Rangkuman Berita Timteng Senin 21 Agustus 2017

menhan iran amir hatamiJakarta, ICMES: Menteri pertahanan baru Iran Brigjen Amir Hatami menegaskan negaranya pantang tunduk kepada tekanan dari manapun yang bermaksud menghalangi proyek pengembangan rudal negara republik Islam ini.

Tentara Lebanon mengumumkan keberhasilannya membebaskan kawasan seluas 80 kilometer di antara 120 kilometer persegi kawasan dari pendudukan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Raas Balbek dan al-Qa’ di kawasan Lembah Bekaa.

Sedikitnya 18 warga sipil, tiga di antaranya anak kecil, tewas terkena serangan udara pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat terhadap sebuah desa di kawasan timur laut Suriah

Presiden Suriah Bashar al-Assad, Minggu (20/8/2017), menyatakan bahwa perang Suriah berkobar antara lain karena pendirian pemerintah Suriah selama ini dalam isu regional.

Sebuah laporan PBB mengungkap dukungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kepada kelompok-kelompok bersenjata dan tindakan keduanya melakukan penangkapan secara ilegal dan penghilangan orang secara paksa di Yaman.

Berita selengkapnya;

Menhan Baru Iran: Program Pengembangan Rudal Jalan Terus

Menteri pertahanan baru Iran Brigjen Amir Hatami menegaskan negaranya pantang tunduk kepada tekanan dari manapun yang bermaksud menghalangi proyek pengembangan rudal negara republik Islam ini.

Dalam jumpa pers di sela-sela rapat pertama kabinet Presiden Iran Hassan Rouhani, Minggu (20/8/2017), Hatami mengatakan, “Kami akan terus mengerahkan segenap upaya kami dalam rangka memperkuat kemampuan pertahanan negara kami karena hal ini tergolong urgen untuk menegakkan keamanan.”

Dia menambahkan bahwa program pertahanan Republik Islam Iran akan terus maju sesuai kebijakan pertahanannya.

“Selamanya kami tidak pernah tunduk kepada tekanan,” tegasnya.

Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) selalu menekan Iran agar menghentikan program pengembangkan rudalnya. Dalam rangka ini AS telah menerapkan beberapa sanksi baru terhadap berbagai lembaga dan para pejabat Iran sebagai reaksi atas kontinyuitas program pengembangan rudal Iran.

Iran melawan tindakan AS sehingga Selasa pekan lalu Presiden Rouhani bahkan menegaskan negaranya bisa saja memulai lagi program nuklirnya seperti semula dalam jangka waktu hanya“beberapa jam” setelah AS menerapkan sanksi baru terhadap Iran. (rayalyoum)

Tentara Lebanon Bebaskan Kawasan Seluas 80 Km Dari Pendudukan ISIS

Tentara Lebanon mengumumkan keberhasilannya membebaskan kawasan seluas 80 kilometer di antara 120 kilometer persegi kawasan dari pendudukan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Raas Balbek dan al-Qa’ di kawasan Lembah Bekaa, Ahad (20/8/2017).

Dalam operasi militer pembebasan itu tentara Lebanon telah menghancurkan 12 markas teroris dan menyita sejumlah besar peralatan tempur dan bahan peledak milik ISIS. Selain itu, sebanyak 15 anggota ISIS tewas dan beberapa lainnya kabur akibat serangan udara dan artileri. Tentara Lebanon juga meledakkan satu mobil dan satu motor bersama pengemudi masing-masing yang bermaksud melancarkan serangan bom bunuh terhadap tentara Lebanon.

Tentara Lebanon memulai operasi militer di kawasan itu pada dini hari Sabtu. Di hari pertama operasi itu mereka berhasil merebut kembali kawasan seluas 30 kilometer persegi dari tangan ISIS dan bergerak maju dari dua arah timur dan selatan hingga menguasai beberapa titik area dominan, terutama Tal’ah al-Adam dan dataran tinggi 1564. (rayalyoum/alalam)

Serangan Koalisi Internasional Tewaskan 18 Warga Sipil Suriah

Sedikitnya 18 warga sipil, tiga di antaranya anak kecil, tewas terkena serangan udara pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat terhadap sebuah desa di kawasan timur laut Suriah, Sabtu (19/8/2017).

Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) melaporkan bahwa serangan udara itu menerjang desa al-Jaza’ di bagian selatan provinsi Hasakah ketika pasukan koalisi bermaksud menggempur kawanan teroris ISIS yang menguasai sebuah area kecil di sana.

Lembaga yang bermakras di London ini menjelaskan bahwa belasan korban itu terbunuh “di area sebuah masjid dan rumah-rumah sekitarnya.”

Serangan ini juga menewaskan tiga kombatan ISIS.

Sementara itu, ISIS Minggu malam (20/8/2017), menyatakan serangan udara pasukan koalisi terhadap kawasan permukiman di distrik Harah al-Badu di kota Raqqa telah menewaskan sedikitnya 40 warga sipil, namun klaim ini belum mendapat konfirmasi dari media resmi Suriah maupun koalisi internasional.

