Rangkuman Berita Timteng Senin 14 Mei 2018

warga zionis duduki al-aqsaJakarta, ICMES: Puluhan ribu warga Zionis Israel menggelar aksi pawai di kota Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) untuk menandai peringatan 51 tahun pendudukan Rezim Zionis atas bagian timur kota al-Quds pada Juni 1967.

Diplomat kawakan Mesir mantan Sekjen PBB Mohamed ElBaradai menyayangkan kebungkaman dunia Arab terhadap pemindahan Kedubes Amerika Serikat (AS) untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem), dan menyoal apakah dunia Arab sudah menjadi bangkai.

Pemerintah Aljazair mengecam “pernyataan tak bertanggungjawab” pemerintah Maroko yang kembali menuduh Iran menyokong kelompok separatis Front Polisario di kawasan Sahara Barat “dengan dukungan” Aljazair.

Berita selengkapnya;

Peringati 51 Tahun Pendudukan Al-Quds Timur, Warga Zionis Gelar Pawai Akbar

Puluhan ribu warga Zionis Israel menggelar aksi pawai di kota Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem), Ahad (13/5/2018), untuk menandai peringatan 51 tahun pendudukan Rezim Zionis atas bagian timur kota al-Quds pada Juni 1967. Demikian dilaporkan koran Israel Haaretz.

Khalayak internasional tidak mengakui pendudukan tersebut, mengecam penggabungan al-Quds Timur dengan Al-Quds Barat, dan menolak deklarasi Israel atas al-Quds pada tahun 1967 sebagai “ibu kota yang satu untuk selamanya” bagi Israel.

Para saksi mata mengatakan kepada kantor berita Turki, Anadolu, bahwa berbagai kelompok imigran Zionis pada Ahad sore mulai berkonsentrasi di berbagai kawasan kota lama di pusat kota Al-Quds dan sekitarnya serta bergerak ke Gerbang al-Amud, salah satu gerbang komplek Masjid Al-Aqsa, sembari mengibarkan bendera Israel.

Dilaporkan bahwa ratusan warga Zionis dalam aksi itu juga telah menduduki komplek Masjid Al-Aqsa.

Para saksi juga mengatakan bahwa bersamaan dengan aksi itu pasukan Zionis menganiaya sejumlah warga Palestina Palestina yang berada di lokasi pawai hingga sebagian di antaranya menderita luka ringan.

Lembaga Palang Merah Palestina menyatakan bahwa satu wartawan Palestina terluka di kawasan Al-Katif hingga dilarikan ke rumah sakit akibat dianiaya dan dipaksa menyingkir oleh polisi Israel.

Sejak Ahad siang polisi Israel menerapkan sistem keamanan ekstra ketat untuk mengawal pawai warga Zionis di sekitar kota lama Al-Quds. Sehari sebelumnya, polisi Israel telah menutup jalan-jalan protokol Al-Quds demi kelancaran aksi pawai.

Pada Ahad sore juga telah berlangsung pula sebuah acara di kantor Kemlu Israel di al-Quds berkenaan dengan pemindahan Kedubes Amerika Serikat (AS) untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds yang akan dilakukan pada hari ini, Senin (14/5/2018).

Rezim Zionis Israel memuji pemindahan yang dilakukan atas instruksi Presiden AS Donald Trump itu sebagai “pengakuan atas sejarah Yahudi dan keterkaitannya dengan kota suci.”

“Sejak 3000 tahun silam ia (Al-Quds) adalah ibu kota bagi kami, hanya bagi kami,” ungkap dewan kabinet Israel pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Ahad.

Menurut data Israel, warga Palestina yang berjumlah 870,000 jiwa menempati 37% total jumlah penduduk al-Quds, dan sebagian besarnya berada di al-Quds timur.

Bangsa Palestina bersikukuh bahwa Al-Quds Timur adalah ibu kota Palestina sesuai berbagai ketetapan internasional yang menolak segala dampak pendudukan Zionis atas kota ini.

Berbagai wilayah pendudukan Palestina belakangan ini dilanda aksi protes dan konsentrasi massa untuk memrotes pemindahan Kedubes AS  dan menandai peringatan ke-70 tahun Hari Nakba, yaitu hari berdirinya negara Israel. Peringatan ini akan menemukan puncaknya pada hari ini dan besok. (rayalyoum)

Soal Al-Quds, Mantan Sekjen PBB AlBaredei Dan Lain-Lain Sebut Arab Sudah Jadi Mayat

Diplomat kawakan Mesir mantan Sekjen PBB Mohamed ElBaradai menyayangkan kebungkaman dunia Arab terhadap pemindahan Kedubes Amerika Serikat (AS) untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem), dan menyoal apakah dunia Arab sudah menjadi bangkai.

