Rangkuman Berita Timteng Senin 2 Juli 2018

baleho hudaydahJakarta, ICMES: Kelompok  Ansarullah Yaman (Houthi) membantah klaim penghentian agresi militer Uni Emirat Arab (UEA) ke provinsi Hudaydah, Yaman, dan menilai klaim itu sebagai upaya untuk menyesatkan opini publik dan mempersulit upaya PBB.

Pasukan Arab Suriah (SAA) mengumumkan pihaknya telah berhasil membebaskan hampir 70 daerah di provinsi Daraa.

John Bolton, penasehat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, memberikan indikasi adanya perubahan sikap negaranya secara mencolok terhadap Presiden Suriah Bashar Assad.

Militer Iran menyatakan bahwa sebuah kapal Amerika Serikat (AS) yang mengangkut bahan kimia dan dikawal dengan satu unit kapal perusak telah memasuki kawasan pantai salah satu negara kawasan Teluk Persia.

Berita selengkapnya:

Ansarullah Yaman Bantah Pasukan Koalisi Hentikan Serangan Di Hudaydah

Jubir gerakan Ansarullah Yaman (Houthi) Mohammad Abdul Salam membantah klaim penghentian agresi militer Uni Emirat Arab (UEA) ke provinsi Hudaydah, Yaman, dan menilai klaim itu sebagai upaya untuk menyesatkan opini publik dan mempersulit upaya PBB.

“Serangan dan pertempuran tidak berhenti di kawasan pesisir barat kota Hudaydah dan sekitarnya. Demikian pula di berbagai kawasan lain di sepanjang pesisir barat. Pengumuman Emirat tentang ini mencurigaan dan memiliki lebih dari satu tujuan,” ungkap Abdul Salam, Ahad (1/7/2018).

Menurutnya, dalam berbagai pertemuan Ansarullah dengan Martin Griffiths utusan khusus PBB untuk Yaman ini sama sekali tidak mengemukakan isu Hudaydah sebagaimana pihak UEA dan sekutunya mengangkat isu ini.

“Dia hanya mengemukakan solusi politik komprehensif, namun berbeda tafsiran mengenai skala prioritas berkenaan dengan penertiban keamanan,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, “Sikap kami jelas dan tegas, kami sama sekali tidak mungkin menerima perdebatan parsial, baik mengenai Hudaydah maupun yang lain-lain. Apa yang harus dilakukanPBB setelah hampir 4 tahun agresi ini ialah membahas solusi politik. Khalayak dunia sepakat bahwa solusi di Yaman adalah solusi politik. Utusan Khusus PBB tidak boleh bergerak untuk solusi militer dan pergi ke Hudaydah sesuai arah pihak agresor.”

Abdul Salam menilai Menlu UEA Anwar Mohammed Gargas sedang berusaha memasuki peperangan baru untuk menutupi kegagalan sepak terjang militer, politik, dan medianya belakangan ini.

Menurutnya, pihak UEA semula yakin akan dapat menguasai Hudaydah dan bahkan akan mengadakan shalat Idul Fitri di kota ini, tapi ternyata keyakinan itu hanyalah isapan jempol belaka sehingga sekarang menggunakan cara-cara tipu daya untuk menutupi kegagalannya.

“Kami yakin bahwa pengumuman mencurigakan di tahap sekarang ini ialah semata berusaha menyasar publik Yaman, menyesatkan khalayak internasional, dan berupaya menekan PBB agar melakukan penyelesaian parsial alih-alih penyelesaian komprehensif,” tegasnya.

Sebelumnya, Menlu UEA Anwar Gargas di halaman Twitternya menyatakan, “Kami menyambut baik upaya kontinyu Utusan Khusus PBB Martin Griffiths untuk mencapai penarikan Houthi tanpa syarat dari kota Hudaydah dan pelabuhannya.”

Dia menambahkan, “Kami telah menghentikan serangan kami untuk sementara waktu demi memberikan waktu yang cukup untuk mengeksplorasi opsi ini dengan sepenuhnya. Kami berharap dia berhasil.”

Setelah itu dalam cuitan lainya dia menyatakan, “Koalisi (pimpinan Arab Saudi) telah menghentikan untuk sementara waktu pergerakan maju menuju kota dan pelabuhan pada 23 Juni lalu.” Dia juga menyebutkan bahwa pasukan koalisi ini “menunggu hasil kunjungan Utusan Khusus (PBB) ke Sanaa”, ibu kota Yaman yang dikuasai oleh Ansarullah. (alalam/rayalyoum)

Tentara Suriah Bebaskan Hampir 70 Distrik Dan Desa Di Provinsi Daraa

Markas-markas kawanan bersenjata di Suriah selatan berjatuhan ke tangan SAA secara dramatis.  Pasukan Arab Suriah (SAA), Ahad (1/7/2018), mengumumkan pihaknya telah berhasil membebaskan hampir 70 daerah di provinsi Daraa, dan yang terakhir di antaranya ialah kawasan Khirbah Jalah dan Tal al-Saman di bagian utara provinsi ini.

