Rangkuman Berita Timteng,  Selasa 13 Juni 2017

qasem soleimani di perbatasan suriah-irakJakarta, ICMES: Pasukan Divisi Fatemiyoun (DF) yang menyertai Pasukan Arab Suriah (SAA) dalam operasi militer di kawasan Badiyah Suriah telah mencapai perbatasan Suriah – Irak bersama jenderal tersohor Iran Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang bernaung di bawah Korps Garda Revolusi Islam Iran .

Aktivis Arab Saudi pengguna akun Twitter tersohor “@mujtahidd” menebar informasi heboh mengenai politisasi agama oleh Wakil Putera Mahkota Saudi Pangeran Mohammed Bin Salman bersama sekutunya Putera Mohkota Abu Dhabi Mohammed Bin Zayed dalam konflik dengan Qatar.

Jurnalis Qatar Mohammed al-Marzouqi melontarkan kecaman pedas terhadap negara-negara yang memboikot Qatar, terutama Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash yang sebelumnya telah menyatakan bahwa apa yang dilakukan Saudi dan sekutunya, termasuk UEA, terhadap Qatar bukanlah “blokade” melainkan sekedar “boikot”.

Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Mahmoud al-Zahar memastikan faksi pejuang ini tidak akan melemah, dan resistensi (muqawamah) tidak akan berhenti meskipun Hamas dituding sebagai teroris.

Berita selengkapnya;

Heboh, Foto Jenderal Soleimani Bersama Pasukan Divisi Fatemiyoun Di Perbatasan Suriah-Iran

Pasukan Divisi Fatemiyoun (DF) yang menyertai Pasukan Arab Suriah (SAA) dalam operasi militer di kawasan Badiyah Suriah telah mencapai perbatasan Suriah – Irak bersama jenderal tersohor Iran Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang bernaung di bawah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Senin (12/6/2017).

Kantor berita Tasnim milik Iran melaporkan bahwa DF yang terdiri atas milisi dari Afghanistan mulai bergerak menuju perbatasan Suriah-Irak setelah melanjutkan operasi militernya yang dimulai bulan lalu bersama tentara Suriah dan pasukan-pasukan resistensi (muqawamah) lainnya.

Divisi Fatemiyoun, SAA dan sekutunya telah mencapai perbatasan itu sejak dua hari sebelumnya. Mereka berhasil menerjang “garis-garis Amerika” yang sempat diterapkan melalui serangan udara.

Suriah dan Iran memiliki perbatasan bersama sepanjang lebih dari 600 kilometer. Perbatasan ini semula dikuasai oleh ISIS sebelum dimulainya operasi pembebasan kota Mosul yang berjarak lebih dari 400 kilometer dari kawasan perbatasan berupa gurun sahara tersebut.

Keberhasilan pasukan Suriah dan Irak mencapai perbatasan merupakan kekalahan telak bagi kawanan teroris takfiri ISIS yang secara diam-diam didukung oleh AS, dan dengan demikian jalur logistik ISIS di antara kedua negara akan segera terputus total.

Sementara itu, sedikitnya 60 teroris ISIS tewas dan puluhan lainnya luka-luka diterjang operasi militer SAA yang berlanjut di kota Deir Ezzor, Suriah timur, Senin.  Dalam peristiwa ini beberapa mobil bersenapan otomatis milik ISIS juga hancur. (alalam/sana)

Aktivis Saudi Ungkap Kisruh Di Balik Pernyataan Anti Emir Qatar

Aktivis Arab Saudi pengguna akun Twitter tersohor “@mujtahidd” menebar informasi heboh mengenai politisasi agama oleh Wakil Putera Mahkota Saudi Pangeran Mohammed Bin Salman bersama sekutunya Putera Mohkota Abu Dhabi Mohammed Bin Zayed dalam konflik dengan Qatar.

Melalui akun itu aktivis yang diduga sebagai salah satu emir Saudi yang beroposisi tersebut mengaku telah mendapatkan informasi dari sumber-sumbernya sendiri “bahwa sejumlah orang dari keluarga al-Sheikh, termasuk satu anggota Majelis Syura, di antara orang-orang yang menolak menandatangani pernyataan anti al-Thani telah dipenjara di ‘peristirahatan’ untuk dipaksa membubuhkan tandatangan.”

