Rangkuman Berita Timteng, Selasa 16 Mei 2017

damaskus ledakanJakarta, ICMES: Tentara Suriah terus mengembangkan sayap kekuasaannya atas semua lingkungan di sekitar Damaskus, dan ini tercatat sebagai pertama kalinya selama perang yang sudah berjalan enam tahun dan telah menghancurkan banyak kawasan sekitar ibu kota Suriah tersebut..

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Massoud Jazayeri menyatakan data-data yang dimiliki Amerika Serikat (AS) mengenai kekuatan materi maupun spirit militer Iran masih “sangat terbatas”.

Surat kabar al-Seyassah terbitan Kuwait melaporkan telah terjadi pertemuan rahasia di Washington, AS, pada tanggal 4-5 Mei lalu mengenai mekanisme penumpasan kelompok pejuang Islam Lebanon, Hizbullah.

Sekjen faksi pejuang Jihad Islam Palestina Ramadan Shalah menegaskan pihaknya tidak akan pernah meletakkan senjata dalam perjuangan melawan Rezim Zionis Isael.

Berita selengkapnya;

 

Pemberontak Kalah, Tentara Suriah Hampir Kuasai Semua Lingkungan Damaskus

Tentara Suriah terus mengembangkan sayap kekuasaannya atas semua lingkungan di sekitar Damaskus, dan ini tercatat sebagai pertama kalinya selama perang yang sudah berjalan enam tahun dan telah menghancurkan banyak kawasan sekitar ibu kota Suriah tersebut..

Dalam beberapa hari terakhir ini kelompok-kelompok pemberontak Suriah terdesak dan menderita kekalahan beruntun di medan laga, terutama setelah banyak kombatan mereka yang menyerah dan direlokasi dari lingkungan Barzah, al-Qaboun, dan Tishrin, yaitu tiga lokasi yang menjadi tempat pertama kali merebaknya aksi protes anti pemerintah Suriah pada tahun 2011, dan menjadi sarang utama gerakan pemberontakan pada tahun 2012.

Direktur Eksekutif Observatorium HAM untuk Suriah Rami Abdulrahman, Senin (15/5/2017), mengatakan kepada AFP, “Dengan menguasai tiga lingkungan ini pemerintah nyaris menguasai ibu kota sepenuhnya. Di Damaskus timur sudah tak tersisa lagi faksi-faksi (pemberontak)  kecuali di sebagian lingkungan Jobar yang sebagian besarnya sudah hancur.”

Di selatan Damaskus masih bercokol sejumlah kelompok pemberontak di lingkungan al-Tadhamoun dan kamp pengungsi Palestina Yarmouk yang sebagian di antaranya dikuasai oleh kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Pakar Timteng dari Perancis, Fabrice Balanche, mengatakan, “Keberhasilan pemerintah merebut kembali Aleppo ketika juga masih dalam proses menguasai Damaskus secara total menandakan bahwa faksi-faksi oposisi sudah tidak lagi menjadi alternatif politik maupun militer….. Pemerintah sama sekali tidak terancam sehingga tidak perlu memberikan konsesi apapun.”

Pada 15 Juli 2012 ribuan pemberontak bersenjata berhasil menguasai sejumlah lingkungan Damaskus dalam operasi mereka yang bersandi “Gunung Berapi Damaskus.” Tapi dalam dua minggu terakhir pasukan pemerintah berhasil merebut kembali lingkungan-lingkungan tersebut.

Sejak Suriah dilanda perang pada Maret 2011 Damaskus relatif terlindung dari pertempuran. Kalaupun terjadi kontak senjata di sana kerusakan yang ditimbukannya sama sekali tak dapat dibandingkan dengan tingkat kerusakan di kota-kota besar lain yang dilanda perang, termasuk Aleppo di bagian utara dan Homs di bagian tengah negara ini. (rayalyoum)

Jazayeri: AS Gentar Meski Baru Tahu Sedikit Kekuatan Militer Iran

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Massoud Jazayeri menyatakan data-data yang dimiliki Amerika Serikat (AS) mengenai kekuatan materi maupun spirit militer Iran masih “sangat terbatas”.

“Dari sekumpulan berita dan informasi yang dipublikasi dan diajukan oleh para tokoh berpengaruh di AS mengenai daya pertahanan Republik Islam Iran dapat disimpulkan bahwa badan-badan militer dan intelijen AS tak mampu menjangkau kedalalaman sektor pertahanan Iran,” katanya, Senin (15/5/2017).

Dia menambahkan, “Tentu harus diakui bahwa sebagian kekuatan pertahanan kami hingga batas tertentu terungkap bagi kekuatan asing dan musuh, terutama AS, sehingga menimbulkan ketakutan pada musuh dan membuat mereka tak berani melancarkan agresi apapun terhadap Iran.”

Menurut Jazayeri, kekuatan Iran dewasa ini terkonsentrasi pada pencegahan di level yang akan membuat musuh “hancur dan menyerah.” Dan dukungan besar rakyat kepada angkatan bersenjata menjadi faktor kunci besarnya kekuatan militer Iran yang tak dimengerti oleh musuh.

Pada April lalu Presiden AS Donald Trump menuding Iran tidak menghormati “spirit” kesepakatan nuklirnya.