SAA menegaskan bahwa tak ada satu apapun dapat bertahan di depan keputusan tegas Damaskus untuk Suriah selatan dan bahkan markas-markas utama kawanan bersenjata yang telah menyulut perang di seantero Suriah, dan karena itu “ sebanyak lebih dari 65 daerah telah mengibarkan bendera Suriah”, dan ini merupakan “keberhasilan baik di level kesepakatan rekonsiliasi ataupun operasi militer beserta kecermatannya yang telah membuat tentara memasuki posisi-posisi yang tak pernah dimasukinya sejak tahun 2013.”

Dilaporkan pula bahwa SAA secara militer telah menguasai seluruh jalur pertempuran di dekat Tal al-Zamita yang merupakan jalur penghubung antara bagian barat dan timur provinsi Daraa hingga wilayah perbatasan Yordania, dan di wilayah baratpun mencapai kawasan Kahil dan al-Sahwah. Kawanan bersenjata Kutaibah al-Zamir juga telah berada dalam cengkraman SAA yang bergerak maju, dan operasi militer SAA kini berlangsung di daerah al-Na’miyah di mana kawanan bersenjata masih melawan dan menolak meletakkan senjata.

SAA memasuki daerah Um Walad, Tal al-Syeikh Hossein, dan Talul Khalif di provinsi Daraa melalui kesepakatan rekonsiliasi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa negosiasi lain sedang berlangsung mengenai daerah Basri al-Sham, al-Samad, Nasib, dan puluhan daerah lain. Dipastikan bahwa eksistensi pemberontak dan teroris di daerah-daerah itu akan segera tergulung. (alalam)

Penasehat Presiden AS: Yang Jadi Masalah Bukan Assad, Melainkan Iran

John Bolton, penasehat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, memberikan indikasi adanya perubahan sikap negaranya secara mencolok terhadap Presiden Suriah Bashar Assad.

“Terus terang, kami yakin bahwa yang menjadi problema strategis bukanlah Assad,” ujarnya dalam wawancara dengan saluran CBS yang berbasis di AS, Ahad (1/7/2018), saat menjawab pertanyaan bagaimana jika Assad berhasil mencetak kemenangan dalam “perang saudara” di Suriah.

Dia menambahkan, “Yang menjadi problema strategis adalah Iran. Masalahnya bukan hanya berkenaan dengan program-programnya yang kontinyu untuk mengembangkan senjata nuklir, melainkan juga mengenai dukungannya yang besar dan kontinyu kepada terorisme internasional, demikian pula mengenai keberadaan pasukan regulernya di Timteng.”

Sejak Suriah dilanda krisis pemberontakan dan terorisme, AS mematok harga mati bahwa Assad harus turun dari kursi kepresidenan Suriah. AS menganggap Assad bertanggungjawab atas krisis ini dan menuduhnya telah melakukan kejahatan perang terhadap rakyatnya.

Sejak Donald Trump menjabat sebagai presiden AS, negara adidaya ini bahkan telah melancarkan dua kali serangan terhadap tentara Suriah; pertama pada April 2017, dan kedua pada April 2018, dengan dalih demi menghukum tentara Suriah yang dituduhnya telah menggunakan bom kimia. Trump saat itu bahkan menyebut Assad “binatang”. (rayalyoum)

Militer Iran Kabarkan Kapal AS Pengangkut Bahan Kimia Masuki Kawasan Teluk

Jubir Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Bolfazl Shekarchi menyatakan bahwa sebuah kapal Amerika Serikat (AS) yang mengangkut bahan kimia dan dikawal dengan satu unit kapal perusak telah memasuki kawasan pantai salah satu negara kawasan Teluk Persia.

Shekarchi menjelaskan bahwa kapal bernama Ray Cap itu pernah berada di kawasan Irak dan Suriah ketika AS melakukan tindakan-tindakan tertentu dengan dalih bahwa ada pihak-pihak yang telah menggunakan senjata kimia.

Menurut Shekarchi, kapal AS itu mengangkut bahan-bahan kimia dengan tujuan membawanya ke berbagai kawasan di Irak dan Suriah, dan karena itu semua pihak terkait di kawasan hendaknya mewaspadai perilaku AS ini dan mengantisipasi berbagai dampaknya.

“Setelah menderita kekalahan beruntun di depan Poros Resistensi AS kini menggunakan cara-cara berbahaya untuk melanjutkan dan mencari pembenaran untuk keberadaannya yang ilegal di Irak dan Suriah. Padahal, dengan cara-cara demikian dan dalam menebar ilusipun AS dan sekutu regionalnya sama sekali tak dapat membuktikan tuduhannya bahwa pemerintah Suriah melancarkan serangan kimia di kota Douma, Ghouta Timur,” ujarnya.

Shekarchi menambahkan bahwa temuan yang mengarah pada skenario serangan kimia di berbagai wilayah Irak dan Suriah juga pernah ada sebelumnya.

“Kita memiliki data yang rinci mengenai kapal AS itu, termasuk jumlah awaknya dan bahan kimia yang dibawanya, dan di masa mendatang kami akan memublikasi rincian dan tujuan keberadaan kapal AS ini di kawasan,” pungkasnya. (alalam)