Rangkuman Berita Timteng Selasa 27 Maret 2018

jaish al-islam di ghouta3Jakarta, ICMES: Juru bicara kelompok militan Failaq al-Rahman Wael Olwan menyatakan bahwa kelompok teroris Jaish al-Islam yang ada di kota Douma, Ghouta Timur, sepakat untuk bergabung dengan Pasukan Arab Suriah (SAA).

Kelompok-kelompok teroris dan pemberontak di Suriah terlibat aksi saling tuding setelah kalah berperang melawan Pasukan Arab Suriah di Ghouta Timur dekat Damaskus, ibu kota Suriah.

Kerajaan Arab Saudi menuding Iran berada di balik serangan rudal balistik yang dilesatkan oleh gerakan Ansarullah (Houthi) ke beberapa bandara Saudi.

Jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi menepis pernyataan bersama menteri luar negeri dan menteri pembangunan Inggris yang menuduh Iran mengirim senjata ke Yaman.

Selengkapnya:

Enggan Keluar Dari Ghouta, Jaish Islam Bersumpah Ingin Bergabung Dengan SAA

Juru bicara kelompok militan Failaq al-Rahman Wael Olwan menyatakan bahwa kelompok teroris Jaish al-Islam yang ada di kota Douma, Ghouta Timur, sepakat untuk bergabung dengan Pasukan Arab Suriah (SAA).

Sebagaimana dilansir laman Sham Times, Senin (26/3/2018), Olwan dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh berbagai kelompok bersenjata mengatakan bahwa Jaish al-Islam di Ghouta akan berubah menjadi pasukan pertahanan nasional berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah Suriah dan Rusia.

Namun demikian, tidak ada pernyataan resmi tentang ini dari pihak Suriah maupun Rusia. Sehari sebelumnya pemimpin Jaish al-Islam Essam Bwidany menegaskan bahwa kelompoknya tetap akan bertahan di Ghouta Timur dan menolak keluar darinya. Dia juga menyerukan kepada kelompok-kelompok militan di Suriah selatan agar bergerak menolong Ghouta.

Observatorium Suriah untuk HAM melaporkan adanya kemungkinan kuat bahwa negosiasi di Douma telah menghasilkan kesepakatan untuk menjadikan kota ini sebagai kawasan “rekonsiliasi” di mana lembaga-lembaga negara Suriah akan kembali ke sana.

Disebutkan bahwa Douma yang menjadi markas besar kelompok Jaish Islam merupakan satu-satunya kota di Ghouta Timur yang belum dimasuki oleh SAA.

Sementara itu, sebanyak 74 unit bus untuk relokasi 4.956 orang, termasuk 1185 militan dari Jobar, Zamalka, Arbin, dan Ein Tarma, siap bergerak keluar melalui jalur Arbin di Ghouta Timur menuju Idlib.

Di pihak lain, SAA telah menemukan sejumlah terowongan panjang dalam operasi pengamanan di distrik Hazah, Ghouta Timur, Senin. Disebutkan bahwa panjang terowongan itu membentang hingga distrik Kfar Batna dan semula digunakan oleh kawanan bersenjata untuk pergerakan serta penyimpanan senjata dan amunisi. (alalam)

Kalah Perang Di Ghouta Timur, Kelompok-Kelompok Teroris Saling Tuding

Kelompok-kelompok teroris dan pemberontak di Suriah terlibat aksi saling tuding setelah kalah berperang melawan Pasukan Arab Suriah di Ghouta Timur dekat Damaskus, ibu kota Suriah.

Reuters, Senin (26/3/2018), melaporkan bahwa permusuhan antara kelompok Failaq al-Rahman yang didukung Qatar dan kelompok Jaish al-Islam yang didukung Arab Saudi di Ghouta Timur telah menyebabkan pembagian wilayah sejak 2016 dan membangkitkan aksi kekerasan satu sama lain sehingga membantu kelancaran gerak maju Pasukan Arab Suriah (SAA).

Di saat SAA bergerak menekan mereka, dua kelompok itu malah saling tuding membantu kelancaran gerak maju SAA. Jubir Jaish al-Islam Hamza Birqadar dalam keterangan kepada saluran TV al-Hadath mengatakan bahwa Failaq al-Rahman menolak usulan untuk bergabung menjadi pasukan pertahanan bersama di Ghouta Timur. Jaish al-Islam bahkan juga menuduh Failaq al-Rahman memutus pasokan air yang dibutuhkan untuk mengisi parit-parit pertahanan.

“Parit-parit ini kering sehingga mempercepat gerak maju (SAA),” ungkap Hamza.