Pada Juli 2015 telah dijalin kesepakatan Teheran dengan negara-negara P5+1 (lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman) mengenai program nuklir Iran. Kesepakatan ini memperkenankan iran menjalankan program nuklir untuk tujuan damai dan bukan untuk membuat senjata nuklir. (irna)

AS Dan Arab Teluk Adakan Perundingan Rahasia Untuk Ganyang Hizbullah

Surat kabar al-Seyassah terbitan Kuwait melaporkan telah terjadi pertemuan rahasia di Washington, AS, pada tanggal 4-5 Mei lalu mengenai mekanisme penumpasan kelompok pejuang Islam Lebanon, Hizbullah.

Disebutkan bahwa pertemuan tertutup itu dihadiri oleh sejumlah negara Eropa dan benua Amerika Selatan serta negara-negara Arab Teluk Persia, terutama Arab Saudi, Kuwait, Bahrain dan Qatar, dan pembicaraan mereka terfokus pada rencana bersama untuk menghadapi Hizbullah beserta aktivitas perdagangan dan keuangannya.

Mereka mendiskusikan berbagai cara untuk menekan Hizbullah termasuk embargo ekonomi terhadap para anggotanya, pengawasan terhadap para simpatisan dan orang-orang yang dekat dengan gerakan resistensi ini di negara-negara dunia. Mereka juga membicarakan apa yang mereka sebut ancaman Hizbullah terhadap lembaga-lembaga sipil dan keuangan Lebanon.

Mereka kemudian bersepakat menempuh tindakan dan membuat ketetapan mengenai lembaga-lembaga yang dekat dengan Hizbullah di luar negeri, termasuk Afrika dan Eropa, serta pihak-pihak yang mendonasi Hizbullah. Mereka juga bermufakat untk mengawasi semua transfer dana yang terkait dengan para pebisnis dan relawan Lebanon di luar negeri.

Negara-negara peserta pertemuan itu juga menekankan keharusan menghadapi aktivitas Hizbullah, menetapkan undang-undang baru yang ketat bagi bank-bank Lebanon, dan menerapkan sanksi terhadap bank atau lembaga yang memberikan kemudahan atau layanan bagi Hizbullah di dalam maupun di luar negeri.

Langkah-langkah tersebut diambil menyusul semakin membesarnya kekuatan dan peranan Hizbullah di Lebanon dan Suriah, terutama sejak kelompok ini terlibat dalam perang Suriah. (rayalyoum)

Jihad Islam Palestina Tegaskan Pantang Letakkan Senjata

Sekjen faksi pejuang Jihad Islam Palestina Ramadan Shalah menegaskan pihaknya tidak akan pernah meletakkan senjata dalam perjuangan melawan Rezim Zionis Isael.

“Kami tidak akan pernah mengakui eksistensi Israel di setitikpun tanah Palestina,” tegasnya dalam peringatan ke-69 tahun Hari Nakba di Jalur Gaza, Senin (15/5/2017).

Menyinggung aksi mogok makan yang dilakukan oleh para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel dia mengingatkan bahwa semua opsi tersedia bagi faksi Jihad Islam untuk melawan Israel.

“Musuh masih terus menggunakan otot dan mengganggu, jika ini mencelakakan para tahanan Palestina maka kami tidak akan diam berpangku tangan. Kami tidak akan membiarkan para tahanan menjadi mangsa pembangkangan dan kebencian rezim rasis Zionis. Kami memiliki opsi tak terbatas untuk resistensi, dan ini sudah cukup,” tegasnya.

Dia mengingatkan bahwa Jihad Islam tidak akan pernah mengakui eksistensi Rezim Zionis di bumi Palestina.

“Di Jihad Islam kami akan terus menindak lanjuti opsi pembebasan seluruh wilayah Palestina, tidak akan pernah meletakkan senjata, dan tidak akan mengakui kaum Zionis pada setitikpun tanah Palestina… Mengakui Israel tak ubahnya dengan memusnahkan Palestina dan pemilik asalnya, padahal siapun tidak bisa memusnahkan dan menghapus Palestina,” tandasnya.

Hal senada sebelumnya juga ditegaskan oleh anggota Biro Politik Gerakan Resistensi Islam (Hamas), Mohammad al-Zahar. Dia memastikan Hamas tidak akan pernah mundur dari prinsip-prinsipnya, dan akan terus berjuang untuk membebaskan tanah air Palestina.

“Kami tak akan mundur dari satupun di antara prinsip-prinsip kami. Kami akan terus berjuang membela hak rakyat Palestina, baik yang Muslim maupun yang Kristen…. Kami tidak akan mundur dari tanah air dan kesucian kami barang sejengkal,” ungkapnya.

Hari Nakba merupakan momen peringatan peristiwa pertama kali terjadi pendudukan Palestina dan pengungsian ratusan ribu orang Palestina oleh Rezim Zionis Israel pada tanggal 15 Mei 1948. Dampak tragedi  ini sampai sekarang masih mendera lebih dari 12 juta orang Palestina yang tersebar di pelbagai penjuru dunia.

Tanggal 15 Mei juga merupakan peringatan ke-50 tahun pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza oleh kaum Zionis Israel. (irna)