Rangkuman Berita Timteng Selasa 31 Juli 2018

iran vs asJakarta, ICMES:  Jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi menyatakan tak ada kemungkinan bagi negosiasi dan dialog Iran dengan Amerika Serikat (AS), sedangkan Presiden AS Donald Trump mengaku siap berjumpa dengan para petinggi Iran “tanpa prasyarat” dan “kapanpun mereka menginginkannya”.

Duta Besar Rusia untuk Israel Anatoly Viktorov menilai “tidak realistis” permintaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara berulang agar pasukan Iran dan sekutunya keluar dari Suriah.

Pasukan Rezim Zionis Israel telah mencokok empat wartawan Palestina di kota Ramallah, Tepi Barat

Berita selengkapnya;

Iran Nyatakan Tak Mungkin Berunding Dengan AS

Jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi menyatakan tak ada kemungkinan bagi negosiasi dan dialog Teheran dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akibat kebijakan-kebijakan Trump yang “terbukti tak dapat dipercaya.”

Dalam jumpa pers, Senin (30/7/2018), dia mula-mula menyebutkan adanya indikasi positif terkait dengan kelanjutan dialog Iran dengan sejumlah negara Eropa.

“Komunikasi kami dengan pihak-pihak Eropa berlanjut, dan ada indikasi positif dan langkah-langkah maju,” katanya.

Qasemi kemudian menyinggung AS dengan mengatakan, “Klaim AS mengenai Iran sama sekali tak ada kaitannya dengan kesepakatan nuklir. AS telah melanggar komitmennya dengan keluar dari perjanjian nuklir, sementara Iran masih berusaha mempertahankan haknya melalui berbagai perangkat  internasional. Permusuhan AS terhadap Iranlah yang menyebabkan dialog dengannya menjadi tak mungkin dalam situasi sekarang.”

Dia menyoal, “Mengingat AS telah keluar dari perjanjian nuklir, melanjutkan kebijakan anti Iran, dan memperketat sanksi ekonomi anti Iran, maka bagaimana mungkin dalam kondisi demikian akan ada kesempatan untuk dialog dengan Washington? Sungguh kami telah mengambil jarak jauh darinya, sebab AS sekarang dengan kebijakan permusuhannya itu telah menghapus segala kemungkinan dialog dan interaksi dengannya, terutama ketika pemerintah (AS) sekarang telah lebih dari seribu kali membuktikan bahwa mereka tak dapat dipercaya.”

Jubir Kemlu Iran melanjutkan bahwa Menlu Oman Yusuf bin Alwi tak mungkin dapat memediasi dialog Washington-Teheran. Karena itu kunjungan Yusuf ke Teheran belum lama ini hanyalah dalam rangka kunjungan rutin dan timbal balik antara kedua negara, dan kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Omanpun juga dalam rangka membalas kunjungan Yusuf ke Iran.

Namun, Qasemi mengaku tidak tahu apakah masalah mediasi itu masuk dalam agenda kunjungan timbal balik itu.

“Sebaiknya orang tidak membuang waktunya untuk berpikir demikian dan berusaha mengaitkan hal itu dengan kunjungan timbal balik para pejabat kedua negara,” imbuhnya.

Qasemi kemudian menegaskan bahwa pernyataan para pejabat AS mengenai upaya negara ini untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran hanyalah kasak-kusuk belaka yang tak berguna dan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. (alalam)

Trump Nyatakan Siap Bertemu Dengan Para Petinggi Iran “Kapanpun”

Sepekan sejak meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) Presiden AS Donald Trump mengaku siap berjumpa dengan para petinggi Iran “tanpa prasyarat” dan “kapanpun mereka menginginkannya”.

“Saya akan menjumpai orang-orang Iran jika mereka berminat. Saya tidak tahu apakah mereka siap… Tak ada prasyarat. Jika mereka ingin maka saya akan menjumpai mereka, kapanpun mereka menghendakinya,” ujar Trump dalam jumpa pers bersama Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte di Gedung Putih, Washington, Senin (30/7/2017).

Dia kemudian mengatakan bahwa sanksi AS terhadap Rusia tetap berlaku seperti semula, sedangkan Conte mengimbau Washington agar berdialog dengan Moskow.

Sementara itu, Dubes AS untuk Kuwait Lawrence Silverman menyatakan negaranyaberusaha mendorong semua negara Arab di kawasan Teluk Persia agar berpartisipasi dalam pertemuan puncak mendatang AS dengan negara-negara Teluk.

