Rangkuman Berita Timteng Selasa 6 Februari 2018

rudal iran dan poster syd khameneiJakarta, ICMES: Wakil komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyatakan negaranya memiliki teknologi rudal yang tak dimiliki oleh Amerika Serikat (AS) maupun Rusia, dan dapat membidik secara akurat sasaran bergerak di laut.

Kemhan Iran mengumumkan bahwa negara ini telah memulai produksi massal pasawat tempur nirawak  (Unmanned Combat Air Vehicle/UCAV) canggih “Mohajer-6”  yang mampu membawa rudal berpresisi tinggi.

Hubungan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri dengan Kerajaan Arab Saudi memburuk dalam beberapa bulan terakhir akibat kedekatan hubungan Hariri dengan Turki.

Seorang pria Israel tewas terkena tikaman orang Palestina dalam insiden serangan yang terjadi di luar pemukiman Ariel di Tepi Barat.

Selengkapnya:

IRGC:  Iran Miliki Teknologi Rudal Yang Tak Dimiliki AS Dan Rusia

Wakil komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyatakan negaranya memiliki teknologi rudal yang tak dimiliki oleh Amerika Serikat (AS) maupun Rusia, dan dapat membidik secara akurat sasaran bergerak di laut.

“Saya katakan kepada Anda dengan sejujurnya dan secara realistis bahwa semua jalur militer bagi musuh telah buntu… Iran sekarang berada di atas angin dalam memiliki metode-metode militer untuk mengalahkan kepentingan-kepentingan vital musuh. Tapi ini bukanlah segalanya, karena metode yang ditempuh musuh dewasa ini terhadap revolusi Islam dan bangsa kita ialah menghapus berbagai prestasi yang telah kita capai selama ini, yaitu perbauran antara keyakinan, kehormatan, keberdayaan, perkembangan,… ” katanya dalam sebuah acara peringatan kemenangan revolusi Islam Iran, Senin (5/2/2018).

Dia menjelaskan, “Sekarang kita secara sangat akurat dapat menyasar obyek-obyek bergerak dengan rudal balistik, bukan rudal cruise, dengan kecepatan rata-rata delapan kali kecepatan suara, padahal semua pintu sains dan teknologi ditutup untuk Iran.”

Brigjen Hossein Salami kemudian mengatakan, “Saya memastikan bahwa teknologi ini tidak ada di AS ataupun Rusia, hanya ada di Iran karena Rusia memiliki rudal ‘Iskander’ yang berpresisi tinggi tapi khusus untuk sasaran diam.”

Menurutnya, perusahaan Mabna yang memroduksi pompa pneumatik dan turbin telah menjadi salah satu perusahaan yang sangat bergairah di bidang ini dunia.

Dia juga memastikan bahwa musuh berusaha menutupi berbagai prestasi yang telah dicetak oleh Republik Islam Iran kemudian berusaha menebar frustasi dan menghilangkan rasa percaya diri pada masyarakat Iran dengan tujuan menciptakan opini bahwa sistem pemerintahan Islam gagal menerapkan kedaulatan rakyat berbasis agama.

Wakil komandan lRGC menjamin musuh-musuh Iran tidak akan berani berkonfrontasi secara militer dengan Iran.

“Jika musuh sampai berperang secara militer dengan kita maka mereka pasti kalah. Kami mendengar suara musuh di balik perangkat nirkabel, dan mengetahui apa yang mereka katakan,” sumbarnya.

Sehari sebelumnya, Brigjen Hossein Salami menegaskan bahwa rudal balistik Iran dapat menghantam kapal-kapal induk Amerika Serikat (AS) jika sampai terjadi perang antara keduanya.  (alalam)

Video: Iran Mulai Produksi Massal Nirawak Pembawa Rudal Berpresisi Tinggi

Kemhan Iran mengumumkan bahwa negara ini telah memulai produksi massal pasawat tempur nirawak  (Unmanned Combat Air Vehicle/UCAV) canggih “Mohajer-6”  yang mampu membawa rudal berpresisi tinggi.

Pada upacara peringatan ulang tahun ke-40 kemenangan revolusi Islam yang dihadiri Menhan Brigjen Amir Hatami di Teheran, Senin (5/2/2018), Kemhan Iran meresmikan produksi massal nirawak tempur Mohajer-6 dan rudal pintar Qaem.

Hatami merinci fitur pesawat tak berawak tersebut dengan mengatakan bahwa Mohajer-6  berkemampuan menjalankan misi pengawasan dan pengintaian dengan jangkauan operasi yang luas dengan sayap yang lebar dan berpresisi tinggi.

Mohajer-6 merupakan nirawak pertama jenis Mohajer yang dipersenjatai dengan sistem persenjataan terkendali dan lebih besar dari jenis keluarga Mohajer lainnya.  Mohajer-4  telah berhasil digunakan selama konflik di Suriah dan Irak, dan kemungkinan juga di Lebanon.

