Rangkuman Berita Timteng Selasa 1 Mei 2018

khameneiJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak mau menanggung resiko berkonfrontasi dengan Iran sehingga melimpahkannya kepada sebagian negara lain di Timteng.

Pemerintah Iran menyebut pernyatan terbaru mengenai program nuklir Iran sebagai dagelan kekanakan dan konyol.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas kembali menegaskan penolakannya terhadap prakarsa “Deal of The Century” yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dan menilainya sebagai usulan yang justru menghentikan proses perdamaian Palestina-Israel.

Sebanyak lima unit bus telah mengangkut sekira 200 kawanan teroris beserta keluarga mereka dari kamp pengungsi Palestina Yarmouk di selatan Damaskus, ibu kota Suriah, dalam rangka penerapan tahap pertama perjanjian pengeluaran kawanan bersenjata dari Yarmouk.

Berita selengkapnya;

Ayatullah Khamenei:  AS Tak Mau Menanggung Resiko Konfrontasi Dengan Iran

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak mau menanggung resiko berkonfrontasi dengan Iran sehingga melimpahkannya kepada sebagian negara lain di Timteng.

Hal ini dia katakan dalam kata sambutannya di Teheran pada pertemuan dengan para buruh yang datang dari berbagai penjuru Iran, Senin (30/4/2018), pada momen peringatan Hari Buruh Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Mei.

Ayatullah Khamenei mengingatkan bahwa era “pukul lalu kabur” (hit and run) sudah berlalu, dan jika AS berani berkonfrontasi dengan Iran maka hantaman Iran terhadapnya akan berlipat ganda dan telak.

Menurutnya, cara yang digunakan AS selama ini dalam upaya menekan Iran ialah membangkitkan sentimen negara-negara regional semisal Arab Saudi terhadap Iran agar merekalah yang berkonfrontasi dengan Iran. Karena itu, dia mengimbau negara-negara itu agar tak terpedaya oleh taktik kotor AS ini. Dia juga mengingatkan bahwa mereka akan kalah jika menuruti kehendak AS ini.

Sayyid Khamenei menambahkan bahwa pemicu kekacauan dan perang adalah eksistensi AS di kawasan sehingga AS-lah yang harus enyah, bukan Iran.

“Pihak yang harus enyah dari kawasan ini adalah AS, bukan Republik Islam Iran. Kami penduduk sini. Teluk Persia dan Asia Barat (Timteng) adalah rumah kami, sedangkan kalian orang-orang asing di kawasan ini bertujuan jahat dan menebar fitnah,” tegasnya. (alalam)

Berbagai Pihak Tanggapi Pernyataan Netanyahui Mengenai Nuklir Iran

Berbagai pihak telah menanggapi pernyataan terbaru Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai program nuklir Iran. Pemerintah Iran menyebut pernyatan terbaru mengenai program nuklir Iran sebagai dagelan, kekanakan dan ditujukan semata untuk mempengaruhi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan mengambil keputusan mengenai perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada 12 Mei mendatang.

Wakil Menlu Iran Abbas Araghci, Senin (30/4/2018), mengatakan, “Pemaparan Netanyahu adalah permainan kekanakan dan konyol…  Pemaparan yang direncanakan menjelang janji pada 12 Mei adalah untuk mempengaruhi keputusan Trump mengenai nuklir Iran.”

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, juga menepis tudingan Nenyatahu bahwa Iran memiliki program nuklir militer terselubung.  Zarif menyebut tuduhan ini sebagai kedustaan yang bertujuan menipu khalayak dan mempengaruhi sebagian negara.

“Pernyataan Netanyahu dan kemudian sebagian pejabat AS hanyalah kedustaan belaka yang sama sekali tidak penting,” ungkapnya.

Menurut al-Alam, media Israel sendiri menilai Netanyahu tidak memberikan sesuatu yang baru sejak dicapainya JCPOA sehingga meskipun bisa jadi akan dapat meyakinkan Penasehat Keamanan Nasional AS, John Bolton, namun tak akan memuaskan Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Sedangkan Presiden AS Donald Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih menilai pernyataan Netanyahu sebagai pesan yang relevan  dan menunjukkan bahwa perjanjian nuklir Iran “tak dapat diterima.”

Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang dia sampaikan di pangkalan militer di Tel Aviv, Senin, mengaku memiliki data tak terbantahkan bahwa Iran diam-diam memiliki proyek pengembangan senjata nuklir.

“Beberapa minggu lalu dalam sebuah prestasi besar intelijen Israel berhasil menemukan setengah ton bahan yang diletakkan di sebuah bunker di Teheran… Israel mengungkap 55,000 berkas berisi informasi ‘kriminilasasi’ terkait program nuklir Iran,” katanya, seperti dilansir media Israel Yedioth Ahronoth dan Jerussalem Post.

