Rangkuman Berita Timteng Selasa 2 Oktober 2018

serangan rudal iran thd ISIS 2Jakarta, ICMES: Salah satu petinggi kelompok teroris ISIS, Abu Ali Masyhadani, tewas terkena serangan rudal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap markas ISIS di kota Abu Kamal, Suriah.

Kementerian Pertahanan Amerika Serika (AS), Pentagon, menilai serangan rudal Iran terhadap kelompok teroris ISIS di Suriah “ancaman bagi penerbangan sipil dan militer” serta “tidak bertanggungjawab.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut upaya Iran mengaitkan Israel dengan serangan teror di kota Ahvaz, Iran barat laut, sebagai tindakan “konyol”.

Para anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari partai Republik dan Demokrat sama-sama telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) penghentian penjualan senjata negara ini kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Berita selengkapnya:

Satu Tokoh ISIS Abu Ali Masyhadani Dikabarkan Tewas Terkena Rudal Iran

Salah satu petinggi kelompok teroris ISIS, Abu Ali Masyhadani, tewas terkena serangan rudal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap markas ISIS di kota Abu Kamal, Suriah, Senin (1/10/2018). Demikian dikabarkan saluran TV al-Alam milik Iran.

Saluran ini menyebutkan bahwa beberapa hal mulai terungkap terkait pemilihan waktu dan lokasi serangan tersebut;

Pertama, kawasan sekolah al-Sausah yang dijadikan ISIS sebagai markas.

Kedua, gudang amunisi di kawasan Hajin yang berjarak 35 km dari Abu Kamal.

Menurut al-Alam, IRGC telah mengantongi informasi intelijen bahwa di bangunan sekolah tersebut terdapat perkumpulan yang dihadiri oleh Abu Ali Masyhadani yang merupakan tokoh papan atas ISIS. Dia tewas bersama sekelompok orang yang menyertainya.

Disebutkan bahwa dia biasanya tak ada di lokasi tersebut, tapi pada malam itu dia datang ke bangunan  sekolah al-Sausah dan menginap.

Mengenai kawasan Hajin, dilaporkan bahwa rudal IRGC menyasar kawanan ISIS yang berusaha berkamuflase ISIS dalam pemindahan beberapa senjata, roket, dan logistik. Di lokasi ini beberapa tempat yang dijadikan sebagai gudang amunisi juga hancur dilumat rudal, dan sekira 10 orang teroris tewas.

Seperti diketahui, IRGC telah melesatkan enam rudal balistik dan tujuh pesawat nirawak ke markas dan pangkalan ISIS di Abu Kamal pada dini hari Senin sebagai balasan atas serangan teror yang menyasar parade militer Iran di kota Ahvaz 10 hari sebelumnya. (alalam)

AS Nilai Serangan Rudal Iran Ke Suriah Bahayakan Penerbangan Sipil Dan Militer

Kementerian Pertahanan Amerika Serika (AS), Pentagon, menilai serangan rudal Iran terhadap kelompok teroris ISIS di Suriah “ancaman bagi penerbangan sipil dan militer” serta “tidak bertanggungjawab.”

Juru bicara Pentagon, Sean Robertson, mengatakan hal tersebut kepada kantor berita Turki, Anadolu, Senin (1/10/2018), sembari menyebutkan bahwa serangan yang menyasar lokasi-lokasi di Suriah timur itu dilakukan Iran tanpa koordinasi dengan pasukan koalisi internasional pimpinan AS.

“Mengingat zona udara yang di kompleks di sana serangan demikian dapat membahayakan pasukan yang aktif memerangi ISIS di Suriah… Peluncuran rudal ke angkasa tanpa koordinasi merupakan ancaman bagi ruang udara sipil dan militer… Tindakan Iran di tempat ini tak bertanggungjawab, tak aman, dan membangkitkan eskalasi,” ujarnya.

Senada dengan ini, juru bicara pasukan koalisi pimpinan AS Kolonel Sean Ryan melalui akun Twitternya berkomentar bahwa serangan rudal pasukan Iran pada dini hari Senin itu dilakukan tanpa pemberitahuan kepada siapapun.

Sebelumnya, saluran TV resmi Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menyerang posisi-posisi ISIS di kawasan Abu Kamal pada dini hari Senin pukul 02.00 waktu setempat dengan melesatkan enam rudal dan beberapa pesawat nirawak sebagai balasan atas serangan teror terhadap parade militer Iran di kota Ahvaz beberapa hari sebelumnya.

