Rangkuman Berita Timteng Sabtu 3 November 2018

khashoggi - konsulat saudiJakarta, ICMES: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa perintah pembunuhan jurnalis  Arab Saudi Kamal Khashoggi berasal dari “level tertinggi dalam pemerintahan Saudi”, namun tidak sampai menyentuh Raja Salman bin Abdulaziz.

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi melancarkan lebih dari 100 kali serangan udara ke provinsi Sanaa, Hudaydah, Sa’dah, dan Hajjah hingga menimbulkan banyak kerusakan pada properti publik maupun privat.

Sejumlah pria bersenjata melancarkan serangan hingga menewaskan sedikitnya tujuh warga Kristen Koptik di sebuah bus dekat sebuah biara Koptik di Mesir.

Iran menyatakan tidak kuatir terhadap “perang psikologis” Amerika Serikat (AS) secara masif terhadap Teheran dengan memberlakukan sanksi baru.

Berita selengkapnya:

Erdogan: Perintah Pembunuhan Khashoggi Datang Dari “Level Tertinggi” Pemerintah Saudi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa perintah pembunuhan jurnalis  Arab Saudi Kamal Khashoggi berasal dari “level tertinggi dalam pemerintahan Saudi”, namun tidak sampai menyentuh Raja Salman bin Abdulaziz.

“Kami mengetahui bahwa para pelaku ada di antara 18 tersangka yang telah ditahan di Saudi, dan mengetahui pula bahwa para oknum itu datang untuk melaksanakan perintah yang keluar kepada mereka: Bunuh Khashoggi lalu pergi,” ungkap Erdogan, sebagaimana dilansir Washington Post, Jumat (2/11/2018).

Erdogan mengingatkan, “Saudi masih berhadapan dengan banyak pertanyaan untuk dijawab terkait dengan pembunuhan Jamal Khashogi… Pada akhirnya, kami mengetahui bahwa perintah ini datang dari level tertinggi dalam pemerintahan Saudi.”

Dia mengatakan, “Saya ingin menyinggung bahwa Turki dan Saudi terikat hubungan persahabatan. Sama sekali tak ada perasaan barang sesaat bahwa Raja Salman, Khadim al-Haramain, telah memberi perintah anti-Khashoggi… Saya tidak berkeyakinan bahwa pembunuhan Khashoggi merefeleksikan kebijakan resmi Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, keliru anggapan bahwa pembunuhan Khashoggi (menjadi masalah) bagi kedua negara.”

Presiden Turki melanjutkan, “Sebagian orang berharap masalah ini sirna bersama perjalanan waktu, namun kami akan terus mengangkat pertanyaan-pertanyaan yang menentukan untuk penyelidikan kejahatan ini di Turki, dan demikian pula bagi keluarga dan para tercinta Khashoggi.”

Erdogan mengatakan, “Setelah sebulan sejak pembunuhannya kami masih belum mengetahui di mana mayatnya. Setidaknya ia layak untuk dimakamkan secara wajar sesuai tradisi Islam.”

Dia menegaskan keharusan upaya menyingkap identitas orang yang memerintahkan pembunuhan, karena di Saudi terdapat para pejabat yang “masih berusaha menutupi kejahatan ini.”

“Sebagai anggota pejabat dalam masyarakat internasional, kami harus mengungkap identitas orang-orang yang mengeluarkan perintah pembunuhan Khashoggi,” ujarnya. (raialyoum)

Koalisi Arab Lancarkan 100-an Kali Serangan Ke Yaman

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi melancarkan lebih dari 100 kali serangan udara ke provinsi Sanaa, Hudaydah, Sa’dah, dan Hajjah hingga menimbulkan banyak kerusakan pada properti publik maupun privat, Jumat (2/11/2018).

Saudi dan sekutunya meningkatkan eskalasi lagi di Yaman justru di saat masyarakat internasional menyerukan penghentian perang di negara ini.

Sumber keamanan menyebutkan bahwa jet tempur Saudi melancarkan lebih dari 30 serangan ke Bandara Internasional Sanaa dan Pangkalan Udara al-Dailami, Kamp Jarban di distrik Sanhan, serta distrik Hamdan di Sanaa.

Sumber ini menambahkan bahwa koalisi Arab juga melancarkan lebih 60 kali serangan udara ke kawasan Kilometer 16 dan sekitarnya di dekat kota Hudaydah hingga menjatuhkan lima korban luka sipil, termasuk empat anak kecil, serta menyebabkan banyak kerusakan pada properti warga.

Saudi dan sekutunya melakukan tiga kali serangan ke kawasan al-Qad di distrik Razah dan beberapa kali serangan ke distrik al-Dahir.

Satu orang perempuan tewas terkena serangan roket Saudi yang menyasar kawasan Talan, distrik Haidan, provinsi Sa’dah. Selain itu, satu gadis kecil juga terbunuh dan properti penduduk rusak terkena serangan roket dan artileri Saudi ke wilayah perbatasan distrik Razah dan kawasan pedesaan di distrik Manbah, provinsi Sa’dah.

