Rangkuman Berita Timteng Selasa 3 Juli 2018

Pasukan IRGC

Pasukan IRGC

Jakarta, ICMES: Komandan Umum Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Ali Jafari menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel kini terpenjara di tanah hasil rampasannya.

Dewan Norwegia untuk Pengungsi (Norwegian Refugee Council/NRC) menyatakan tak ada pemenang dalam konflik di Yaman antara pasukan koalisi pimpinan Saudi di satu pihak dan kelompok Ansarullah (Houthi) yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, dan sejumlah provinsi di negara ini.

Jubir pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi Kolonel Turki al-Maliki mengecam laporan terbaru PBB mengenai kondisi anak-anak kecil Yaman akibat serangan pasukan koalisi Arab, dan menilai PBB “tidak akurat” dan bersandar pada “informasi keliru.”

PBB melaporkan bahwa jumlah warga Suriah yang terpaksa mengungsi di bagian barat daya negara ini akibat eskalasi pertempuran dalam dua minggu terakhir meningkat menjadi 270,000 orang.

Institut Washington untuk kajian Timteng menyatakan bahwa Hizbullah telah mengirim pasukan “Ridwan” yang disebutnya sebagai pasukan elit kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini.

Berita selengkapnya:

IRGC: Israel Sudah Terkepung Umat Islam Di Dekat Perbatasannya

Komandan Umum Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Ali Jafari menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel kini terpenjara di tanah hasil rampasannya.

Dalam pidato pada acara wisuda para perwira baru di Universitas Imam Hossein yang juga dihadiri oleh Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei di Teheran, ibu kota Iran, Senin (2/7/2018), Jafari mengatakan, “Tahap baru perkembangan global telah dimulai dengan gambaran utamanya yang tercermin dalam terbentuknya konfrontasi antara kubu besar mustadh’afin yang terinspirasi oleh revolusi Islam (Iran) dan kubu mustakbirin pimpinan penjahat Amerika Serikat (AS).”

Dia memastikan bahwa revolusi Islam Iran telah mencekik leher kubu mustakbirin, sebab kini budaya jihad telah tersebar luas, dan kebangkitan Islam telah bertransformasi menjadi sebuah realitas besar yang bergerak menuju penggusuran “rezim-rezim hina” di kawasan.

Mengenai Israel dia mengatakan, “Kaum Zionis sekarang terkepung dan terpenjara di tanah rampasannya dan mendengar pekikan umat Islam dari pelbagai penjuru dunia dengan aneka bahasa mereka di dekat perbatasan Palestina pendudukan.”

Menyinggung Arab Saudi dan sekutunya, Jafari menegaskan, “Koalisi Jahiliyah Arab kini terperangkap di Yaman dan mengalami kekalahan yang memalukan. Keberhasilan (Yaman) ini terjadi di bawah payung resistensi Islam yang terinspirasi dari kedalaman pemikiran pemimpin revolusi, Imam Khomaini, agar bersemayam dalam pikiran dan hati umat Islam dan kaum merdeka dunia.”

Dia juga menegaskan bahwa bangsa Iran yang revolusioner telah mengenyam pengalaman sejarah yang luar biasa dan menghasilkan terbentuknya tahap baru ketidak percayaan kepada AS serta terhimpunnya kekuatan untuk melawan sepak terjangnya di berbagai kancah global. (alalam)

PBB Nyatakan Tak Ada Pemenang Di Hudaydah, Ansarullah Rilis Data Kerugian Kubu Saudi

Dewan Norwegia untuk Pengungsi (Norwegian Refugee Council/NRC) menyatakan tak ada pemenang dalam konflik di Yaman antara pasukan koalisi pimpinan Saudi di satu pihak dan kelompok Ansarullah (Houthi) yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, dan sejumlah provinsi di negara ini.

Lembaga bantuan yang bernaung di bawah PBB ini menjelaskan bahwa pertempuran di provinsi Hudaydah masih berlanjut dan masih terjadi serangan udara ke kawasan selatan Hudaydah meskipun tak sedahsyat sebelumnya. Intensitas perang menurun demi memberi peluang kepada Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths untuk melakukan upaya mediasi menuju perdamaian.

Menurut NRC, situasi di dalam kota Hudaydah masih tenang meskipun sesekali terjadi kontak senjata pada malam hari, dan sebagian jalan di dalam kota terblokir oleh kubu-kubu pertahanan.

Sementara itu, Pusat Media Ansarullah merilis data kerugian yang dialami oleh pasukan koalisi dalam perang dengan tentara Yaman dan Komite Rakyat yang berafiliasi dengan Ansarullah di kawasan pesisir barat Yaman selama satu setengah tahun terakhir, yaitu dari Januari 2017 hingga Mei 2018.