Di pihak lain, jubir Failaq al-Rahman Wael Olwan kepada saluran yang sama mengatakan bahwa Jaish al-Islam memang lemah dalam mempertahankan wilayah yang Ghouta Timur yang belakangan berhasil dipecah oleh SAA menjadi tiga bagian yang terisolasi satu sama lain.

Seorang pejabat Suriah mengatakan bahwa persiteruan antarkelompok teroris di Ghouta Timur merupakan salah satu faktor keberhasilan SAA memenangi pertempuran dalam waktu yang relatif singkat.

Kelompok Failaq al-Rahman mulai meninggalkan kawasan mereka di Ghouta Timur menuju kawasan selatan Suriah, sementara Jaish al-Islam mengaku sedang berperan sebagai penghubung di kawasannya di kota Douma, Ghouta Timur.

Rusia, Senin, menyatakan bahwa Jaish Islam siap meletakkan senjata dan meninggalkan daerahnya, tapi kelompok ini membantahnya, dan bahkan terbetik kabar bahwa kelompok ini ingin bergabung dengan SAA. (alalam)

Soal Rudal Yaman, Saudi Mengancam Akan “Membalas” Iran

Kerajaan Arab Saudi, Senin (26/3/2018), menuding Iran berada di balik serangan rudal balistik yang dilesatkan oleh gerakan Ansarullah (Houthi) ke beberapa bandara Saudi pada Minggu lalu. Saudi juga mengancam akan membalas Iran “pada waktu dan tempat yang tepat”.

Pernyataan demikian dari Saudi berkenaan dengan perang Yaman bukanlah kali pertama, dan Iran juga selalu membantahnya.

Jubir pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi Kolonel Turki al-Maliki dalam jumpa pers di Riyadh, ibu kota Saudi, menyatakan bahwa rudal diluncurkan oleh Ansarullah itu adalah “rudal Iran” sehingga Saudi “mempertahankan haknya untuk membalas Iran pada waktu dan tempat yang tepat.”

Dia menambahkan bahwa peluncuran itu merupakan “dekadensi yang berbahaya” dan hasil “penyelundupan rudal Iran kepada Ansarullah”. Menurutnya, rudal itu diselundupkan dalam bentuk komponen melalui pelabuhan Hudayda dan bandara Sanaa yang kemudian dirakit di Yaman.

Dia juga menegaskan bahwa pasukan koalisi “akan menempuh semua tindakan untuk menjaga keamanan” Saudi, tanpa menyebutkan bentuk tindakan itu.

Ansarullah meluncurkan rudal ke Saudi sejak 2017 dengan selang waktu yang relatif lama, dan dalam setiap peristiwa peluncuran tersebut  Saudi mengaku dapat menangkisnya dengan sistem pertahanan rudal Patriot buatan Amerika Serikat (AS), sedangkan Ansarullah mengklaim dapat membidik sasaran dengan tepat.

AS, Inggris, dan Perancis mengecam penembakan rudal Ansarullah pada Ahad lalu.   (rayalyoum)

Iran Sebut Inggris Bertanggungjawab Atas Kejahatan Perang Di Yaman

Jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi, Senin (26/3/2018), menepis pernyataan bersama menteri luar negeri dan menteri pembangunan Inggris yang menuduh Iran mengirim senjata ke Yaman.  Qasemi juga balik menuding Inggris terlibat dalam kejahatan perang di Yaman.

Qasemi menyatakan bahwa Inggris bertanggungjawab langsung atas kejahatan yang sudah berlangsung selama tiga tahun itu karena Inggris menjual senjata dan memberikan bantuan logistik dan intelijen kepada Saudi dan sekutunya serta membantu pemberlakuan blokade tak berprikemanusiaan terhadap bangsa Yaman.

Qasemi mengatakan bahwa seandainya benar bahwa Inggris mengupayakan mekanisme politik untuk penyelesaian krisis Yaman maka tentunya sejak awal sudah meminta kepada negara-negara Arab Teluk pemborong senjata Inggris supaya menghentikan perang, menyudahi blokade, dan mengupayakan dialog sesama anak bangsa Yaman.

Jubir Kemlu Iran mengingatkan bahwa khalayak dunia mengetahui betapa kejahatan perang di Yaman dilakukan dengan menggunakan senjata yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat (AS), dan karena itu tindakan mengkambing hitamkan Iran tidak akan membuat keduanya lolos dari tanggungjawab atas kejahatan itu.

Qasemi lantas menjelaskan bahwa Iranlah yang jelas-jelas telah mengajukan prakarsa penyelesaian yang terdiri atas empat pasal bagi krisis Yaman.

Menurutnya, Iran sejak awal krisis Yaman sudah berulangkali menekankan bahwa krisis ini hanya dapat diselesaikan melalui jalur dialog. (alalam)