Rangkuman Berita Timteng Selasa 24 Oktober 2017

relawan irak al-hashdJakarta, ICMES: Pernyataan Menlu Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson mengenai keberadaan”milisi Iran” di Irak dan desakannya supaya mereka keluar mendapat reaksi keras dari pasukan relawan Irak dan pemerintah Iran.

Kamera media perang al-I’lam al-Harbi merekam gempuran hebat dan pergerakan maju Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya dalam operasi penumpasan kelompok teroris ISIS bersandi “Walfajr 3” menuju “Stasiun 2” (T2) di bagian selatan provinsi Deir Ezzor untuk menguasainya.

Sedikitnya 14 warga sipil Suriah terbunuh dan 30 lainnya cedera akibat serangan udara pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) di kota Deir Ezzor, Suriah.

Sedikitnya 14 warga sipil Suriah terbunuh dan 30 lainnya cedera akibat serangan udara pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) di kota Deir Ezzor, Suriah.

Berita Selengkapnya:

AS Minta “Milisi Iran” Pulang, Relawan Irak Balik Minta Pasukan AS Keluar

Pernyataan Menlu Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson mengenai keberadaan”milisi Iran” di Irak dan desakannya supaya mereka keluar mendapat reaksi keras dari pasukan relawan Irak dan pemerintah Iran.

Pemimpin gerakan Ashaib Ahl al-Haq, salah satu komponen terbesar pasukan relawan tersohor Irak al-Hashd al-Shaabi, Qais al-Khazali, menegaskan bahwa AS beserta Menlunya harus menarik pasukannya dari Irak segera setelah tidak ada lagi dalih perang melawan kelompok teroris ISIS.

“Kepada Menlu AS… pasukan militer Anda sekarang harus bersiap-siap keluar dari negeri kami, Irak, segera dan tanpa ditunda lagi setelah berakhirnya dalih keberadaan ISIS,” ungkap al-Khazali melalui akun resmi Twitternya, Senin (23/10/2017).

Bersamaan dengan ini, Hadi al-Amiri, Sekjen Organisasi Badr yang merupakan kelompok terbesar dalam al-Hashd al-Shaabi, mengimbau Perdana Menteri Irak Haider Abadi tidak menyambut kedatangan Tillerson karena kedatangan ini tidak diharapkan di Baghdad.

Tillerson sendiri telah berkunjung ke Baghdad dan mengadakan pertemuan dengan Abadi, Senin. Pada kesempatan ini Abadi menegaskan bahwa relawan al-Hashd al-Shaabi merupakan “harapan bagi Irak dan kawasan.”

Sebelumnya, dalam jumpa pers dengan Menlu Saudi Adel al-Jubeir di Riyadh, Minggu (22/10/2017), Tillerson mengatakan bahwa sudah tiba saatnya “kelompok-kelompok yang didukung Iran kembali ke rumah masing-masing”, demikian pula orang-orang Iran yang menjadi penasehat militer mereka setelah membantu Irak mengalahkan ISIS.

Juru bicara al-Hashd al-Shaabi, Ahmad al-Asadi, juga mengecam pernyataan Tillerson ini sembari menuntut AS meminta maaf atasnya.

Dalam jumpa pers di gedung parlemen Irak, al-Asadi yang juga anggota parlemen mengatakan, “Pernyataan Menlu AS mengenai milisi Iran tak dapat diterima dan merupakan tuduhan tak berdasar sama sekali. Semua pejuang di tanah ini adalah orang-orang Irak sendiri.”

Al-Asadi juga menyebut pernyataan itu menandakan “minimnya pengetahuan Tillerson atau sikap meremehkan darah yang tumpah”. Karena itu al-Asadi mendesak AS agar meminta maaf atas pernyataan ini.

Di pihak Iran, Menlu Javad Zarid dalam jumpa bersama Menlu Afrika Selatan Maite Nkoana-Mashabane di Pretoria, Senin, justru mengakui bahwa di Irak memang terdapat milisi Iran tapi sudah pulang ke negaranya.

“Tentu di sana ada milisi Iran. Sekarang, mengingat bahwa perang melawan ISIS sudah hampir berakhir , maka milisi itu memang akan pulang ke negaranya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa milisi itu sudah ada di negara mereka tanpa menunggu perintah AS, karena “seandainya mereka menunggu perintah Tillerson dan AS maka kita sekarang akan melihat ISIS di Bagfhdad dan Arbil.” (rayalyoum/alalam)

Video: SAA Bergerak Menuju “Stasiun 2” Di Provinsi Deir Ezzor

Kamera media perang al-I’lam al-Harbi merekam gempuran hebat dan pergerakan maju Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya dalam operasi penumpasan kelompok teroris ISIS bersandi “Walfajr 3” menuju “Stasiun 2” (T2) di bagian selatan provinsi Deir Ezzor untuk menguasainya.

