Rangkuman Berita Timteng Sabtu 7 Juli 2018

iran mayjen mostafa izadiJakarta, ICMES: Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mostafa Izadi mengingatkan bahwa segala bentuk konfrontasi di Selat Hormuz berpotensi berubah menjadi Perang Dunia Ketiga.

Organisasi Anti Senjata Kimia (OPCW) menyatakan pihaknya tidak menemukan bukti apapun mengenai adanya penggunaan gas saraf dalam serangan di kota Douma, Suriah, pada April lalu.

Departemen Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa satu warga Palestina gugur syahid dan 369 orang lainnya cidera terkena tembakan pasukan Zionis Israel terhadap massa Palestina di Jalur Gaza.

Tak kurang dari 28 orang tewas dan 21 lainnya luka-luka di pihak kubu koalisi Arab pimpinan Arab Saudi dalam peristiwa dua gelombang serangan besar yang mendapat perlawanan sengit dari tentara dan pasukan Komite Rakyat Yaman di kawasan pesisir Barat Yaman.

Berita selengkapnya:

Jenderal Iran: Konfrontasi Di Selat Hormuz Berpotensi Menjadi Perang Dunia

Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mostafa Izadi mengingatkan bahwa segala bentuk konfrontasi di Selat Hormuz berpotensi berubah menjadi Perang Dunia Ketiga.

“Jika sampai terjadi konfrontasi di Selat Hormuz maka ini mungkin akan berubah menjadi Perang Dunia Ketiga, dan urusannya akan lebih besar dari apa terbayangkan,” ujarnya kepada Sputnik milik Rusia, Jumat (6/7/2018).

Mengenai kemungkinan bahwa Iran akan menggunakan pengaruhnya untuk “mengacaukan kartu permainan” jika AS jadi menghalangi ekspor minyak Iran, dia mengatakan, “Sama sekali tidak demikian, ini tidak logis, Iran tidak akan menempuh cara mengacaukan kartu permainan. Masalah minyak jauh sepenuhnya dari isu-isu kawasan. Kami selamanya tidak akan pernah mengacaukan kartu permaian.”

Dia menegaskan, “Sudah menjadi kewajiban Angkatan Bersenjata Iran untuk membela negaranya. Ketika Rouhani (presiden Iran) mengatakan Iran berhak mengekspor minyak dan Angkatan Bersenjatapun mendukungnya untuk menjamin hak Iran, terlepas dari bagaimana caranya, maka ini sudah menjadi kewajiban Angkatan Bersenjata.”

Mostafa Izadi menilai AS bertanggungjawab atas melambungnya harga minyak.

“Pusat Komando AS menyatakan akan melindungi kebebasan perdagangan dan pelayaran di Selat Mormuz. Pernyataan inilah yang melambungkan harga minyak, bukan pernyataan Iran,” katanya.

Dia menambahkan, “Segala opsi terbuka di depan Iran jika ekspor minyaknya dicegah, atau negara-negara pembeli minyak Iran diancam… Akan ada reaksi telak, dan segala sesuatu ada waktunya.”

Sehari sebelumnya, Jubir Pusat Komando Militer AS Kapten Bill Urban menyatakan pihaknya berjanji akan menjaga kebebasan pelayaran kapal-kapal tanker minyak di Teluk Persia.

“Angkatan Laut AS dan para sekutu regionalnya siap menjamin kebebasan pelayaran dan aliran perdagangan di manapun yang diperbolehkan oleh undang-undang internasional ,” ungkap Urban.

Pernyataan ini merupakan tanggapan atas ancaman Iran untuk menutup selat Hozmuz bagi kapal-kapal tanker minyak. Dalam hal ini Presiden Iran bersumbar bahwa jika ekspor minyak sampai dihalangi oleh AS maka tak akan ada satupun negara di kawasan Teluk Persia dapat mengekspor minyaknya. (rayalyoum/alalam)

OPCW Tidak Menemukan Bukti Penggunaan Senjata Kimia Di Douma, Suriah

Organisasi Anti Senjata Kimia (OPCW) menyatakan pihaknya tidak menemukan bukti apapun mengenai adanya penggunaan gas saraf dalam serangan di kota Douma, Suriah, pada April lalu, meskipun menemukan sampel-sampel yang berkemungkinan mengandung gas klorin.

Tim penyelidik lembaga yang bermarkas di Den Haag, Belanda, ini telah mengambil sekira 100 sampel dari tujuh lokasi di Douma setelah dapat menjangkau kota ini dua pekan pasca serangan pada 7 April lalu.

“Hasil-hasil yang ada menunjukkan tidak adanya temuan unsur gas saraf fosfor organik ataupun sisa-sisanya,” ungkap OPCW dalam laporan awalnya. Namun laporan ini juga menyebutkan adanya sisa-sisa bahan peledak yang mengandung unsur-unsur klorin.

