarak tempuh rudalnya jika negara ini terancam oleh Eropa.

“Kami mempertahankan jarak jelajah rudal kami pada 2000 kilometer bukan karena kami masih membutuhkan teknologinya, melainkan karena kami konsisten pada prinsip strategis,” katanya.

Dia menjelaskan, “Sejauh ini kami merasa Eropa bukan ancaman sehingga kami tidak menambah jarak tempuh rudal kami, tapi jika Eropa hendak bertransformasi menjadi ancaman maka kami akan menambah jarak jelajahnya.”

Menanggapi tudingan bahwa Iran mengirim rudal ke Yaman dia menyoal, “Yaman terblokade penuh, bagaimana kami dapat memberi rudal kepada mereka? Jika Iran dapat mengirim rudal ke Yaman maka ini membuktikan kelemahan koalisi (pimpinan) Saudi, tapi kami tidak memberi mereka (Yaman) rudal.”

Salami memastikan bahwa kelompok Ansarullah (Houthi) telah mencapai  suatu “prestasi ilmiah” sehingga dapat menambah jarak tempuh dan presisi rudalnya.

Sebelumnya, pemerintah Perancis menyerukan pengadaan dialog “tegas” dengan Iran mengenai proyek rudal balistik negeri mullah ini secara terpisah dari JCPOA, perjanjian nuklir yang telah dicapai Iran dengan negara-negara terkemuka dunia pada tahun 2015.

Bulan lalu Ali Jafari mengatakan bahwa rudal dengan jarak tempuh sekira 2000 kilometer sudah cukup untuk menjangkau “banyak kepentingan dan pasukan Amerika” di kawasan sehingga Iran tidak perlu menambah jarak jelajah.

Pada bulan ini, Amerika dan Saudi menuding Iran membekali Ansarullah dengan rudal yang telah dilesatkan ke Riyadh, ibu kota Saudi, pada Juli lalu. Amerika lantas menyerukan kepada PBB agar menindak Iran yang dituduhnya melanggar resolusi PBB. (rayalyoum/fna/alalam)

Saudi Gelar Sidang Para  Menhan “Koalisi Militer Islam Kontra Terorisme”  

Para menhan Koalisi Militer Islam Kontra Terorisme (Islamic Military Counter Terrorism Coalition/IMCTC) menyelenggarakan sidang untuk pertama kalinya di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, Minggu (26/11/2017), dan merilis pernyataan yang menegaskan tekad mereka dalam memerangi terorisme.

Petinggi militer Saudi Letjen Abdullah Al-Saleh selaku sekjen koalisi ini menegaskan bahwa mereka  bertekad untuk mengoordinasikan upaya melawan terorisme melalui “tindakan kolektif dan terorganisir untuk menentukan batasan bagi pemicu ekstrimisme dan sektarianisme.”

Dalam pembukaan sidang ini Putera Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman mengatakan bahwa koalisi ini telah menyudahi diskoordinasi antarlembaga selama ini dalam upaya pemberantasan terorisme.

“Hal ini sekarang sudah berakhir dengan adanya koalisi ini,” kata Bin Salman yang masih berusia 32 tahun dan merangkap Mehan Saudi tersebut.

Di hadapan para menhan dan petinggi militer dalam sidang itu dia menambahkan, “Hari ini lebih dari 40 negara telah mengirim isyarat yang sangat kuat bahwa mereka akan bekerjasama, dan akan berkoordinasi secara erat sekali untuk saling mendukung  dalam upaya militer maupun aspek keuangan, atau aspek intelijen, atau politik.”

IMCTC dideklarasikan pada Desember 2015 atas prakarsa Bin Salman. Riyadh menyatakan bahwa jumlah anggota koalisi ini bertambah dari 34 menjadi 41 negara Arab dan Islam, termasuk Pakistan dan Turki, dan tidak mencakup Iran, Suriah, dan Irak.

Qatar yang dituding oleh kubu Saudi sebagai negara yang mensponsori terorisme tercatat sebagai anggota koalisi ini namun tidak mengikuti sidang di Riyadh yang diselenggarakan Minggu sehingga timbul dugaan bahwa Qatar memang tidak diundang oleh Saudi dan bahkan sudah dihapus dari daftar itu setelah pasukan koalisi pimpinan Saudi dalam perang Yaman mengeluarkan Qatar dari koalisi ini.