SAA berhasil menguasai T2 secara serangan militer, Senin (23/10/2017), setelah mereka berhasil mengepungnya dan memutus jalur logistik ISIS.

Videonya dapat disaksikan di sini:

T2 berjarak sekira 30 kilometer dari garis perbatasan Suriah-Irak, dan merupakan salah satu kawasan utama pertahanan ISIS untuk menghadang gerak maju SAA di Deir Ezzor selatan.

Al-I’lam al-Harbi menyebutkan bahwa T 2 sangat strategis karena merupakan stasiun penyaluran minyak ringan dari hulu ke muara. T2 berjarak 70 kilometer dari kota kuno Palmyra (Tadmur) dan 70 kilometer pula dari kota Abu Kamal. Dari T2 menuju Abu Kamal terdapat sejumlah sumur minyak.

T2 dipandang strategis oleh ISIS karena kondisi geofrafisnya yang mendukung pertahanan ISIS di sana dan kekuasaanya atas bagian timur provinsi Deir Ezzor.

T2 juga merupakan satu-satunya stasiun yang terhubung dengan stasiun T1 di Irak melalui pipa berdiameter 48 inchi yang digunakan untuk menyalurkan minyak ke T3, T4, dan T5 di wilayah Suriah menuju pelabuhan Tartus di kawasan pantai Laut Tengah.

T2 juga terhubung dengan ladang minyak al-Umar di provinsi Deir Ezzor melalui jalur pipa minyak berdiameter 24 inchi. T2 melalui sejumlah jalur terhubung dengan kawasan utara kota Mayadin dari utara dan a-Kharaij dari timur dan tenggara di perbatasan Suriah-Irak. (rt)

Iran Di PBB Tegaskan Tak Ada Negosiasi Soal Rudal

Iran kembali menyatakan pantang mundur di depan tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait program pengembangan rudal Iran.

Wakil Duta Besar Iran untuk PBB Eshaq Al-e Habib kepada sebuah komsi lembaga ini, Senin (23/10/2017), menegaskan tidak ada negosiasi soal program tersebut  dan karena itu Iran akan terus melanjutkannya sesuai dengan agenda pertahanan dan pencegahannya, dan akurasi rudalnya proporsional dengan ancaman yang dihadapi.

Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia dan China ) plus Jerman menandatangani kesepakatan nuklir pada 14 Juli 2015 dan mulai menerapkannya pada 16 Januari 2016.

Dewan Keamanan PBB kemudian membuat resolusi 2231 pada 20 Juli 2015 untuk mendukung perjanjian nuklir yang dinamai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action / JCPOA) tersebut.

Sesuai JCPOA, Iran membatasi program nuklirnya dan mendapat imbalan berupa penghapusan sanksi yang diberlakukan terhadap Teheran.

Namun, Trump pada 13 Oktober lalu secara resmi menolak mengakui Iran mematuhi kesepakatan JCPOA dan bersumbar bahwa pada akhirnya dia dapat menyudahi kesepakatan tersebut.

Sejauh ini Trump tidak menarik negaranya keluar dari kesepakatan JCPOA, namun dia memberi Kongres AS tenggat waktu 60 hari untuk memutuskan apakah akan mengajukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran yang sebelumnya telah dicabut sesuai JCPOA.

Pemaksaan kembali sanksi terhadap Iran akan membuat AS berseberangan dengan negara-negara lain dan Uni Eropa yang ikut meneken JCPOA.  (presstv)

Serangan Udara AS Tewaskan Belasan Warga Sipil Di Suriah

Sedikitnya 14 warga sipil Suriah terbunuh dan 30 lainnya cedera akibat serangan udara pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) di kota Deir Ezzor, Suriah.

Sumber-sumber Suriah, Senin (23/10/2017), menyatakan serangan udara itu diluncarkan di wilayah Qusur yang dikuasai pemerintah Suriah.

“14 warga sipil terbunuh dan lebih dari 30 lainnya cedera dalam serangan udara pesawat koalisi di wilayah Al-Qusur di kota Deir Ezzor,” kata salah satu sumber.

Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) menyatakan jumlah korban tewas sekira 22 orang, tapi tidak menyebutkan serangan itu dilakukan oleh pihak mana.

Pasukan koalisi internasional mulai melancarkan serangan udara di Suriah sejak September 2014 dengan dalih memerangi ISIS, tapi tanpa koordinasi dan persetujuan dari pemerintah Suriah maupun mandat PBB.

Pasukan ini telah berulang kali dilaporkan melancarkan serangan yang menjatuhkan korban tewas dan luka di pihak warga sipil serta menghancurkan banyak bangunan tempat tinggal dan prasarana sipil. (presstv)