Rangkuman Berita Timteng Senin 17 Juli 2017

isis abu bakar al-baghdadiJakarta, ICMES: Seorang pejabat intelijen Irak menepis berita yang beredar belakangan ini  mengenai keterbunuhan pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi.

Sebanyak 153 pemberontak telah menyerah kepada tentara Suriah dan kemudian mendapat ampunan sehingga kembali kepada kehidupan secara normal di provinsi Homs.

Harian Rusia Nezavisimaya Gazeta memuat artikel yang menyebutkan bahwa merebaknya ketegangan hubungan Qatar dengan negara-negara jirannya telah mengandaskan agenda Amerika Serikat (AS) untuk membangun aliansi luas anti Iran.

Juru bicara otoritas pengadilan Iran, Hujjatul Islam Gholam Hosein Mohseni-Eje’i menyatakan bahwa Kementerian Keamanan negara ini  telah meringkus seorang “penyusup yang dikendalikan langsung oleh Amerika Serikat (AS).”

Berita selengkapnya;

Intelijen Irak Bantah Laporan Kematian Abu Bakar al-Baghdadi

Seorang pejabat intelijen Irak menepis berita yang beredar belakangan ini  mengenai keterbunuhan pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi.

Dia  menilai kabar tersebut “tidak benar” dan memastikan al-Baghdadi  masih hidup dan bersembunyi di luar kota Raqqa yang masih menjadi basis ISIS di Suriah utara.

Kementerian Pertahanan  Rusia Juni lalu menyatakan teroris buronan nomor wahid itu kemungkinan besar tewas terkena serangan udara Rusia terhadap sebuah tempat perkumpulan para petinggi ISIS di pinggiran kota Raqqa.

Namun demikian, kelompok-kelompok bersenjata yang bertempur di kawasan tersebut serta para pejabat Amerika Serikat (AS) mengaku tidak memiliki data kuat mengenai keterbunuhan al-Baghdadi. Para pejabat regionalpun juga meragukan data-data yang dikemukakan Moskow.

Dirjen Badan Intelijen Dan Kontra-Terorisme Kementerian Dalam Negeri Irak Abu Ali al-Basri dalam keterangannya kepada koran al-Sabar milik pemerintah, Minggu (16/7/2017), menyatakan al-Baghdadi masih bersembunyi di luar kota Raqqa.

“Sesuai data akurat dari sel-sel pemantau dan informasi mengenai pergerakan al-Baghdadi, dan mengingat kami lebih peduli kepada masalah ini dibanding pihak-pihak lain dari badan-badan intelijen internasional dan Arab, serta dengan pengejaran, pengusiran, dan pemantauan semua pergerakan pemimpin ISIS dan para pengikutnya maka kami menepis berita kematiannya. Tidak benar informasi dan laporan-laporan yang beredar belakangan ini,” paparnya.

Abu Bakar al-Baghdadi, 46 tahun, adalah warga negara Irak memiliki nama asli Ibrahim al-Samurra’i. Dia semula adalah anggota al-Qaeda namun menyempal dari jaringan teroris ini pada tahun 2013, atau dua tahun setelah terbunuhnya pemimpin al-Qaeda, Osama Bin Laden.

Dia terakhir tampil di depan publik saat dia menaiki mimbar Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak utara, untuk mendeklarasikan “negara kekhalifahan” pada tahun 2014.

Senin pekan lalu otoritas Irak mengumumkan pembebasan Mosul secara total dalam pertempuran yang paling mematikan bagi ISIS selama kelompok teroris takfiri berfaham Wahabisme ini menduduki Mosul sejak tiga tahun silam. (rayalyoum)

153 Pemberontak Menyerah Kepada Tentara Suriah

Sebanyak 153 pemberontak telah menyerah kepada tentara Suriah dan kemudian mendapat ampunan sehingga kembali kepada kehidupan secara normal di provinsi Homs.

Kantor berita Suriah, SANA, Minggu (16/7/2017), melaporkan bahwa ratusan orang itu sebagian berasal dari bagian utara provinsi ini dan sebagian lain adalah warga kota Homs. Mereka berjanji untuk tidak melakukan lagi tindakan apapun yang menyalahi keamanan negara dan ketentraman masyarakat.

