Rangkuman Berita Timteng Senin 25 Juni 2018

iran abbas araghchiJakarta, ICMES: Delegasi perunding nuklir Iran Abbas Araghchi memberi tenggat waktu hingga akhir bulan ini kepada Uni Eropa agar segera menyampaikan usulannya jika memang hendak mempertahankan perjanjian nuklir Iran.

Wakil Ketua Dewan Al-Hashd al-Shaabi (pasukan relawan Irak) Abu Mahdi al-Muhandis menuduh Amerika Serikat (AS) telah menyerang pasukan ini di perbatasan Irak-Suriah, dan karena itu dia meminta pimpinan operasi gabungan Irak agar membenahi “kelemahan” sikapnya.

Sumber militer Irak di provinsi Salahuddin menyatakan bahwa satu gembong kelompok teroris ISIS tewas bersama lima pendampingnya di distrik Sherkat, 280 kilometer utara Baghdad, ibu kota Irak.

Presiden Suriah Bashar Assad memastikan negaranya berkemampuan untuk melakukan rekonstruksi, dan Barat tidak akan pernah berpartisipasi di dalamnya.

Berita selengkapnya:

Soal Perjanjian Nuklir, Iran Beri Eropa Tenggat Waktu Hingga Akhir Bulan Ini

Delegasi perunding nuklir Iran Abbas Araghchi memberi tenggat waktu hingga akhir bulan ini kepada Uni Eropa agar segera menyampaikan usulannya jika memang hendak mempertahankan perjanjian nuklir Iran.

“Uni Eropa harus memenyerahkan paket usulannya paling lambat akhir bulan ini untuk mempertahankan perjanjian nuklir. Jika Eropa tak dapat melakukannya maka Teheran akan kembali ke tahap sebelum perjanjian dan bahkan lebih dari itu,” ujarnya dalam keterangan pers, Ahad (24/6/2018).

Araghchi menambahkan bahwa perjanjian itu sedang mengalami kondisi anomal, namun Iran dan pihak-pihak lain masih berusaha mengembalikannya pada jalurnya yang benar.

Secara terpisah, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mengingatkan bahwa jika perjanjian nuklir Iran sampai gagal maka “akibatnya akan sangat berbahaya.”

“Kita dapat berbicara mengenai perjanjian ini dalam bentuk yang baik ataupun buruk, tapi kita harus mengetahui bahwa kegagalan pada perjanjian ini akan menimbulkan akibat-akibat yang sangat berbahaya bagi kami,” ujarnya di hari yang sama tanpa memberikan penjelasan lebih jauh mengenai akibat itu.

Dia menambahkan bahwa jika Presiden Iran Hassan Rouhani digantikan oleh kelompok konservatif maka kondisi demikian tetap tidak akan membaik.

Kelompok konservatif sejak awal menentang perjanjian nuklir dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akhirnya memang berkhianat  dan keluar dari perjanjian nuklir Iran. (alam/rayalyoum)

AS Serang Pasukan Relawan Irak Di Dekat Perbatasan Dengan Suriah

Wakil Ketua Dewan Al-Hashd al-Shaabi (pasukan relawan Irak) Abu Mahdi al-Muhandis menuduh Amerika Serikat (AS) telah menyerang pasukan ini di perbatasan Irak-Suriah, dan karena itu dia meminta pimpinan operasi gabungan Irak agar membenahi “kelemahan” sikapnya.

Dalam jumpa pers mengenai hasil sementara penyelidikan terhadap kasus pemboman AS terhadap al-Hashd al-Shaabi, Ahad (24/6/2018), dia mengatakan, “Al-Hashd al-Shaabi telah membentuk tim penyelidik serangan AS itu dan komandan operasi al-Jazirah Mayjen Qasim al-Mohammadi memastikan bahwa dia memberitahu AS mengenai titik posisi milik al-Hashd al-Shaabi ini, dan inilah dokumen audio visual kami.”

Sebelumnya, al-Hashd al-Shaabi menuduh AS pada 18 Juni lalu telah menyerang posisinya di al-Qaim yang terletak di perbatasan Irak-Suriah hingga menewaskan 22 relawan, namun komando operasi gabungan Irak merilis pernyataan yang membantah bahwa pasukan Irak mendapat serangan udara.

Al-Muhandis menegaskan, “Serangan AS terlihat jelas dan merupakan serangan rudal yang serpihannya masih ada pada kami… Sikap komando operasi gabungan lemah, dan kami meminta mereka membenahi sikap ini.”