Aktivis yang memiliki jutaan follower dan kerap memberikan bocoran informasi yang umumnya dipercaya ini memastikan bahwa Bin Salman gagal memaksa mereka meneken pernyataan itu sehingga mereka lantas dibebaskan untuk kemudian dicapai jalan tengah di mana mereka meneken perjanjian untuk tidak membuat pernyataan di medsos mengenai pendapat mereka.

Mujtahidd menduga bahwa setelah dia menyiarkan bocoran ini anggota Majelis Syura itu akan mendapat tekanan supaya menepis bocoran ini, atau setidaknya akan ada media massa yang membuat keterangan yang mencatut namanya lalu dia dilarang membuat bantahan.

Beberapa waktu lalu para tokoh marga al-Sheikh di Saudi membuat pernyatan kontroversial yang menepis keterhubungan silsilah Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad al-Thani dengan pendiri Wahabisme, Mohammad Bin Abdul Wahhab. (watan)

Ini Tanggapan Pedas Jurnalis Qatar Terhadap Pernyataan Menlu Uni Emirat Arab

Jurnalis Qatar Mohammed al-Marzouqi melontarkan kecaman pedas terhadap negara-negara yang memboikot Qatar, terutama Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash yang sebelumnya telah menyatakan bahwa apa yang dilakukan Saudi dan sekutunya, termasuk UEA, terhadap Qatar bukanlah “blokade” melainkan sekedar “boikot”.

Al-Marzouqi menilai Gargash hanya berkelit karena seandainya mereka memang dapat “mencekik” Qatar niscaya mereka sudah melakukannya tanpa segan dan ragu lagi.

“Anda telah gagal, dan upaya Anda gagal,” cuitnya di Twitter, Senin (12/6/2017).

Ditujukan kepada Qarqash dia menyebutkan, “Seandainya Anda dapat menutup pelabuhan dan udara serta mencekik bangsa (Qatar) ini niscaya Anda tidak akan ragu melakukannya. Itulah impian Anda tapi gagal, dan sepak terjang Anda gagal. Sejarah Qatar mencatatnya tanggal 10 Ramadhan.”

Dia menambahkan bahwa pada 10 Ramadhan telah tercatat aksi pengkhianatan dan blokade yang menjadi metode UEA bersama negara-negara dan para pemimpin yang telah membuat keputusan ini.

“Bukan untuk membangkit kebencian kepada generasi demi generasi, melainkan supaya mereka mengetahui kehinaaan tingkah Anda. Manhaj 10 Ramadhan mengandung lembaran hitam dengan hitamnya nama-nama orang yang terlibat dalam pengkhianatan, dan berpartisipasi dalam mobilisasi negara-negara lain dengan kedustaan, penipuan, dan kebejatan Anda dalam kebencian,” imbuhnya.

Di bagian akhirnya dia menyebutkan bahwa pada tanggal 10 Ramadhan juga terdapat “prasasti kehormatan bagi para tokoh dan berbagai lembaga serta negara saudara kandung dan sahabat, dan kami akan membuatkan kenangan bagi generasi demi generasi tentang keberpihakan mereka bersama kami dalam melawan pengkhianatan.” (alalam)

Hamas Tegaskan Tidak Akan Melemah Mesti Dianggap Teroris

Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Mahmoud al-Zahar memastikan faksi pejuang ini tidak akan melemah, dan resistensi (muqawamah) tidak akan berhenti meskipun Hamas dituding sebagai teroris.

“Arah poros Hamas dalam muqamawah terhadap rezim pendudukan tidak akan berubah. Siapapun tak dapat menghentikan atau melarang perlawanan terhadap rezim pendudukan,” tegasnya, Senin (12/6/2017).

Dia juga menegaskan bahwa ketangguhan resistensi Palestina terletak pada dukungan bangsa-bangsa Arab.

Rabu pekan lalu Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash mengecam Qatar dan menyebutnya sebagai pendukung kelompok-kelompok teroris di Timteng. Kecaman ini secara tidak langsung mengacu pada keberadaan para petinggi Hamas di Doha, ibu kota Qatar, dan dukungan pemerintah Qatar kepada mereka. (fna)