Serangan pasukan koalisi pimpinan AS berulangkali merenggut nyawa banyak warga sipil di Raqqa. Jumat lalu serangan mereka juga menewaskan 20 warga sipil di kota ini.

Belum lama ini PBB juga menyatakan prihatin atas kondisi ini sehingga bahkan menyebutkan kondisi di Raqqa terburuk di Suriah dewasa ini.

Sebagian lembaga peduli HAM juga pernah melaporkan bahwa sejak 2014 sampai sekarang serangan udara pasukan koalisi internasional telah menewaskan 624 warga sipil di Raqqa.

Di kawasan lain, Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya berhasil mencetak kemajuan besar dalam operasi militer di kawasan Qalamoun barat setelah terlibat pertempuran sengit melawan kelompok teroris ISIS.

SAA yang merupakan pasukan pemerintah Suriah menguasai beberapa daerah di bagian selatan kawasan itu, termasuk lima desa, sedangkan di bagian timur menguasai empat daerah sehingga memungkinan mereka menggempur ISIS di pintu perbatasan Mira, dan di bagian utara mereka berhasil menguasai dua desa. (alalam/irna)

Al-Assad Semakin Percaya Diri, Ini Tanggapan Pengamat Israel

Presiden Suriah Bashar al-Assad, Minggu (20/8/2017), menyatakan bahwa perang Suriah berkobar antara lain karena pendirian pemerintah Suriah selama ini dalam isu regional, dan bahwa Suriah selalu memang menjadi incaran pihak lawan karena menguasai Suriah tak ubahnya dengan menguasai segala inisiatif dan keputusan dalam isu regional.

Al-Assad juga mengaku tidak akan memberikan konsesi militer maupun politik kepada kelompok-kelompok teroris dan negara-negara pendukungnya, dan di saat yang sama dia juga mengapresiasi dukungan Rusia, Iran, Cina, dan Hizbullah kepada Suriah.

Menanggapi pernyataan al-Assad ini, pengamat Israel Yaron Schneider kepada TV Israel Channel 2 di hari yang sama mengatakan, “Presiden Suriah mengaku lagi bahwa dia menang dalam perang anti Suriah setelah berhasil mencegah upaya Barat menggulingkannya. Dia merasa kemenangan sudah dekat meskipun dia belum memetiknya, dan inilah kesimpulan umum yang dapat kami petik dari pidatonya hari ini.”

Dia juga mengatakan, “Dalam beberapa bulan terakhir ini pasukan al-Assad bersama pasukan Rusia, Iran dan Hizbullah berhasil merampungkan kekuasannya atas dua setengah kali lipat wilayah yang ada di tangan mereka belakangan ini, dan perkataannya menunjukkan hal ini.”

Menurut Schneider, “lima bintang” yang disebutkan oleh al-Assad dalam pernyataan itu ialah Presiden Rusia Vladimir Putin, Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei, dan Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah.

Pakar Israel ini kemudian mengatakan, “Roda tidak akan berputar balik terhadap al-Assad, melainkan al-Assadlah yang akan berbalik lagi terhadap kita.” (rayalyoum)

PBB: Saudi Dan UEA Sebarkan Al-Qaeda Di Yaman

Sebuah laporan PBB mengungkap dukungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kepada kelompok-kelompok bersenjata dan tindakan keduanya melakukan penangkapan secara ilegal dan penghilangan orang secara paksa di Yaman.

Tim ahli komisi sanksi internasional di Yaman dalam laporannya menyebutkan bahwa  kelompok-kelompok bersenjata itu mendapatkan dana dan bantuan langsung dari Saudi dan UEA, dan salah satu kelompok itu berada di Taiz dan dipimpin oleh Abu al-Abbas al-Salafi, orang yang didanai oleh UEA dan memperkenankan kawanan teroris al-Qaeda menyebar di Yaman.

Rincian laporan yang dirahasiakan oleh negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB sejak menerimanya pada awal Agustus 2017 itu mengkonfirmasi apa yang dikabarkan oleh sebuah kantor berita dan sebagian lembaga peduli HAM semisal Human Right Wath (HRW) bahwa pemerintah UEA mengelola langsung ataupun melalui agen lokalnya – untuk menghilangkan jejak- penjara kota di sejumlah provinsi di Yaman selatan.

Tim tersebut menyatakan prihatian atas keberadaan anggota koalisi Arab pimpinan Saudi secara tersembunyi di balik modus tersebut demi menghindari tanggungjawab atas berbagai tindak pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan oleh pasukannya dalam serangan udara di Yaman.

Laporan tim ini juga menyebutkan bahwa koalisi pimpinan Saudi secara de facto telah menerapkan larangan masuk kepada para wartawan dan sebagian lembaga swadaya masyarakat ke Yaman, dan tim ini masih akan merampungkan investigasinya sampai waktu penyerahan laporan final pada akhir tahun ini. (alalam/aljazeera)