Rangkuman Berita Timteng Selasa 13 Maret 2018

nikki haleyJakarta, ICMES: Amerika Serikat mengancam akan menempuh tindakan sepihak jika Dewan Keamanan PBB gagal bertindak terhadap Suriah.

Pusat rekonsiliasi Rusia untuk Suriah menyatakan sebanyak 76 warga sipil telah dievakuasi dari Ghouta Timur, provinsi Damaskus, melalui jalur khusus kemanusiaan

Pakar Israel Smadar Perry menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkemungkinan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar mendesak Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman supaya menerima kunjungan Netanyahu secara terbuka ke Saudi.

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Laksamana Ali Shamkhani menyatakan bahwa serangan kelompok ekstrem terhadap Kedubes Iran untuk Inggris di London merupakan satu bentuk persembahan Inggris kepada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman.

Selengkapnya:

AS Ancam Lakukan Tindakan Sepihak Terhadap Suriah

Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan arogansinya di depan khalayak internasional terkait dengan kemelut Suriah.  Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB Nikki Haley melontarkan ancaman dengan mengatakan bahwa  jika Dewan Keamanan PBB gagal bertindak terhadap Suriah maka Washington siap “bertindak jika kita harus.”

Tindakan AS yang dia maksud itu mengacu pada serangan rudal AS tahun lalu terhadap sebuah pangkalan udara Suriah setelah AS menuduh tentara Suriah menggunakan senjata kimia.

Haley melontarkan pernyataan demikian, Senin (12/3/2018), saat mengungkapkan dukungannya  kepada draf resolusi yang menuntut penerapan gencatan senjata selama 30 hari di Damaskus dan Ghouta bagian timur, di mana pasukan Suriah menggempur kelompok- kelompok teroris yang kerap menyerang Damaskus.

“Bukanlah jalan yang kami sukai, tapi kami akan menempuh jalan yang pernah kami tunjukkan ini, dan kami siap untuk menempuhnya lagi … Bila masyarakat internasional secara konsisten gagal bertindak maka saat itulah berbagai negara terpaksa menempuh tindakan sendiri, “kata Haley kepada 15 anggota Dewan Keamanan, sembari memastikan bahwa resolusi gencatan senjata yang diputuskan oleh Dewan Keamanan dua minggu lalu” telah gagal. ”

Resolusi PBB 2401 terkait masalah ini telah disahkan dengan suara bulat oleh Dewan Keamanan pada 24 Februari lalu. Resolusi ini mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik Suriah menghentikan kontak senjata dan mematuhi jeda kemanusiaan di Suriah demi menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan, termasuk evakuasi korban luka.

Sekjen PBB Antonio Guterres , Senin, menyayang kondisi resolusi itu.

“Perang tak berhenti…  Kekerasan terus berlanjut di Ghouta timur dan seterusnya – termasuk di Afrin di Idlib hingga Damaskus dan sekitarnya … Pengepungan tidak teratasi… Sepengetahuan kami, tidak ada satupun orang yang sakit parah atau terluka yang telah dievakuasi,” ungkapnya.

Rusia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak dapat dipaksakan oleh Dewan Keamanan tanpa kesepakatan dengan pihak-pihak yang bertikai, sementara Damaskus berpendapat bahwa seruan gencatan senjata bertendensi melindungi kawanan teroris di Ghouta timur.

Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia mengingatkan bahwa pemerintah Suriah berhak untuk berusaha mengatasi ancaman kawanan bersenjata terhadap keamanan warganya  karena Ghouta Timur yang dikuasai militan merupakan ” sarang terorisme. ” (presstv)

76 Warga Sipil Keluar Dari Ghouta Timur

Pusat rekonsiliasi Rusia untuk Suriah menyatakan sebanyak 76 warga sipil telah dievakuasi dari Ghouta Timur, provinsi Damaskus, melalui jalur khusus kemanusiaan, Senin (12/3/2018).

Kepala pusat yang bernaung di bawah Kemhan Rusia dan berkedudukan di Pangkalan Hmeimem, provinsi Latakia, Suriah, tersebut, Mayjen Yuri Yevtushenko, menjelaskan bahwa 76 orang yang terdiri atas 17 kepala keluarga dan 49 di antaranya anak kecil telah dievakuasi ke pusat penampungan sementara al-Dowair dekat jalur al-Wafideen.

Pusat rekonsiliasi Rusia untuk Suriah juga menyebutkan bahwa kawanan bersenjata melarang warga sipil meninggalkan kawasan Ghouta Timur sehingga menambahkemarahan pendudukan dan mendorong mereka keluar ke jalanan untuk menandai aksi protes terhadap pemasungan atas hak mereka.

Penduduk Kfar Batna kembali menggelar unjuk rasa, Senin, mengecam kawanan bersenjata dan mendukung tentara Suriah. Sebanyak lebih dari 3000 massa menuntut kawanan bersenjata keluar dari Kfar  Batna dan tidak mengganggu orang yang mengakses jalur Jasreen – Mleiha.

