Rangkuman Berita Timteng Sabtu 4 Agutus 2018

senjata israel di suriahJakarta, ICMES:  Pasukan Arab Suriah (SAA) dalam operasi penyisiran sejumlah desa di provinsi Quneitra di bagian barat daya negara ini telah menemukan sejumlah besar senjata, amunisi, dan berbagai perlengkapan militer lain buatan Israel.

pasukan penjaga perdamaian PBB  yang ditugaskan berpatroli di zona penyangga antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel secara bertahap kembali ke posisinya.

Jutaan penduduk Yaman berkonsentrasi dan berunjuk rasa dengan tema “Dengan Darah Kami Melindungi Kehormatan Kami” di Sanaa, ibu kota Yaman.

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mengecam keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) di perairan Teluk Persia dan menyoal apa yang mereka perbuat di tempat yang berjarak 7000 mil dari AS.

Sedikitnya 25 orang terbunuh dan puluhan lainnya terluka akibat serangan bom bunuh diri yang dilancarkan oleh dua orang pelaku terhadap warga Muslim Syiah yang sedang menunaikan shalat Jumat.

Berita selengkapnya;

Tentara Suriah Temukan Banyak Senjata Buatan Israel Di Bawah Tanah

Pasukan Arab Suriah (SAA) dalam operasi penyisiran sejumlah desa di provinsi Quneitra di bagian barat daya negara ini telah menemukan sejumlah besar senjata, amunisi, dan berbagai perlengkapan militer lain buatan Israel.

Barang-barang itu adalah senjata dan sarana militer yang ditinggal pergi oleh kawanan bersenjata yang kabur ketika terdesak dalam pertempuran dengan SAA.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa di antara temuan senjata dan amunisi itu terdapat senapan laras panjan, rudal anti tank TOW buatan AS, berbagai jenis amunisi, ranjau, senjata otomatis, perlengkapan untuk kelompok Helm Putih (White Helmets), dan bahan makanan buatan Israel, yang semuanya ditemukan dari tempat penyembunyian di bawah tanah.

SAA masih terus menggelar operasi penyisiran desa-desa yang telah dibebaskan dari pendudukan teroris, karena kelompok teroris Jabhat al-Nusra terindikasi telah memendam dalam tanah sejumlah besar senjata dan amunisi di banyak desa, lahan pertanian, dan kolam-kolam taman yang tersebar di provinsi Quneitra.

Pada 19 Juli lalu telah dicapai kesepakatan antara SAA dan kawanan pemberontak dengan pengawasan Rusia. Kesepakatan ini mengharuskan kawanan pemberontak keluar dari Qunetra ke Idlib jika mereka menolak rekonsiliasi dan pemulihan status mereka agar dapat tetap tinggal di daerah mereka. Kesepakatan ini juga menetapkan penempatan kembali  SAA di berbagai daerah sebagaimana masa sebelum pecahnya pemberontakan dan terorisme pada tahun 2011. (raialyoum)

Pasukan PBB Kembali Ke Golan Untuk Pertama Kalinya Sejak Tahun 2014

Jubir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB  yang ditugaskan berpatroli di zona penyangga antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel secara bertahap kembali ke posisinya, namun personil Rusia yang berpatroli bukan bagian dari pasukan PBB.

Wakil juru bicara PBB Farhan Haq menjelaskan bahwa misi PBB yang dinamai UNDOF (United Nations Disengagement Observer Force) sedang melaksanakan pengembalian bertahap setelah penarikannya pada tahun 2014 akibat penculikan personelnya oleh teroris yang berafiliasi dengan kelompok teroris al-Qaeda.

Dia mengklarifikasi bahwa personel Rusia yang disebutkan dalam laporan pers bukanlah bagian dari UNDOF, yang terdiri atas personil dari negara-negara anggota PBB yang non- anggota tetap Dewan Keamanan, sedangkan Rusia adalah anggota tetap dewan ini.

Farhan Haq juga mengatakan bahwa sebagai bagian dari upaya untuk kembali secara bertahap ke zona penyangga, UNDOF pada hari Kamis lalu melakukan patroli ke titik penyeberangan Quneitra, sementara  anggota polisi militer Suriah dan Rusia secara bersamaan melakukan patroli ke daerah itu. (mm/xinhua)

Penduduk Yaman Gelar Demo Akbar Anti Saudi Dan Sekutunya

Jutaan penduduk Yaman berkonsentrasi dan berunjuk rasa dengan tema “Dengan Darah Kami Melindungi Kehormatan Kami” di Sanaa, ibu kota Yaman, Jumat (3/8/2018).