“Besok akan dilakukan pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds dalam rangka penuntasan perkara Palestina dan dalam sebuah perayaan yang diikuti oleh sejumlah negara sahabat. Selain aksi pawai penduduk Gaza apakah ada tindakan Arab, meskipun sebatas simbolik seperti unjuk rasa dan resonansi media? Ataukah bahwa pesan resmi kita kepada dunia sudah berubah menjadi bahwa Palestina bukan lagi urusan kita, dan bahwa kita sudah menjadi mayat  yang membeku?” tulis ElBaradei di halaman Twitter-nya, Minggu (13/5/2018).

Senada dengan ini, mantan diplomat Mesir lain Ibrahim Yousri, menyebut pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds sebagai peristiwa yang sangat memalukan bagi seluruh dunia Arab. Dia juga menuding Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman sebagai “biang kerok skandal yang terjadi manakala Liga Arab dan organisasi-organisasi Arab lain mengalami kematian total.”

Namun demikian, dia juga menyebutkan bahwa tidak semua bangsa Arab mati, sebab masih ada perjuangan dan resistensi bangsa Palestina.

“Umat (Arab) ini mengalami musibah, tapi tidak semuanya mati. Orang yang membela Al-Quds dan Palestina serta kehormatan umat ini bukanlah Khadimul Haramain (sebutan kehormatan untuk Raja Arab Saudi), bukan pula Ketua Komisi Al-Quds maupun Mesir yang merupakan negara Arab terbesar, melainkan bangsa gagah berani Palestina,” ungkap Yousri.

Sejarawan besar Palestina Abd al-Qader Yassin menegaskan bahwa AS adalah musuh nomor wahid dalam berbagai urusan Arab sejak Perang Dunia sampai sekarang. Dia juga mengecam Arab Saudi dan negara-negara Arab sekutunya yang justru semakin bersemangat mempromosikan normalisasi hubungan Arab dengan Israel.

“Dua negara Arab (Uni Emirat dan Bahrain) bahkan berpartisipasi dengan para Zionis di salah satu pertandingan,” ungkapnya.

Dia juga menegaskan bahwa Dunia Arab dan Islam  bungkam dan seolah sudah berada di alam kubur menyaksikan pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds. (rayalyoum)

Soal Tuduhan Terhadap Iran, Aljazair Kecam Pengulangan Klaim Menlu Maroko

Pemerintah Aljazair, Ahad (13/5/2018), mengecam “pernyataan tak bertanggungjawab” pemerintah Maroko yang kembali menuduh Iran menyokong kelompok separatis Front Polisario di kawasan Sahara Barat “dengan dukungan” Aljazair.

Pada awal Mei lalu Maroko mengumumkan pemutusan hubungan diplomatiknya dengan Iran sembari menuduh Teheran memberikan bantuan melalui Hizbullah yang berbasis di Lebanon kepada Front Polisario yang didukung Aljazair. Iran dan Hizbullah lantas membantah keras tuduhan itu.

Dalam wawancara dengan majalah Afrika berbahasa Perancis, Jeune Afrique, Ahad, Menlu Maroko Nasser Bourita menuduh Aljazair “menyediakan liputan dan dukungan operasional” untuk pertemuan-pertemuan antara Hizbullah dan Front Polisario yang diselenggarakan di Aljiz, ibu kota Aljazair.

Menanggapi tuduhan ini, Jubir Kemlu Aljazair Abdulazis bin Ali Sharif dalam sebuah statemennya menyatakan, “Bukannya mengajukan bukti-bukti kuat yang katanya ia miliki namun sebenarnya sama sekali tidak ada, Menlu Maroko masih saja berusaha melakukan penyesatan dan kebohongan.”

Dia menegaskan, “Aljazair mengecam keras dan menolak pernyataan tak bertanggungjawab Menlu Maroko mengenai Aljazair… Itu merupakan tuduhan tak berdasar dan tak dapat dibenarkan.”

Dia menambahkan bahwa Aljazair yang dituduh Maroko terlibat dalam destabilisasi Sahara Timur justru mendapat apresiasi internasional.

“Seluruh masyarakat internasional memuji andil besar Aljazair demi stabilitas kawasan itu,” ujarnya.

Sahara Barat merupakan sebuah daerah di bagian barat laut Afrika yang belum merdeka. Di sebelah timur laut, berbatasan dengan Aljazair dan selanjutnya di sebelah utara berbatasan dengan Maroko dan dengan Mauritania di sebelah timur dan selatan.

Selama ini masih dipertikaikan apakah daerah seluas 226,000 kilometer persegi itu merupakan bagian dari Maroko atau milik Republik Demokratik Arab Sahrawi.  Sahara Barat diduduki oleh Maroko, namun pendudukan ini tidakmendapat pengakuan internasional, dan Front Polisario memperjuangkan kemerdekaan daerah ini.

Maroko menguasai 80% kawasan Sahara Barat, sedangkan sisanya dikuasai Front Polisario, dan kedua pihak dipisahkan oleh pagar pembatas dan kawasan isolasi yang diterapkan oleh PBB.  (rayalyoum)