“Namun, ketika penduduk hendak mendatangi jalur itu kawanan bersenjata melepaskan tembakan ke arah mereka hingga menewaskan lima orang, berdasarkan informasi yang ada, dan jalur itu masih lumpuh,” lanjut Yevtushenko.

Dia menjelaskan bahwa kondisi di Ghouta Timur sangat genting, dan kawanan bersenjata telah menembakkan 30 mortir ke Damaskus, ibu kota Suriah, dan sekitarnya selama hari Minggu lalu hingga menewaskan tiga warga sipil dan melukai 22 lainnya.

Meski demikian pusat rekonsiliasi tersebut mencatat adanya penurunan intensitas pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dalam beberapa hari terakhir di provinsi Idlib, Latakia, dan Daraa. (rt)

Netanyahu Minta Trump Tekan Bin Salman Setujui Kunjungan ke Riyadh

Mungkinkah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mengadakan kunjungan secara terbuka ke Arab Saudi? Pakar dari Israel Smadar Perry di koran Yedioth Ahronoth milik negara ilegal Zionis ini, Senin (12/3/2018), menjawab pertanyaan ini saat membahas krisis Saudi-Qatar.

Perry adalah sosok yang dikenal dekat dengan para pembuat keputusan di Tel Aviv, terutama para pejabat yang menangani hubungan dengan negara-negara yang dalam kamus politik Israel disebut “ Arab Sunni moderat.”

Dia menyebutkan bahwa Netanyahu kali ini bisa jadi akan membujuk Presiden AS supaya menekan Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (MbS) agar menyetujui kunjungan Netanyahu secara terbuka ke Riyadh meskipun kedua pihak tidak menjalin perjanjian damai.

Menurut Perry, MbS kebetulan juga berharap Netanyahu tetap bertahan pada kedudukannya sebagai perdana menteri Israel dan dapat mengatasi dugaan-dugaan korupsi yang membelit diriya. Namun, seandainya Netanyahu tak dapat bertahan maka penggantinyalah yang akan berkepentingan untuk berkunjung ke Saudi.

Perry menyebutkan bahwa kisah asmara Saudi-Israel bermula ketika keduanya sama-sama merasa bahwa Iran adalah musuh besar serta cemas terhadap apa yang mereka sebuah “ekspansi Syiah” di kawasan Timteng.  (rayalyoum)

“Serangan Ke Kedubes Iran, Persembahan Inggris Kepada Putra Mahkota Saudi”

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Laksamana Ali Shamkhani menyatakan bahwa serangan kelompok ekstrem terhadap Kedubes Iran untuk Inggris di London merupakan satu bentuk persembahan Inggris kepada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (Mbs) karena dia telah belanja senjata senilai miliaran USD dari Inggris.

Di sela kunjungan ke Universitas Teknologi Sharif, Teheran, Senin 912/3//2018, Shamkhani kepada wartawan menjelaskan bahwa polisi dan otoritas Inggris terlihat pasif dalam kasus serangan yang terjadi pekan lalu itu karena pemerintah Inggris memang sudah merencanakan “permainan ping pong” ini ketika MbS berkunjung ke London.

Dia memastikan bahwa kasus ini merupakan layanan pemerintah Inggris kepada MbS karena telah memborong senjata senilai miliaran USD secara “memalukan.”

Menanggapi pernyataan miring MbS mengenai Iran dan Poros Resistensi, dia mengatakan, “Dalam logika  dan kesusasteraan politik di kawasan kita, Rezim Zionis dan Amerika Serikat (AS) yang telah memerangi Irak dan Afghanistan adalah penjahat penebar terorisme di kawasan…. Presiden AS sebelumnya (Barack Obama) berusaha menghapus kata ‘penjahat’ yang melekat pada Rezim Zionis dan menghidupkan terorisme di kawasan.”

Menurutnya, MbS berkelit dari tanggungjawabnya atas berbagai persoalan regional dan kemudian mengkambing hitamkan Iran.

“Kesalahan ini bersumber pada kebodohan dan minimnya akal,” imbuhnya.

Shamkhani menyayangkan pemerintah Saudi karena selama kehidupan politiknya gigih menggerakkan dan menghidupan kelompok-kelompok takfiri dan menciptakan “garis-garis darah” di dunia Islam.

Jumat pekan lalu Kemlu Iran menyatakan bahwa sejumlah orang telah memanjat dinding Kedubes Iran di London kemudian menurunkan bendera Iran, sementara polisi Inggris tidak melakukan tindakan apapun untuk melindungi kompleks tersebut selama aksi itu berlangsung.

Mereka kemudian ditangkap oleh aparat keamanan Inggris, dan pemerintah Iran mendesak supaya mereka diproses secara hukum.

Para pelaku berasal dari jamaah ekstremis Syiah Sadeq Shirazi. Mereka beraksi bukan hanya dengan mengutuk pemerintah Iran, melainkan juga menghujat Khulafa Rasyidin dan istri Rasulullah SAW, Sayyidah Aisyah RA.

Mereka menentang persatuan Islam sehingga memusuhi pemerintahan Iran, terutama figur Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang memperjuangkan persatuan Islam. (alalam)