Rangkuman Berita Timteng Selasa 29 Agustus 2017

nasrallah agustus 2017Jakarta, ICMES: Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa kawanan teroris takfiri ISIS benar-benar menyerah kepada para pejuang Hizbullah dalam pertempuran di Qalamoun, dan bahwa ini merupakan satu lagi kekandasan rencana kotor Israel di kawasan.

Kontak senjata sengit sempat pecah di Sanaa, ibu kota Yaman, antara kelompok Ansarullah (Houthi) dan kelompok loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh, namun suasana kembali tenang setelah utusan masing-masing bertemu dan berunding untuk meredakan keadaan.

Juru bicara Kemlu Iran Bahram Qassemi menyatakan bahwa hubungan negara ini dengan Turki sedang memasuki babak baru, dan dalam rangka ini Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tak lama lagi akan berkunjung ke Iran.

Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang merupakan aliansi Kurdi dan Arab Suriah memperkirakan kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih akan dapat bertahan di kota Raqqa, Suriah, paling lama sampai dua bulan lagi.

Berita selengkapnya;

Nasrallah: ISIS Menyerah Kepada Hizbullah, Rencana Israel Berantakan

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa kawanan teroris takfiri ISIS benar-benar menyerah kepada para pejuang Hizbullah dalam pertempuran di Qalamoun, dan bahwa ini merupakan satu lagi kekandasan rencana kotor Israel di kawasan.

“Apa yang terjadi di dataran tinggi ini adalah menyerahnya ISIS secara militer dan politik dalam arti yang sesungguhnya,” tegas Nasrallah dalam pidato televisi, Senin (28/8/2017).

“Kami hentikan pertempuran melawan ISIS karena telah kami jalin kesepakatan (dengan ISIS), dan kami tidak berkhianat, menikam dari belakang, dan bertindak licik… Kita sedang menyongsong kemenangan yang sangat besar, perbatasan Lebanon sudah aman secara militer di sepanjang garisnya, dan pembebasan tanah Suriah dari ISIS merupakan keharusan yang pasti untuk mengamankan perbatasan Lebanon,” lanjutnya.

Dia menjelaskan bahwa penumpasan ISIS di Qalamoun merupakan kelanjutan perang untuk mengandaskan proyek Israel.

“Pihak yang menangis atas (kekalahan) ISIS di Suriah, Qalamoun, dan Irak adalah orang-orang Israel… Setiap hari terbukti bahwa kelompok-kelompok tak firi ini adalah buatan pemerintah Amerika Serikat, dan apa yang telah dipersembahkan oleh kelompok-kelompok ini kepada entitas Zionis (Israel) belum pernah didapat (oleh Israel) selama bertahun-tahun,” paparnya.

Nasrallah menyebut tanggal 28 Agustus 2017 sebagai hari pembebasan kedua yang tercatat dalam sejarah Lebanon dan kawasan, baik diakui ataupun tidak oleh pemerintah Lebanon, setelah pembebasan pertama yang terjadi di Lebanon selatan dari pendudukan Israel pada 25  Mei 2000.

Seperti pernah diberitakan, Hizbullah Lebanon, Ahad (27/8/2017), menyatakan bahwa kawanan teroris ISIS menyerah dengan syarat jiwa mereka aman untuk direlokasi dari wilayah perbatasan Lebanon-Suriah ke kota Abu Kamal di bagian timur provinsi Deir Ezzor, Suriah, dan sebagai konsesinya ISIS akan mengungkap nasib beberapa tentara Lebanon yang mereka tawan sejak beberapa tahun silam.

Kesepakatan tentang ini dicapai oleh kedua pihak dengan persetujuan pemerintah Suriah. Senin kemarin beberapa unit bus bergerak membawa kawanan teroris ISIS dan keluarganya dari Qalamoun barat menuju Deir Ezzor sesuai kesepakatan tersebut. (alalam/rayalyoum)

Suasana Kembali Tenang Usai Kontak Senjata Houthi-Saleh Di Sanaa

Kontak senjata sengit sempat pecah di Sanaa, ibu kota Yaman, antara kelompok Ansarullah (Houthi) dan kelompok loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh, namun suasana kembali tenang setelah utusan masing-masing bertemu dan berunding untuk meredakan keadaan.

Dua kelompok Yaman yang semula bersekutu melawan agresi militer koalisi Arab pimpinan Arab Saudi ini sempat terlibat kontak senjata satu sama lain hingga menewaskan satu perwira tentara loyalis Saleh, Kol. Khalid al-Radhi, dan dua anggota Ansarullah pada Sabtu lalu (26/8/2017), setelah sekian minggu hubungan keduanya meradang dan terjadi saling tuding berkhianat.

Penduduk dan sumber militer di Sanaa mengatakan bahwa  kota yang dikuasai oleh Ansarullah dan kubu Saleh ini kembali tenang namun dengan suasana waspada setelah pasukan loyalis Saleh di tarik dari jalanan, terutama di beberapa kawasan yang dilanda kontak senjata.

Sumber-sumber keamanan independen mengatakan bahwa tim mediator yang terdiri atas para tokoh keamanan dan politisi dari kedua pihak pihak untuk meredakan situasi telah berhasil menyingkirkan barikade-barikade penyebab ketegangan dari jalan-jalan umum di distrik al-Masabihi, Sanaa.

Sumber keamanan yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa tim mediator  “sedang membahas sejumlah poin yang telah ditetapkan oleh Partai Kongres Rakyat (pihak Saleh) dan kelompok Houthi agar diterapkan oleh masing-masing pihak,” dan pihak Saleh meminta supaya pembunuh Kol. Kholid al-Radhi diserahkan.

