Rangkuman Berita Timteng Salasa 1 Agustus 2017

saudi-yordaniaJakarta, ICMES: Sumber-sumber diplomatik papan atas mengatakan kepada Ray al-Youm bahwa Yordania kini tidak lagi dipandang sebagai salah satu pintu utama bagi negara-negara Arab Teluk menuju Tel Aviv, ibu kota Israel, sesuai perjanjian damai Wadi Araba.

Lembaga pemberitaan Sputnik milik Rusia menilai segala sesuatu kini tampak tidak wajar dalam tubuh dinasti al-Saud yang berkuasa di Arab Saudi.

Pasukan Arab Suriah (SAA) dan kelompok-kelompok pasukan sekutunya telah mencapai sisi Sungai Furat (Eufrat) dan menguasai beberapa daerah di bagian tenggara provinsi Raqqa di timur laut negara ini.

Kantor kepresidenan Suriah Bashar al-Assad menyatakan bahwa dalam pertemuan dengan delegasi Persatuan Kerja Tunisia di Damaskus al-Assad memastikan bahwa bangsa-bangsa  Arab kini sudah mengatehui realitas di balik aneka peristiwa yang melanda kawasan Timur Tengah.

Berita selengkapnya;

Yordania Kesal Karena Otoritas Saudi Berkomunikasi Langsung Dengan PM Israel

Sumber-sumber diplomatik papan atas mengatakan kepada Ray al-Youm, Senin (31/7/2017), bahwa Yordania kini tidak lagi dipandang sebagai salah satu pintu utama bagi negara-negara Arab Teluk menuju Tel Aviv, ibu kota Israel, sesuai perjanjian damai Wadi Araba.

Pasalnya, Kerajaan Arab Saudi telah “benar-benar melangkahi” status Yordania itu ketika di tengah krisis Masjid al-Aqsa antara Palestina dan Rezim Zionis Israel penguasa Saudi malah berkomunikasi langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Tindakan ini dinilai telah membuat Netanyahu berani bertindak “kurang ajar dan provokatif” terhadap Yordania seperti terlihat dalam sambutannya kepada pembunuh warga Yordania dalam insiden Kedutaan Besar Israel di Amman, ibu kota Yordania.

Menurut sumber-sumber ini, Netanyahu telah berkomunikasi langsung dengan otoritas Saudi ketika terjadi krisis al-Aqsa, dan otoritas Saudi bahkan diduga menyepakati pemasangan pintu pemindai logam di gerbang-gerbang al-Aqsa sebagaimana alat yang sama juga dipasang gerbang-gerbang kota suci Mekkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.

Pemerintah Yordania selama ini memang kuatir dilangkahi oleh negara-negara Teluk melalui tindakan menjalin hubungan langsung dengan Israel . Dalam krisis al-Aqsa kekuatiran ini meningkat karena tindakan tersebut praktis melemahkan posisi Yordania. (rayalyoum)

Sputnik: Raja Salman Mengubah Tradisi Kerajaan Arab Saudi

Lembaga pemberitaan Sputnik milik Rusia, Senin (30/7/2017), menilai segala sesuatu kini tampak tidak wajar dalam tubuh dinasti al-Saud yang berkuasa di Arab Saudi.

Sputnik menjelaskan bahwa pada tahun 2017 telah terjadi perubahan fundamental di mana rajanya, Salman Bin Abdul Aziz, telah melanggar tradisi yang berlaku di negara ini. Tak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Salman menyingkirkan orang paling senior dari segi usia dalam generasi dinasti al-Saud lalu mengangkat anaknya sendiri, Mohammad Bin Salman, sebagai putera mahkota. Padahal, tahta kerajaan seharusnya diserahkan dari saudara kepada saudaranya yang lain, tak seperti kerajaan-kerajaan di Eropa yang tahtanya turun dari ayah kepada anak.

Abdul Aziz adalah raja pertama Saudi yang bertahta dari 1932 sampai dengan 1953. Dari banyak isterinya dia memiliki 45 anak, sementara jumlah total putera mahkota dan emir dalam dinasti al-Saudi kini mencapai sekira 5000 – 6000 orang, namun tak seorangpun di antara generasi pertamanya menyalahi ketentuan penyerahan tahta kepada orang yang tertua.

Sesuai ketentuan ini sebanyak enam putera Abdul Aziz telah bertahta silih berganti hingga kemudian tradisi ini berubah di era Raja Salman sekarang. Dia telah memecat saudaranya sebelum kemudian kemenakannyanya dari kedudukan putera mahkota sehingga tradisi pewarisan tahta menjadi mirip dengan tradisi di Eropa.  Salman menyerahkan segala urusan kepada puteranya, Mohammad.