Dia menambahkan, “Dalam beberapa hari mendatang Presiden Trump akan mengambil keputusan mengenai apa yang dilakukan terhadap perjanjian nuklir (Iran). Saya yakin dia akan melakukan sesuatu yang benar bagi AS, Israel, dan perdamaian di dunia.”

Trump berulang kali mengancam akan keluar dari JCPOA jika perjanjian nuklir Iran ini tidak direvisi, sementara Iran menolak mentah-mentah negosiasi baru untuk revisi. Iran bahkan mengancam antara lain akan mempercepat pengayaan uranium.

Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin, mengatakan kepada Netanyahu bahwa Rusia tetap konsistens dan mengajak pihak-pihak lain agar juga konsisten kepada JCPOA yang diteken Iran bersama lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman pada tahun 2015. (rayalyoum/alalam)

Mahmoud Abbas Sebut Prakarsa Trump Penghentian Proses Perdamaian Palestina-Israel

Presiden Palestina Mahmoud Abbas kembali menegaskan penolakannya terhadap prakarsa “Deal of The Century” yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dan menilainya sebagai usulan yang justru menghentikan proses perdamaian Palestina-Israel.

“Kami tidak akan menerima Deal of The Century, dan tidak pula menerima AS sebagai satu-satu penengah dalam proses perdamaian,” tegas Abbas dalam pidato pembukaan rapat  Majelis Nasional Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) periode ke 23 yang baru diselenggarakan di Ramallah, Tepi Barat, Senin (30/4/2018), setelah 22 tahun masa berlalu dari rapat terakhir kalinya pada tahun 2009.

Dia melanjutkan, “Deal of The Century adalah prakarsa untuk menyudahi perdamaian karena mengeluarkan masalah al-Quds (Yerussalem) dan para pengungsi dari perundingan serta memperkenankan proyek permukiman Israel… Tak ada perdamaian tanpa al-Quds yang merupakan ibu kota negara Palestina untuk selamanya.”

Tanpa menyebutkan nama, dia juga menyindir faksi-faksi Palestina lain di Jalur Gaza dengan mengatakan bahwa sia-sia upaya mengadakan dewan tandingan di Jalur Gaza ataupun di luar Palestina.

Dia menambahkan bahwa pintu masih terbuka bagi faksi-faksi Palestina untuk berpartisipasi dalam Majelis Nasional. Faksi-faksi yang dia maksud adalah Front Rakyat Pembebasan Palestina (PLFP), Hamas, dan Jihad Islam yang menolak terlibat dalam majelis tersebut.

Dia juga menyeru mereka “menjauhkan anak-anak kecil dari area konfrontasi” dengan Israel “demi melindungi generasi mendatang.”

“Resistensi damai rakyat aktif, tapi kami menegaskan, jauhkanlah sedikit  anak-anak kecil dari konfrontasi, kita tidak ingin menjadi bangsa yang cacat,” ujarnya.

Majelis Nasional merupakan lembaga yang dibentuk oleh PLO di Ramallah sebagai parlemen Palestina. Menurut pihak PLO, pembukaan rapat majelis ini Senin kemarin dihadiri oleh delegasi dari 90 negara. (rayalyoum)

Tahap Awal Pengeluaran Teroris Dari Yarmouk Di Suriah Dimulai

Sebanyak lima unit bus telah mengangkut sekira 200 kawanan teroris beserta keluarga mereka dari kamp pengungsi Palestina Yarmouk di selatan Damaskus, ibu kota Suriah, dalam rangka penerapan tahap pertama perjanjian pengeluaran kawanan bersenjata dari Yarmouk.

Perjanjian ini juga menjamin pembebasan dua tahap penduduk Kafarya dan Foua yang terkepung kawanan teroris. Senin diri hari sebanyak 22 unit bus mulai bergerak menuju dua distrik di provinsi Aleppo tersebut untuk mengevakuasi ribuan penduduk yang terkepung.

Di tahap pertama puluhan bus itu akan mengangkut 1500 orang penduduk dari Kafarya dan Foua menuju pintu perbatas al-Ais, dan dari situ berlanjut menuju pusat Jabrin untuk tinggal sementara waktu di pinggiran timur kota Aleppo.

Sejak Senin dini hari pula tentara Suriah mendatangi jalur yang telah ditetapkan untuk masuknya konvoi bus ke kamp Yarmouk yang disediakan untuk mengeluarkan kawanan teroris. Di sana tentara menyingkirkan barikade-barikade tanah yang semula digunakan oleh kawanan teroris untuk menutup jalur-jalur akses menuju Yarmouk. (sana)