Rangkuman Berita Timteng Sabtu 7 Oktober 2017

tentara suriah di mayadinJakarta, ICMES:  Pasukan Arab Suriah (SAA) yang didukung Angkatan Udara (AU) Rusia telah memasuki bagian barat kota Mayadin, Suriah timur, yang menjadi markas terakhir kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Menteri Pertahanan Suriah Emad Fahad Jassim al-Freij menegaskan bahwa SAA “akan merampungkan kemenangan atas Israel yang terwujud dalam Perang Oktober.”

Raja Salman dari Arab Saudi menuding Iran menjalankan ambisi-ambisi ekspansif di Yaman, Suriah dan Timteng secara umum.

Wakil Tetap Arab Saudi untuk PBB Abdullah  Al-Mouallimi menyatakan negaranya menolak laporan PBB mengenai pembunuhan anak-anak kecil Yaman, dan menyebut informasi yang ada dalam laporan itu “menyesatkan dan tidak akurat.”

Berita Selengkapnya:

SAA Masuki Kota Mayadin, Markas Terakhis ISIS Di Suriah

Pasukan Arab Suriah (SAA) yang didukung Angkatan Udara (AU) Rusia telah memasuki bagian barat kota Mayadin, Suriah timur, yang menjadi markas terakhir kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jumat (6/10/2017).

Direktur Eksekutif Obersevatorium Suriah untuk HAM (SOHR), Rami Abdulrahman, mengatakan kepada AFP, “Pasukan pemerintah telah memasuki kota Mayadin dan menguasai sejumlah bangunan di bagian barat kota ini setelah bergerak maju dari arah Badiah dengan dukungan AU Rusia.”

Sejauh ini ISIS yang dalam beberapa bulan terakhir menderita kekalahan beruntun di Suriah masih menguasai lebih dari setengah wilayah provinsi Deir Ezzor yang kaya minyak dan berbatasan dengan Irak.

Mereka masih menduduki beberapa distrik di bagian timur kota Deir Ezzor dan sejumlah kota kecil di bagian timur dan selatan provinsi Deir Ezzor serta kawasan sahara yang luas. Selain itu mereka masih menguasai kota Mayadin dan Abu Kamal, dua kota yang menjadi markas besar ISIS di Suriah.

Para pengamat mengatakan bahwa ISIS secara bertahap telah melarikan sebagian besar pasukan dan pemimpinnya ke dua kota ini bersamaan dengan kekalahan mereka di beberapa kawasan lain yang menjadi kantung mereka di Suriah, terutama kota Raqqa di utara di mana mereka juga sudah nyaris kalah total melawan Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pihaknya tidak dapat mengirim bantuan kemanusiaan ke provinsi Deir Ezzor setelah salah satu jalur terputus akibat pertempuran.

“Pertempuran di barat daya kota (Deir Ezzor) telah menyebabkan terputusnya jalur yang sampai sekarang belum pernah digunakan untuk bantuan perdagangan dan kemanusiaan,” ungkap juru bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric, Jumat.

Dia mengaku prihatin atas kondisi sekira dua juta penduduk di provinsi Deir Ezzor, dan pertempuran yang berkobar Rabu lalu telah memaksa ratusan kepala keluarga mengungsi menuju wilayah utara provinsi Deir Ezzoor dan pinggiran timur kota Deir Ezzor, yaitu kawasan yang sulit terjangkau bantuan kemanusiaan.

PBB mengirim bantuan terbarunya ke kota Deir Ezzor pada 27 September lalu. (rayalyoum/rt)

Dari Quneitra Menhan Suriah Bicara Perang Melawan Israel

Menteri Pertahanan Suriah Emad Fahad Jassim al-Freij dalam inspeksinya ke sebuah basis Pasukan Arab Suriah (SAA) di provinsi Quneitra di bagian selatan negara ini menegaskan bahwa SAA “akan merampungkan kemenangan atas Israel yang terwujud dalam Perang Oktober.”

Inspeksi  ini dilakukan al-Freij sesuai arahan Presiden Suriah Bashar Assad selaku panglima tertinggi angkatan bersenjata negara ini pada momen peringatan ke-44 tahun Perang Oktober 1973.

Dalam pertemuan dengan pasukan Suriah di sana al-Freij menjelaskan misi satuan-satuan pasukan, memastikan kesiapan mereka, dan mengapresiasi jerih payah dan kekuatan mental pasukan dalam menghadapi dan menumpas kelompok-kelompok teroris bersenjata “hingga ke akar-akarnya”.

“Semua keberhasilan yang dicapai SAA dan sekutunya dalam perang melawan para antek Israel ini merupakan penyempurnaan atas kemenangan yang terwujud dalam perang kemerdekaan melawan rezim Zionis penjajah,” katanya.

Provinsi Quneitra merupakan bagian dari kawasan de-eskalasi di Suriah selatan sesuai perjanjian segi tiga Rusia, Amerika Serikat, dan Yordania yang dicapai pada Juli lalu dan mencakup wilayah provinsi Daraa.

