Rangkuman Berita Timteng Selasa 17 Oktober 2017

peshmerga dan benderaJakarta, ICMES:  Pasukan Kurdi Irak, Peshmerga, menyatakan bahwa pemerintah Irak “akan membayar mahal” atas serbuan pasukannya ke Kirkuk.

Perdana Menteri Irak menginstgruksikan pengibaran bendera nasional Irak di berbagai kawasan yang dipersengketakan.

Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi menyatakan negaranya mendukung integritas Irak dan menolak hasil referendum disintegrasi Kurdistan Irak.

Militer Suriah melawan serangan udara Israel dan berhasil menembak salah satu jet tempur rezim Zionis penjajah Palestina ini.

Raja Salman dari Arab Saudi tidak keberatan atas kebertahanan Bashar Assad sebaga presiden Suriah, asalkan Rusia bersedia menjauhkan Suriah dari Iran.

Berita Selengkapnya:

Situasi Memanas, Peshmerga Tuding Iran Dan Nyatakan Baghdad Akan Membayar Mahal

Pasukan Kurdi Irak, Peshmerga, dalam statemennya yang dirilis menyusul serbuan pasukan Irak ke provinsi Kirkuk, Senin (16/10/2017), menyatakan bahwa pemerintah Irak “akan membayar mahal” atas serbuan pasukannya ke Kirkuk yang semula dikuasai oleh Peshmerga.

Dalam statemen ini Markas Besar Peshmerga juga menuding Persatuan Nasional Kurdistan, satu di antara dua partai politik terkemuka di Kurdistan Irak, telah “berkhianat” dengan membantu serbuan pasukan Irak ke Kirkuk pada dini hari Senin.

Peshmerga juga menuding Iran dengan menyatakan bahwa serbuan itu dipimpin oleh Iqbalpour, seorang jenderal pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan dilakukan dengan menggunakan senjata canggih buatan Amerika Serikat (AS).

Peshmerga kemudian menegaskan pihaknya akan bereaksi keras atas serbuan ini dan membela rakyat Kurdistan.

“Serangan yang dilancarkan oleh pasukan Irak dan al-Hashd al-Shaabi (relawan) serta pasukan yang terhubung dengan Pasukan Quds IRGC ini merupakan dendam atas rakyat Kurdistan yang telah mengekspresikan kehendaknya secara bebas, dan  dendam terhadap penduduk Kirkuk yang telah menyetujui perjuangan,” ungkap Peshmerga.

Pasukan Kurdi Irak menambahkan, “Sebagian pemimpin Persatuan Nasional Kurdistan telah mengeluarkan perintah kepada satuan-satuan pasukan Peshmera di sebagian lokasi supaya mundur sehingga memudahkan majunya pasukan agresor ke kota Kirkuk.”

Peshmerga kemudian menuduh pasukan relawan Irak dengan menyatakan,“ al-Hashd al-Shaabi  menyerang Kirkuk dengan menggunakan senjata AS dan senjata canggih pasukan koalisi internasional, yaitu senjata yang dibekalkan kepada pasukan Irak dengan dalih perang melawan ISIS, sedangkan Peshmerga dijauhkan dari senjata ini selama tiga tahun perang melawan ISIS.”

Peshmerga menegaskan, “Meskipun ada pengkhianatan dari sebagian orang dan terjadi persekongkolan antara pemerintah Irak dan IRGC, sungguh kami akan membela rakyat Kurdistan dan tidak akan membiarkan agresi tanpa pandang bulu ini berkelanjutan… Pemerintahan Perdana Menteri Irak Haider Abadi bertanggungjawab penuh atas agresi ini, dan akan membayarnya dengan mahal.” (rayalyoum)

Abadi Perintahkan Pengibaran Bendera Irak Di Kirkuk

Perdana Menteri Irak Haider Abadi, Senin (16/10/2017), memerintahkan pengibaran bendera nasional Irak di berbagai kawasan yang dipersengketakan oleh pemerintah pusat Irak dan pemerintah otonomi Kurdistan Irak.

Biro informasi kantor perdana menteri Irak melalui akun resminya di media sosial Facebook telah memublikasikan perintah itu beberapa jam setelah pasukan federal Irak mengumumkan kekuasaannya atas provinsi Kirkuk yang dipersengketakan sesuai konstitusi Irak pasal 140.

Anggota parlemen Irak Niyazi Moammar Oglu mengatakan, “Pasukan keamanan Irak masuk ke gedung gubernur Kirkuk pada hari Senin. Saat itu sudah ada penjabat gubernur Rakan al-Jubouri di bangunan tersebut untuk menyambut pasukan.”

Puluhan penduduk provinsi Kirkuk bersuka ria atas masuknya pasukan keamanan Irak tersebut, sementara para komandan pasukan keamanan Irak berkonsentrasi di gedung gubernur dan menyiapkan pelantikan Rakan al-Jubouri sebagai gubernur baru.

