Rangkuman Berita Timteng Selasa 7 November 2017

saudi thamer al sabhanJakarta, ICMES: Kerajaan Arab Saudi menuding Lebanon telah menyatakan perang karena kelompok pejuang Hizbullah telah “menyerang” Saudi.

Kepala Komisi Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali Al-Houthi mengajukan tawaran khusus kepada para pangeran, menteri dan pengusaha Saudi yang menjadi korban aksi Putera Mahkota Mohammad bin Salman melicinkan ambisinya untuk bertahta di Saudi.

Presiden Lebanon Michel Aoun menyerukan kesiapan segenap pejabat negara ini mengantisipasi dampak pengunduran diri Saad Al-Hariri di luar negeri dari jabatan perdana Lebanon.

Mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown membuat pernyataan kontroversial di tengah publik Inggris bahwa Amerika Serikat (AS) telah menggunakan tipu daya untuk melibatkan Inggris dalam serangan ke Irak.

Berita selengkapnya;

Menteri Saudi: Lebanon Nyatakan Perang Terhadap Saudi

Kerajaan Arab Saudi menuding Lebanon telah menyatakan perang karena kelompok pejuang Hizbullah telah menyerang Saudi.

Kepada TV Al-Arabiya, Senin (6/11/2017), Menteri Saudi Urusan Teluk, Thamer Al-Sabhan, menyatakan pihaknya telah memberitahukan kepada Saad Al-Hariri bahwa “Lebanon dan Hizbu Syaitan (Hizbullah) telah menyatakan perang terhadap Saudi”, dan bahwa Hizbullah mempengaruhi semua keputusan yang diambil oleh pemerintah Lebanon.

“Raja Salman telah menyampaikan kepada Saad Al-Hariri yang telah mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri Lebanon rincian aksi permusuhan Hizbullah terhadap Saudi… Pemerintah Lebanon harus tahu bahaya milisi ini bagi Saudi,” katanya.

Al-Sabhan melanjutkan bahwa Hizbullah terlibat “dalam semua aksi teror yang mengancam Saudi”, dan Saudi akan menggunakan semua cara politik dan lain-lain untuk menghadapi Hizbullah. Dia bahkan juga menuduh Hizbullah “menyelundupkan narkoba ke Saudi dan melatih para pemuda Saudi untuk menjadi teroris”.

“Orang-orang Lebanon harus memilih antara damai dan berada di bawah Hizbullah…  Semula kami berharap pemerintah Lebanon bertindak untuk menangkal Hizbullah,” imbuhnya.

Mengenai mundurnya Hariri dia membantah tuduhan bahwa Riyadh telah memaksanya mundur dan menilai tuduhan ini sebagai kedustaan untuk memecah belah Lebanon.

“Lebanon disandera oleh milisi Hizbullah dan Iran selaku pendampingnya…. Orang-orang Lebanon bisa menghentikan agresi milisi Hizbullah,” ujarnya.

Ahad lalu melalui akun Twitter-nya Al-Sabhan mencuit, “Lebanon pasca pengunduran diri (Hariri) tidak akan pernah seperti sebelumnya lagi untuk selamanya. Bagaimanapun juga Lebanon tidak akan menerima menjadi tempat para teroris melancarkan teroris terhadap negara-negara kami, dan Lebanon ada di tangan para pemimpinnya untuk menjadi negara teroris atau negara damai.” (mm/rayalyoum)

Ansarallah Yaman Siap Menerima Para Pangeran Saudi Yang Ditangkapi

Kepala Komisi Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali Al-Houthi mengajukan tawaran khusus kepada para pangeran, menteri dan pengusaha Saudi yang menjadi korban aksi Putera Mahkota Mohammad bin Salman melicinkan ambisinya untuk bertahta di Saudi.

Di depan ribuan hadirin dalam sebuah acara solidaritas untuk rakyat Palestina pada peringatan seabad Deklarasi Balfour di Sanaa, ibu kota Yaman, Senin (6/11/2017), Al-Houthi telah berbicara mengenai maraknya aksi penangkapan yang telah sejauh ini telah menerjang puluhan emir, menteri, dan pengusaha papan atas di Saudi.

Dia mengatakan bahwa bangsa Yaman menyambut baik semua orang yang berseberangan dengan Raja Salman.

“Kami katakan kepada warga dan para pangeran di Saudi bahwa bangsa Yaman membuka diri untuk Anda semua. Dengan izin Allah, kami tidak menzalimi siapapun,” ungkapnya.

Mengenai Palestina, Al-Houthi mengecam sikap Yordania dan Mesir karena keduanya terlibat dalam blokade Israel terhadap Palestina dan serangan Saudi terhadap Yaman.

“Kami katakan kepada Yordania dan Mesir, mengapa kalian memblokade saudara-saudara kami bangsa Palestina, padahal mereka berada di pangkuan Arab. Kalian juga menyulut perang besar dan menghamburkan harta kalian untuk memerangi kami dengan dalih mengembalikan bangsa Yaman ke pangkuan Arab, lantas mengapa kalian memblokade bangsa Palestina yang ada dalam pangkuan Arab? Sejauh inilah kalian takut kepada Israel?” tegas Al-Houthi.

Dia kemudian memastikan bahwa bangsa Yaman tetap solid dan akan terus melawan agresi Saudi dan sekutunya.

Mengenai serangan rudal Yaman ke Riyadh, dia menyayangkan kecaman sebagian negara Arab terhadap serangan ini.