Sidang IMCTC diselenggarakan di tengah keruhnya hubungan Saudi dengan Iran terkait dengan berbagai isu panas di Timteng, terutama perang di Yaman dan Suriah.

Namun demikian, Jenderal Purn. Rahil Sharif dari Pakistan selaku ketua IMCTC Minggu kemarin mengatakan, “Koalisi kami tidak mengarah terhadap negara, kelompok, dan agama apapun, dan tujuannya semata memerangi terorisme.”  (rayalyoum/afp/arabnews)

Mantan Menhan Israel Ini Bangga Paling Banyak Membunuhi Orang Palestina

Mantan Menhan Israel Moshe Ya’alon menyatakan bahwa di parlemen Israel, Knesset, tidak ada orang yang melebihi dia dalam kegetolan membunuhi orang-orang Palestina dan Arab.

Media massa Israel menyebutkan bahwa opini yang dominan di tengah publik Israel ialah bahwa Ehud Barak yang juga mantan menhan Israel adalah orang yang paling getol dalam pembunuhan “musuh” sehingga melebihi para petinggi politik maupun militer Israel lainnya.

Namun demikian, surat kabar Maariv milik Israel, Minggu (26/11/2017), mengejutkan publik Israel dengan melansir pengakuan Ya’alon bahwa di Knesset tak seorangpun melebihi dia dalam “membunuh para perusuh dan pasukan musuh”.

“Dalam pemerintahan ini ataupun di antara para anggota Knesset tak orang yang terpaksa membunuh melebihi saya,” klaim Ya’alon.

Ya’alon yang pernah memimpin Pasukan Khusus Israel “Sayeret Matkal” dan memegang komando operasi pembunuhan tokoh gerakan Fatah Palestina Abu Jihad di rumahnya menambahkan bahwa di Knesset tak ada orang melebihi dia dalam “melihat musuh dan perusuh” sehingga dia “terpaksa membunuh”.

“Anda harus membunuh, karena ini darurat,” pungkasnya. (mayadeen)

Israel Kirim Surat Ancaman Keras Kepada Presiden Suriah Soal Militer Iran

Israel telah mengirim surat kepada Presiden Suriah Bashar Al-Assad melalui pihak ketiga yang isinya ialah bahwa Al-Assad “akan berada dalam bahaya jika memperkenankan konsentrasi militer Iran di wilayah Suriah.”

Perusahaan media Israel Hadashot yang merupakan bekas “Channel 2”, Minggu malam (26/11/2017),  menyebutkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam surat itu menegaskan kepada Al-Assad bahwa  “membiarkan konsentrasi militer Iran di Suriah akan mendorong Israel mengubah kebijakan ‘tidak campurtangan’ yang selama ini ditempuh Israel berkenaan dengan perang yang melanda Suriah.”

Netanyahu mengancam bahwa Israel akan melancarkan intervensi militer ke Suriah jika peringatan ini tidak diindahkan oleh Al-Assad.

Kabar ini mengemuka di tengah kegelisahan dan asumsi Israel bahwa pendirian pangkalan militer Iran di Suriah merupakan upaya Iran untuk menekan Al-Assad agar membolehkan Iran mendirikan pangkalan militer dan pelabuhan laut di pesisir Laut Tengah di bagian utara Suriah.

Times of Israel menyebutkan, “Iran telah memberikan dukungan logistik, teknis, pelatihan dan keuangan yang signifikan untuk pemerintahan dan pasukan Assad, menyebar penasihat militer dan pasukan tempur di Suriah, serta mempersenjatai, melatih, dan mendanai kelompok teroris Hizbullah Lebanon yang telah mengirim ribuan orang bersenjata untuk berperang bersama pasukan Assad.”

Para petinggi Israel, termasuk Perdana Menteri Netanyahu, Menhan Avigdor Lieberman, dan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Gadi Eizenkot dalam beberapa minggu terakhir telah banyak menebar ancaman berkenaan keberadaan pasukan Iran dan sekutunya di Suriah.

Mereka menegaskan bahwa Israel tidak menerima eksistensi Iran ataupun milisi yang bersekutu dengan Iran di wilayah Suriah, terutama di bagian selatan negara yang baru menang melawan gerakan teror ISIS ini. (mm/timesofisrael/arab48)