Rangkuman Berita Timteng Selasa 26 Juni 2018

yaman-ahmad-mohammad-abduh-zayedJakarta, ICMES: Ahmad Mohammad Abduh Zayed, seorang komandan pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, telah menyerahkan diri kepada pasukan keamanan Yaman setelah membelot dari kelompoknya di kawasan pesisir barat negara ini, kemudian memberikan kesaksian mengejutkan.

Jubir resmi kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) Mohammad Abdul Salam menegaskan bahwa semakin lama agresi musuhnya terhadap Yaman semakin besar pula kemampuan rudal balistik bangsa Yaman dalam membalasnya.

Pesehat Pemimpin Besar Iran bidang militer, Mayjen Sayyid Yahya Rahim Safavi, menegaskan bahwa negaranya akan menggempur istana-istana Kerajaan Arab Saudi dengan 1000 rudal di hari pertama perang jika Saudi nekat menyerang Iran.

Wakil Menlu Rusia Sergey Vershinin menyatakan bahwa lebih dari 40% zona de-eskalasi di Suriah selatan dikuasai oleh dua kelompok teroris besar.

Berita selengkapnya:

Serahkan Diri, Seorang Komandan Pasukan Kubu Saudi Di Yaman Beri Kesaksian Mengejutkan

Ahmad Mohammad Abduh Zayed, seorang komandan pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, telah menyerahkan diri kepada pasukan keamanan Yaman setelah membelot dari kelompoknya di kawasan pesisir barat negara ini, kemudian memberikan kesaksian mengejutkan, Senin (25/6/2018).

Zayed yang berasal dari provinsi Damar dan tergolong komandan terkemuka kubu Mansour Hadi memberikan kesaksikan bahwa balayon-batalyon pasukan kubu Saudi “berantakan dalam pertempuran di kawasan pesisir barat dan bahkan tak tersisa kecuali sedikit.”

Dia menambahkan bahwa kemenangan yang dikoarkan oleh media kubu Saudi yang disebutnya “musuh” adalah kedustaan yang sengaja disebar justru untuk menutupi kegagalan dan kekalahannya di medan tempur.

“Batalion yang dijuluki al-Matar’i yang berperang bersama musuh di pesisir barat tak tersisa anggotanya kecuali hanya 50 orang, padahal sudah dibekali peralatan tempur yang lengkap. Ada pula batalyon lain pimpinan  Samir al-Masqari yang semula terdiri atas 500 pasukan, tapi sekarang hanya tinggal 250 orang. Sedangkan yang lain-lain ada yang kabur dan ada pula yang terbunuh,” tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa kelompok-kelompok pasukan itu dilatih di Eritrea sebelum dikirim ke Mukha, Yaman.

Dia juga memberikan kesaksian bahwa mereka adalah kelompok-kelompok milisi yang direkrut dari “Sudan, orang-orang bayaran, dan milisi-milisi pengkhianat” dan telah berbuat berbagai macam tindakan amoral. Dia mengaku menyaksikan sendiri bagaimana mereka melakukan aksi-aksi brutal semisal penjarahan, pembunuhan, dan penyiksaan.

“Mereka bahkan membakar mayat-mayat, melakukan berbagai kejahatan yang tak dapat didiamkan dan diterima oleh setiap Muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” imbuhnya.

Dia kemudian mengimbau kepada warga Yaman yang bergabung dengan kubu Saudi agar kembali ke pangkuan tanah airnya sendiri.

Sementara itu, badan keamanan Yaman menyatakan bahwa siapapun yang menyerahkan diri maka akan diperlakukan secara terhormat, disambut dengan baik, dan akan dibantu untuk kembali ke pelukan keluarganya. (alalam)

 

Ansarullah: Makin Diserang, Yaman Makin Besar Kekuatan Rudalnya

Jubir resmi kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) Mohammad Abdul Salam menegaskan bahwa semakin lama agresi musuhnya terhadap Yaman semakin besar pula kemampuan rudal balistik bangsa Yaman dalam membalasnya.

“Semakin berkelanjutan dan bertele agresi musuh semakin membesar pula kekuatan rudal balistik bangsa kami dan dapat membidik dengan tepat sasaran-sasaran yang tak terduga oleh musuh,” tulisnya di Twitter.

Dia menambahkan, “Ini merupakan tindakan nasional yang disepakati oleh setiap orang Yaman di dalam maupun di luar negeri. Mereka yang berada di tengah kota Riyadhpun berbangga dengan rudal-rudal negaranya.”