Dia menyoal, “Para pengecam serangan rudal kami ke Riyadh, mana mereka berkenaan dengan agresi terhadap Yaman selama tiga tahun ini?!” (alalam)

Presiden Lebanon Serukan Penangkapan Penebar Rumor Pasca Mundurnya Hariri

Presiden Lebanon Michel Aoun menyerukan kesiapan segenap pejabat negara ini mengantisipasi dampak pengunduran diri Saad Al-Hariri di luar negeri dari jabatan perdana Lebanon. Dia juga mengintruksikan penangkapan para penebar rumor dan hoax yang bertujuan memancing keresahan di negara ini.

Dalam rapat keamanan di istana presiden di Beirut, Senin (6/11/2017), Aoun meminta para pemimpin politik Lebanon merespon seruan menjaga ketenangan, memperkuat stabilitas keamanan, dan menjaga persatuan nasional.

Menteri Keadilan Lebanon Salim Jreissati usai rapat ini mengatakan, “Presiden Aoun meminta kesiapan penuh untuk memantau perkembangan, menekankan koordinasi antarlembaga, dan menegaskan bahwa komunikasi antarpejabat politik berlanjut untuk menyembuhkan keadaan yang ditimbulkan oleh pengunduran diri yang dinyatakan dari luar Lebanon.”

Dia menambahkan, “Presiden Aoun meminta para pemimpin politik merespon suasana tenang, dan membantu pemeliharaan stabilitas keamanan dalam negeri di semua aspeknya.”

Seperti diketahui, Sabtu lalu Hariri di Riyadh mengumumkan penguduran dirinya dari kedudukan perdana menteri Lebanon sembari menyudutkan Iran dan Hizbullah dan dengan dalih bahwa situasi keamanan di Lebanon mirip dengan situasi menjelang terbunuhnya Rafik Hariri, ayah Saad Hariri yang ketika itu juga menjabat sebagai perdana menteri.

Dia mengaku kuatir terhadap keselamatan dirinya. Namun klaim ini dibantah oleh badan keamanan Lebanon dengan menegaskan bahwa sama sekali tidak ada indikasi adanya rencana upaya pembunuhan terhadap Saad Hariri.

Sumber lain menyatakan bahwa Aoun berharap Hariri kembali ke Beirut untuk mendapatkan penjelasan langsung dari Hariri mengenai sebab pengunduran diri.

Selain itu, Aoun menginstruksikan kepada badan keamanan agar meringkus para penebar hoax yang ditujukan untuk menimbulkan keresahan dan kekacauan di Lebanon dua hari sesudah pengunduran diri Hariri.

Dia juga mengimbau media agar tidak turut menyebar rumor dan segala sesuatu yang berpotensi mengusik kesatuan nasional dan ketentraman publik. (rayalyoum)

Mantan PM Inggris Nyatakan Negaranya Ikut Menyerang Irak Karena Tertipu AS

Mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dalam bukunya yang berjudul “My Life, Our Times” dan dipublikasi pekan ini membuat pernyataan kontroversial di tengah publik Inggris bahwa Amerika Serikat (AS) telah menggunakan tipu daya untuk melibatkan Inggris dalam serangan ke Irak.

Seperti dilansir Guardian, Minggu (5/11/2017), Brown menjelaskan bahwa Kemhan AS Pentagon mengetahui bahwa Baghdad saat itu tidak memiliki senjata pemusnah massal tapi tidak memberitahukan fakta ini kepada Inggris.

Brown yang menjabat menteri keuangan Inggris ketika terjadi perang Irak pada tahun 2003, dan menggantikan Tony Blair sebagai perdana menteri Inggris pada tahun 2007 menyatakan bahwa laporan dinas intelijen AS mengenai dugaan adanya senjata pemusnah massal di tangan rezim mendiang Saddam Hossein sama sekali tidak diserahkan kepada pemerintah Inggris, dan seandainya hal ini terjadi maka akan terjadi perkembangan sesuai skenario lain.

Sesuai data-data yang dimilikinya, Brown berkesimpulan bahwa intervensi militer bukanlah cara terakhir atau reaksi yang tepat, dan akibat manipulasi AS itu Inggris bergabung dalam operasi militer sebelum menggunakan cara damai dalam perlucutan senjata.

Brown mengatakan bahwa selaku menteri keuangan saat itu dia paling banyak memiliki data-data intelijen dari badan-badan pemerintahan Inggris lainnya, tapi dinas rahasia Inggris MI-6 memastikan kepadanya bahwa ada bukti-bukti kuat bahwa Baghdad memiliki senjata pemusnah massal.

Namun, lanjutnya, dia lantas meninjau “bukti-bukti” itu setelah dia meninggalkan jabatannya sehingga kemudian berkesimpulan, “Kita semua telah disesatkan mengenai adanya senjata pemusnah massal.”

Brown menunjuk pada sejumlah dokumen penting mulai September 2002 yang disiapkan oleh Menhan AS saat itu, Donald Rumsfeld, dan telah bocor tahun lalu. Menurut Brown, jelas bahwa bukti “keberadaan WMD lemah, bahkan dapat diabaikan dan di area-area utama tidak ada”.

Brown juga mengungkapkan bahwa ketika mulai memegang jabatan perdana menteri Inggris pada 2007 dia berencana menarik tentara Inggris keluar dari Irak jauh sebelum AS, namun dia mengurungkan rencana ini sampai tahun 2009 agar tidak terlihat terlalu kontras antara kebijakannya dan kebijakan pendahulunya, Tony Blair. (guardian)