Rangkuman Berita Timteng Senin 15 Januari 2018

dewan pusat palestinaJakarta, ICMES: Ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas menegaskan bahwa Al-Quds (Yerussalem) merupakan ibu kota Palestina untuk selamanya.

Raja Abdullah II dari Yordania menegaskan bahwa kota Al-Quds (Yerussalem) merupakan kunci penyelesaian krisis Temteng.

Turki mengecam pembentukan pasukan keamanan perbatasan Kurdi oleh pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS).

Angkatan Bersenjata Iran menyatakan AS suatu saat akan mengerti bahwa Iran memang pantang bernegosiasi dan tawar menawar mengenai kekuatan pertahanannya.

Berita selengkapnya;

Mahmoud Abbas: Al-Quds Ibu Kota Palestina Untuk Selamanya

Ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas menegaskan bahwa Al-Quds (Yerussalem) merupakan ibu kota Palestina untuk selamanya.

“Orang lain suka atau tidak, Al-Quds adalah ibu kota kami untuk selamanya,  pengantin kearaban kami, mutiara mahkota, dan kami telah menegaskan kepada Israel bahwa tidak ada pemilu tanpa Al-Quds,” ungkap Abbas dalam pertemuan ke-28 Dewan Pusat Palestina, Ahad (14/1/2018).

Dia menyatakan bahwa Al-Quds telah dihapus dari meja perundingan oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel.

Abbas mengaku kecewa atas ketidak sediaan kelompok pejuang Hamas berpartisipasi dalam pertemuan Dewan Pusat Palestina.

“Saya berharap gerakan Hamas tidak harmoni dengan pendirian tokoh gerakan ini, Mahmoud Al-Zahar,” katanya.

Mengenai kabar bahwa Abbas telah disodori usulan supaya menjadikan desa Abu Dis di dekat Al-Quds sebagai ibu kota Israel, dia mengatakan, “Kami katakan kepada Trump, ‘tidak, dan seribu tidak’, kami tidak akan menerima ‘tamparan masa kini’…  Pada momen kritispun kami tidak akan berpindah tempat dan tidak akan mengulangi kesalahan di masa lalu. Kami tidak akan menerima dikte dan doktrin dari siapapun.”

Mahmoud Abbas menegaskan bahwa Palestina akan terus membangkitkan isu Perjanjian Balfour sampai Inggris meminta maaf atas rencana yang ia canangkan sejak ratusan silam dan sebelum Perjanjian Balfour untuk mendirikan negara Zionis Israel.

Dia menjelaskan bahwa penjajahan atas Palestina dimulai pada tahun 1653 karena orang-orang Eropa hendak menjadikannya sebagai pos terdepan untuk perdagangan mereka.

“Kita dapat mengatakan ‘tidak’ kepada siapapun ketika masalahnya bersangkutan dengan nasib bangsa Palestina, kami tidak mencampuri urusan internal negara-negara lain sehingga kamipun tidak menerima campur tangan siapapun dalam urusan internal kami,” tegasnya.

Dia melanjutkan, “Tak ada Perjanjian Oslo karena Israel telah mengakhir perjanjian ini. Kami tidak menerima AS sebagai penengah antara kami dan Israel. Kami menerima ‘solusi dua negara’ berdasarkan legitimasi internasional dan negara Palestina pada perbatasan tahun 1967 dengan ibu kota Al-Quds Timur, dan kami akan terus memperhatikan Dewan Keamanan PBB sampai kami mendapatkan keanggotaan sepenuhnya.”

Dia kemudian menegaskan bahwa dirinya berpihak pada “resistensi rakyat secara damai”, dan menilai bahwa cara ini lebih efektif daripada cara-cara lain. (alalam)

Raja Yordania: Al-Quds Kunci Penyelesaian Konflik Timteng

Raja Abdullah II dari Yordania menegaskan pentingnya kota Al-Quds (Yerussalem) dalam upaya penyelesaian krisis Timteng  dalam bingkai solusi yang dapat mewujudkan negara merdeka Palestina dengan ibu kota Al-Quds.

“Al-Quds adalah kunci untuk mewujudkan perdamaian, dan penyelesaian konflik dan krisis politik di Timteng. Kota ini harus menjadi kota yang menyatukan, bukan memecah belah,” katanya saat menerima kunjungan Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen di Istana Al-Husseiniya, Amman, Ahad (14/1/2018).

Dia meminta masyarakat internasional bertanggungjawab mendukung Palestina. Dia juga menyatakan keharusan bekerjasama dengan pemerintah AS untuk mencapai solusi yang adil dan permanen bagi krisis Palestina.

