Rangkuman Berita Timteng Selasa 6 Maret 2018

latihan perang israel dgn ASJakarta, ICMES: Sudah sebulan lalu jet tempur F-16 milik Israel rontok diterjang rudal Suriah, dan sampai sekarang rezim Zionis penjajah Palestina itu tak berani mengulangi serangan udaranya ke Suriah.

Pusat Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah menyatakan kesiapannya mengaturkan relokasi secara aman kaum militan dan keluarga mereka dari Ghouta Timur di dekat Damaskus, ibu kota Suriah.

Jubir Badan Tenaga Atom Iran Behrouz Kamalvandi menyatakan negaranya dapat memperkaya uranium dalam tempo kurang dari 2 x 24 jam.

Selengkapnya:

Sudah Sebulan Israel Tak Berani Serang Suriah Lagi, Ini Yang Dilakukan Iran

Sudah sebulan lalu jet tempur F-16 milik Israel rontok diterjang rudal Suriah, dan sampai sekarang rezim Zionis penjajah Palestina itu tak berani mengulangi serangan udaranya ke Suriah.

Israel sejak Minggu (5/3/2018) menggelar latihan perang besar-besaran bersama negara asing, sesuatu yang tak biasa dilakukan Israel. Manuver ini akan berlanjut sampai beberapa hari bersama pasukan Amerika Serikat (AS) di tengah suasana penuh teka-teki yang membayangi kawasan Timteng pasca tertembak jatuhnya F-16 Israel.

Israel selama ini tergolong negara yang biasa menggelar latihan perang sendiri tanpa melibatkan negara lain untuk mengasah kesiapannya menghadapi negara-negara jirannya maupun dari dalam wilayah pendudukan Palestina sendiri.

Sekarang keadaan berubah. Sebelumnya Israel hanya kuatir terhadap negara jirannya seperti Suriah dan Mesir, kendati Tel Aviv optimis Mesir berkompromi dengan Israel.  Tapi sekarang Israel serius berhadapan bukan hanya dengan Hizbullah yang terbukti tangguh, melainkan juga dengan Iran yang bukan jirannya, sebab Iran kini eksis di Suriah.

Latihan perang Israel sekarang menggambarkan lima skenario yang mencakup skala minimal, menengah, dan maksimal. Skala maksimalnya ialah kemungkinan terjadinya serangan rudal klasik yang menggunakan zat kimia dan biologi. Sedangkan pada skala menengahnya berkisar pada perang gerilya dan perang klasik.

Latihan perang Israel memang sudah direncanakan sejak jauh hari sebelumnya, namun mengalami perubahan muatan setelah jet tempurnya tertembak jatuh sistem pertahanan udara oleh Suriah. Israel mengangkat skenario adanya hujan rudal dari berbagai wilayah perbatasannya sehingga berlatih di semua wilayah itu dan memperpelajari mekanisme reaksinya. Karena itu, latihan ini lebih bernuansa defensif daripada ofensif, tak seperti sebelumnya yang mengedepankan klaim atau sumbar “mendidik lawan dengan hukum internasional.”

Pelibatan AS dalam latihan perang kali ini mengindikasikan krusialitas perkembangan situasi saat ini, yaitu terbukanya adanya potensi serangan tak terduga terhadap Israel.

Skenario lain ialah kemungkinan Israel melancarkan serangan lagi terhadap pasukan Suriah, Iran, dan Hizbullah di wilayah Suriah lalu dibalas dengan ribuan ribuan rudal sehingga berkobarlah perang di perbatasan dan di dalam Israel. Dalam kondisi demikian posisi Israel akan lemah di mata hukum internasional karena menyerang negara lain.

Dalam manuver kali ini Israel mengasah kemampuan tempurnya, menyingkap berbagai titik kekuatan dan kelemahannya, dan menyiapkan mekanisme koordinasi antarsatuan pasukannya.

Sejauh ini Israel belum mengulangi serangan udara ke Suriah sejak jet tempur F-16 tertembak jatuh, dan ini tentunya terkait dengan kekuatirannya bahwa serangan itu akan disusul serangan balasan sehingga beresiko mengobarkan perang besar, sebagaimana ia kuatir terhadap kemungkinan jet tempurnya akan mengalami nasib yang sama.

Tersiar kabar bahwa Kemhan AS, Pentagon, mengimbau Israel tidak menggunakan jet tempur F-35 dalam serangan ke Suriah karena juga tak luput dari resiko tertembak jatuh dan lalu mitos mengenai kedahsyatan jet tempur supercanggih ini akan berakhir.