Sebelumnya, tentara Yaman dan pasukan Komite Rakyat yang berafiliasi dengan Ansarullah telah melesatkan beberapa rudal balistik jenis Burkan H-2 ke Riyadh, ibu kota Saudi.  Saudi mengaku berhasil merontokkan seluruh rudal itu, sementara pasukan Yaman tersebut menyatakan sebagiannya menimpa sasaran. (alalam)

Akan Menerjang Istana-Istana Saudi Di Hari Pertama Perang

Pesehat Pemimpin Besar Iran bidang militer, Mayjen Sayyid Yahya Rahim Safavi, menegaskan bahwa negaranya akan menggempur istana-istana Kerajaan Arab Saudi dengan 1000 rudal di hari pertama perang jika Saudi nekat menyerang Iran.

Seperti dilansir Tasnim milik Iran, Senin (25/6/2018), dia mengatakan hal tersebut sembari menyebutkan bahwa Saudi tidak akan senekat itu.

“Tapi jika mereka nekat untuk bertindak keliru maka 1000 rudal akan menerjang istana-istana kerajaan di Riyadh di hari pertama, dan tentu kecil sekali kemungkinan Saudi akan bertindak sebodoh itu,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kekuatan militer Iran kini sudah mencapai kawasan pantai Laut Tengah, dan menjadi negara terkemuka di kawasan sehingga tak ada kemelut regional yang dapat diselesaikan tanpa partisipasi Iran yang juga tidak akan pernah menjadi ancaman bagi negara jirannya.

Mengenai Amerika Serikat (AS) dia menilainya sudah mengalami degradasi kebudayaan, militer, dan ekonomi.

“Pasukan militer Iran memiliki rencana-rencana yang jelas dalam mengantisipasi segala ancaman, dan kekuatan  kamipun telah mencapai kawasan pantai Laut Tengah, sementara AS dan Rezim Zionis (Israel) melemah, sebab jika memang kuat maka keduanya tentu dapat menjatuhkan Presiden Suriah Bashar Assad,” ujarnya.

Mengenai Hizbullah dia mengatakan bahwa kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini memiliki 80,000 rudal sehinggamenjadi ancaman permanen bagi kaum Zionis penjajah Palestina. (alalam)

 

Rusia Nyatakan Teroris Kuasai 40% Kawasan De-Eskalasi Di Suriah Selatan

Wakil Menlu Rusia Sergey Vershinin menyatakan bahwa lebih dari 40% zona de-eskalasi di Suriah selatan dikuasai oleh dua kelompok teroris besar.

“Sekarang lebih dari 40% luas zona de-eskalasi ini masih dikuasai oleh Jabhat al-Nusra dan IS (ISIS),” katanya dalam rapat Dewan Keamanan PBB mengenai situasi Timteng, Senin (25/6/2018).

Dia menambahkan bahwa di kawasan itu tidak mungkin diberlakukan gencatan senjata dengan kelompok-kelompok yang oleh Dewan Keamanan PBB juga diakui sebagai organisasi-organisasi teroris.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) melaporkan kepada PBB di Suriah selatan terjadi pelanggaran perjanjian de-eskalasi oleh tentara negara yang masih dilanda perang ini.

Vershinin mengatakan, AS sudah satu tahun berada di zona de-eskalasi ini, dan tak seperti komitmennya, ia tidak berbuat apapun untuk mendukung perang melawan teroris.”

Dia juga mengingatkan bahwa zona de-eskalasi diadakan “bukan untuk pembagian sebuah negara anggota PBB dan pengukuhan keberadaan teroris di sana.”

Perjanjian de-eskalasi di bagian barat daya Suriah diadakan pada tahun lalu dengan kesepakatan segi tiga Rusia, AS, dan Yordania.  Belakangan ini pasukan pemerintah Suriah melancarkan operasi militer untuk menumpas kawanan teroris yang bercokol di kawasan tersebut sehingga membangkitkan reaksi kecaman dari AS.

Sementara itu, PBB menyatakan prihatin atas eskalasi di bagian barat daya Suriah dan pengungsian sebanyak 45,000 penduduk menuju perbatasan Yordania akibat kecamuk pertempuran.

Wakil Jubir Sekjen PBB Farhan Haq dalam jumpa pers di kantor PBB, New York, AS, mengatakan bahwa Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) merasa cemas atas laporan-laporan mengenai meningkatnya kekerasan di Suriah barat daya sehingga mengancam keamanan 750,000 penduduk.  (rt/rayalyoum)