Rangkuman Berita Timteng Sabtu 6 Oktober 2018

saudi mohammad bin salmanJakarta, ICMES: Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) akhirnya angkat bicara setelah beberapa hari sebelumnya Presiden Amerika Serikat (AS) melontarkan pernyataan-pernyataan yang bernada menghina Arab Saudi.

Para pakar militer Rusia menilai segala upaya untuk menyerang sistem pertahanan udara S-300 yang sudah ada di Suriah akan gagal.

Tiga orang Palestina gugur dan ratusan lainnya cidera terkena peluru tajam dan gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Zionis terhadap aksi unjuk rasa warga Palestina di bagian timur Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

Trump Hina Saudi, Bin Salman Akhirnya Angkat Bicara

Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) akhirnya angkat bicara setelah beberapa hari sebelumnya Presiden Amerika Serikat (AS) melontarkan pernyataan-pernyataan yang bernada menghina Arab Saudi.

Dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg, Jumat (5/10/2018), dia mengaku menjalin “hubungan istimewa” dengan Trump, namun mengingatkan bahwa Saudi mendapatkan senjata dari AS dengan cara membeli, bukan cuma-cuma, dan “Saudi sudah ada lebih dari 30 tahun sebelum AS ada.”  Dia juga mengatakan bahwa Saudi tidak akan membayar untuk keamanannya.

Berikut ini beberapa poin penting yang dikatakan MbS terkait Saudi dan Trump dalam wawancara tersebut;

  • Saudi ada sejak tahun 1744, atau lebih dari 30 tahun sebelum AS ada.
  • AS di era kepresiden Barack Obama berlawanan dengan sebagian besar agenda Riyadh di Saudi maupun di Timteng secara umum, namun Saudi dapat melindungi kepentingannya. Dan saat itu Saudi berhasil, sedangkan pemerintahan Obama gagal.
  • Saudi tidak akan membayar berapapun untuk keamanannya.
  • Semua senjata yang dapat Saudi dari AS bukanlah gratis, melainkan membeli.
  • Saudi semula mencanangkan pembelian sebagian besar senjatanya dari negara-negara selain AS, tapi strategi ini berubah setelah Trump menjabat sebagai presiden.
  • 99% urusan Saudi dengan AS baik, hanya 1% yang tidak baik.
  • Kerjasama Mbs dengan Trump sangat baik dan telah membuahkan banyak hasil di Timteng, terutama dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme serta pembendungan pengaruh Iran.

Seperti pernah diberitakan, Trump telah bersumbar bahwa Raja Salman dari Arab Saudi tidak akan dapat bertahan berkuasa “barang dua minggu” tanpa pembelaan AS dan bahwa kerajaan ini perlu keluar uang lebih untuk biaya perlindungan dari AS.

“Kami melindungi Arab Saudi … Dan saya mencintai raja, Raja Salman. Tapi saya berkata, ‘Raja, kami melindungi Anda. Anda mungkin tidak berada di sana selama dua minggu tanpa kami; Anda harus membayar untuk militer Anda, “kata Trump kepada para pendukungnya, seperti dilansir Reuters.

Dia bercerita, “ Saya katakan, Raja, Anda punya triliunan dolar. Tanpa kami, siapa yang tahu apa yang akan terjadi?’ Bersama kami mereka benar-benar aman. Tapi kita tidak mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan, “tambahnya.

Para pengamat sempat terheran mengapa Saudi sama sekali tak berkomentar, padahal statemen Trump tersebut merupakan tamparan keras bagi militer Saudi dan pengakuan atas keunggulan militer Iran, apalagi Saudi belum lama ini bersikap keras terhadap Swedia, Jerman, dan Kanada yang telah mengritiknya dalam isu HAM.

Beberapa sumber yang mengerti kebijakan baru AS menjelaskan mengapa Saudi bungkam. Menurut mereka, Saudi bergeming karena dua faktor sebagai berikut;

Pertama, Saudi menduga akan mendapat reaksi sengit atau bahkan sanksi ekonomi jika berani melontarkan pernyataan-pernyataan yang “tak relevan”, sebab Trump ingin memenangi suara dalam pemilu parlemen pada November mendatang sehingga siap melakukan apa saja.

