Rangkuman Berita Timteng Selasa 7 Agutus 2018

rouhani dan trump 2Jakarta, ICMES:  Presiden Iran Hassan Rouhani mengingat sejawatnya dari Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bahwa ajakan Trump untuk dialog AS dengan Iran tidak ada artinya selagi AS masih menerapkan embargo lagi terhadap Iran.

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salam sebagai segi tiga kekerasan, penindasan, dan kezaliman di dunia.

Seorang pejabat anonim Kemlu Qatar menjelaskan sikap negara ini terkait dengan krisis hubungan antara Arab Saudi dan Kanada yang terjadi menyusul imbauan Kanada agar otoritas Saudi membebaskan para aktivis HAM.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa jumlah pengungsi dari kota Hudaydah, Yaman, mencapai lebih dari 350,000 orang sejak Juni lalu.

Berita selengkapnya;

Rouhani: Trump Jangan Bawa Pisau Kalau Ingin Berdialog

Presiden Iran Hassan Rouhani mengingat sejawatnya dari Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bahwa ajakan Trump untuk dialog AS dengan Iran tidak ada artinya selagi AS masih menerapkan embargo lagi terhadap Iran.

“Mengajak dialog tapi sambil mengembargo tak ada artinya. Ajakan Presiden AS untuk dialog dengan Iran tanpa syarat hanyalah untuk konsumsi lokal atau untuk perang urat saraf terhadap bangsa Iran… Orang yang mengajak dialog itu tak lain adalah orang yang telah menarik diri dari perjanjian nuklir. Ajarkan dialog sama sekali tak dapat dipertemukan dengan embargo terhadap anak-anak bangsa Iran,” ujarnya dalam sebuah wawancara televisi, Senin (6/8/2018).

Dia menambahkan bahwa dialog disertai embargo tidaklah logis, dan bahwa Iran menyambut baik dialog tapi AS harus dapat membuktikan terlebih dahulu statusnya sebagai pihak yang dapat dipercaya.

“Anda musuh lalu Anda menikam orang dengan pisau kemudian Anda mengaku menginginkan dialog. Pertama yang harus Anda lakukan ialah tidak lagi membawa pisau,” kecamnya.

Menurut Rouhani, Trump menggunakan berbagai cara untuk menekan Iran dan mengira Eropa akan menuruti kemauannya dan Iranpun akan keluar dari perjanjian nuklir akibat keluarnya AS, dan setelah itu Iran akan diperkarakan di Dewan Keamanan.

“Tapi tak seperti apa yang dia harapkan, Eropa tetap bersikukuh pada perjanjian nuklir, meskipun kami berharap Eropa, Rusia, dan Cina bertindak lebih praktis,” tambahnya.

Dia kemudian mengimbau,”Dengan mengajak dialog maka Trump telah mengambil langkah mundur, tapi kami menegaskan keharusan mundur lebih jauh hingga AS kembali kepada posisinya semula pada perjanjian nuklir, dan inilah yang akan menjamin kepentingan Iran, AS sendiri, dan dunia secara keseluruhan.”

Presiden kemudian menyebutkan bahwa Cina dan Rusia secara terbuka sudah mengaku akan melawan tekanan AS dan bertekad mempertahankan semua perjanjian masing-masing dengan Iran. (alalam)

Menlu Iran Sebut Tiga Orang Ini Segi Tiga Kezaliman

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salam sebagai segi tiga kekerasan, penindasan, dan kezaliman di dunia.

“AS sekarang terkucil di dunia. Tak ada orang mengatakan Iran terkucil. Sebaliknya, semua mengatakan bahwa yang terkucil adalah Trump, Netanyahu, dan Bin Salman,” ungkap Zarif, Senin (6/8/2018).

Dia melanjutkan, “Tiga orang ini merupakan segi kekerasan, kezaliman, dan penindasan. Mereka tak dapat dipercaya di dunia…Orang yang menahan perdana menteri negara lain (Lebanon), orang yang keluar dari semua perjanjian internasional semisal perjanjian NAFTA, perjanjian kerjasama Pasifik, dan Perjanjian Paris, dan orang yang melanggar hak bangsa Palestina serta setiap hari membunuhi dan menindas mereka adalah tiga orang ini.”