Karena itu Arab Saudi sekarang menanti rentetan kejadian susulan di mana setiap setiap putera mahkota nanti akan dapat mengaku sebagai raja.

Sputnik juga menyebutkan bahwa meskipun negara ini merupakan eksportir minyak terbesar di dunia namun paling terkena imbas anjloknya harga minyak pada tahun 2014, dan para pengamat dari City Group menyatakan bahwa cadangan minyak Saudi menipis dan pada tahun 2030 akan mencapai titik eskpor teredah.  (irna)

Tentara Suriah Mencapai Sisi Sungai Furat Setelah Empat Tahun

Pasukan Arab Suriah (SAA) dan kelompok-kelompok pasukan sekutunya telah mencapai sisi Sungai Furat (Eufrat) dan menguasai beberapa daerah di bagian tenggara provinsi Raqqa di timur laut negara ini.

“Tentara Suriah dan pasukan adat untuk pertama kalinya mencapai Sungai Furat dan menguasai beberapa kawasan perbukitan dan dataran tinggi Hakimah serta distrik al-Ghanim al-Ulya dan desa-desa al-Jubaili, al-Rabiyah, dan Hawija Shanan,” kata seorang komandan pasukan adat yang ikut berperang membantu SAA kepada kantor berita Jerman, DPA.

Sumber anonim ini menambahkan bahwa SAA kini mengepung sisa-sisa pasukan teroris ISIS di bebarapa distrik, yaitu Zur Shimir, al-Sabkhah, al-Sharidah, al-Jabali, al-Rahbi, Rajm Harun, dan Tal al-Murud, sementara pasukan teroris itu menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia sehingga menghambat gerak maju SAA.

Pasukan adat yang bersama SAA tersebut berasal dari suku-suku yang tinggal di provinsi Raqqah.

Sementara itu, sebanyak 16 unit truk pengangkut bantuan kemanusiaan PBB telah melintas dari provinsi Hatay, Turki, ke privinsi Idlib, Suriah, Senin.  Belasan truk ini masuk ke wilayah Suriah melalui pintu perbatasan  Cilvegozu milik Turki yang berhadapan dengan pintu perbatasan Bab al-Hawa milik Suriah.

Disebutkan bahwa bantuan itu terdiri beberapa kebutuhan pokok yang akan disalurkan kepada warga sipil di kota Idlib dan desa-desa sekitarnya. (rayalyoum)

Al-Assad: Bangsa-Bangsa Arab Sudah Mengetahui Realitas Aneka Peristiwa Timteng

Kantor kepresidenan Suriah Bashar al-Assad menyatakan bahwa dalam pertemuan dengan delegasi Persatuan Kerja Tunisia di Damaskus,  Senin (31/7/2017),  al-Assad memastikan bahwa bangsa-bangsa  Arab kini sudah mengatehui realitas di balik aneka peristiwa yang melanda kawasan Timur Tengah.

Al-Assad mengatakan, “Kesadaran dan kebangkitan ini harus menjadi satu motivasi bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam rangka mewujudkan perubahan kondisi negara-negara Arab sesuai kemaslahatan rakyat masing-masing.”

Dia menambahkan, “Untuk mencapai kesamaan persepsi maka basis-basis kerakyataan hendaknya berdialog mengenai berbagai persoalan… Negara-negara kita diincar antara lain karena komitmen dan konsistensi kita kepada jatidiri.”

Mengenai perang yang melanda negaranya, al-Assad mengatakan, “Salah satu faktor utama keberhasilan melampaui tahap kesulitan ini ialah adanya kehendak hidup pada rakyat Suriah, kebersikukuhan seluruh lapisan masyarakat untuk  tetap melanjutkan aktivitas sehari-harinya di tengah maraknya kejahatan kelompok-kelompok teroris dan para pendukungnya, dan kepahlawanan tentara.”

Presiden Suriah menambahkan, “Heroisme di Suriah bukan lagi satu tema tersendiri dan terbatas, melainkan telah berubah menjadi satu perkara yang sudah termasyarakatkan.”

Di pihak lain, delegasi Persatuan Kerja Tunisia menyatakan bahwa negara-negara Barat bermaksud menjadikan Suriah sebagai negara yang bersedia menerima apa saja yang didektekan oleh Barat.

Menurut delegasi ini, membela Suriah tak ubahnya dengan membela semua negara Arab.

“Seandainya konspirasi musuh terhadap Suriah berhasil maka semua kawasan Arab akan kacau balau,” ungkap mereka. (irna)