Di provinsi Hajjah, jet tempur koalisi melancarkan dua kali serangan ke kawasan al-Makhafi, distrik Mustaba dan Ghartit, dua kali serangan pula ke kawasan Shaab Amdush di kawasan Bani Hasan, distrik Abas, dan delapan kali serangan ke kawasan Midi dan Harad.

Ketua Dewan Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali al-Houthi bersumpah akan mengalahkan lagi pasukan koalisi dalam pertempuran di kawasan pesisir barat Yaman.

“Meski terjadi eskalasi pertempuran di pesisir ini, tapi kami menegaskan kepada semua pihak bahwa eskalasi mereka sekarang akan gagal sebagaimana dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya,” tegas Ali al-Houthi. (alalam)

Serangan Teror Tewaskan 7 Warga Kristen Koptik Di Mesir

Sejumlah pria bersenjata melancarkan serangan hingga menewaskan sedikitnya tujuh warga Kristen Koptik di sebuah bus dekat sebuah biara Koptik di Mesir, Jumat (2/11/2018).

Otoritas Mesir menyebut serangan ini merupakan yang terparah terhadap warga minoritas itu selama lebih dari satu tahun terakhir.

Uskup Agung Minya Anba Makarious mengatakan kepada Reuters  bahwa para penyerang berada di dekat biara Santo Samuel Sang Pengaku di Minya.

Serangan itu terjadi tak jauh tempat kawanan  teror menyerang dan menewaskan 28 orang Kristen dalam peristiwa serupa pada Mei 2017.

“Teroris menembaki sebuah bus wisata dari provinsi Sohag, yang kembali dari biara,” kata uskup agung itu. Dia mengatakan tujuh orang tewas dan 14 luka-luka.

Kantor berita Mesir, MENA, mengutip keterangan sumber keamanan bahwa jumlah korban cedera  tujuh orang dan bus itu mengangkut warga Kristen.

Penduduk setempat mengatakan bus itu bagian dari konvoi.

Kawanan bersenjata yang berafiliasi dengan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mengaku bertanggung jawab, sebagaimana dilaporkan kantor berita ISIS, Amaq, Jumat, tanpa memberikan bukti keterlibatannya.

Warga Kristen Koptik menempati 10-15 persen dari total 104 juta penduduk Mesir.

Dalam beberapa tahun terakhir, gereja-gereja Koptik menjadi sasaran beberapa serangan teroris hingga jatuh puluhan korban tewas dan luka.

Pada Mei 2017, serangan teroris menerjang sebuah bus yang mengangkut peziarah Koptik menuju ke biara yang sama hingga menyebabkan 30 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Pada 9 April di tahun yang sama, ketika orang Koptik Mesir merayakan Minggu Palma, serangan bom teror di dalam Gereja Mar Girgis di kota Delta Tanta menewaskan 29 orang dan melukai puluhan lainnya.

Beberapa jam kemudian pada hari yang sama di kota Alexandria, seorang teroris meledakkan bom bunuh diri dan menewaskan 17 orang, termasuk tiga polisi.

Pada bulan April 2018, pengadilan militer Alexandria mengeluarkan hukuman mati terhadap 36 orang yang dinyatakan terlibat dalam serangan mematikan di Alexandria dan Tanta.  (cbc/ahram)

Iran Mengaku Tidak Khawatir Terhadap Sanksi Baru AS

Iran menyatakan tidak kuatir terhadap “perang psikologis” Amerika Serikat (AS) secara masif terhadap Teheran dengan memberlakukan sanksi baru.

“Tidak ada ruang untuk kuatir. Kami harus menunggu dan melihat bahwa AS tidak akan mampu melakukan tindakan apa pun terhadap negara Iran yang besar dan pemberani,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi kepada IRIB, Jumat (02/11/2018).

AS berencana untuk memberlakukan gelombang kedua sanksinya terhadap Iran pada hari Minggu besok dan beberapa bulan setelah Washington membatalkan kesepakatan multilateral 2015 antara Iran dan kelompok 5+1.

Gelombang pertama sanksi AS – yang telah dicabut sesuai perjanjian tersebut – diterapkan lagi pada  Agustus lalu.

Qassemi mengatakan AS menempuh berbagai langkah dan menguras banyak hal untuk menekan bank,  perusahaan komersial, dan lembaga internasional demi menghalangi mereka bekerjasama dengan Iran, tapi semua upaya itu gagal.

“Tampaknya AS tidak memiliki kemampuan lebih untuk menempatkan negara dan perusahaan ekonomi global di bawah tekanannya,” lanjutnya.

Dia mencatat bahwa sanksi AS bertujuan menutupi kegagalannya di sektor ekonomi, sementara Iran memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengelola urusan ekonomi dan kondisi kehidupan bangsanya. (presstv)