Data itu antara lain menyebutkan bahwa kubu Saudi kehilangan 1109 peralatan tempur berupa; 16 tank, termasuk 5 unit tank Abrams; 246 unit kendaraan lapis baja; dan 847 unit peralatan militer lain. Saudi juga kehilangan 9 unit kendaraan tempur laut antara lain 1 unit kapal perang Madinah dan 5 unit kapal perang lain, serta kehilangan 9 unit peralatan tempur udara antara lain 2 helikopter Apache, 2 pesawat nirawak MQ-9, dan 11 nirawak lain. (rayalyoum/alalam)

Koalisi Arab Kritik Laporan PBB Mengenai Kondisi Anak-Anak Yaman

Jubir pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi Kolonel Turki al-Maliki mengecam laporan terbaru PBB mengenai kondisi anak-anak kecil Yaman akibat serangan pasukan koalisi Arab, dan menilai PBB “tidak akurat” dan bersandar pada “informasi keliru.”

Dalam jumpa pers di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, al-Maliki mengatakan bahwa semua orang mengetahui bahwa PBB hanya memiliki satu kantor di Sanaa, ibu kota Yaman, sementara “kondisi lapangan juga tidak kondusif bagi misi organisasi-organisasi PBB” sehingga data-data yang disebutkan dalam laporannya cenderung “berasal dari situs-situs lokal.”

Dia kemudian menuding kelompok Ansarullah (Houthi) merekrut anak-anak kecil mulai usia 8 tahun sebagai pasukan serta menghalangi kedatangan kapal-kapal ke Pelabuhan Hudaydah.

Dia juga menuduh Ansarullah “menggunakan provinsi Sa’dah untuk menyimpan dan melesatkan rudal.” Dia kemudian menunjukkan fotot-foto senjata yang, menurutnya, hasil sitaan dari pasukan Houthi.

“Sebagian di antaranya dari Iran, dan membuktikan pelanggaran Iran terhadap resolusi PBB mengenai Yaman,” klaimnya.

Dia juga menunjukkan foto-foto pesawat nirawak “buatan Iran” yang digunakan oleh Ansarullah dan berhasil disita oleh pasukan loyalis mantan presiden Yaman Mansour Hadi dan pasukan koalisi Arab. (rt/albayan)

PBB: 270,000 Warga Mengungsi Di Suriah Selatan Dalam Dua Minggu Perang

PBB melaporkan bahwa jumlah warga Suriah yang terpaksa mengungsi di bagian barat daya negara ini akibat eskalasi pertempuran dalam dua minggu terakhir meningkat menjadi 270,000 orang.

Jubir Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi di Yordania, Mohammad al-Hiwari, dalam keterangan persnya, Senin (2/7/2018), mengatakan bahwa angka terbaru yang dimiliki oleh lembaga ini menunjukkan bahwa “jumlah pengungsi di Suriah selatan melampaui 270,000 orang.”

“Kita berhadapan dengan krisis kemanusiaan yang sesungguhnya di Suriah selatan,” lanjutnya.

Secara terpisah, kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB menyatakan sebanyak 70,000 pengungsi Suriah bergerak menuju perbatasan Yordania dan terjebak di daerah-daerah tandus tanpa ada bantuan sama sekali.

Sejak pertempuran berkecamuk di Suriah selatan Yordania yang sebelumnya sudah menerima lebih dari setengah juta pengungsi Suriah sejak awal perang tetap menutup pintu perbatasannya karena kuatir kebanjiran pengungsi tambahan.

PBB pekan lalu menyebutkan bahwa sebanyak 160,000 orang telah mengungsi akibat perang di Suriah selatan, dan sebagian besar mereka berlindung di desa-desa dan kawasan di dekat perbatasan Suriah dengan Yordania dan Israel.

Seperti diketahui, belakangan ini Pasukan Arab Suriah (SAA) menggelar operasi militer untuk menumpas kelompok-kelompok teroris, terutama ISIS dan Jabhat al-Nusra, yang bersarang di bagian selatan negara ini, dan dalam waktu relatif cepat SAA berhasil merebut kembali banyak daerah di sana. (rt)

Lembaga Kajian AS: Hizbullah Kirim Pasukan Elit Ke Suriah Selatan

Institut Washington untuk kajian Timteng menyatakan bahwa Hizbullah telah mengirim pasukan “Ridwan” yang disebutnya sebagai pasukan elit kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini.

Dalam sebuah artikel panjang karya dua pakar lembaga ini, Hanin Ghaddar dan Philip Smyth, disebutkan bahwa ketika Hizbullah mengirim pasukan khusus Ridwan miliknya ke sebuah front pertempuran di Suriah maka biasanya akan terjadi pertempuran sengit di mana mereka terlibat secara intensif.

Menurut artikel ini, fenomena demikian sudah sering terlihat sejak Hizbullah terlibat dalam perang di Suriah, “mulai dari Qusair hingga Aleppo dan Deir Ezzor.”

Hanin Ghaddar dan Philip Smyth juga menyebutkan bahwa pasukan Ridwan juga pernah dikerahkan untuk sementara waktu dalam perang di Daraa pada tahun 2017 sebelum pemberlakuan perjanjian zona de-eskalasi yang menghentikan serangan tentara Suriah, tapi sekarang pasukan khusus Hizbullah itu kembali lagi ke sana. (alalam)