Selain itu, mereka juga mengimbau kepada warga Suriah lainnya yang tertipu oleh propaganda pihak asing agar meletakkan senjata dankembali ke jalur yang benar

Pada 24 Mei lalu sebanyak 155 pemberontak dari kota Homs dan bagian utara provinsi Homs juga meletakkan senjata dan kembali kepada kehidupan normalnya dengan memanfaatkan surat keputusan amnesti presiden no. 15.

Sesuai surat ini, kawanan bersenjata dan orang-orang yang bersembunyi ataupun lari  dari penegakan hukum akan mendapatkan amnesti apabila bersedia menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang.  (sana)

Koran Rusia: Krisis Qatar Kandaskan Rencana AS Bentuk Aliansi Besar Anti-Iran

Harian Rusia Nezavisimaya Gazeta, Minggu (16/7/2017) memuat artikel yang menyebutkan bahwa merebaknya ketegangan hubungan Qatar dengan negara-negara jirannya telah mengandaskan agenda Amerika Serikat (AS) untuk membangun aliansi luas anti Iran.

Artikel karya jurnalis dan pakar internasional  Rafael Mustafin itu menyebutkan, “Masalah utamanya ialah kekandasan maksud  AS mendirikan aliansi militer-politik anti Iran… Krisis Qatar juga menyulitkan posisi tentara AS yang ditempatkan di Qatar.”

Dia menambahkan, “Upaya diplomatik Kuwait untuk menengahi dan menyelesaikan krisis Arab mengenai Qatar tidak memadai, dan Qatar enggan menerima permintaaan Arab Saudi dan negara-negara Arab sekutunya… Perselisihan mengenai persoalan ini berkepanjangan, dan dewasa ini Washington berusaha mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.”

Menurut Mustafin, aktifnya diplomasi AS di Teluk Persia di tahap awal yang terjadi dewasa ini erat kaitannya dengan realitas di mana sanksi-sanksi terhadap Qatar gagal membuahkan hasil seperti yang diinginkan.

“Sanksi terhadap Qatar bukannya mengalihkan negara ini dari perluasan hubungan dengan Iran tapi justru mendorong Doha menggalang kerjasama lebih besar dengan Teheran,” tulisnya.

Dia menambahkan bahwa Iran yang sudah menjulurkan tangannya kepada Qatar dapat memenuhi stok kebutuhan pokok Qatar serta membuka zona udara dan lautnya untuk memecah blokade terhadap Qatar, sementara Turki juga mengerahkan ribuan pasukannya untuk menghadang rencana serangan kubu Saudi terhadap Qatar.

Di bagian akhir, Mustafin menilai kondisi ini menjadi simalakama bagi Arab Saudi karena akan kehilangan muka jika harus menarik tuntutannya kepada Qatar, dan pada gilirannya semua upaya mediasi, termasuk oleh AS, akan cenderung gagal. (irna)

Iran Penjarakan Mata-Mata AS, Bagaimana Reaksi Washington?

Juru bicara otoritas pengadilan Iran, Hujjatul Islam Gholam Hosein Mohseni-Eje’i, Minggu (16/7/2017), menyatakan bahwa Kementerian Keamanan negara ini  telah meringkus seorang “penyusup yang dikendalikan langsung oleh Amerika Serikat (AS).”

Seperti dilaporkan lembaga pemberitaan Tasnim milik pemerintah Iran, Mohseni-Eje’i menjelaskan bahwa Kementerian Keamanan Iran berhasil mengungkap dan menangkap seorang mata-mata AS pemilik dwi kewarnegaraan yang menyusup ke Iran untuk mengeruk informasi.

Tasnim melaporkan bahwa pengadilan Iran telah memvonis mata-mata AS itu dengan hukuman penjara 10 tahun dengan catatan bahwa terpidana masih dapat melakukan upaya banding.

Mohseni-Eje’i mengatakan, “Sayang sekali, agen mata-mata ini dikendalikan langsung dari AS.”

Di lain pihak, pejabat Kementerian Luar Negeri AS di hari yang sama mengatakan kepada AFP bahwa AS meminta Iran “segera membebaskan” semua warga negara AS yang “ditangkap secara aniaya” di Iran.  Desakan ini dia kemukakan setelah pengadilan Iran menjatuhkan vonis hukuman penjara terhadap terpidana tersebut.

“Rezim Iran terus melakukan penangkapan terhadap orang-orang AS dan warga negara-negara lain dengan berbagai alasan mengenai keamanan nasional,” kecamnya. (rayalyoum)