Rangkuman Berita Timteng Selasa 20 Maret 2018

tentara suriah di sabqaJakarta, ICMES: Pasukan Arab Suriah (SAA) terus bergerak cepat di kawasan Ghouta Timur menekan kelompok-kelompok bersenjata dan berhasil menguasai lebih dari 80% wilayah ini.

Pasukan Turki dan milisi oposisi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) yang bersekutu dengannya berhasil mengalahkan milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan menduduki kota Afrin di Suriah utara.

Pemimpin otoritas Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen menyebut Dubes Amerika Serikat (AS) untuk Israel, David Friedman, “anak anjing.”

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif  mengecam “kemunafikan ” Amerika Serikat (AS) karena berusaha menghentikan program rudal pertahanan Iran tapi sembari membanjiri wilayah Timur Tengah dengan segala jenis senjata.

Selengkapnya:

Kuasai Lebih Dari 80% Wilayah, SAA Berada Di Penghujung Perang Ghouta Timur

Pasukan Arab Suriah (SAA) terus bergerak cepat di kawasan Ghouta Timur menekan kelompok-kelompok bersenjata dan berhasil menguasai lebih dari 80% wilayah ini.

Laman berita al-Watan milik Suriah, Senin (19/3/2018), melaporkan bahwa pertempuran di kawasan di timur Damaskus, ibu kota Suriah, ini sudah mendekati ujungnya. SAA terus menyapu dengan cepat markas-markas pemberontak dan teroris, dan tersiar kabar bahwa kawanan bersenjata itu meminta diperkenankan keluar menuju Suriah utara.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa SAA, Senin, melancarkan operasi pemberantasan sarang-sarang terakhir teroris di kota Sabqa dan Kfar Batna setelah kawanan bersenjata menelan  banyak kerugian jiwa dan peralatan tempur.

SAA mulai menguasai Sabqa dan Kfar Batna sejak  Sabtu lalu, dan dua kota ini tercatat sebagai sarang terbesar organisasi-organisasi teroris dan milisi yang bersekutu dengan teroris di bagian selatan Ghouta Timur.

SAA menggelar operasi militer secara intensif sembari menggunakan taktik yang sesuai dengan kondisi setempat demi menghindari jatuhnya korban sipil yang bertahan dalam rumah mereka dan menunggu kedatangan SAA untuk pembebasan mereka dari dominasi kawanan teroris.

SAA kini bekerja keras untuk mengamankan warga tersebut dan mulai melakukan penyisiran jalanan, bangunan, dan terowongan-terowongan teroris yang mereka temukan, serta mengamankan jalur-jalur tengah dan utara bagi keluarnya penduduk yang terkepung oleh kawanan teroris.

Media setempat menyebutkan bahwa SAA kini menguasai lebih dari 80% wilayah Ghouta Timur. Sumber-sumber lokal mengatakan kepada al-Watan bahwa kawanan bersenjata telah kabur dari Sabqa menuju Hazah, Zamalka, dan Arbin setelah SAA memasuki Sabqa, sementara penduduk tetap bertahan dalam rumah mereka.

SAA di Sabqa tidak menemukan banyak gudang senjata dan kubu pertahanan karena kondisi di sana memang kurang mendukung keberadaan kawanan bersenjata.

Dua kelompok bersenjata besar Failaq al-Rahman dan Ahrar al-Sham meminta diperkenankan keluar menuju Suriah utara, tempat pasukan oposisi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) menggelar operasi militer ilegal bersandi Tangkai Zaitun bersama pasukan Turki terhadap milisi Kurdi, sementara kelompok teroris Jabhat al-Nusra meminta keluar menuju provinsi Idlib. (alalam)

Kemlu Suriah Kecam Pendudukan Pasukan Turki Atas Kota Afrin

Pasukan Turki dan milisi oposisi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) yang bersekutu dengannya berhasil mengalahkan milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan menduduki kota Afrin di Suriah utara.

Menanggapi perkembangan tersebut, Kemlu Suriah, Senin (19/3/2018),menegaskan bahwa pendudukan itu merupakan tindakan ilegal dan menyalahi Piagam PBB dan undang-undang internasional.

Kemlu Suriah mengirim surat kepada Sekjen PBB dan ketua Dewan Keamanan PBB berisikan pernyataan antara lain; “Suriah menyalahkan pendudukan Turki atas Afrin serta kejahatan yang mereka lakukan di sana, dan menuntut pasukan agresor ini keluar secepatnya dari wilayah Suriah yang mereka duduki.”

Kemlu Suriah juga menegaskan bahwa agresi Turki itu bukan saja mengancam kehidupan penduduk setempat dan integritas wilayah dan bangsa Suriah, melainkan juga dapat memperpanjang perang demi kepentingan teroris dan para pendukungnya serta mengancam keamanan dan perdamaian regional dan dunia.

