Rangkuman Berita Timteng Selasa 2 Januari 2018

demo pro pemerintah iranJakarta, ICMES: Berbagai kota Iran kembali diwarnai unjuk rasa, namun kali ini dilancarkan oleh kelompok besar yang mendukung pemerintahan Iran.

Hamas menyerukan kepada otoritas Palestina di Tepi Barat agar mengumumkan “keruntuhan proses negosiasi” dengan Israel.

Serangan udara pasukan koalisi Arab telah menjatuhkan korban luka dan tewas sebanyak 3,387 orang di provinsi ini sejak koalisi pimpinan Arab Saudi itu menyerang Yaman.

Pangeran Talal bin Abdulaziz dari Arab Saudi dilaporkan sudah sekira 50 hari melakukan aksi mogok makan.

Berita selengkapnya;

Iran Tuding Saudi Lancarkan Perang Proksi

Sekjen Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Samkhani menyatakan bahwa Arab Saudi melancarkan “perang proxi” melalui internet. Bersamaan dengan ini, berbagai kota Iran kembali diwarnai unjuk rasa, namun kali ini dilancarkan oleh kelompok besar yang mendukung pemerintahan Iran.

“Apa yang terjadi di internet mengenai Iran merupakan perang proxi terhadap bangsa kami. 27 Persen peserta dalam serangan terhadap Iran melalui internet mengikuti pemerintahan Putera Mahkota Saudi Mohammad bin Salman,” ungkap Samkhani dalam wawancara dengan  saluran TV Al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon,  Senin (1/1/2018).

“Para anasir eksekutor perang terhadap Iran melalui internet adalah Israel dan Barat, sementara Saudi mendanai dan membuat badan-badan, mempekerjakan para ahli, dan mengerahkan mereka pada proyek politik anti Iran,” lanjutnya.

Dia menegaskan, “Para munafik (kelompok kontra revolusi Islam Iran Organisasi Mujahidin Khalq/MKO) adalah para pion Saudi dalam proyek ini, dan mereka akan mendapat reaksi setimpal dari Iran dengan tanpa mereka sadari. Saudi tak dapat membalas kerugiannya di Yaman dengan mengintervensi Iran dan memprovokasi rakyat Iran yang cerdas.”

Samkhani menjelaskan, “Berbagai hashtag mengenai situasi di Iran berasal dari Amerika, Inggris, Saudi, dan tempat-tempat lain.”

Dia kemudian memastikan bahwa apa yang terjadi di Iran akan terselesaikan dalam hitungan hari.

Senin kemarin berbagai kota di Iran, termasuk Rasht, Zanjan, Ahvaz, dan Takestan kembali diwarnai unjuk rasa, namun dilakukan kelompok besar massa yang mendukung pemerintahan Iran dan mengutuk “para perusuh”. Unjuk rasa ini digelar sebagai aksi tandingan unjuk rasa protes yang telah menimbulkan kerusuhan.

Senin malamjuga sempat terjadi unjuk rasa protes lagi di Teheran, naun dilakukan oleh sekelompok kecil massa.  Dilaporkan bahwa salah seorang di antara kerumunan massa telah melemparkan bom molotov ke sebuah mobil kemudian kabur.

Mengenai unjuk rasa protes secara keseluruhan, Kementerian Intelijen Iran dalam statemennya menyatakan, “Identitas para perusuh sudah diketahui, sebagian di antaranya sudah tertangkap, beberapa lainnya masih dalam pengejaran, dan dalam waktu dekat ini mereka akan ditindak tegas.”

Seperti diketahui, sejak Kamis lalu terjadi aksi protes terkait dengan kondisi ekonomi di beberapa kota dan daerah Iran.  Pemerintah Iran memastikan bahwa aksi ini kemudian ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang berafiliasi dengan musuh-musuh Iran agar unjuk rasa berubah menjadi gerakan kontra-pemerintahan Iran dan kerusuhan.  (rayalyoum/fna/isna)

Hamas Minta Otoritas Palestina Umumkan “Keruntuhan Negosiasi” Dengan Israel

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, di Jalur Gaza, menyerukan kepada otoritas Palestina di Tepi Barat agar mengumumkan “keruntuhan proses negosiasi” dengan Israel, menyusul keputusan partai Likud dan otoritas Israel untuk memasukkan daerah-daerah permukiman Zionis di Tepi Barat ke dalam wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).

Jubir Hamas Abdul Latif Al-Qanou dalam statemennya, Senin (1/1/2018), menegaskan bahwa perlawanan terhadap keputusan Likud memerlukan “penghentian koordinasi keamanan dan pengumuman ambruknya negosiasi.”