Seperti dikutip radio resmi Kuwait Sawa, Senin, Silverman mengatakan, “Pertemuan ini sangat penting. Ada banyak persoalan yang harus dibahas bersama semisal penumpasan teroris dan perlindungan negara-negara dari rudal balistik (Iran), dan kerjasama ekonomi dan perminyakan.”

Dia tidak menyebutkan kapan pertemua puncak itu akan diselenggarakan, sedangkan pertemuan puncak terakhir diselenggarakan di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Mei 2017 dan dihadiri oleh Trump. Sekira sebulan setelah pertemuan puncak ini, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain memutus hubungannya dengan Qatar sembari menuduh Qatar menyokong teroris. (raialyoum)

Bisakah Pasukan Iran Dikeluarkan Dari Suriah? Ini Jawaban Rusia Kepada Israel

Duta Besar Rusia untuk Israel Anatoly Viktorov menilai “tidak realistis” permintaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara berulang agar pasukan Iran dan sekutunya keluar dari Suriah.

“Iran menjalankan peranan yang amat dan sangat penting dalam upaya bersama menumpas teroris di Suriah. Karena itu, kami memandang bahwa pada tahap sekarang permintaan Israel untuk pengeluaran pasukan asing dari Suriah sebagai sesuatu yang tidak realistis… Keberadaan Iran di Suriah sepenuhnya ilegal dan sesuai dengan prinsip PBB,” katanya kepada TV Israel saluran 10.

Ditanya mengenai kemungkinan Moskow mengusir Iran dari Suriah, Viktorov mengatakan, “Tidak, kami tak dapat memaksa mereka demikian.”

Mengenai sikap Rusia terhadap serangan-serangan udara yang dikaitkan dengan Israel di Suriah dengan sasaran posisi Iran atau sekutunya semisal Hizbullah, Dubes Rusia mengatakan, “Kami tidak setuju dengan setiap penggunaan kekuatan oleh pemerintah Israel. Kami tak dapat membujuk Israel agar berbuat ini atau itu. Bukanlah kewenangan Rusia untuk memberikan kebebasan kepada Israel melakukan ini atau itu, atau mencegahnya.”

Dalam beberapa bulan terakhir Netanyahu memang telah berulangkali meminta kepada Rusia supaya pasukan Iran dikeluarkan dari Suriah, dan disebut-sebut pula bahwa Israel telah beberapa kali melancarkan serangan udara dengan sasaran antara lain konvoi kendaraan yang diklaimnya mengangkut senjata canggih Iran untuk Hizbullah di Suriah.

Dalam kunjungan Menlu Rusia Sergey Lavrov ke Israel belum lama ini disebutkan bahwa Rusia mengusulkan supaya pasukan Iran dijauhkan dari perbatasan Israel sejarak 100 kilometer. Ada kabar bahwa Israel menyetujui usulan itu untuk sementara waktu, namun ada pula kabar yang menyatakan bahwa Israel menolaknya dan tetap bersikeras bahwa pasukan Iran harus keluar dari seluruh wilayah Suriah. (raialyoum)

Pasukan Israel Tangkap Empat Wartawan Palestina

Pasukan Rezim Zionis Israel telah mencokok empat wartawan Palestina di kota Ramallah, Tepi Barat, Senin (30/7/2018).

Para saksi mata mengatakan bahwa pasukan Zionis telah melurug kota Ramallah dan meringkus empat kontributor saluran berbasis satelit al-Quds dan bermarkas di Beirut. Para saksi itu menyebutkan empat nama wartawan itu, yaitu; Ala al-Rimawi, Mohammad Alwan, Qutaibah Hamdan, dan Husni Abdul Jalil.

Fatin Alwan, saudara Mohammad Alwan, menjelaskan bahwa pasukan militer (Israel) telah menggerebek rumah Mohammad, menyita kamera dan perangkat komputer khusus, dan menyampaikan pemberitahuan kepada istri Mohammad bahwa Mohammad ditangkap karena diduga telah menerima dana Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas).

Menurut Fatin, Mohammad bekerjasama dengan saluran al-Quds dan sama sekali tidak menerima dana dari Hamas.

Menhan Israel Avigdor Lieberman pada awal Juli mengambil keputusan melarang aktivitas saluran al-Quds di Israel berdasar undang-undang anti-terorisme yang berlaku di negara Zionis ini.

Saluran al-Quds disiarkan dari Lebanon serta memiliki satu wartawan di kota al-Quds (Yerussalem); satu wartawan lagi di Israel, satu kantor di Jalur Gaza, dan sejumlah kontributor di Tepi Barat. (raialyoum)