Setelah dimasuki pasukan pemerintah pusat tanpa perlawanan, pasukan Kurdi, Peshmerga, akhirnya meninggalkan provinsi ini. (alsumarianews/alalam)

Raja Salman Dukung Kesatuan Irak Dan Menolak Hasil Referendum Kurdistan

Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Arab Saudi menyatakan negaranya mendukung integritas Irak dan menolak hasil referendum disintegrasi Kurdistan Irak.

Dalam kontak telefon dengan Perdana Menteri Irak Haider Abadi, Senin (16/10/2017), Salman menyatakan Riyadh mengikuti secara intensif perkembangan situasi di Kirkuk, terutama karena Irak telah berhasil mencetak kemenangan yang nyata atas kawanan teroris.

Salman menekankan bahwa Kerajaan Saudi mengharapkan terjalinnya hubungan sebaik mungkin dengan Irak dan penguatan kerjasama bilateral.

Di pihak lain, Perdana Menteri Irak Haider Abadi menyatakan berterima kasih kepada Raja Salman atas dukungannya kepada Irak.

Abadi menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah Irak dalam masalah ini sekarang ialah menyebar kembali pasukan Irak di provinsi Kirkuk melalui operasi yang cepat tanpa menimbulkan jatuhnya korban jiwa maupun luka, dan sekarang pasukan Irak sudah tersebar di sana.

Menurutnya, Kirkuk memang harus dikuasai oleh pemeritah federal sesuai konstitusi Irak.

Lebih lanjutnya dia juga memastikan bahwa Baghdad juga menginginkan hubungan seoptimal mungkin dengan Arab Saudi, dan pada pekan mendatang delegasi Irak yang terdiri atas para menteri akan berkunjung ke Saudi untuk meneken perjanjian-perjanjian yang bermaslahat bagi kedua negara.

Dini hari Senin kemarin Perdana Menteri Irak mengirim pasukannya ke Kirkuk dan berhasil menguasai provinsi ini tanpa mendapat perlawanan dari pasukan Kurdi Irak, Peshmerga. Tapi belakangan Peshmerga menunjukkan kemarahannya atas kejadian ini melalui sebuah statemen. (alalam/rt)

Tentara Suriah Melawan Serangan Udara Israel

Militer Suriah merilis statemen menyatakan pihaknya telah melawan serangan udara Israel dan berhasil menembak salah satu jet tempur rezim Zionis penjajah Palestina ini.

“Jet-jet tempur musuh, Israel, pada hari ini pukul 08.51 (waktu setempat) telah melanggar zona udara kami di perbatasan Lebanon di kawasan Baalbek, namun pasukan pertahanan udara kami menghadangnya dan menciderai salah satu jet tempur itu secara langsung dan memaksanya kabur,” bunyi statemen itu, Senin 916/10/2017).

Statemen ini juga menegaskan, “Pada pukul 11.38 Israel telah melepaskan beberapa rudal ke wilayah pendudukan dan jatuh di salah satu pos militer kami di Rif Damaskus, namun hanya menimbulkan kerugian materi.”

Statemen ini kemudian menyebutkan bahwa Israel sudah berulangkali mencoba melancarkan agresi demikian, dan tentara Suriah akan terus berjuang menumpas “kelompok-kelompok teroris yang menjadi tangan Israel  di kawasan.” (alalam)

Saran Saudi Kepada Rusia: Assad Biarlah Bertahan, Tapi Iran Harus Menyingkir

10 hari pasca kunjungan Raja Salman Bin Abdulaziz ke Moskow dan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sumber yang dekat dengan Kedubes Rusia untuk Suriah di Damaskus telah mengungkap sebagian isi pembicaraan Salman dengan Putin.

Al-Quds al-Arabi yang berbasis di London, Inggris, mengutip keterangan sumber-sumber itu melaporkan bahwa sekarang yang dipersoalkan Raja Salman bukanlah kebertahanan Bashar Assad sebaga presiden Suriah, baik pada masa transisi maupun setelahnya, melainkan eratnya hubungan antara Damaskus dan Teheran.

Menurut sumber itu, Raja Salman bahkan siap memberikan bantuan politik untuk kebertahanan Assad asalkan Moskow bersedia berusaha sedapat mungkin mengurangi taraf hubungan Damaskus dengan Teheran. Namun Moskow bersikap netral dalam hubungan Suriah-Iran ini, dan bahkan mengaku tidak mungkin bisa menjauhkan Assad dari Iran.

“Rusia tidak bisa memaksa Assad menjauh dari Iran, dan tidak mungkin pula bisa melakukan tekanan untuk mengurangi hubungan Damaskus dengan Teheran,” ungkap sumber itu menirukan pernyatan Putin. (fna)