Rangkuman Berita Timteng,  Selasa 6 Juni 2017

iran menlu javad zarifJakarta, ICMES: Pemerintah Iran menyatakan prihatin atas putusnya hubungan diplomatik sejumlah negara Arab dengan Qatar, dan mengimbau supaya krisis ini diselesaikan melalui jalur politik.

Kemlu Mesir mengumumkan pihaknya telah memberi tenggat waktu 2×24 jam kepada Dubes Qatar agar meninggalkan Mesir.

Israel mencemaskan dampak perkembangan situasi perang di wilayah perbatasan Irak-Suriah yang dinilai akan menambah kekuatan logistik dan militer Hizbullah.

Orientalis Rusia Sergey Demidenko meniai krisis Qatar oleh disebabkan oleh akumulasi peranan Qatar di kawasan sejak 2010 bersamaan dengan kemunculan fenomena Arab Spring yang didukung penuh oleh Qatar.

Berita selengkapnya;

Krisis Qatar, Iran Hubungi Sejumlah Negara, Termasuk Indonesia

Pemerintah Iran menyatakan prihatin atas putusnya hubungan diplomatik sejumlah negara Arab dengan Qatar, dan mengimbau supaya krisis ini diselesaikan melalui jalur politik.

Kemlu Iran dalam statemennya, Senin (6/6/2017), mengingatkan bahwa eslakasi di kawasan yang terjadi bersamaan dengan banyaknya dampak terorisme maupun berlanjutnya pendudukan Palestina oleh Israel tidak akan membawa keuntungan apapun bagi negara-negara regional.

Teheran menyerukan kepada semua pihak agar menahan diri dan mengedepankan logika demi membuka celah penyelesaian dan memulihkan stabilitas hubungan antarnegara regional.

Kemlu Iran menegaskan bahwa perselisihan antarnegara regional, termasuk Qatar dengan tiga negara serumpunnya, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain tidak akan bisa diselesaikan kecuali melalui jalur politik, damai, dan dialog secara terbuka antara kedua pihak.

Iran mengingatkan bahwa penggunaan cara blokade sudah terbukti gagal di dunia, tercela dan tak dapat diterima.

Sementara itu, Menlu Iran Mohammad Jawad Zarif menyerukan dialog antar negara Teluk, dan menghubungi para sejawatnya di Turki, Irak, Oman dan Indonesia.

Zarif mengimbau Saudi, UEA, dan Bahrain supaya menempuh jalur dialog dengan Qatar, dan mengingatkan bahwa intimidasi bukanlah solusi.

“Negara-negara tetangga sama solidnya, geografi tak bisa diubah, tekanan bukanlah cara penyelesaian, dan dialog adalah perkara yang urgen, terutama di bulan Ramadhan yang diberkahi,” tulis Zarif di halaman Twitternya.

Ketua Komisi Keamanan dan Politik Majelis Syura Islam (parlemen Iran) Alaoudin Borojerdi mengatakan tidak tertutup kemungkinan situasi akan terus memburuk di kawasan Teluk. Dia juga menyebut eskalasi ini terjadi akibat campurtangan Amerika Serikat (AS) di kawasan dan merupakan buah hasil kunjungan Presiden AS ke Arab Saudi.

Sebagaimana Iran, Turki juga menyerukan supaya krisis hubungan Qatar dengan Saudi Cs diselesaikan melalui kanal dialog.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu dalam jumpa pers di Ankara mengatakan, “Problem antarnegara bisa saja terjadi, tapi harus terus dilakukan dialog… Kami akan memberikan sebentuk dukungan untuk mengembalikan keadaan seperti semula.” (rayalyoum/alalam)

Mesir Minta Dubes Qatar Agar Angkat Kaki

Kemlu Mesir mengumumkan pihaknya telah memberi tenggat waktu 2×24 jam kepada Dubes Qatar agar meninggalkan Mesir.

Juru bicara Kemlu Mesir Ahmed Abu Zeid dalam siaran persnya  menyatakan bahwa pada Senin (5/6/2017) Dubes Qatar telah dipanggil ke Kemlu Mesir untuk disampaikan kepadanya pemberitahuan mengenai pemutusan hubungan diplomatik Mesir dengan Qatar.

Selain itu, telah disampaikan pula kepada Dubes Qatar nota resmi penghentian kepercayaan Kairo kepadanya sebagai Dubes Qatar untuk Mesir dan pemberian ultimatum 2×24 jam kepadanya agar segera meninggalkan Mesir.

