Rangkuman Berita Timteng Selasa 16 Oktober 2018

jamal Khashoggi 3Jakarta, ICMES: Seorang pejabat keamanan Turki menyatakan bahwa otoritas negara ini sudah mengantongi rekaman audio yang memperkuat dugaan bahwa Khashoggi memang dibunuh di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkomentar bahwa “pembunuh nakal” bisa jadi adaa di balik hilangnya jurnalis dan kritikus Arab Saudi Jamal Khashoggi di Turki.

Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan bahwa negaranya dan Irak sama-sama telah mencetak kemenangan dalam perang melawan terorisme yang disponsori oleh negara-negara arogan dunia dan para sekutunya di Timteng.

Tentara Zionis Israel kembali menebar kekerasan dan melukai puluhan warga Palestina yang berunjuk rasa damai di sepanjang pantai utara Jalur Gaza untuk menuntut pencabutan blokade Israel yang sudah berlangsung satu dekade terhadap kawasan ini.

Berita selengkapnya:

Turki Punya Rekaman Kematian Khasshoggi

Pemerintah Arab Saudi tampak semakin tersudut oleh perkembangan isu hilangnya jurnalis dan kritikus ternama Saudi Jamal Khashoggi di Turki. Seorang pejabat keamanan Turki menyatakan bahwa otoritas negara ini sudah mengantongi rekaman audio yang memperkuat dugaan bahwa Khashoggi memang dibunuh di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul.

“Polisi Turki memiliki rekaman suara yang menunjukkan bahwa Khashoggi dibunuh di konsulat Saudi,” ungkap sumber keamanan Turki itu kepada Reuters, Senin (15/10/2018), tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Pemerintah Saudi membantah dugaan Khashoggi terbunuh di konsulatnya sembari mengklaim bahwa dia meninggalkan gedung ini tak lama setelah memasukinya. Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir menyebut dusta anggapan bahwa kerajaan ini telah membunuh Khashoggi.

Sumber diplomatik menyebutkan bahwa otoritas Turki pada hari itu telah memeriksa konsulat Saudi untuk mengusut kasus hilangnya Khashoggi setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

Sumber itu menambahkan bahwa pemeriksaan dilakukan pada Senin sore waktu setempat, namun dilakukan oleh kelompok kerja Turki-Saudi.

Media Turki menyebutkan bahwa pemeriksaan sedemikian rupa sebenarnya sudah diperkenankan sejak pekan lalu, namun tertunda akibat adanya perselisihan mengenai mekanisme pelaksanaannya.

Ahad lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan kontak telefon dengan Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi. Keduanya membahas kasus tersebut serta menekankan keharusan pembentukan kelompok kerja bersama untuk mengungkap misteri hilangnya Khashoggi. (raialyoum)

Trump: Bisa Jadi Ada “Pembunuh Nakal” Di Balik Hilannya Khashoggi Di Turki

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkomentar bahwa “pembunuh nakal” bisa jadi adaa di balik hilangnya jurnalis dan kritikus Arab Saudi Jamal Khashoggi di Turki.

Berbicara kepada wartawan usai kontak telefon dengan Salman bin Abdulaziz, Senin (15/10/2018), Trump  mengatakan bahwa raja Arab Saudi itu membantah keras bahwa dia mengetahui apa yang telah terjadi pada Khashoggi.

Trump menggambarkan penolakan Raja Salman sebagai “sangat, sangat kuat”.

“Kedengarannya bagi saya ini mungkin bisa menjadi pembunuh nakal… Siapa tahu?” tambahnya tanpa memberikan alasan untuk mendukung komentarnya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dijadwalkan ke bertolak  Arab Saudi untuk membicarakan masalah yang sama.

Para pejabat Turki percaya bahwa Khashoggi dibunuh di konsulat oleh agen Saudi pada sekira dua minggu lalu tetapi Riyadh membantahnya.

Kasus ini mengusik hubungan Arab Saudi dengan sekutu Barat terdekatnya.

Satu sumber keamanan Turki mengatakan kepada BBC bahwa para pejabat negara ini memiliki bukti audio dan video yang membuktikan bahwa Khashoggi dibunuh di dalam gedung.

Sabtu lalu Trump mengancam Arab Saudi dengan “hukuman berat” jika terbukti Khashoggi tewas di dalam konsulat tersebut, tetapi mengesampingkan kontrak militer besar dengan Riyadh.

Khashoggi terakhir terlihat berjalan ke konsulat pada 2 Oktober.

Terdapat laporan bahwa telah terjadi serangan dan perlawanan di konsulat yang didatangi Khashoggi untuk mengurus dokumen pernikahannya yang akan datang.