Menhan Iran menjelaskan bahwa Mohajer-6 dipersenjatai dengan rudal Qaem serta dilengkapi dengan berbagai detektor elektro-optik dan hulu ledak yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi, mencegat dan menghancurkan sasaran.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Iran telah melakukan terobosan besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada produksi peralatan dan sistem militer vital.

Pada Desember 2016, Angkatan Darat Iran meluncurkan dua pesawat tempur yang dirancang di dalam negeri dan diproduksi pada hari terakhir latihan militer bersandi Mohammad Rasulullah IV di Iran bagian tenggara negara ini.

Satu di antara dua pesawat tersebut, Oqab (Elang), adalah pesawat tempur tempur yang mampu membawa rudal udara ke permukaan. Sedangkan lainnya, Shahin (Falcon) yang telah dikembangkan dan diproduksi dalam proyek Shahid Mohsen Ghotaslou dapat menjalankan misi pengintaian untuk menghimpun informasi mengenai posisi dan pergerakan pasukan musuh serta berkemampuan terbang selama 24 jam.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Oktober 2016 meluncurkan pesawat tempur tempur yang baru diproduksi yang disebut Saeqeh (Halilintar).

Iran juga telah melakukan latihan militer untuk meningkatkan kemampuan pertahanan angkatan bersenjatanya dan untuk menguji taktik militer modern dan peralatan militer mutakhir.

Namun demikian, Iran memastikan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara manapun dan menegaskan bahwa doktrin pertahanannya hanya berbasis pencegahan. (mehrnews/presstv)

Saudi Ancam PM Lebanon Karena Dekati Turki

Beberapa bocoran informasi memastikan bahwa hubungan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri dengan Kerajaan Arab Saudi memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Celakanya lagi, hubungan itu memburuk karena Hariri menjalin hubungan dengan Turki untuk menggeser posisi Saudi bagi pemerintahan Hariri, dan hal ini terindikasi dari kunjungannya berulangkali ke Turki dalam beberapa waktu terakhir.

Laman surat kabar online Elaph yang berbasis di London menyebutkan keterangan narasumber anonim Saudi bahwa seorang pejabat tinggi negara ini telah menghubungi seorang menteri Lebanon yang dekat dengan Hariri dan memberi peringatan keras kepadanya.

“Kebergegasan (Hariri) belakangan ini ke Turki akan membuatnya membayar harga mahal,” bunyi peringatan itu.

Dilaporkan bahwa rezim Saudi pernah memanggil Hariri ke Riyadh kemudian mendiktenya supaya membuat pernyataan tertulis pengunduran dirinya dari jabatan perdana menteri Lebanon untuk dibacakan di TV Al-Arabiya dengan dalih memburuknya perkembangan situasi politik dan keamanan di Lebanon.

Saat itu Saudi menahan Hariri sehingga dia baru dapat meninggalkan Riyadh setelah Presiden Perancis Emmanuel Macron campur tangan dengan mengancam akan mengadukan Saudi kepada Dewan Keamanan PBB.

Saudi kemudian menghentikan bantuan finansialnya kepada Hariri dan partainya, Al-Mustaqbal, setelah dia kembali ke Lebanon dan menarik pernyataan pengunduran diri tersebut.

Hubungan Saudi dengan Turki memburuk setelah Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir tiba-tiba serempak memusuhi dan memboikot Qatar, dan Turki berpihak kepada Qatar dan bahkan siap melindunginya dari kemungkinan serangan militer mereka. (rayalyoum)

Satu Warga Israel Tewas Ditikam Orang Palestina

Seorang pria Israel tewas terkena tikaman di bagian dada dalam insiden serangan yang terjadi di luar pemukiman Ariel di Tepi Barat.

Pria bernama Rabbi Itamar Ben-Gal, 29 tahun, itu  diserang oleh warga Israel berdarah Palestina yang menyeberang jalan menuju Ben-Gal, yang berdiri di depan halte bus, kemudian menikamnya. Ben-Gal sempat melarikan diri ke seberang jalan dan dikejar oleh penyerang.

Militer Israel mengatakan satu anggotanya telah mengidentifikasi penyerang kemudian mengejar dan menabraknya dengan kendaraannya, namun penyerang berhasil melarikan diri.

Media Israel mengatakan bahwa penyerang berkewarganegaraan Israel, namun dinas keamanan militer dan Shin Bet tidak mengkonfirmasi identitasnya.

Ketegangan antara Israel dan Palestina meningkat di Tepi Barat sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember. Pengakuan ini  melanggar kebijakan AS selama puluhan tahun bahwa status Al-Quds harus diputuskan dalam perundingan damai antara Israel dan Palestina.

Yerusalem Timur direbut dan diduduki oleh Israel dalam perang 1967. Orang-orang Palestina menginginkannya untuk ibu kota negara Palestina akan yang didirikan di masa mendatang, sementara Israel menganggap seluruh bagian kota ini sebagai ibukota abadi dan tak terpisahkan, namun klaim ini tidak diakui oleh masyarakat internasional. (jerussalempost/reuters)