Mengenai embargo AS terhadap Iran dia menilainya tidak akan menimbulkan apapun karena selama ini AS juga sudah melakukan apa yang mereka inginkan untuk melumpuhkan Iran.

Menlu Iran kemudian memastikan bahwa AS berdusta dan munafik  ketika mengaku peduli kepada interes Iran. (alalam)

Krisis Hubungan Saudi-Kanada, Qatar Nilai Semua Berhak Berpendapat

Seorang pejabat anonim Kemlu Qatar menjelaskan sikap negara ini terkait dengan krisis hubungan antara Arab Saudi dan Kanada yang terjadi menyusul imbauan Kanada agar otoritas Saudi membebaskan para aktivis HAM.

Menurut RT milik Rusia, laman Kemlu Qatar, Senin (6/8/2018), menyebutkan, “Sumber pejabat di Kemlu Qatar menyatakan bahwa pemerintah Qatar heran atas pernyataan  Sekjen Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Dr. Abdul Latif al-Zayani mengenai krisis diplomatik yang sedang terjadi antara Saudi dan Kanada, namun sumber itu menegaskan bahwa pernyataan al-Zayani tidak mencerminkan pandangan pemerintah Qatar.”

Pejabat anonim Kemlu Qatar itu menambahkan, “Apa yang mempertemukan antara Qatar dan Kanada ialah hubungan erat yang sudah berlangsung selama sekian dekade, dan penekanan pada keharusan mendukung hak berbagai negara dan organisasi internasional mengungkapkan pendapatnya, terutama berkaitan dengan pelanggaran HAM dan kebebasan berekspesi.”

Sebelumnya, Abdul Latif al-Zayani menyatakan mendukung penuh keputusan Saudi mengusir Dubes Kanada setelah Otawa mengecam Saudi di bidang HAM. Dia menegaskan penolakannya terhadap kecaman Kanada terhadap Saudi dan menilainya menyimpang dari konvensi diplomasi internasional dan campur tangan terhadap urusan internal Saudi

Berbeda dengan Qatar, Uni Emirat Arab dan Bahrain mendukung penuh reaksi Saudi terhadap Kanada. (rt)

PBB Nyatakan Jumlah Pengungsi Hudaydah Lampaui 350,000  

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa jumlah pengungsi dari kota Hudaydah, Yaman, mencapai lebih dari 350,000 orang sejak Juni lalu.

Wakil Jubir PBB Farhan Haq dalam konferensi pers di kantor PBB di New York, Amerika Serikat, Senin (6/8/2018), menjelaskan bahwa kontak senjata sengit terjadi di provinsi Hudaydah dalam beberapa hari terakhir, terutama di daerah al-Duraihimi di selatan kota Hudaydah.

“Eskalasi konflik sejak 1 Juni 2018 telah menyebabkan lebih dari 350,000 orang mengungsi yang sebagian besar berada di kawasan yang bersebelahan dengan kawasan kontak senjata…. Para mitra di bidang upaya kemanusiaan telah memberikan bantuan darurat untuk lebih dari 90% para pengungsi itu,” terangnya.

Pada Selasa lalu pasukan pendukung mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi memulai serangan terhadap kelompok Ansarullah (Houthi) di al-Duraihimi setelah sempat terhenti sejak pertengahan Juni lalu.

Pertempuran saat itu dihentikan dengan alasan demi  memberi kesempatan kepada Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Grifftih untuk mencarikan solusi damai secara menyeluruh dan penghentian eskalasi di Hudaydah dan kawasan pesisir barat Yaman.

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi yang menyokong Mansour Hadi mengajukan syarat keluarnya Ansarullah dari kota dan pelabuhan strategis Hudaydah untuk memasuki perundingan, namun Ansarullah menolak mentah-mentah syarat itu dan bersiteguh pada penyelesaian yang komprehensif bagi Yaman. (raialyoum)