Tersiar pula kabar bahwa Israel menduga Iran memanfaatkan kekuatiran dan ketidak beranian Israel mengulangi serangan udara ke Suriah. Israel menduga Iran mulai mengirim perlengkapan perang mutakhir kepada pasukan Hizbullah yang tersebar di Lebanon dan Suriah, atau mengirim persenjata yang belum pernah dilakukan Iran kepada sekutunya itu selama beberapa tahun terakhir. (rayalyoum)

Pusat Rusia Siap Mengatur Relokasi Militan Dari Ghouta Timur

Pusat Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah menyatakan kesiapannya mengaturkan relokasi secara aman kaum militan dan keluarga mereka dari Ghouta Timur di dekat Damaskus, ibu kota Suriah.

Namun, pusat yang berbasis di pangkalan militer Hmeimim, Suriah, ini melaporkan bahwa kawanan bersenjata yang terdiri atas pemberontak dan teroris itu belakangan ini semakin meningkatkan serangan mortirnya ke kota Damaskus dan jalur evakuasi warga sipil dari Ghota Timur.

“Jabhat al-Nusra bahkan menyerang konvoi kemanusiaan yang bergerak menuju Douma, tapi tidak jatuh korban di antara para petugas misi kemanusiaan,” ungkap pusat tersebut dalam statemennya, seperti dikutip Al-Alam, Senin (5/3/2018).

Sumber kepolisian Damaskus menyatakan bahwa di kota ini terdapat kerusakan materi akibat jatuhnya tiga mortir teroris di kawasan Bab Touma, sementara tiga mortir lain yang ditembakkan oleh kawanan teroris juga jatuh ke kawasan sekitar Harasta, provinsi Damaskus.

Kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan Jabhat al-Nusra tersebar di sejumlah distrik Ghouta Timur, provinsi Damaskus, dan kerap melancarkan serangan mortir ke daerah-daerah permukiman kota Damaskus dan sekitarnya sehingga tentara Suriah belakangan ini melancarkan operasi militer besar-besaran untuk menumpas mereka dan memulihkan keamanan di Ghouta Timur.

Al-Alam melaporkan bahwa dalam gerak maju terbarunya tentara Suriah berhasil merebut kembali area pertanian al-Muhammadiyah di kedalaman wilayah Ghouta Timur.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa tentara Suriah dan sekutunya sejauh ini telah menguasai 40% wilayah Ghouta Timur, sementara tentara Suriah di poros barat sudah mendekati rekan mereka di poros timur sejarak 2 kilometer, dan jika mereka berhasil bertemu satu sama lain maka peta kekuasaan di Ghouta Timur terbelah menjadi dua bagian.  (alalam)

Iran Pastikan Dapat Perkaya Uranium Lagi Dalam Tempo Kurang Dari 48 Jam

Jubir Badan Tenaga Atom Iran Behrouz Kamalvandi menyatakan negaranya dapat memperkaya uranium dalam tempo kurang dari 2 x 24 jam.

“Mesin sentrifugal yang dimiliki Iran sekarang 25 kali lebih cepat daripada sebelumnya,” ujar jubir berbahasa Arab tersebut, , Senin (5/3/2018).

“Jika Amerika mundur dari perjanjian (nuklir dengan Iran) maka Iran dapat  memulai pengayaan uranium sebesar 20% dalam tempo kurang dari 48 jam,” lanjutnya.

Kamalvandi menegaskan bahwa Iran pantang mundur dari proyek rudal balistiknya barang sejengkal.

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam beberapa kesempatan telah menyebut perjanjian nuklir Iran dengan kelompok 5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman) itu sebagai perjanjian yang buruk sehingga dia bersumbar akan mengoyak perjanjian yang dijalin oleh pemerintahan presiden pendahulunya, Barack Obama, tersebut.

Trump juga telah memperketat sanksinya terhadap Teheran yang dituduhnya melanggar pasal tertentu dalam perjanjian itu karena menguji coba rudal balistik.

Pada 12 Januari lalu dia memberi tenggat waktu kepada Kongres AS dan negara-negara Eropa sekutunya agar merevisi perjanjian itu. Dia mengancam bahwa AS akan mundur dari perjanjian itu jika tidak dilakukan revisi.

Dirjen Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) Yukiya Amano di hari yang sama menyatakan “rugi besar” jika perjanjian nuklir Iran dengan enam negara terkemuka dunia itu sampai dibatalkan.

Dia juga memastikan Iran “menjalankan komitmennya terkait masalah nuklir” sesuai perjanjian tersebut.

Dia juga menjelaskan bahwa para pakar IAEA dapat masuk ke semua situs nuklir Iran yang memang perlu ditinjau dan IAEA sudah meminta Iran memberikan “penjelasan tambahan” mengenai laporan Iran kepada organisasi ini pada Januari lalu bahwa Teheran berniat mengembangkan reaktor nuklir apung  di masa mendatang. (alalam/rayalyoum)