Kedua, Saudi kuatir terhadap kemungkinan Trump menyetop dukungan militer AS kepada Saudi dalam perang terhadap Yaman lalu terlihat di mata dunia sejauh mana kelemahan militer Saudi, dan pada gilirannya orang-orang Yaman akan semakin bernyali dalam menggempur wilayah Saudi.

Sedangkan dukungan AS kepada Saudi dilakukan antara lain sebagai berikut;

Pertama, menyediakan informasi intelijen mengenai posisi-posisi tentara Yaman dan pasukan Ansarullah (Houthi).

Kedua, partisipasi para perwira AS, terutama pilotnya, dalam perang.

Ketiga, keterlibatan para teknisi AS dalam operasi militer, termasuk pencegatan rudal balistik yang diluncurkan Ansarullah ke wilayah Saudi.  (raialyoum/presstv)

3 Orang Palestina Gugur Dan Ratusan Lainnya Terluka Diserang Israel

Tiga orang Palestina, satu di antaranya anak kecil, gugur dan ratusan lainnya cidera terkena peluru tajam dan gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Zionis terhadap aksi unjuk rasa warga Palestina di bagian timur Jalur Gaza, Jumat (5/10/2018).

Departemen Kesehatan Palestina di Gaza mencatat 3 orang Palestina gugur syahid dan 376 lainnya cidera. Tiga syuhada itu adalah Faris al-Sarsawi, 12 tahun, Akram Abu Samaan, 24 tahun, dan Hosein Fathi al-Raqab, 20 tahun. Mereka semua tertembak di timur Khan Yunis pada Jumat sore waktu setempat.

Saat itu ribuan orang Palestina yang berunjuk rasa direaksi pasukan Israel dengan tembakan peluru tajam, gas air mata, dan water canon hingga jatuh korban gugur dan luka. Tak hanya itu, sebagaimana dilaporkan media Israel, jet tempur Israel menyerang posisi Hamas.

Pada aksi unjuk rasa Jumat pekan lalu sebanyak 7 orang Palestina gugur dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan Israel. Peristiwa ini tercatat paling berdarah sejak  insiden 14 Mei lalu di mana puluhan orang Palestina gugur dan ratusan lainnya cidera.

Unjuk rasa rutin digelar oleh rakyat Palestina di Jalur Gaza sejak 30 Maret lalu untuk meneriakkan hak para pengungsi Palestina pulang ke kampung halaman yang mereka tinggalkan sejak tahun 1948. Selain itu mereka menuntut penghentian blokade Israel terhadap Jalur Gaza. (raialyoum)

Pakar Militer Rusia: Upaya Menyerang S-300 Akan Gagal

Para pakar militer Rusia menilai segala upaya untuk menyerang sistem pertahanan udara S-300 yang sudah ada di Suriah akan gagal.

Mereka menjelaskan bahwa jet tempur ataupun rudal tidak akan dapat menyerang sistem itu karena adanya perantara yang sanggup melindungi sistem rudal jarak jauh itu dari serangan udara dan rudal. Perantara itu ialah sekumpulan artileri rudal Pantsir S-1 anti jet tempur.

Menurut mereka, rudal Pantsir S-1 dapat menghancurkan target-target di udara pada jarak 1200 – 20000 meter di ketinggian 15-15000 meter, dan dapat pula membidik dan menghancurkan target dengan mortir pada jarak hingga 4000 meter di ketinggian 0-3000 meter.

Pantsir S-1 juga dapat merontokkan sasaran yang terbang dengan kecepatan sampai 1000 meter perdetik, dan dapat menerjang 4 sasaran sekaligus.

Sputnik menyebutkan bahwa Pantsir S-1 telah membuktikan kemampuannya pada Desember tahun lalu ketika menghancurkan rudal LORA buatan Israel sepanjang 5 meter dan berat 1.7 ton. (railayoum)