Rangkuman Berita Timteng Sabtu 9 September 2017

iran IRGCJakarta, ICMES: Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC/Pasdaran) menyatakan kesiapannya untuk kaum Muslim tertindas Rohingya, sementara Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayyeb, menyerukan kepada warga Muslim Rohingya di Myanmar agar melawan penindasan yang menimpa mereka.

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan menjelang mengatakan bahwa hubungan negaranya dengan Iran sangat strategis dan erat.

Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) mengaku telah menangkap seorang bocah remaja yang pernah muncul sebagai pemenggal  kepala tentara dalam video-video propaganda kelompok teroris ISIS.

Pemerintah Suriah membantah laporan PBB yang menuduhnya telah melancarkan 27 dari total 33 serangan bom kimia, satu di antaranya di Khan Sekhoun.

Berita selengkapnya;

IRGC Umumkan Kesiapan “Membantu Saudara Muslim Ahlussunnah Rohingya”

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC/Pasdaran) menyatakan kesiapannya untuk “andil membantu orang-orang terusir Myanmar” sembari menegaskan bahwa membela “kaum tertindas” di Myanmar sebagai tanggungjawab di depan sejarah.

IRGC  dalam statemen yang dirilis Jumat (8/9/2017) “mengecam keras kejahatan terhadap warga Muslim Myanmar” dan mengingatkan adanya “rencana anti Islam” yang menjurus pada “pembasmian etnis lagi secara besar-besaran dalam sejarah kemanusiaan.”

IRGC menegaskan bahwa pengusiran warga Muslim Rohingya dan pembantaian terhadap 400 orang tak bersenjata di antara mereka dengan sendirinya telah “menambah beban tanggungjawab pemerintah Myanmar terhadap tragedi ini, pembersihan etnis, dan gangguan terhadap stabilitas akibat kekerasan dan pembantaian yang masih terus dilakukan.”

IRGC  mengecam ketidak seriusan reaksi internasional “terhadap pembasmian warga Muslim Rohingya, kebungkaman forum-forum internasional yang mengaku sebagai pembela HAM, dan tidak adanya konsensus dan pembentukan front yang kuat untuk menghadapi para pelaku kejahatan ini.”

Pasukan elit Iran kemudian mengimbau pemerintah negara ini agar melanjutkan upaya diplomatiknya untuk “menyelamatkan saudara Muslim Ahlussunnah Rohingya dan mencegah pembasmian manusia dan penyebaran terorisme model baru terhadap umat Islam.” (mm/rayalyoum)

Imam Besar Al-Azhar Serukan Perlawanan Terhadap Para Penjahat Myanmar

Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayyeb, Jumat (8/9/2017), merilis statemen berisi seruan kepada warga Muslim Rohingya di Myanmar agar melawan kezaliman dan penindasan yang menimpa mereka.

“Kami mengatakan kepada saudara-saudara kami di Burma (Myanmar), teguhlah kalian dalam menghadapi serangan brutal ini, kami bersama kalian dan tidak menelantarkan kalian, dan Allah adalah Penolong kalian,” tegasnya.

Syeikh Ahmad al-Tayyeb mengingatkan bahwa kecaman dan seruan saja seperti yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional tidaklah cukup di depan “pembantaian massal” terhadap warga Muslim Rohingya.

“Kami yakin bahwa lembaga-lembaga internasional ini akan mengambil sikap yang berbeda dan lebih solid dan cepat seandainya sekelompok warga itu adalah kaum Yahudi, atau Kristen, atau Budha, atau penganut agama non-Islam lainnya,” kecam Syeikh al-Tayyeb.

Imam Besar al-Azhar kemudian menegaskan bahwa bertolak dari tanggungjawab agama dan kemanusiaan maka pihaknya tidak akan diam berpangku tangan menyaksikan pelanggaran HAM. Karena itu “al-Azhar al-Syarif  akan memimpin gerakan kemanusiaan di level Arab, Islam, dan internasional untuk menghentikan pembantaian ini.”

Dia juga menegaskan bahwa al-Azhar menyerukan kepada semua organisasi internasional dan lembaga peduli HAM agar menyikapi para pelaku kejahatan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar sebagaimana mereka menyikapi para penjahat perang.

Sumber-sumber yang berafiliasi dengan PBB beberapa hari lalu menyatakan bahwa kekerasan terhadap warga Muslim Rohingya sampai 31 Agustus lalu telah menyebabkan 38,000 warga etnis ini mengungsi dan masuk ke wilayah Bagladesh. (mm/nmisr)

Erdogan: Hubungan Turki Dengan Iran Sangat Strategis Dan Erat

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan menjelang kunjungannya ke Kirgizstan, Jumat (8/9/2017), mengatakan kepada wartawan bahwa hubungan negaranya dengan Iran sangat strategis dan erat. Dia menyayangkan buruknta kondisi kamp pengungsi warga Muslim Rohingya di Bangladesh.