Dia menambahkan, “Statemen komando operasi gabungan dilakukan secara tergesa ketika menyatakan bahwa pasukan yang mendapat serangan di perbatasan Irak-Suriah berada di luar wilayah Irak dan tidak berkaitan dengan al-Hashd al-Shaabi. Statemen itu mengaitkan saya dengan sesuatu yang tidak saya katakan bahwa saya tidak mengetahui pernyataan yang dikeluarkan oleh al-Hashd al-Shaabi.”

Dia menjelaskan, “Pasukan yang diserang adalah bagian dari al-Hashd al-Shaabi yang berada di garis pertahanan di sana sejak operasi al-Qaim… Wakil komandan operasi gabungan telah menegaskan di akhir pertemuan pada bulan suci Ramadhan keharusan dipertahankannya garis pertahanan ini karena memang penting…. Pasukan AS menyalah gunakan wilayah Irak dengan membuka pintu-pintu perbatasan Irak untuk mendukung pasukan tertentu agar menguasai Suriah timur.” (alalam)

Satu Tokoh Besar ISIS Dan Lima Pendampingnya Tewas Di Irak

Sumber militer Irak di provinsi Salahuddin menyatakan bahwa satu gembong kelompok teroris ISIS tewas bersama lima pendampingnya di distrik Sherkat, 280 kilometer utara Baghdad, ibu kota Irak.

Komando Operasi Salahuddin Sadr, Ahad (24/6/2018),menegaskan, “Pasukan keamanan telah melancarkan suatu operasi tersendiri berdasarkan informasi akurat intelijen hingga menewaskan orang yang memiliki panggilan Abu Salam al-Iraqi, otak dan perencana aksi-aksi peledakan dan penculikan serta pembuat klaim kekuasaan fiktif geng-geng teroris ISIS. Dia terbunuh ketika bersembunyi di sebuah terowongan bersama para pendampingnya di daerah Jazirah Shirkat.”

Disebutkan pula tewasnya Abu Salam merupakan “kepatahan tulang panggung sel-sel tidur di provinsi Salahuddin.”

Pasukan keamanan Irak belakangan ini melancarkan operasi keamanan secara masif di provinsi Salahuddin untuk membasmi total sel-sel tidur ISIS, sebab wilayah provinsi Salahuddin, Anbar, dan Nineveh kerap dilanda aksi penculikan, pembunuhan, dan peledakan bom yang dilakukan oleh sel-sel tidur ISIS terhadap pasukan keamanan dan warga sipil. (rayalyoum)

Assad: Rusia Di Suriah Kembalikan Keseimbangan Internasional

Presiden Suriah Bashar Assad memastikan negaranya berkemampuan untuk melakukan rekonstruksi, dan Barat tidak akan pernah berpartisipasi di dalamnya.

Dalam wawancara dengan NTV, Ahad (24/6/2018), dia mengatakan, “Meskipun sekarang ada perang kami memiliki kekuatan yang cukup untuk rekonstruksi negara ini, dan kami yakin demikian.”

Dia juga menegaskan negaranya sama sekali tidak memiliki senjata kimia sejak 2013, dan karena itu tuduhan bahwa tentara Suriah menggunakannya sama sekali tidak faktual dan hanya merupakan dalih yang dikemukakan oleh sejumlah negara lain agar dapat melancarkan serangan militer secara langsung.

Mengenai keberadaan militer Rusia di Suriah dia menyebutnya andil besar dalam proses pengadaan keseimbangan global.

“Ada dua poin dalam hubungan dengan Rusia. Pertama, kami dan Rusia mementingkan perang melawan terorisme dan mengalahkannya di Suriah, Rusia, dan seluruh dunia. Kedua, berkenaan dengan jangka panjang; Rusia memainkan peranan penting dalam rekonstruksi keseimbangan internasional yang berantakan dan hilang pasca bubarnya Uni Soviet,” terang Assad.

Dia kemudian menegaskan bahwa amandemen konstitusi Suriah bertumpu semata pada kehendak rakyat negara ini sendiri, dan harus ada referendum nasional dalam rangka ini.

Mengenai Suriah utara dia mengatakan, “Kami memiliki dua opsi. Pertama dan yang utama ialah rekonsiliasi yang dapat mengembalikan kehidupan normal ke banyak kawasan Suriah. Kedua,serangan terhadap para teroris jika mereka tidak menyerah dan menerima rekonsiliasi. Kami akan terus memerangi mereka hingga kami pulihkan kekuasaan negara dengan kekuatan.  Ini tentu bukan opsi terbaik kami, tapi hanya inilah cara untuk mengembangkan kekuasaan pemerintah atas negeri ini.” (rayalyoum)