Media Iran menyebutkan bahwa senjata yang digunakan IRGC dalam serangan itu adalah rudal “Zolfaghar” yang berjarak jelajah 750 kilometer dan rudal “Qiam” yang berjarak jelajah 800 kilometer.

Pada 22 September lalu otoritas Iran menyatakan 25 orang tewas dan sekira 60 lainnya luka-luka terkena serangan teror yang dilancarkan oleh lima orang teroris terhadap parade militer Iran di Ahvaz. (raialyoum/alalam)

Netanyahu Tanggapi Tuduhan Israel Terlibat Dalam Serangan Teror Di Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut upaya Iran mengaitkan Israel dengan serangan teror di kota Ahvaz, Iran barat laut, sebagai tindakan “konyol”.

“Upaya Iran untuk menghubungkan Israel dengan serangan di Iran selatan itu konyol. Fakta bahwa pada misi yang dikirim ke Suriah tertulis “Mampus Israel’ membuktikan segalanya,” ujar Netanyahu, Senin (1/10/2018).

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan enam rudal balistik ke “timur Eufrat” di Suriah untuk membalas serangan terhadap parade militer di kota Ahvaz pada 22 September 2018.

Iran menuduh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, terutama Israel dan Arab Saudi, berada di balik serangan teror Ahvaz yang menewaskan sedikitnya 25 dan melukai puluhan lainnya.

Media Iran pada Senin pagi melaporkan bahwa Pasukan Udara IRGC telah menembakkan rudal ke posisi ISIS di Suriah timur, dan pada rudal itu tertulis slogan “Mampus Amerika,” “Mampus Israel,” dan “Mampus Dinasti al-Saud.”

Pada 24 September lalu televisi resmi Iran mengutip pernyataan Wakil Komandan IRGC Jenderal Hossein Salami bahwa para pemimpin AS dan Israel hendaknya menunggu balasan “menghancurkan” dari Iran.

Tanpa menyebutkan nagara, Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei belum lama ini mengatakan bahwa para boneka AS berusaha menciptakan kekacauan di Iran. (jerussalempost/raialyoum)

AS Dikabarkan Bermaksud Hentikan Penjualan Senjata Ke Saudi Dan UEA

Surat kabar The Guardian terbitan Inggris mengabarkan bahwa para anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari partai Republik dan Demokrat sama-sama telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) penghentian penjualan senjata negara ini kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab karena faktor perang Yaman.

Seperti diberitakan al-Alam, Senin (1/10/2018), The Guardian melaporkan, “50 anggota dua partai Republik dan Demokrat telah mengajukan sebuah rancangan yang berkonsekuensi penghentian penjualan senjata senilai US$ 2 miliar kepada Arab Saudi dan UEA akibat berlanjutnya serangan keduanya ke Yaman yang telah andil dalam terjadinya kondisi kemanusiaan terburuk di dunia.”

Koran ini menambahkan bahwa draf ini diperkirakan akan divoting di parlemen AS tersebut setelah pemilu paruh waktu pada November mendatang.

The Guardian mengingatkan, “Kondisi yang terburuk belum terjadi di Yaman  di tengah ketiadaan jalan penyelesaian apapun dan berlanjutnya dukungan AS kepada aliansi Saudi-UEA.”

Menurut koran ini, RUU baru itu merupakan reproduksi War Powers Resolution 1973 di mana para anggota parlemen berusaha mengajukannya dengan tujuan menarik seluruh militer AS serta mencegah AS secara hukum dari pemberian bantuan apapun kepada aliansi Saudi-UEA di Yaman.

Sebagaimana dikutip The Guardian, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Majelis Senat AS Bob Menendez yang berasal dari  Demokrat mengaku mendesak supaya penjualan senjata  ke Saudi dan UEA dihentikan karena dua negara ini “andil dalam merebaknya kehancuran dan penyakit dalam skala luas dan bahkan dengan kondisi kemanusiaan yang terburuk di dunia.”

PBB memperkirakan jumlah korban tewas dalam perang Yaman mencapai 16,000 orang. Tercatat sebanyak 22 juta orang atau 75 % penduduk Yaman membutuhkan berbagai bentuk bantuan kemanusiaan. (alalam)