Sumber-sumber Turki menuduh bahwa dia dihabisi  oleh 15 tim kuat dari agen Saudi, tetapi Riyadh bersikeras bahwa dia meninggalkan konsulat tanpa cedera. (bbc)

Dikunjungi Menlu Irank, Assad Nyatakan Suriah Dan Irak Sama-Sama Menang Atas Teroris

Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan bahwa negaranya dan Irak sama-sama telah mencetak kemenangan dalam perang melawan terorisme yang disponsori oleh negara-negara arogan dunia dan para sekutunya di Timteng.

“Kemenangan atas teroris di Suriah dan Irak adalah kemenangan bersama, karena medannya di dua negara ini satu medan dan di situ berbaur darah para pejuang yang telah mencetak kemenangan di dua negara ini,” ujar Assad ketika dikunjungi Menteri Luar Negeri Irak Ibrahim al-Jaafari.

Assad menilai berbagai upaya sudah dilakukan oleh pihak-pihak asing untuk mencegah perkembangan hubungan bilateral Suriah-Irak, namun koordinasi antara keduanya tetap terjalin di berbagai level dan memiliki persepsi yang sama terkait dengan apa yang terjadi di kawasan regional dan bahkan global.

Di pihak lain, al-Jaafari mengatakan, “Situasi regional dan global mengalami perkembangan positif terkait dengan apa yang terjadi di Suriah dan Irak. Sebabnya ialah keabsahan perkara yang dibela oleh kedua bangsa yang bersaudara ini, dan hal ini menuntut kerja keras lagi untuk mencetak kemenangan lebih lanjut serta untuk menguatkan akar kebangkitan kedua negara serta kawasan secara umum.”

Keduanya telah membahas kesepakatan untuk optimalisasi upaya pembukaan pintu perbatasan Suriah-Irak agar dengan sendirinya dapat memperluas cakrawala kerjasama bilateral.

Sebelumnya di hari yang sama Menteri Luar Negeri Suriah Walid Mualem dalam jumpa pers dengan al-Jaafari menyatakan Suriah mendukung kesepakatan Rusia-Turki untuk menghindari pertumpahan darah di Idlib, namun jika perjanjian ini tidak dipatuhi maka Pasukan Arab Suriah yang masih bertahan di sekeliling provinsi Idlib siap untuk bergerak.

“Dukungan kami kepada perjanjian Rusia-Turki adalah karena kuatnya harapan kami agar tidak terjadi pertumpahan darah. Tapi kita tak boleh membiarkan situasi seperti sekarang berkelanjutan di Idlib jika Jabhat al-Nusra enggan mematuhi perjanjian ini,” tegas Muallem.

Dia menambahkan, “Jabhat al-Nusra alias Hayat Tahrir al-Sham yang tercantum dalam daftar teroris PBB harus dibasmi jika menolak patuh. Kami berkata demikian karena memang ada warga sipil Suriah yang tak berdosa di Idlib, dan kami menilai pembebasan Idlib melalui jalan damai jauh lebih baik daripada pertumpahan darah.”

Seperti pernah diberitakan, ultimatum yang telah ditetapkan dalam perjanjian Rusia-Turki terhadap kelompok-kelompok teroris agar meninggalkan zona demiliterisasi di Idlib telah berakhir Ahad malam lalu (14/10/2018), namun tak satupun di antara mereka keluar dari zona ini. (raialyoum)

Tentara Israel Lukai Puluhan Warga Palestina Di Pantai Jalur Gaza

Tentara Zionis Israel kembali menebar kekerasan dan melukai puluhan warga Palestina yang berunjuk rasa damai di sepanjang pantai utara Jalur Gaza untuk menuntut pencabutan blokade Israel yang sudah berlangsung satu dekade terhadap kawasan ini, Senin (15/10/2018).

Saat itu ratusan massa Palestina berkonsentrasi di daerah  tersebut, sementara puluhan orang lainnya berpartisipasi dengan berperahu yang berangkat dari pelabuhan Gaza guna melawan blokade, tapi angkatan laut Israel meresponnya dengan menembakkan peluru dan gas air mata pada kedua kelompok massa tersebut.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza dalam statemen singkatnya menyatakan sedikitnya 60 orang terluka, 24 di antaranya terkena peluru tajam, dalam serangan di dekat perbatasan maritim Gaza-Israel tersebut.

Laporan lain menyebutkan bahwa kapal-kapal militer Israel kemudian menembaki ambulan dan petugas medis yang datang untuk mengevakuasi para korban luka.

Demonstrasi pada hari Senin merupakan pawai laut ke-12 yang diikuti oleh 25 kapal nelayan guna melawan blokade Israel. (presstv)