Keretakan aliansi Ansarullah-Saleh mengemuka setelah pihak Saleh menyebut kelompok Ansarullah sebagai “milisi”, dan kemudian pihak Ansarullah menanggapinya dengan mengatakan bahwa kubu Saleh telah “berkhianat”.

Ali Abdullah Saleh menjabat presiden Yaman sejak tahun 1990, dan pada 2012 dia dimakzulkan serta diganti oleh Abd Rabbuh Mansur Hadi setelah terjadi gelombang unjuk rasa rakyat.  Selama berkuasa Saleh telah enam kali menggerakkan operasi militer untuk menumpas kelompok Ansarullah di markasnya di provinsi Sa’dah di utara Sanaa.

Saleh kembali tampil ke gelanggang politik pada tahun 2014 untuk melawan Mansur Hadi dan bersekutu dengan bekas musuhnya sendiri, Ansarullah, sehingga keduanya berhasil menguasai Sanaa dan banyak bagian Yaman lainnya. Arab Saudi kemudian menggalang pasukan koalisi Arab dan melancarkan agresi militer ke Yaman untuk membela Mansur Hadi sejak Maret 2015 sampai sekarang.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, sedikitnya 8000 orang yang sebagian besar warga sipil terbunuh dan sekira 47,000 lainnya luka-luka akibat agreasi Saudi dan sekutunya. Agresi ini juga menyebabkan terjadinya wabah penyakit kolera yang telah merenggut lebih dari 2000 nyawa sejak April lalu, dan penyakit ini diperkirakan telah menjangkiti 600,000 orang pada tahun ini. (rayalyoum)

Iran Nyatakan Hubungannya Dengan Turki Masuki Babak Baru

Juru bicara Kemlu Iran Bahram Qassemi menyatakan bahwa hubungan negara ini dengan Turki sedang memasuki babak baru, dan dalam rangka ini Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tak lama lagi akan berkunjung ke Iran.

Dalam jumpa pers di Teheran, Senin (28/8/2017), Qassemi juga menyinggung kunjungan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Bagheri ke Turki. Menurut Qassemi, Bagheri telah mengadakan perundingan yang baik dengan Erdogan seputar hubungan bilateral.

“Kunjungan Presiden Turki ke Iran merupakan salah satu sikap yang telah dibahas ini, sekarang sedang dilakukan persiapan untuk kunjungan ini, dan saya berharap akan selesai secepatnya,” ujar Qassemi.

Belum lama ini Erdogan melontarkan pernyataan kontroversial bahwa Iran dan Turki telah mendiskusikan kemungkinan tindakan militer bersama anti kelompok-kelompok bersenjata Kurdi. Erdogan mengatakan demikian setelah Mayjen Bagheri mengadakan pembicaraan dengan para petinggi Turki di Ankara pekan lalu.

Klaim Erdogan tersebut kemudian dibantah oleh pasukan elit Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Kami tidak merencanakan operasi apapun di luar wilayah Iran,” ungkap IRGC dalam statemennya yang dirilis pada 22 Agustus 2017.

Meski demikian, IRGC juga menegaskan, “Akan tetapi, kami senantiasa siap menggunakan kekuatan untuk menghadapi pihak manapun yang berusaha menerobos wilayah Iran untuk melancarkan operasi teror atau menggoyang keamanan kami.”

Kunjungan kepala staf gabungan angkatan bersenjata Iran ke Ankara merupakan pertama kalinya sejak kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun 1979 sehingga menjadi indikasi kuat membaiknya hubungan Iran dengan Turki yang selama ini sering bermasalah akibat krisis Suriah, sebab Turki mendukung pemberontakan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad, sedangkan Iran membela al-Assad. (almayadeen/isna/rayalyoum)

SDF Perkirakan ISIS Akan Bertahan Di Raqqa Sampai 2 Bulan Lagi

Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang merupakan aliansi Kurdi dan Arab Suriah memperkirakan kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih akan dapat bertahan di kota Raqqa, Suriah, paling lama sampai dua bulan lagi.

“Kami tidak dapat menentukan kapan tepatnya pertempuran Raqqa akan berakhir karena perang memiliki kondisinya sendiri. Tapi kami tidak memperkirakan hal itu berlangsung lama, dan menurut rencana kami, pertempuran tidak akan memakan waktu lebih lama dari dua bulan dari sekarang,” ungkap Nowruz Ahmad, seorang komandan SDF, Senin (28/8/2017).

SDF bertempur melawan ISIS di pusat kota Raqqa dengan bantuan serangan udara dan pasukan khusus koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat. Mereka masuk ke kota ini pada Juni lalu setelah berjuang selama berbulan-bulan untuk mengepungnya.

Ahmad mengatakan SDF sejauh ini masih terfokus pada pertempuran Raqqa dan belum menetapkan rencana untuk melancarkan serangan ke provinsi Deir al-Zor, yang selanjutnya menyusuri Sungai Efrat menuju perbatasan Irak yang hampir seluruhnya berada di bawah kendali ISIS.

Sementara itu, PBB menyerukan supaya warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran di kota Raqqa segera dievakuasi ke luar kota ini.

Sebelumnya, PBB juga menyatakan prihatin atas banyaknya korban sipil yang tewas akibat serangan udara pasukan koalisi internasional. PBB bahkan menyebut Raqqa sebagai kawasan yang kondisinya terburuk di Suriah dewasa ini.

Sebagian lembaga peduli HAM melaporkan bahwa sejak 2014 sampai sekarang sebanyak 624 warga sipil terbunuh akibat serangan udara pasukan koalisi internasional. Namun demikian, serangan udara itu masih berlanjut. (reuters/irna)