Di pihak lain, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan pihaknya akan terus menggelar operasi militer Tangkai Zaitun sampai berhasil membasmi “teroris” Kurdi di Manbij, Qamishli, dan Ein al-Arab.

Dia menjelaskan bahwa sejauh ini operasi tersebut telah berhasil “menetralisir 3622 teroris di Afrin”, dan “bisa jadi pasukan Turki juga akan masuk ke kawasan Sinjar, Irak” demi memburu milisi Partai Pekerja Kurdi (PKK).

Dia juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh tentara Turki di Afrin dan berbagai kawasan lain adalah perjuangan demi menjamin keamanan nasional Turki.

Erdogan hari Minggu lalu mengumumkan bahwa pasukan Turki berhasil menguasai pusat kota Afrin.

“Bendera Turki dan bendera FSA hari ini berkibar di Afrin sebagai ganti bendera teroris,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa tentara Turki di sana memperkenankan kepada para pengungsi untuk pulang ke rumah mereka, dan bahwa apa yang dilakukan tentara Turki di sana bukanlah untuk menduduki Afrin melainkan demi menumpas teroris.  (alalam)

Mahmoud Abbas Sebut Dubes AS Untuk Israel “Anak Anjing”

Pemimpin otoritas Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen menyebut Dubes Amerika Serikat (AS) untuk Israel, David Friedman, “anak anjing.”

Di awal pertemuan dengan para pejabat otoritas Palestina di Ramallah, Tepi Barat, Senin malam waktu setempat (19/3/2018), Abbas mengatakan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump “menganggap migrasi (kaum Zionis ke Palestina) sebagai tindakan yang sah, dan inilah apa yang dikatakan oleh sebagian besar pejabat AS, terutama Dubesnya di Tel Aviv, David Friedman.”

Dia menambagkan, “Dia, anak anjing itu, mengatakan bahwa orang-orang Israel tinggal di tanah mereka sendiri. Dia sendiri dan keluarganya adalah imigran, apa yang dapat kita harap dari Dubes AS di Tel Aviv?”

Di pihak lain, David Friedman, saat berbicara di “Forum Global untuk Memerangi Antisemitisme”, mengecam pernyataan Abbas dengan mengatakan bahwa penggunaan istilah “anak anjing” oleh Abbas merupakan sikap “anti-Semitisme.”

“Abu Mazen memilih untuk menanggapi. Ketika (Ronald Lauder) berbicara, saya melihat tanggapannya di iPhone saya, tanggapannya adalah menyebut saya sebagai anak anjing, apakah itu anti-Semitisme atau wacana politik? terserah Anda,” ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan persoalan internal Palestina, Abbas mendapat kecaman dari faksi pejuang Hamas yang menilainya berusaha menggagalkan kesempatan bagi bangsa Palestina untuk bangkit melawan Israel.

Hamas dalam statemennya menegaskan, “Kami mengecam pernyataan Mahmoud Abbas yang sudah sekian lama berusaha menundukkan orang-orang kami Gaza. Kami menegaskan bahwa tindakannya bukan hanya menyasar Hamas, melainkankan juga merupakan upaya menggagalkan kesempatan kebangkitan nasional yang sah, dan malah membukakan kesempatan bagi prakarsa damai (AS) Deal of The Century.”

Sementara itu, data dari Pusat Kajian Urusan Israel-Palestina menyebutkan bahwa dengan gugurnya seorang warga Palestina bernama Abdurrahman Bani Fadl dari Nablus setelah melancarkan operasi penikaman tentara Israel di al-Quds (Yerussalem) maka jumlah warga Palestina yang gugur sebagai syahid telah mencapai 40 orang sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya mengakui al-Quds sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017. (alalam/presstv)

Menlu Iran: AS “Munafik Belaka” Soal Senjata Iran

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif  mengecam “kemunafikan ” Amerika Serikat (AS) karena berusaha menghentikan program rudal pertahanan Iran tapi sembari membanjiri wilayah Timur Tengah dengan segala jenis senjata.

Di halaman Twitter resminya, Senin (19/3/2018), Zarif menyatakan bahwa tekanan Barat untuk menghentikan program rudal Iran terjadi ketika AS dan negara-negara besar Eropa justru membujuk sekutu mereka di Timteng agar memborong lebih banyak senjata.

“Janji Layanan Pelanggan oleh produsen senjata AS/E3: Beli senjata kami, dan pemerintah kami akan memberikan dukungan purna jual dengan menekan tetangga Anda agar menanggalkan pertahanannya,” tulis Zarif.

Dia menambahkan, “Kemunafikan belaka, mengeluhkan rudal pertahanan Iran tapi sambil menuangkan senjata ratusan miliar USD ke wilayah kami.” (presstv)