Unjuk rasa akbar ini digelar tak lain untuk mengutuk kejahatan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi dan dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap Yaman. Massa meneriakkan slogan dan pesan kepada pasukan koalisi bahwa bangsa Yaman tidak akan pernah membiarkan penistaan terhadap martabat dan kehormatan mereka, dan demi ini mereka rela membayarnya dengan darah dan nyawa.

Sehari sebelumnya, seperti pernah diberitakan, sedikitnya 55 orang terbunuh dan lebih dari 130 lainnya luka-luka akibat serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke tempat pelelangan ikan dan Rumah Sakit al-Thaura di kota Hudaydah di bagian barat laut Yaman.

Ketua Dewan Revolusi Tinggi Yaman Mohammad Badreddin al-Houthi dalam orasinya pada unjuk rasa akbar tersebut memastikan bahwa dalam pembalasan pasukan Yaman dapat  menjangkau seluruh sasaran di wilayah Saudi dan sekutu Arabnya, “sekalipun berada di bawah tanah.”

“Saudi dan Emirat silakan masuk ke Dewan Keamanan (PBB) lalu mengaku sebagai negara-negara regional. Jika mereka ingin melanjutkan perang maka anak-anak bangsa kamipun melanjutkan perang. Kami tak akan pernah menerima penistaan terhadap kehormatan kami,” tegasnya.

Dia kemudian berterima kasih kepada Iran dan Hizbullah karena keduanya telah berpihak kepada bangsa Yaman yang teraniaya.

Menlu Iran: 7000 Mil Jauh Dari Negaranya, Pasukan AS Tak Mengerti Harus Berbuat Apa

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mengecam keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) di perairan Teluk Persia dan menyoal apa yang mereka perbuat di tempat yang berjarak 7000 mil dari AS.

Di halaman Twitter-nya, Jumat (3/8/2018), Zarif mencuit: “Angkatan Laut AS sepertinya tidak menemukan jalannya di perairan kami, mungkin mereka tidak mengetahui namanya. Namanya adalah Teluk Persia sejak 2000 tahun silam, jauh sebelum pendirian AS, atau mungkin juga tidak mengerti apa yang harus dilakukan di kejauhan 7000 mil dari negerinya.”

Zarif juga mengirim gambar yang memperlihatkan jarak antara AS dan perairan Teluk Persia.

Beberapa hari sebelumnya, Jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi menyatakan bahwa dunia kontemporer berhutang budi pada metode perdamaian yang ditempuh Republik islam Iran dan yang telah membantu penguatan keamanan di kawasan Teluk Persia.

“Kami tidak akan pernah memulai agresi, tapi kami berhak membela diri sesuai ketentuan internasional terhadap segala pergerakan terhadap kami,” tegasnya. (alalam)

Serangan Bunuh Diri Terjang Masjid Syiah Di Afghanistan, 25 Orang Terbunuh

Sedikitnya 25 orang terbunuh dan puluhan lainnya terluka akibat serangan bom bunuh diri yang dilancarkan oleh dua orang pelaku terhadap warga Muslim Syiah yang sedang menunaikan shalat Jumat di sebuah masjid di bagian timur Afghanistan, Jumat (3/8/2018).

Sardar Wali Tabasum, Jubir Kepolisian Provinsi Paktia, mengatakan bahwa kedua pelaku datang membawa senapan dan memasuki masjid Khawaja Hassan di kota Gardez, provinsi Paktia, lalu menembaki para jamaah sebelum kemudian meledakkan diri.

“Tim-tim gawat darurat telah mengumpulkan 25 mayat dari dalam masjid,” kata Abdullah Hazrat, juru bicara gubernur Paktia.

Dia menambahkan bahwa setidaknya 81 orang lainnya terluka akibat serangan brutal tersebut.

Belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu, sedangkan kelompok bersenjata Taliban membantah pihaknya terlibat.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengutuk dan menyebut serangan itu “tidak manusiawi” serta mengingatkan bahwa warga Afghanistan tidak akan terpecah belah oleh serangan bernuansa sektarian.

Serangan teror melanda beberapa kawasan urban di berbagai penjuru Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir.

Awal pekan ini sedikitnya 15 orang tewas dan 15 lainnya cedera setelah dua pria bersenjata menyerang sebuah gedung pemerintah di kota Jalalabad.

Dalam beberapa tahun terakhir kelompok teroris yang berafiliasi dengan organisasi teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS) muncul di Afghanistan dan menarget kaum Muslim Syiah.

Menurut PBB, sebanyak 1.692 orang terbunuh dan 3.430 orang lain luka-luka pada semester pertama tahun 2018. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak dimulai pendataan pada tahun 2009. (aljazeera)