Provinsi Quneitra juga merupakan wilayah Suriah yang terdekat dengan Israel, namun terhalang oleh oleh dataran tinggi Golan yang diduduki oleh Israel.

Sementara itu, sumber militer Suriah menyatakan SAA telah menuntaskan operasi militer di bagian timur provinsi Homs setelah menumpas kawanan terakhir ISIS di sana, dan dengan demikian mereka telah membebaskan kawasan seluas 180 kilometer persegi serta memulihkan keamanan dan stabilitas di puluhan daerah. (rt/sana)

Jumpai PM Rusia, Raja Salman Menyebut Iran Sumber Krisis Timteng

Raja Salman dari Arab Saudi dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev di Moskow, Jumat (6/10/2017), menuding Iran menjalankan ambisi-ambisi ekspansif di Yaman, Suriah dan Timteng secara umum .

Seperti dilansir kantor berita Arab Saudi, SPA, Salman menegaskan bahwa upaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk dan Timteng, terutama di Yaman dan Suriah, mengharuskan Iran “berhenti menjalankan kebijakan ekspansifnya, konsisten kepada prinsip kerukunan hidup bertetangga, menghargai konvensi dan undang-undang internasional, dan tidak mencampuri urusan internal negara-negara lain.”

Raja Salman memuji perundingan yang dia lakukan sehari sebelumnya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang telah menghasilkan kesepakatan penguatan kerjasama bilateral di berbagai bidang.

Dia menegaskan tekad negaranya untuk mempertahan hubungan Riyadh-Moskow dengan prospek yang lebih memuaskan, dan bahwa kerjasama keduanya sangat penting dalam mewujudkan stabilitas di pasar minyak.

Menurutnya, upaya dua negara ini di bidang perminyakan telah menghasilkan  kesepakatan penurunan volume produksi dan penyeimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen minyak.

Pada September 2016 kedua pihak telah mengambil langkah kolektif untuk kestabilan pasar minyak dan mengatasi anjloknya harga minyak selama dua tahun terakhir akibat meningkatnya suplai bahan bakar ini di pasar dunia.

Kerjasama ini menghasilkan kesepakatan “historis dan kejutan” dari para anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan negara-negara produsen minyak lainnya pada 28 September 2016 untuk menurunkan volume produksi sekira 1.8 juta barel perhari selama enam bulan, dan diperpanjang pada Mei lalu untuk sembilan bulan lagi sampai Maret 2018.

Raja Salman tiba di Moskow Rabu lalu untuk kunjungan kenegaraan selama empat hari. Kunjungan pertama kali raja Arab Saudi ke Rusia ini dilakukan sebulan menjelang pertemuan OPEC yang diharapkan akan membahas perpanjangan kesepakatan penurunan volume produksi minyak yang telah berhasil mengatasi keterpurukan harga minyak.  (rayalyoum)

Saudi Menolak Dicantumkan Dalam Daftar Hitam PBB

Wakil Tetap Arab Saudi untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Abdullah  Al-Mouallimi menyatakan negaranya menolak laporan PBB mengenai pembunuhan anak-anak kecil Yaman, dan menyebut informasi yang ada dalam laporan itu “menyesatkan dan tidak akurat.”

Dalam jumpa pers di kantor PBB di New York, Jumat (6/10/2017), Al-Mouallimi mengatakan  bahwa koalisi Arab pimpin Saudi selama ini sangat berhati-hati demi menghindari jatuhnya korban sipil dalam melancarkan serangan ke Yaman.

Dia menambahkan bahwa pasukan koalisi ini juga tidak menghalangi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Yaman. Dia balik menuding musuh Saudi di Yaman, Houthi (Ansarullah), sebagai pihak yang berusaha menghalangi bantuan itu serta melakukan serangan-serangan yang menyebabkan jatuhnya korban sipil.

“Kami bertekad menghormati undang-undang perang dan perlindungan anak kecil, dan kami membentuk satuan khusus untuk melindungi anak kecil dalam perang,” katanya.

Sebelumnya, PBB mencatumkan koalisi Arab pimpinan Saudi maupun Houthi dalam daftar hitam pihak-pihak yang bertanggungjawab atas terbunuhnya anak-anak kecil Yaman.

Sekjen PBB, António Guterres, dalam laporannya kepada Dewan Keamanan PBB mengatakan bahwa langkah ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa operasi militer pasukan koalisi Arab dan Houthi selama tahun 2016 telah menjatuhkan korban tewas dan luka sekira 11000 anak kecil Yaman.

Guterres merinci bahwa pada tahun lalu sebanyak 502 anak terbunuh dan 838 lainnya terluka akibat perang di Yaman. Menurutnya, koalisi pimpinan Saudi bertanggungjawab atas tewas dan lukanya 683 anak, sedangkan Houthi bertanggungjawab atas tewas dan lukanya 414 anak. Adapun sisanya adalah tanggungjawab pihak-pihak lain yang juga terlibat dalam perang. (rt)