OPCW mengaku masih bekerja untuk memberikan tafsiran atas hasil tersebut guna mengetahui sumber gas klorin yang umumnya tidak ada di alam.

Dalam peristiwa pada 7 April tersebut dilaporkan bahwa sekira 40 orang tewas dengan kondisi yang umumnya adalah akibat runtuhan bangunan yang tertimpa  tabung, dan tim OPCW mengaku masih bekerja untuk “memastikan tempat tabung itu dan sumbernya”.

Negara-negara Barat menuduh tentara Suriah bertanggungjawab atas peristiwa itu sehingga Amerika Serikat dan Perancis lantas melancarkan serangan militer ke beberapa posisi tentara Suriah, dan serangan ini kemudian memperburuk diplomasi Barat dengan Rusia.  (rayalyoum)

1 Orang Palestina Gugur, 396 Lainnya Cidera Diserang Pasukan Israel

Departemen Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa satu warga Palestina gugur syahid dan 369 orang lainnya cidera terkena tembakan pasukan Zionis Israel terhadap massa Palestina yang menggelar aksi The Great Murch of Riturn di wilayah perbatasan Jalur Gaza- Israel (Palestina pendudukan 1948), Jumat (6/7/2018),.

Jubir Departemen Kesehatan Palestina Ashraf al-Qudrah dalam siaran persnya menyebutkan bahwa pemuda bernama Mohammad Jamal Abu Halimah, 22 tahun, gugur ditembus timah panas pasukan Zionis di kawasan Sadr di timur kota Gaza.

Al-Qudrah menambahkan bahwa korban cidera akibat tembakan peluru dan gas air mata berjumlah 396 orang, 13 di antaranya anak kecil dan 3 perempuan, dan 57 orang terkena peluru tajam.

Gelombang massa Palestina pada Jumat sore bergerak menuju kamp-kamp Al-Awdah (The Riturn) yang didirikan di lokasi-lokasi di dekat pagar pemisah Jalur Gaza dengan Israel. Mereka di sana kemudian mengadakan The Great Murch of Riturn, yaitu aksi damai yang meneriakkan hak seluruh pengungsi Palestina untuk pulang ke kampung halaman mereka, termasuk wilayah pendudukan Palestina 1948 yang secara tidak sah dinamai Israel.

Di pihak lain, militer Israel mengklaim bahwa pada Jumat sore itu pihaknya telah menggagalkan upaya sebagian massa Palestina menerobos pagar pembatas.  Dalam keterangan persnya militer Israel mengaku telah menggunakan mortir dan senjata berat untuk menembak sejumlah pemuda yang berusaha menerobos pagar pembatas. (rayalyoum)

Puluhan Pasukan Kubu Saudi Tewas Digempur Pasukan Yaman

Tak kurang dari 28 orang tewas dan 21 lainnya luka-luka di pihak kubu koalisi Arab pimpinan Arab Saudi dalam peristiwa dua gelombang serangan besar yang mendapat perlawanan sengit dari tentara dan pasukan Komite Rakyat Yaman di kawasan pesisir Barat Yaman, Jumat (6/7/2018).

Sumber militer dan Komite Rakyat Yaman saat melaporkan hal tersebut menjelaskan bahwa tak kurang dari 10 mesin tempur kubu Saudi hancur dalam peristiwa itu, dan sebanyak tiga mobil dikerahkan untuk mengusung pasukan yang tewas dan luka tersebut ke distik Khoukha setelah serangan itu gagal.

Serangan itu sendiri berlangsung sejak dini hingga sore hari Jumat namun tidak menghasilkan kemajuan apapun, padahal juga didukung serangan udara secara intensif, termasuk dengan menggunakan helikopter Apache yang melancarkan puluhan kali serangan.

Sumber itu menjelaskan bahwa taktik militer Yaman dan Komite Rakyat berhasil mematahkan serangan itu dan bahkan mengubahnya menjadi pukulan telak bagi kubu Saudi sendiri.  Namun, lanjutnya, untuk menutupi kegagalan itu kubu Saudi mengerahkan medianya untuk mengumbar klaim-klaim kemenangan palsu.

Menurut sumber itu, semua jalur logistik kubu Saudi masih terputus dan dikuasai oleh pasukan Yaman di sepanjang jalur pesisir.

Arab Saudi di hari yang sama mengumumkan tiga tentaranya tewas dalam pertempuran dengan pasukan Yaman di wilayah perbatasan antara kedua negara.

Badan keamanan Yaman menyatakan pihaknya telah meringkus 65 “pasukan bayaran” kubu Saudi di provinsi al-Dali’ pada pekan lalu. Disebutkan bahwa puluhan orang itu berstatus buronan karena diketahui melakukan berbagai aksi perusakan dan kejahatan untuk kepentingan pasukan koalisi pimpinan Saudi. (alalam)