Kemlu Mesir menambahkan bahwa Kairo juga meminta Kuasa Usahanya di Doha agar meninggalkan Qatar dalam jangka waktu 2×24 sebagai implementasi pemutusan hubungan diplomatik Mesir dengan Qatar.

Selain Mesir, beberapa negara Arab lain yaitu Arab Saudi, UEA, dan Bahrain telah memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar sembari menuduh Qatar sebagai pendukung teroris. (rayalyoum)

Orientalis Rusia Prediksi Bagaimana Skenario Reaksi Qatar

Langkah yang ditempuh oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar dinilai oleh orientalis Rusia Sergey Demidenko disebabkan oleh akumulasi peranan Qatar di kawasan sejak 2010 bersamaan dengan kemunculan fenomena Arab Spring yang didukung penuh oleh Qatar.

Demidenko menjelaskan bahwa sejak itu terjadi persaingan ketat antara Saudi dan Qatar di Mesir dan Suriah. Dengan kekuatan dananya yang besar, Qatar berusaha memperkuat pengaruh politiknya di kawasan persis seperti apa yang dilakukan oleh Saudi selama bertahun-tahun sehingga negara-negara Teluk lainnya tunduk kepada Saudi.

Menurut Demidenko, pukulan negara-negara Teluk terhadap Qatar melalui pemutusan hubungan diplomatik akan membuat Doha terpisah dari semua negara sekutunya tanpa ada satupun yang tersisa.

“Terus terang saya tidak tahu siapa yang masih akan bersekutu dengan Qatar? Apakah Qatar bersahabat dengan Aljazair atau Maroko, misalnya? Tapi saya kira dua negara ini akan bertahan netral dalam perselisihan Teluk,” ungkapnya.

Dia menduga bahwa pemutusan hubungan diplomatik dan blokade tidak akan menghalangi Qatar karena negara ini memiliki lobi-lobi yang dapat digunakan sebagai kekuatan penekan di Washington, London, dan Brussel.  Selain itu, Qatar juga merupakan negara kaya yang mengekspor gas ke Cina serta memiliki investasi miliaran USD di Inggris dan Perancis sehingga Qatar akan bereaksi pada saatnya yang tepat  dan tidak akan kalah. (sputnik)

Rute Senjata Hizbullah Ini Gentarkan Israel

Koran Israel Haaretz dalam sebuah laporan militernya mengungkap kerisauan negara Zionis ilegal ini terhadap dampak perkembangan situasi perang di wilayah perbatasan Irak-Suriah yang dinilai akan menambah kekuatan logistik dan militer Hizbullah.

Laporan ini menyebutkan bahwa keberhasilan pasukan relawan Irak yang mendukung pemerintah dan tentara Suriah mengakses dan menguasai wilayah perbatasan kedua negara memungkinkan terbentuknya jalur strategis yang akan digunakan oleh Hizbullah untuk mendatangkan peralatan tempur, senjata, pasukan dan lain-lain.

Laporan harian Israel ini mengacu pada jalur darat yang akan menghubungkan Hizbullah dengan Iran secara langsung melalui rute kawasan-kawasan yang dikuasai tentara Suriah dan sekutunya di Irak dan Suriah menuju Lebanon.

Haaretz menyebutkan bahwa kekalahan kelompok teroris ISIS belakangan ini beserta dampaknya di wilayah perbatasan Irak-Suriah memungkinkan pasukan sekutu Hizbullah untuk menguasai berbagai kawasan strategis, termasuk kawasan gurun di barat Mosul yang dekat dengan Suriah.

Intelijen Israel telah mengonfirmasikan pentingnya kawasan itu dalam  penjelasannya kepada Dirjen Kementerian Intelijen Israel yang mengatakan, “Perbatasan antara Suriah dan Irak merupakan tempat paling krusial di kawasan dewasa ini, dan di situ potret situasi regional akan terbentuk.”

Laporan ini juga fokus pada situasi lapangan Suriah, terutama di kawasan perbatasan Yordania-Suriah yang akan berpengaruh langsung jika tentara Suriah berhasil menguasai kawasan perbatasan ini. Selain itu, bukan tak mungkin tentara Suriah akan kembali kepada posisinya di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Perkembangan ini akan menentukan arah perubahan kawasan dalam beberapa tahun mendatang. (sputnik)