“Keputusan Likud harus dihadapi dengan meluruskan jalur Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menuju pilihan rakyat Palestina berupa muqawamah (resistensi) untuk menghadapi dan menggagalkan rencana penutupan perkara dan mengembalikan hak rakyat yang ternistakan,” tegasnya.

Minggu malam lalu Fatah dan Hamas telah mengecam keputusan Likud. Sebelumnya di malam yang sama Likud sepakat untuk memaksakan kewenangan Israel terhadap daerah-daerah permukiman Zionis di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Pemimpin Pusat Partai Likud Haim Katz mengatakan, “Daerah-daerah ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Israel, dan akan tetap berada di bawah kedaulatan Israel untuk selamanya.” (rayalyoum)

Koalisi Arab Bunuh Dan Lukai 3000 Orang Lebih Di Sanaa

Gubernur Provinsi Sanaa yang berasal dari kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa serangan udara pasukan koalisi Arab telah menjatuhkan korban luka dan tewas sebanyak 3,387 orang di provinsi ini sejak koalisi pimpinan Arab Saudi itu menyerang Yaman.

“Jet-jet tempur agresor (koalisi Arab) selama 1000 hari telah menghancurkan 167 rumah serta fasilitas administrasi dan perdagangan dengan kondisi sebagiannya hancur total di pusat provinsi, dan sebanyak 226 rumah di antaranya disasar secara langsung,” ungkap gubernur provinsi Sanaa, Hanin Qatinah, dalam statemennya, Senin (1/1/2017).

Dia merinci bahwa sebanyak 627 rumah mengalami kerusakan yang variatif dan 111 bangunan hancur total dan parsial dengan tingkat kerugian awal sebesar US$ 800 juta.

“Pihak agresor menyasar langsung rumah-rumah warga dan menghancurkannya di atas kepala para penghuninya, termasuk anak kecil, kaum perempuan, dan lansia, dalam kejahatan dan pembantaian yang tak berprikemanusiaan serta melanggar konvensi, perjanjian, dan undang-undang internasional dan kemanusian,” lanjutnya.

Dia menjelaskan beberapa rincian lain, termasuk bahwa bangunan dan fasilitas yang hancur total dan parsial terdiri atas 13 sekolah, 8 fasilitas kesehatan, 11 jembatan, 17 masjid, 4 situs sejarah, 3 tempat rekreasi, 12 menara komunikasi, 5 lembaga teknis dan pendidikan, 2 stasiun pembangkit listrik, 1 stasiun penyaluran minyak ke pipa, dan 5 fasilitas lain berupa sentral telefon dan gudang. (aljazeera)

Anak-Anaknya Ditangkap, Pangeran Bin Talal Sudah 50 Hari Mogok Makan

Pangeran Talal bin Abdulaziz dari Arab Saudi dilaporkan sudah sekira 50 hari melakukan aksi mogok makan.

Sumber-sumber Saudi mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) yang berbasis di Inggris bahwa aksi mogok itu dilakukan Talal sebagai protes terhadap penahanan anak-anaknya, termasuk milyarder Walid, di hotel Ritz Carlton, Riyadh.

Disebutkankan bahwa Pangeran Talal yang sudah berusia 86 tahun itu memulai aksi mogok makan pada 10 November lalu tak lama setelah Walid ditangkap, dan akibat aksi ini berat badannya susut  sebanyak 10 kilogram dalam jangka waktu satu bulan penuh. Dia rawat di Rumah Sakit King Faisal, Riyadh, dan mendapat asupan hanya melalui selang infus.

Bloomberg melaporkan bahwa negosiasi Walid bin Talal dengan otoritas Saudi untuk pembebasan dirinya membentur jalan buntu, sebab dia menolak tuntutan-tuntutan yang memungkinkan dia kehilangan perusahaan Kingdom Holding Company (KHC). Dia menolak mengaku telah berbuat berbagai pelanggaran karena pengakuan ini akan merusak citranya.

Daily Mail pada 22 November lalu mengutip keterangan sumber anonim internal Saudi bahwa pasukan bayaran dari perusahaan jasa keamanan Black Water yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) telah membelenggu dan menganiaya para pangeran dan pengusaha Saudi yang disekap di hotel tersebut.

Sumber itu juga mengatakan bahwa pasukan yang ditugaskan melakukan penjagaan dan penyiksaan itu didatangkan dari Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, sementara Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman sesekali memeriksa sendiri para pangeran dan pengusaha yang dituduhnya terlibat praktik korupsi tersebut. (aljazeera)