“Banyak bagian dari kebutuhan gas alam dan minyak kami terpenuhi dari Iran, dan sensitivitas dalam hubungan bilateral ini sudah berulangkali kami katakan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) sekarang maupun sebelumnya,” ungkap Erdogan.

Dia menilai dakwaan yang diajukan AS terhadap sejumlah mantan pejabat politik dan perbankan Turki karena bekerjasama dengan Iran bermotif politik, dan mengatakan “tercium bau yang sangat busuk di balik tindakan AS ini.”

“Tindakan ini menunjukkan ketidak berdayaan pemerintah AS, dan hal ini sudah kami katakan kepada AS. AS bisa jadi memang negara besar, tapi berkeadilan adalah perkara lain, sebab untuk berkeadilan haruslah tegak keadilan dalam sistem hukum negara,” tuturnya.

Dia menilai berkas perkara mengenai pengusaha Turki Reza Zarrab dan dakwaan terhadap  mantan menteri ekonomi Turki  Mehmet Zafer Çağlayan sebagai sesuatu yang aneh dan tindakan yang sengaja dilakukan AS untuk menyudutkan Turki.

Dia juga berbicara mengenai kondisi warga Muslim Rohingya di Myanmar. Dia mengatakan bahwa delegasi Turki telah menjumpai warga Muslim Rohingya dan telah menyalurkan bantuan kepada  mereka.

Menurutnya, kondisi kamp pengungsi untuk mereka di Myanmar tidak memadai sehingga seandainya pemerintah Bangladesh berkenan menyerahkan pengelolaan lokasi di sana kepada Turki maka kondisi kamp pengungsi akan lebih baik.

Dia menjelaskan bahwa ribuan ton bantuan dari Turki sudah dibagi-bagikan kepada para pengungsi Rohingya, dan masih ada 10,000 ton bantuan lagi dari Turki. (mm/irna)

Pasukan Kurdi Suriah Tangkap Bocah ISIS Pemenggal Kepala Manusia

Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang merupakan aliansi milisi Kurdi dan Arab mengaku telah menangkap seorang bocah remaja yang pernah muncul sebagai pemenggal  kepala tentara dalam video-video propaganda kelompok teroris ISIS.

“Remaja bernama Mohammad Ali Musa ini tertangkap dalam kondisi terluka di desa Mislun dekat kota Raqqa, dan sekarang berada dalam penjara milik SDF,” ungkap SDF dalam statemennya, Jumat (8/9/2017).

Disebutkan pula bocah itu berdarah dingin akibat pengaruh ISIS ini mengakui telah memenanggal kepala beberapa tentara Suriah serta warga sipil Suriah dan Irak.

SDF menambahkan, “Mohammad Ali Musa dilahirkan pada tahun 2002 dan jatuh ke tangan ISIS saat dia masih berada di kelas 5 Sekolah Dasar, kemudian dilatih di kamp Abu Musab al-Zarqawi yang dikenal sebagai tempat untuk melatih anak-anak negara kekhalifahan (ISIS).”

Bocah ini diketahui telah dilatih dengan baik sehingga dapat menggunakan berbagai jenis senjata, dan setelah sembuh dari lukanya dia mengaku menyesal telah menjadi anggota ISIS.

“Saya ingin bebas dan kembali ke desaku,” tuturnya, seperti ditirukan SDF.  (mm/irna)

Suriah Bantah Tuduhan Tim PBB Gunakan Bom Kimia

Pemerintah Suriah membantah laporan PBB yang menuduhnya telah melancarkan 27 dari total 33 serangan bom kimia, satu di antaranya di Khan Sekhoun, provinsi Idlib, yang menewaskan sedikitnya 87 orang, 31 di antaranya anak kecil, pada April 2017.

Dalam surat yang disampaikan oleh Dubesnya untuk PBB di Jenewa, Swiss, kepada Ketua Dewan HAM PBB, Suriah menyatakan “menolak klaim-klaim komisi yang bernaung di bawah Dewan HAM  bahwa pemerintah Suriah menggunakan gas kimia beracun di Khan Shikhoun dan lain-lain.”

Pemerintah Damaskus menegaskan “belum dan tidak akan pernah” menggunakan gas kimia terhadap rakyatnya karena serangan sedemikian rupa merupakan “kejahatan moral yang hanya akan mengundang kutukan.”

Tim pencari fakta PBB belum lama ini merilis laporan yang menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia gas sarin dalam konflik di negara ini.

Damaskus menyebut tim ini bertindak dengan motif politik dan tebang pilih demi kepentingan negara-negara tertentu.

Damaskus berulang kali menegaskan pihaknya tidak mungkin menggunakan senjata terlarang ini karena fasilitas kimianya sudah dibongkar total pada tahun 2013 sesuai kesepakatan Amerika Serikat dengan Rusia menyusul peristiwa serangan gas sarin di kawasan Ghouta Timur dekat Damaskus yang menyebabkan ratusan orang tewas. (mm/aljazeera)