Dalam pertemuan dengan der Leyen dia juga telah membahas hubungan dan kerjasama Amman-Berlin, terutama di bidang militer dan pertahanan.  (rt)

AS Bentuk Pasukan Baru Kurdi Di Suriah, Turki Lontarkan Kecaman Keras

Pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) menyatakan pihaknya sedang bekerja untuk mendirikan pasukan keamanan perbatasan yang terdiri atas 30,000 personil di Suriah timur. Pernyataan ini mendapat kecaman keras dari Turki.

Jubir pasukan koalisi, Kol. Ryan Dillon, ), Minggu (14/1/2018), kepada AFP mengatakan bahwa seiring dengan meredanya serangan terhadap kelompok teroris ISIS, pasukan koalisi bersama sekutunya Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) mulai memrioritaskan penjagaan perbatasan.

“Tujuan finalnya ialah pembentukan pasukan yang pada akhirnya mencakup sekira 30,000,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa separuh dari jumlah itu adalah milisi SDF yang akan dilatih lagi, dan di tahap awal sekarang terdapat  sekira 230 orang sedang berlatih dalam pasukan keamanan perbatasan.

Seperti diketahui, SDF yang disebut-sebut sebagai aliansi Kurdi-Arab Suriah telah berhasil membebaskan banyak kawasan di timur laut Suriah dari cengkraman kelompok teroris ISIS dengan bantuan serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS yang juga telah menyuplai SDF dengan senjata.

SDF kini menguasai kawasan yang bersebelahan dengan Turki di utara , dengan Irak di timur, dan wilayah kekuasaan tentara Suriah di barat.

Di pihak lain, Turki memberi tanggapan keras atas pernyataan pasukan koalisi internasional mengenai pembentukan pasukan keamanan perbatasan itu dan menyebutnya “melegitimasi organisasi teroris.”

Turki menentang keras keberadaan SDF karena komponen utama pasukan ini adalah milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang disebut Turki sebagai kelompok teroris.

Jubir Presiden Turki, Ibrahim Kalin, mengatakan, “Ketika dukungan kepada PYD/YPG seharusnya dihentikan maka tindakan berkelanjutan untuk melegitimiasi organisasi teroris ini dan mengukuhkan pilar-pilarnya di kawasan merupakan perkara yang memprihatinkan… Kondisi ini sama sekali tidak bisa diterima.”

Kepala Pusat Media SDF mengkonfirmasi dimulainya pembentukan pasukan perbatasan dan pelatihan anggotanya.

“Ini merupakan tahap baru kerjasama kami dengan pasukan koalisi internasional… Banyak kawasan dan kota yang telah dibebaskan memerlukan orang yang melindunginya,” terangnya.

Menurutnya, satuan-satuan pasukan baru akan disebar di wilayah perbatasan dengan Turki dan kawasan yang dikuasai pasukan pemerintah Suriah.

Pasukan Turki sesekali menyerang milisi YPG di Suriah utara. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Minggu, mengacam “dalam beberapa hari ke depan” akan menyerang kawasan Afrin yang dikuasai milisi Kurdi di Suriah utara.

Pemerintah Suriah belum berkomentar mengenai pembentukan pasukan perbatasan itu, sementara hubungan pasukan Suriah dengan SDF berada di level terendah. (rayalyoum)

Jazayeri: Trump Akan Tahu Iran Pantang Negosiasikan Bidang Pertahanan

Juru bicara Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran Brigjen Masoud Jazeri menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan lain-lain suatu saat akan mengerti bahwa Iran memang pantang bernegosiasi dan tawar menawar mengenai kekuatan pertahanannya.

“Pada akhirnya akan datang suatu hari di mana Trump dan lain-lain akan mengerti betapa Republik Islam Iran tidak akan pernah bernegosiasi dengan pihak lain mengenai daya pertahannya,” ungkap Jazeyeri, Minggu (14/1/2018), saat menanggapi keinginan Trump untuk melemahkan kekuatan militer Iran.

“Musuh-musuh revolusi Islam menunggu hari mendapatkan celah untuk menerobos benteng pertahanan kokoh negara kami untuk melancarkan serangan. Karena itu Angkatan Bersenjata siaga penuh dan terus membentengi persatuan dan citra negara, sistem, revolusi dan rakyat dalam bingkai kebijakan dan rencana yang tersedia,” lanjutnya.

Dia memastikan Iran tak akan lengah barang sesaat karena kebijakannya bertumpu pada pertahanan yang tangguh dan resistensi yang dapat menghancurkan musuh terbesar sekalipun.

“Seandainya kami pernah lemah barang sehari dalam menghadang obsesi musuh maka kami sekarang sudah tidak lagi menikmati stabilitas dan ketentraman, kami pasti sudah terpaksa menghadapi aksi penjarahan yang dilakukan pemerintahan keji semisal Amerika,” tegasnya. (alalam)